Ardila gadis yang selama ini mendapatkan pilih kasih dari keluarganya, harus kembali berhadapan dengan sang kakak ketika dirinya telah berumah tangga.
Sang kakak mengambil dan berselingkuh dengan suami yang begitu dia cintai
Mampukah dia melewati badai dari semua permasalahan yang tengah menghimpitnua
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rapat Keluarga
Naya menghela napas kasar melihat keluarganya berkumpul tanpa kehadirannya. Lebih menyakitkan lagi, mereka sengaja berkumpul di rumahnya dan dia sudah sangat tahu mereka membicarakan tentang apa.
"Ada apa ini?" tanyanya dengan dingin.
Dia menatap semua orang yang ada di sana dengan tatapan dingin yang dia punya.
Dia bukan tidak tahu apa yang mereka inginkan darinya karena dia sempat mendengar sedikit perbincangan mereka saat dia pulang ke rumah keluarganya saat itu.
Mereka semua terdiam melihat Naya berada di hadapan mereka, tapi mereka harus mengatakannya. Mereka tidak peduli Naya setuju atau tidak.
"Duduk sini dulu, Nak! Kami ingin bicara sama kamu."
Sang ibu memanggil anaknya itu dengan lembut, hal yang tidak pernah dia lakukan membuat Naya tersenyum sinis.
Dia melangkahkan kakinya kemudian duduk di single sofa dalam ruang tamu itu dengan bahu terangkat, menatap lurus mereka semua dengan dingin.
"Ada apa berkumpul di rumahku seperti ini? Apa kalian tidak punya pekerjaan lain?" tanyanya dingin.
Mata mereka membesar, menatap Naya dengan tatapan tidak percaya. Perempuan yang biasanya mengalah dan lemah lembut bisa bersikap sekeras ini.
"Jangan begitu, Nak! Kita datang ingin membahas sesuatu, kamu dengarkan ya?" ucap sang ibu mulai kehilangan kesabaran.
Naya hanya mendengus sinis menatap keluarganya dengan pandangan yang sangat muak.
Sebelum mereka memulai percakapan serius, suara langkah kaki terdengar mendekati mereka. Kening Naya mengerut karena melihat suaminya yang katanya sedang dinas keluar kota selama 3 hari datang bersama ibunya.
"Maaf kami terlambat," ucap sang laki-laki bernama Bimo itu.
Lelaki yang berstatus suami Naya itu datang membawa sang ibu dan keluarganya entah untuk apa.
"Baguslah kamu sudah datang, kami akan mulai saja rapat keluarganya."
Naya melipat kedua tangannya menatap sinis sang suami dan juga keluarganya. Mereka tidak tahu jika dirinya sudah mengerti tentang apa yang akan mereka bahas.
"Begini Naya, kamu harus merelakan suamimu untuk kakakmu, karena dia sedang depresi karena meninggalnya suaminya dan suamimu satu-satunya yang paling dekat dengannya. Kamu pasti ingat kan apa kata dokter?" ucap sang ayah dengan lantang dan enteng.
Ucapan itu seakan hal biasa yang bisa mereka lakukan sesuka mereka tanpa tahu betapa terlukanya Naya selama ini.
"Lagi?"
Dia tertawa sumbang, bukan tawa bahagia melainkan tawa yang terdengar begitu rapuh.
"Aku harus mengalah kembali dan merelakan lagi?"
Dia menggeleng pelan menatap semua orang yang ada di sana dengan tatapan menghunus tajam, terutama sang kakak yang tengah duduk seperti orang depresi tapi menyunggingkan senyum remeh kepadanya tanpa ada orang tahu selain dirinya.
"Apa kalian akan terus-menerus selalu mengorbankan aku jika anak kesayangan kalian itu menginginkan sesuatu?"
Brak!
"Jaga ucapanmu, Naya! Dia kakakmu!" bentak sang ayah dengan keras.
Sang ibu mengelus tangan suaminya berusaha untuk meredam amarah suaminya yang kini meledak. Dia cukup malu kepada keluarga Bimo yang ada di ruangan ini. Dia menatap sang anak tengah itu dengan tatapan peringatan.
"Benar, Nak, dia kan kakakmu dan dia baru saja kehilangan suaminya. Toh selama ini dia juga dekat dengan suami kamu, apa salahnya kamu merelakannya? Kami tidak memintamu bercerai tapi biarkan kakakmu menikah dengan Bimo," jawabnya dengan pelan.
"Ibu tahu berapa kali aku mengalah padanya selama ini?"
Naya menatap langsung ke manik mata ibunya dengan tatapan penuh kekecewaan dan luka.
