NovelToon NovelToon
Surat Cinta Nyasar

Surat Cinta Nyasar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kehidupan di Kantor
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: HAMZAHikhsan

Fajar cuma pegawai biasa yang nekat menulis surat cinta buat sekretaris direktur. Sayangnya, amplop merah muda itu malah nyasar ke meja Kirana, Direktur muda yang dingin dan anti-romansa.
Satu kesalahan pengiriman membuat mereka berdua berhadapan. Fajar panik setengah mati. Kirana justru mulai mempertanyakan sesuatu yang selama ini dia abaikan.
Apakah satu surat yang salah kirim bisa mengubah segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: Amplop Merah Muda yang Salah Jalan

Pagi di kantor PT Arunika Jaya selalu sama. Suara keyboard yang berderap, printer yang mengeluh, dan derap sepatu pegawai yang bolak-balik di koridor. Semuanya seperti musik yang diputar berulang tanpa pernah bosan. Tapi pagi itu, bagi Fajar, semuanya terasa lebih keras dari biasanya.

Dia berdiri di depan mejanya, bahu kaku, tangan menggenggam sebuah amplop berwarna merah muda. Amplop itu terlihat begitu mencolok di antara tumpukan kertas coklat dan map abu-abu yang biasa. Fajar menatapnya lama, bibirnya bergerak tanpa suara.

“Gila… gue beneran mau kasih ini?” gumamnya pelan.

Dari belakang, Bayu menyenggol bahunya dengan siku. Sahabatnya itu selalu muncul di waktu yang tidak tepat, atau justru tepat sekali untuk mengganggu.

“Lo ngomong sendiri lagi. Itu apaan? Surat resign?” tanya Bayu sambil menyandarkan bokong di meja.

Fajar refleks menyembunyikan amplop ke balik punggung.

“Bukan! Ini… ini penting.”

Bayu menyipitkan mata, lalu senyumnya melebar pelan-pelan.

“Warna pink gitu penting? Itu surat cinta ya?”

Fajar menghela napas panjang. Tidak ada gunanya berbohong pada Bayu. Sahabatnya itu bisa membaca wajahnya lebih cepat dari laporan keuangan.

“Iya… buat Kak Sinta.”

Bayu langsung tertawa kecil, tapi cukup keras untuk membuat beberapa pegawai di meja sebelah menoleh.

“Sekretaris direktur? Wah, naik kelas lo. Dari yang biasanya cuma naksir kasir minimarket.”

“Diam lo!” balas Fajar kesal, pipinya memanas. “Gue serius kali ini.”

Di sisi lain ruangan, Sinta sedang sibuk memilah dokumen di meja panjang. Rambutnya diikat rapi, kemeja putihnya tidak punya satu pun kerutan. Ia dikenal sebagai orang yang tegas, rapi, dan sulit didekati. Banyak yang bilang berbicara dengannya seperti berbicara dengan mesin absensi—langsung, tanpa basa-basi, dan kadang menakutkan.

“Pak Fajar!” panggilnya tiba-tiba.

Fajar langsung tegak seperti tentara yang kena inspeksi.

“Iya, Kak Sinta!”

“Laporan bulanan Anda sudah selesai?” tanya Sinta tanpa menoleh, jarinya masih mengetuk keyboard.

Fajar membeku. Jantungnya seolah turun ke perut.

“Eee… masih proses, Kak…”

Sinta akhirnya menoleh. Matanya tajam, tapi suaranya tetap datar.

“Direktur minta hari ini. Jangan sampai terlambat.”

“I-iya!” jawab Fajar cepat, terlalu cepat.

Beberapa jam berlalu. Ruangan mulai sepi karena jam makan siang. Fajar duduk di mejanya, keringat dingin mengucur di pelipis. Di hadapannya ada dua amplop. Yang satu coklat, tebal, berisi laporan bulanan yang baru saja dia selesaikan dengan tergesa-gesa. Yang satu lagi merah muda, tipis, dan berisi sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

“Tenang… jangan sampai ketuker…” gumamnya sambil menatap kedua amplop bergantian.

