Kiamat zombie mungkin itu hanya cerita film dan dalam buku. Tapi bagaimana jadinya jika itu terjadi?
Itu yang dirasakan oleh Hayden Vihaan pria berusia dua puluh lima tahun yang terjebak dalam kiamat zombie. Dia yang dari dulu di rawat oleh kakeknya seorang ilmuan sudah memang mempersiapkan semuanya. Kendaraan yang bisa di tumpangi enam orang di sulap menjadi mobil ajaib yang memiliki sistem pertahanan yang kuat. Tidak hanya mobilnya tapi villa yang memiliki bangker dan pertahanan sama kuatnya.
Bagaimana cerita selanjutnya yuk simak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumarlin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 awal
Bau sangit aspal terbakar menyengat hidung Hayden saat jemarinya mencengkeram erat kemudi **Armored Rover** miliknya. Di usianya yang baru dua puluh lima tahun, pemuda itu harus menyaksikan dunia yang ia kenal runtuh hanya dalam hitungan minggu. Namun, saat orang lain berlarian tanpa arah dan menjadi mangsa empuk makhluk-makhluk ganas di luar sana, Hayden sudah melangkah lima langkah di depan.
Kakeknya, seorang ilmuwan jenius yang dianggap gila oleh warga sekitar, telah meramalkan kekacauan ini sejak lama.
"Dunia ini rapuh, Hayden," kata almarhum kakeknya beberapa tahun lalu. "Saat sistem runtuh, manusia akan berubah menjadi binatang—atau lebih buruk lagi."
Raungan mesin V8 berdengung halus, hampir tak terdengar berkat peredam suara canggih buatan kakeknya. Mobil berkapasitas enam orang itu kini tak ubahnya benteng berjalan: lapisan baja komposit menyelimuti bodi, kaca anti-peluru tebal, generator gelombang ultrasonik untuk mengacaukan pendengaran zombie, hingga sistem daur ulang udara otomatis jika ada racun biologis yang tersebar.
Indikator di dasbor menyala hijau saat radar mendeteksi pergerakan di depan. Selusin zombie berkeliaran di perempatan jalan, bergerak limbung dengan pakaian koyak dan selaput mata memutih.
Hayden tidak menekan rem. Ia menekan tombol merah di sebelah roda kemudi. Dalam hitungan detik, *plow-blade* baja di bagian depan kendaraan turun, dan sistem setrum tegangan tinggi aktif di sekujur bodi mobil. Tanpa suara tembakan yang mencolok, kendaraan itu menerobos kerumunan zombie. Efektif, bersih, dan tanpa hambatan.
Tujuannya cuma satu: **Villa Hilltop**, kediaman terpencil di kaki gunung yang telah disulap kakeknya menjadi tempat perlindungan impian. Villa itu dilengkapi bunker bawah tanah tiga lantai, sistem panel surya mandiri, kebun hidroponik, dan tembok pertahanan berbasis sensor gerak.
Namun, saat radar mobil menyorot gerbang utama Villa Hilltop yang makin dekat, layar monitor tiba-tiba berkedip merah.
Kamera jarak jauh menampilkan pemandangan yang tidak disangka Hayden: gerbang depan villa masih utuh, tetapi di luar pagar, ada tiga mobil bak terbuka milik sekelompok penyintas asing yang dipersenjatai lengkap. Mereka sedang berusaha membongkar panel akses elektronik pintu luar.
Hayden menarik napas dalam-dalam, mematikan lampu utama mobil, dan menyeringai tipis. Kiamat zombie mungkin menakutkan, tetapi kakeknya juga sudah memperhitungkan ancaman dari sesama manusia.
Hayden menekan tombol *Stealth Mode* di panel kendali. Suara mesin V8 yang tadinya berdengung halus kini berubah menjadi desisan halus yang nyaris tenggelam oleh tiupan angin malam. Semua lampu indikator luar padam total, membuat mobil bajanya menyatu sempurna dengan kegelapan lereng gunung.