"Ibu tahu seberapa tersingkirnya aku karena selalu mengalah untuknya?"
Sang ibu bernama Rahayu itu memalingkan wajahnya melihat tatapan anaknya itu. Walau itu benar, tapi tetap saja egonya lebih mendominasi hatinya.
"Jangan bicara omong kosong, Naya! Tidak ada bantahan! Ayah tidak peduli kamu setuju atau tidak, pernikahan itu harus dilangsungkan!"
Prok... prok...
Naya bertepuk tangan keras dan bahkan tertawa kencang sampai terdengar ke semua penjuru.
Naya berdiri dari duduknya kemudian berjalan pelan mendekati sang ayah yang kini berdiri dengan napas memburu menatap garang kepadanya.
"Aku ingin bertanya satu hal padamu, Ayah. Apa aku ini bukan anak kandung Ayah sampai Ayah bahkan tidak pernah peduli padaku?"
Deg!
Sang ayah mematung menatap Naya tidak percaya, anaknya ini menanyakan identitas dirinya saat genting seperti ini.
"Menurut kamu statusmu apa, Naya? Kamu tidak pernah membaca Kartu Keluargamu? Kamu jelas-jelas tahu nama kami berdua yang berada di sana sebagai orang tua kandungmu, lalu kenapa kamu membahas itu sekarang?" jawabnya tidak terima.
Naya tertawa pelan sambil menggelengkan kepalanya pelan. Dia menatap sang ayah dengan mata yang berkaca-kaca.
"Terus kenapa Ayah selalu mengorbankan dan menjadikan aku tumbal untuk kebahagiaan Mbak Diandra?"
Deg!
Sang ayah bernama Adam itu langsung menelan ludahnya kasar. Anaknya yang biasanya tidak pernah membantah kini berani melawannya.
"Kau..."
Matanya melotot sempurna dan rahangnya mengeras serta napasnya memburu.
"Kami tidak pernah mengorbankan kamu, jangan bicara sembarangan!" omelnya lagi.
"Oh ya, benarkah? Sepertinya kalian semua lupa? Dan perlu aku ingatkan!"
Naya menarik napasnya dalam-dalam menatap sang ayah dengan tatapan muak dan terluka.
"Sejak kecil aku selalu mendapatkan barang lungsuran dari Mbak Diandra."
Dia mengikis jaraknya dan kini langsung berhadapan dengan sang ayah yang refleks mundur karena merasa tertekan darinya.
"Sejak kecil, Ayah dan Ibu selalu mengutamakan sekolah Mbak Diandra, bahkan saat kuliah pun kalian selalu mengutamakannya."
"Aku bahkan tidak kuliah dari biaya Ayah tapi dengan perjuanganku sendiri."
Naya menunduk menahan gemuruh di dadanya. Dadanya terasa sangat sesak dan berat karena beban yang begitu menumpuk.
"Bahkan saat aku berpacaran dengan pemuda sempurna seperti Mas Agam, dan anak kalian itu menginginkannya, kalian pun membuatku harus kembali merelakannya. Dan sekarang kalian ingin aku kembali merelakan Mas Bimo karena dirinya?"
Naya tertawa sarkas, sedangkan semua orang kini menahan napasnya mendengar hal itu.
"Aku ini manusia ya, aku bukan boneka yang tidak punya hati dan nyawa, aku ini anakmu juga bukan orang lain!" teriaknya dengan penuh emosi.
Adam nyaris limbung mendengar bentakan dan teriakan sang anak yang sedang meluapkan amarahnya kepadanya sebagai bentuk protes dan yang kini ada di hadapannya.
Naya menarik napasnya dalam-dalam menatap penuh kecewa ke arah kedua orang tuanya yang kini menatapnya horor.
"Aku berhenti mengalah, Ayah. Jika Ayah ingin menyembuhkan penyakit Mbak Diandra, nikahkan dia dengan orang lain, jangan selalu merebut apa yang menjadi milikku. Apa dia tidak punya kelebihan lain selain merampas milik orang?"
Kini tatapannya mengarah pada wajah sang kakak yang mengeras dan mengepalkan tangannya kuat-kuat, memandangnya tajam seakan ingin memakannya, tapi dia tidak gentar. Untuk satu ini dia tidak akan mengalah.
"Tapi kami semua setuju dengan pernikahan itu, Kak Naya. Dibandingkan Kakak, Kak Diandra lebih baik jika disandingkan dengan Kak Bimo."
semoga dpt jodoh yg bner bner baik ya, gk kayak Raka Dan Arka.
mending yg kaya sekalian kn 😁
Bimo juga bukan orang kaya selingkuh juga kan😄🤣.
jgn nyerah ya nay...
salam kenal