NovelToon NovelToon
Milik Sang Iblis Sisilia

Milik Sang Iblis Sisilia

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / CEO / Tamat
Popularitas:890
Nilai: 5
Nama Author: Kakamy

Andrea hanya gadis yatim piatu yang hidup menumpang di rumah bibinya, dijadikan pembantu, dihina, dan diajari untuk tidak berharap apa pun. Sampai suatu malam di Catania, tatapan seorang pria mengubah segalanya.

Fabrizio Lutero, Don mafia Sisilia yang dijuluki Sang Iblis, bisa membuat musuhnya memohon mati hanya dengan satu perintah. Tidak ada yang berani menolak, tidak ada yang berani melawan. Namun di depan gadis kecil bermata ketakutan itu, pria paling dingin di Sisilia justru kehilangan kendali.

Dia menginginkannya. Dia akan menjaganya. Dan siapa pun yang berani menyentuhnya akan menyesal pernah dilahirkan.

Tapi dunia Fabrizio berlumuran darah, penuh pengkhianat, dan musuh yang mengintai dari balik bayang-bayang. Bisakah Andrea bertahan di sisi pria yang memilikinya sepenuhnya, dan menjadi ratu di dunia yang tak kenal ampun?

Posesif. Berbahaya. Panas. Dan tak ada jalan keluar.

"Dia milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kakamy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13

Andrea Gutierrez

Dalam perjalanan ke klub malam, Sara menyadari aku diam saja dan bertanya,

"Ada apa, Say?"

"Aku lagi berpikir. Aku sudah 19 tahun, belum pernah keluar malam, belum pernah pacaran, hidupku habis untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan keluargaku yang hanya merendahkanku. Jangan salah paham, Say, aku sangat berterima kasih atas semua yang Paman lakukan untukku, tapi aku tidak percaya dia tidak melihat semua yang kualami di tangan bibi dan sepupu-sepupuku, dia sama sekali tidak berbuat apa-apa, dan aku menerima semuanya dalam diam, aku tidak berani melawan. Aku merasa jadi pengecut yang tidak berguna."

Setetes air mata mengalir di pipiku, dan saat itu Sara menepikan mobil.

"Andrea, lihat aku! Jangan merasa bersalah, karena ini bukan salahmu. Kamu manusia yang luar biasa dengan hati yang besar, jangan pernah kehilangan dirimu yang sebenarnya. Keluarga itu untuk merawat dan melindungi. Pikirkan, mulai sekarang kamu tidak perlu melalui itu lagi, ini hidup baru. Kita akan sampai di klub itu dan bersenang-senang seperti belum pernah, kamu akan dapat cowok, berciuman sepuasnya, dan siapa tahu lebih dari itu."

Aku menatap Sara kaget.

"Jangan lihat aku begitu, Say, sudah waktunya kamu merasakan kenikmatan hidup."

"Ah, Sara, cuma kamu yang begini!"

Kami tertawa terbahak-bahak, Sara menyalakan mobil, dan kami kembali ke jalan.

Kami tiba di klub malam yang sudah lama ditunggu. Sara menyerahkan kunci mobil ke petugas valet. Kulihat sekeliling, antreannya panjang sekali, dan kupikir kami baru bisa masuk menjelang subuh.

"Ayo, Say."

"Kita tidak ikut antre?"

"Say!! Seperti tidak kenal aku saja, aku sudah memesan nama kita di area VIP berminggu-minggu lalu."

Memang Sara selalu sangat teratur dan berhati-hati soal begini sejak zaman sekolah.

Saat kami masuk klub, aku bersyukur Sara membelikanku baju ini. Isinya hanya perempuan-perempuan cantik berpakaian bagus, dan aku pasti akan merasa tidak nyaman. Sara langsung ke bar dan memesan tiga shot tekila, satu untukku dan dua untuknya. Aku tidak biasa minum, dan Sara tahu itu.

"Say, karena kamu belum terbiasa minum, sekarang satu shot dulu."

"Aku bahkan tidak tahu bagaimana meminum ini, Sara."

"Tiru saja aku."

Dia mengambil garam dan menaruhnya di punggung tangan, memegang lemon di tangan satunya, memasukkan garam ke mulut, mengisap lemon, dan menenggak shot tekila sekaligus.

"Sekarang giliranmu."

Kuulangi gerakannya, dan ketika tekila itu melewati tenggorokanku, semuanya terbakar dan tubuhku langsung hangat. Sara menenggak shot keduanya sementara aku terbatuk-batuk karena shot pertamaku.