Dari jarak lima ratus meter, ia mengamati para penyintas asing itu lewat layar termal di dasbor. Ada delapan orang. Dua di antaranya berdiri bersiaga memegang senapan serbu, sementara seorang pria berbadan kekar tampak frustrasi menghantamkan linggis ke panel sandi gerbang Villa Hilltop.
Percuma. Panel itu terbuat dari paduan titanium dengan sistem enkripsi dinamis. Jangankan dipukul linggis, diledakkan dengan granat pun hanya akan memicu sistem pertahanan otomatis.
Hayden mengambil mikrofon terintegrasi yang terhubung ke pengeras suara terarah di luar mobil. Suaranya bergema dingin melalui pengeras suara tersembunyi di balik semak-semak, sengaja mengacak arah sumber suara.
"Sistem pertahanan otomatis aktif dalam sepuluh detik. Tinggalkan area atau dianggap sebagai ancaman tingkat satu."
Kedelapan orang itu langsung panik. Mereka merapat, mengarahkan moncong senjata ke segala arah dengan liar.
"Siapa itu?! Keluar!" teriak pria berlinggis, matanya mendelik penuh ketakutan.
Bukannya keluar, Hayden justru menekan tombol pengaktif modul *Sonic Shock* pada bodi mobilnya. Gelombang suara berfrekuensi sangat rendah dipancarkan lurus ke arah kelompok itu. Efeknya instan: mereka langsung berlutut, memegang kepala yang dihantam rasa mual luar biasa dan disorientasi parah, hingga senjata mereka terlepas ke tanah.
Tanpa memberi waktu bagi mereka untuk pulih, Hayden melajukan mobilnya perlahan dan berhenti tepat di belakang armada penyintas tersebut. Lampu sorot LED berkekuatan ribuan lumen di atap mobil mendadak menyala menyilaukan, membutakan penglihatan mereka seketika.
Pria berlinggis tadi mencoba merangkak mengambil senjatanya, tetapi suara mekanis yang berat menghentikan gerakannya. Dari atap kendaraan Hayden, dua pucuk senapan mesin otomatis muncul dan terkunci tepat ke dada pria itu.
"Satu gerakan lagi," ucap Hayden tenang melalui pengeras suara luar, "dan mobil ini akan membersihkan sisa rasa takut kalian selamanya."
Pria berlinggis itu mengangkat kedua tangan setinggi mungkin, gemetar hebat di bawah sorotan lampu yang menyilaukan. Kelompoknya yang lain ikut meniarap di tanah, sama sekali tak berdaya menghadapi ancaman senjata otomatis dari kendaraan misterius di belakang mereka.
"Kami cuma butuh tempat berlindung! Kami nggak tahu tempat ini ada pemiliknya!" teriak pria itu dengan suara serak, panik.
Hayden memperhatikan mereka dari layar monitor dalam mobil. Matanya yang tajam memindai ekspresi, gestur, dan kondisi fisik kedelapan orang tersebut. Baju mereka koyak, wajah mereka berdebu, dan beberapa di antaranya tampak dehidrasi parah. Namun, yang menarik perhatian Hayden adalah seorang anak perempuan kecil berusia sekitar delapan tahun yang bersembunyi ketakutan di dalam salah satu mobil bak mereka.
*Kakek benar,* batin Hayden. *Di dunia baru ini, kepercayaan adalah kemewahan yang bisa membunuhmu.*
"Tinggalkan semua senjata kalian di tanah," perintah Hayden dingin melalui pengeras suara. "Mundur sepuluh langkah ke arah jurang. Kalau ada satu orang yang coba menahan senjatanya, turret ini akan bekerja otomatis."
Tanpa membantah, mereka melempar senapan, pistol, hingga pisau lipat ke rumput, lalu mundur perlahan sambil terus mengangkat tangan.
