NovelToon NovelToon
Setelah Dicerai, Aku Jadi Bos Barumu

Setelah Dicerai, Aku Jadi Bos Barumu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tina Mehna 2

Selama menikah, Gia menyamar jadi istri polos yang cuma tahu urusan dapur. Tapi Aldo sang suami, malah menceraikannya demi cewek lain yang katanya anak direktur. Gia cuma tersenyum dan langsung tanda tangan. Lagipula, cape berpura-pura miskin!
Keesokan harinya, Aldo dengan sombong menghadiri rapat sebagai manajer baru di perusahaan raksasa VK Group. Dia berniat pamer demi bikin Gia menyesal.
Tapi saat pintu rapat terbuka, Komisaris Utama sekaligus pemilik saham terbesar masuk dengan anggun.
Itu Gia!
Gia tersenyum manis menatap mantan suaminya yang pucat pasi. "Manajer Aldo, buatkan saya kopi. Jangan lambat, gajimu saya yang bayar sekarang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1. Surat Cerai dan Kesombongan

“Tanda tangan sekarang. Jangan bikin makin rumit. Cepat gia!” Ucap sok tegas Aldo.

Suara lembaran kertas yang digeser kasar di atas meja marmer restoran menyentak lamunan Gia. Di hadapannya, Aldo menatap dengan pandangan dingin yang asing. Dua tahun menikah, baru hari ini Gia benar-benar melihat sosok asli suaminya.

Di sebelah Aldo, duduk Siska. Tangannya menggamit lengan Aldo tanpa malu, memperlihatkan cincin berlian yang berkilau di bawah lampu gantung.

“Gia, kita realistis aja lah,” kata Aldo sambil bersedekap. Suaranya seperti hakim yang sedang memutus perkara. “Dua tahun ini kamu cuma jadi beban. Kerjaannya di rumah doang, dandan seadanya, cuma nunggu jatah uang belanja dari aku. Nggak ada kemajuan!”

Gia menyandarkan punggungnya, menatap dua orang di depannya dengan tenang. “Beban? Engga salah?”

“Salah gimana! Seharusnya kamu tau diri ya! Kamu tuh nggak punya masa depan,” potong Siska dengan senyum sinis yang mengembang lebar. “Beda sama aku. Aku bisa dukung karier Mas Aldo. Sebentar lagi dia bakal pegang jabatan penting di VK Group. Masa manajer perusahaan raksasa istrinya cuma perempuan bentukan kamu?”

Gia menarik napas pelan. Hatinya tidak sakit, justru terasa ironis. Selama ini dia sengaja menyembunyikan identitas aslinya, memilih hidup sederhana untuk menguji seberapa tulus cinta Aldo. Tapi ternyata, ujian sederhana itu pun gagal total.

“Jadi, kamu mau buang aku cuma gara-gara ngejar jabatan dan perempuan ini?” tanya Gia, menatap lurus ke manik mata Aldo.

“Ini bukan cuma soal Siska!” bentak Aldo, wajahnya menyiratkan kekesalan yang tertahan. “Ini soal level hidup aku yang udah beda. Aku butuh pendamping yang sepadan, bukan perempuan yang tiap hari cuma tahu aroma bumbu dapur. Jadi tolong, tahu diri dikit.”

Pena hitam di atas meja bergeser mendekati Gia. Siska mengibaskan rambutnya yang terurai, seolah baru saja memenangkan piala bergengsi.

“Jangan ngarep harta gono-gini,” tambah Aldo lagi, nadanya makin tajam. “Rumah itu dibeli pakai uang aku. Kamu keluar dari sana cuma boleh bawa baju-baju murah kamu itu.”

Gia melihat pulpen tersebut, lalu melirik kertas di bawahnya. Surat perceraian. Dalam hati, dia ingin tertawa kencang. Berpura-pura jadi orang miskin ternyata melelahkan juga, dan detik ini, panggung sandiwaranya resmi ditutup.

“Oke,” sahut Gia singkat.

Tanpa keraguan, Gia meraih pena itu. Jarinya bergerak cepat menyapu kertas, membubuhkan tanda tangan dengan satu tarikan napas. Tak ada drama menangis meraung-raung, tak ada adegan berlutut memohon cinta.

Srett!srett!!srett

"Nih.. makan itu tanda tangan.." Ucap Gia melempar kertas itu di wajah Aldo.

Aldo dan Siska tertegun. Mereka saling pandang dengan alis terangkat, heran melihat betapa cepatnya proses itu selesai.

“Kamu... nggak berniat nahan aku?” tanya Aldo, nada suaranya berubah aneh, seolah ada rasa gengsi yang tergores karena reaksinya tak sesuai dugaan.

Gia berdiri, merapikan blazer sederhananya lalu tersenyum manis. Jenis senyuman yang belum pernah Aldo lihat sebelumnya. “Nahan? Memang nya buat apa nahan laki-laki yang otaknya cuma seukuran biji cabai? Lagipula, cape banget tahu pura-pura miskin di depan kamu.”

“Apa kamu bilang?!” Aldo ikut berdiri, mukanya memerah padam.

“Tidak apa.. ya sudah terima kasih buat dua tahunnya, Mas Aldo. Semoga karier barumu di VK Group lancar, ya,” ujar Gia tersenyum meledek dan santai, lalu membalikkan badan dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi.