"Sekarang kita siap menari."

Dia menarikku ke lantai dansa dan mulai menari. Aku menggoyangkan tubuh dengan malu-malu, lalu tiba-tiba dia berdiri di belakangku, memegang pinggangku, dan berkata,

"Rileks saja, Say, ikuti gerakanku."

Aku mulai bergerak bersamanya, dan tak lama semua orang di lantai dansa menonton kami. Harus kuakui, untuk orang yang belum pernah menari, aku cukup luwes. Mungkin karena shot tekila tadi, aku jadi sangat santai di lantai dansa itu.

Sementara itu, di area VIP klub.

Fabrizio Lutero

Aku di bilik VIP, bersandar di pagar dengan segelas wiski di tangan, mengamati keramaian. Saat memandang lantai dansa, kulihat seorang gadis berambut pirang yang tampak familiar. Dia menari dengan gadis lain, tarian yang sangat sensual. Aku mengalihkan pandangan, tapi anehnya aku tetap penasaran pada si pirang di lantai dansa itu.

"Pepi, aku mau lihat keramaian di bar sebentar, nanti kembali."

"Oke, Bro, kutunggu di sini."

Aku turun ke bar sekalian melihat si pirang itu dari dekat. Aku melewatinya di lantai dansa dan jantungku berdebar, itu dia, gadis kecilku, Andrea. Saat aku lewat, dia menoleh seperti sedang mencari sesuatu. Aku ke bar, mengambil wiski lagi, dan memperhatikannya. Dia cantik sekali, gaun itu mempertegas lekuk tubuhnya, dan gerakan sensualnya membuatku gila, bukan hanya aku, tapi semua pria di ruangan. Aku merasakan sedikit cemburu melihat pria-pria itu mengiler pada gadis kecilku. Semoga tidak ada yang berani menyentuhnya.

"Hei, Bro, katanya turun melihat keramaian bar, tapi tidak balik-balik!"

Aku tersadar dari lamunanku oleh kehadiran Pepi.

"Pemandangan dari sini menarik."

"Apanya yang semenarik itu?"

"Bukan urusanmu, ayo naik."

Aku terus mengamati gadis kecilku dari atas, aku terobsesi, mengikuti setiap gerakannya, lalu kusimpulkan gadis yang bersamanya pasti Sara Montessori.

Mereka kembali ke bar dan memesan minuman. Kulihat bartender membawakan satu shot lagi dan menunjuk seorang pria di sisi lain bar. Pria itu mengangkat gelasnya sebagai salam. Sara membisikkan sesuatu di telinganya, lalu keduanya menghampiri pria itu. Sara mencium pipi pria itu, lalu Andrea melakukan hal yang sama. Amarah menguasaiku, aku buta karena marah, dan saat aku berpikir untuk turun menyusul mereka,

"Bro, jangan mengamuk, itu cuma pria yang membayari minumannya."

Aku menatap Pepi tak percaya. Sejak kapan dia menyadari semua ini, dan bagaimana mungkin dia mengenalku sebaik itu.

"Kamu kira aku tidak sadar?! Aku sudah membacamu sejak kamu menyuruhku menyelidikinya. Tadi waktu kita masuk kantor, aku mengenali Andrea lewat kamera keamanan, tapi aku tidak mau bilang apa-apa, kupikir lebih seru mengerjaimu sedikit. Aku tahu ini akan berakhir dengan kamu meledak marah, kamu terlalu posesif, kamu perlu santai sedikit!"

Pepi menyemburkan semua itu tepat di wajahku lalu tertawa terbahak-bahak.

"Dan lagi, kalau kamu tidak buta karena marah, kamu pasti sadar pria itu Guglielmo, pegawai kita."

Aku menoleh lagi ke pria itu dan menelaah wajahnya. Memang sangat familiar. Pepi mengambil ponsel dan menelepon.

Telepon tersambung

"Guglielmo, kamu di mana?"

Aku melihat ke bar dan melihat pria itu sedang menelepon.

"Selamat malam, Pepi, aku di klub Bos, hari ini hari liburku."

"Sudah bukan lagi. Aku mau kamu membantu pengiriman hari ini."

"Siap, Tuan, aku berangkat sekarang juga."

Pria itu menutup telepon, mengatakan sesuatu pada para gadis, lalu pergi.

Telepon ditutup

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!