Hayden menekan tombol pemicu gerbang utama. Panel titanium Villa Hilltop bergeser mulus tanpa suara, terbuka cukup lebar untuk dilewati kendaraan bajanya. Mobil Hayden masuk ke halaman dalam, lalu gerbang kembali tertutup rapat dan terkunci otomatis.
Di dalam area villa yang aman dan diterangi lampu tenaga surya, Hayden akhirnya mematikan mesin. Ia mengambil sebuah senapan serbu ringan dari rak taktis mobil, mengenakan rompi anti-peluru, lalu berjalan keluar menuju balkon pagar atas yang menghadap langsung ke luar gerbang.
Dari atas ketinggian tiga meter, Hayden menatap delapan orang asing yang masih berdiri gemetar di luar.
"Kalian punya dua pilihan," kata Hayden suara aslinya, kini tanpa pengeras suara. "Pergi sekarang membawa kendaraan kalian dan cari tempat lain, atau serahkan semua bahan bakar kalian dan aku akan beri pasokan air bersih serta makanan untuk tiga hari."
Pria berlinggis itu mendongak, matanya membelalak kaget saat melihat pemuda berusia dua puluh lima tahun yang memegang kendali penuh atas benteng canggih ini.
Pria berlinggis itu menelan ludah. Keberadaan anak kecil di kelompok mereka jelas membuat pilihan menjadi sangat terbatas. Tanpa makanan dan air, mereka tidak akan bertahan hidup sampai besok malam.
"Kami terima penawarannya!" teriak pria itu pasrah. "Kami serahkan semua jeriken bensin di bak truk, asal kami dapat air dan makanan untuk budak kecil ini!"
Hayden menatap dingin, lalu bergerak cepat. Melalui panel kontrol dinding di balkon, ia mengaktifkan **Sistem Ruang Antara**—sebuah kompartemen steril di luar pagar yang dirancang khusus kakeknya untuk transaksi tanpa kontak langsung.
"Masukkan semua jeriken bensin kalian ke dalam kotak baja di sebelah kiri gerbang. Setelah pintu kotak itu terkunci, pintu sebelah kanan baru akan terbuka berisi ransokan makanan dan galon air," perintah Hayden.
Kelompok itu bergerak cepat. Tiga jeriken besar berisi bensin dipindahkan ke dalam kompartemen kiri. Begitu sensor mendeteksi beban dan memastikan tidak ada bahan peledak di dalamnya, pintu kiri terkunci otomatis. Detik berikutnya, pintu kanan terbuka, menampilkan delapan porsi ransum militer siap makan, dua galon air bersih, dan kotak P3K standar.
Sorot mata orang-orang itu berubah lega. Mereka langsung menyergap makanan tersebut dan memberikannya terlebih dahulu kepada si anak kecil.
Hayden memantau dari atas balkon dengan senapan masih bersiap. Namun, saat kelompok itu mulai berkemas untuk pergi, indikator sonar jarak jauh di pergelangan tangan Hayden mendadak bergetar hebat. Lampu indikator merah berkedip cepat.
*Bip... Bip... Bip...*
"Layar radar: Kawanan besar mendeteksi kebisingan gelombang suara sebelumnya. Perkiraan lima ratus zombie bergerak cepat dari arah lembah," suara sistem kecerdasan buatan villa berbisik melalui earpiece Hayden.
Hayden melihat ke arah jalan setapak di bawah gunung. Kegelapan malam mulai dipenuhi suara erangan massal yang menggelegar dan hentakan ribuan kaki yang mendekat.
Kelompok penyintas di luar gerbang panik luar biasa. Truk mereka tak akan sempat memutar balik di jalan sempit itu sebelum tergerus gelombang zombie.
"Tolong! Buka gerbangnya! Kami bakal mati di sini!" jerit pria berlinggis itu sambil menggedor gerbang titanium.
Hayden berdiri membeku di atas balkon. Logikanya berteriak untuk membiarkan mereka menjadi umpan agar zombie terkonsentrasi di luar, tetapi matanya menatap anak kecil yang kini memeluk erat ibunya di bawah sana.