Dia berjalan keluar restoran dengan memakai kacamata hitamnya kembali. Tak lupa dia menelpon seseorang di rumah nya untuk konfirmasi kembalinya dia. Beberapa menit kemudian, Di luar restoran hujan gerimis mulai turun. Sebuah mobil mewah warna hitam berpelat nomor istimewa berhenti tepat di depan tangga. Pintu belakang terbuka, dan seorang pria berjas rapi membungkuk hormat saat Gia mendekat.

“Nona Gia! Semua akses kartu dan aset utama Anda sudah aktif kembali, Nona Gia,” ucap pria itu dengan suara berat yang sopan.

Gia masuk ke dalam kabin mobil yang harum aromatik, meninggalkan dinginnya udara luar. “Bagus. Siapkan juga laporan keuangan VK Group. Besok pagi saya sendiri yang bakal pimpin rapat direksi.”

“Baik, Nona. Lalu bagaimana dengan Pak Aldo?”

Gia menyunggingkan senyum tipis sambil menatap keluar jendela mobil yang basah. “Biarkan dia menikmati mimpi indahnya malam ini. Karena besok pagi, saya yang bakal bangunkan dia dari mimpi itu. Apakah dia mau bangun atau tidak, terserah.”

Mobil melaju kencang membelah jalanan kota. Gia merogoh tasnya, mengeluarkan sebuah ponsel khusus yang sudah dua tahun tak pernah ia nyalakan. Saat layar menyala, puluhan notifikasi masuk bersamaan dengan satu pesan teratas yang membuat dahi Gia berkerut.

Pesan itu bukan dari asistennya, melainkan dari Presdir VK Group, pria yang paling dihindari Gia selama ini.

'Aku dengar kamu sudah aktifkan semua akses kamu hari ini. Sampai ketemu di ruang rapat besok, Calon Istri.’

Gia menahan napas. Matanya melotot menatap layar ponsel itu.

"Calon istri? Kenapa sih dia selalu saja memanggil ku itu. Kenapa enggak panggil Yang mulia ratu sekalian. Ada-ada saja" ucap

Mobil hitam mewah itu melaju cepat di tengah hujan gerimis romantis menuju ke sebuah penthouse mewah di kawasan elit. Beberapa menit kemudian mobil itu berhenti tepat di depan gerbang masuk penthouse itu. Para pelayan di penthouse itu keluar berbaris rapi menyambut majikan mereka yang baru datang setelah sekian lama.

"Selamat datang kembali nona Gia.." Ucap mereka serentak menundukkan kepalanya.

"Terimakasih.." Jawab Gia lalu dia masuk kedalam kediaman nya.

Pintu gerbang penthouse terbuka, disana berdiri seorang kakek tua menggenakan tongkat, seorang wanita dan pria paruh baya serta sepasang kembar remaja perempuan dan laki-laki.

"Giaaa.." Ucap Wanita itu.

"Shhhtt..tunggu kakek dulu laras" kakek tua menghalangi wanita itu untuk mendekati Gia yang masih berdiri di depan mobil mewah itu.

"Akhirnya sadar juga kau bocah tengik! Sini.. kemari lah..." Ucap Kakek tua itu merentangkan kedua tangannya kesamping agar Gia bisa memeluk nya.

"Kakekkkk...Gia minta maaf.. Gia akan fokus saja pada perintah kakek" Ucap Gia yang menahan tangis lalu memeluk kakeknya.

"Bagus baguslah.."Ucap Kakek tua itu sambil menahan tangis.

"Giaa..." Ucap pria paruh baya memanggil nya..

"Papaa... Mamaa..." Ucap Gia lalu memeluk mereka.

"Syukurlah kakak kembali.. Aku sangat bosan ketika tak ada kakak.." Ucap remaja perempuan melihat Gia memeluk orangtua nya juga.

"Bocah nakal.." Sambung remaja laki-laki menambahkan.

"Apa kau bilang? Kenapa kau bilang kakak mu ini bocah nakal hah!" Ucap Gia membalikkan badan lalu menjewer telinga remaja laki-laki itu.

"Aaaawww iya kak... Maaf..."

"Gia.. Maafkan Rey.. dia seperti itu juga karena rindu kamu.."

Gia melepaskan tangan nya lalu memeluk kedua adiknya itu.

"Sudahlah.. Rama.. mulai siapkan makan malam.." Ucap Kakek kepala kepala pelayan.

"Siap tuan besar.." Jawab Rama lalu dia memberi isyarat semua pelayan untuk masuk dan menyiapkan hidangan pada majikan nya itu.

"Kita makan bersama dulu..." Ucap Kakek lalu mereka pun berjalan ke meja makan panjang nan mewah itu.

Berbagai hidangan pun mulai berdatangan, mereka pun mulai menyantap makanan itu. Setelah selesai, hidangan pun di ambil kembali lalu kakek mulai berbicara.

"Gia.. dari awal kakek memang tidak yakin dengan laki-laki itu. Sudahlah, anggap saja 2 tahun kamu sedang melalukan perjalanan amal untuk pengemis." Ucap Kakek.

"Iya kakek.. maafkan Gia karena tidak mendengarkan kakek."

"Vito, Laras.. Kalian masukkan kembali nama Gia ke kartu keluarga dan biarkan dia ikut menjalankan perusahaan" Ucap Kakek.

"Iya ayah.." Jawab Vito yang tak lain adalah ayah Gia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!