Tiba-tiba langkah kaki cepat menghampiri.

“Pak Fajar!” panggil Sinta lagi, kali ini sudah berdiri di depan mejanya.

Fajar kaget. Tangannya refleks meraih amplop yang paling dekat—yang merah muda—dan menyerahkannya.

“Ini laporan saya, Kak!”

Sinta mengambil tanpa curiga, bahkan tanpa melihat warnanya.

“Baik. Saya langsung serahkan ke direktur.”

Fajar tersenyum lega. Napasnya keluar panjang. Baru setelah Sinta berbalik dan berjalan menjauh, dia menyadari sesuatu.

Wajahnya perlahan berubah pucat.

“…itu… pink.”

Dia menatap amplop coklat yang masih tergeletak di meja.

“ITU SURAT CINTA GUE!!!”

Suara Fajar hampir tidak keluar. Dia hanya bisa menatap punggung Sinta yang semakin menjauh, lalu menghilang di balik pintu ruang direktur.

Di dalam ruang itu, suasana berbeda total. Tenang. Dingin. Teratur. Cahaya matahari masuk dari jendela besar, tapi tetap tidak berhasil menghangatkan ruangan. Di balik meja kayu gelap yang luas, duduk seorang gadis muda dengan aura yang membuat siapa pun yang masuk langsung menunduk. Kirana, Direktur Arunika Jaya.

Sinta masuk, membungkuk singkat.

“Bu Direktur, ini laporan dari divisi operasional.”

“Letakkan saja,” jawab Kirana datar, tanpa mengalihkan pandangan dari laptop.

Sinta meletakkan amplop merah muda di atas meja, lalu keluar dengan langkah cepat. Pintu tertutup pelan.

Kirana menatap amplop itu. Alisnya berkerut.

“Merah muda?”

Dia mengernyit. “Tidak profesional…”

Meski begitu, dia tetap membukanya. Kertas di dalamnya tipis, ditulis tangan dengan huruf yang agak goyah di beberapa bagian. Isinya sederhana:

*Untukmu yang selalu terlihat kuat, tapi mungkin diam-diam lelah…*

*Aku tidak tahu apakah kamu akan membaca ini…*

*Tapi aku ingin kamu tahu…*

*Aku menyukaimu.*

Kirana terdiam. Matanya sedikit membesar. Jari-jarinya yang biasanya bergerak cepat di atas keyboard sekarang diam menekan kertas itu.

“Apa… ini?”

Dia membaca lagi. Lalu lagi. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Tidak ada prosedur untuk ini. Tidak ada SOP. Tidak ada target yang bisa diukur.

Di luar, Fajar sudah hampir pingsan. Dia mondar-mandir di depan meja Bayu seperti orang kesurupan.

“Gue mati… gue dipecat… gue tamat…” katanya sambil memegang kepala.

Bayu menahan tawa dengan susah payah, bahu gemetar.

“Relax. Paling cuma dipanggil.”

“ITU DIREKTUR BRO!” Fajar berbisik panik. “Yang masang poster ‘DILARANG JATUH CINTA DI KANTOR’ ITU!”

Bayu mengangguk pelan, wajahnya jadi serius palsu.

“Oh iya… lo fix mati.”

Tiba-tiba interkom di meja Fajar berbunyi. Suara sekretaris direksi terdengar jelas.

“Pak Fajar diminta ke ruang direktur.”

Fajar langsung diam. Wajahnya pucat pasi.

“…gue pamit hidup ya,” katanya lirih.

Bayu menepuk bahunya, berusaha menghibur dengan cara yang paling tidak menghibur.

“Tenang. Kalau lo dipecat, gue ikut ketawa dari jauh.”

“SAHABAT MACAM APA LO?!”

Fajar masuk ke ruang direktur dengan kaki yang terasa seperti diganti kayu. Pintu tertutup di belakangnya. Kirana masih duduk di kursinya, memegang surat itu di tangan.

“Permisi…” suaranya hampir tidak terdengar.

Kirana menatapnya lama. “Ini… milik Anda?”

Fajar langsung menunduk dalam-dalam. “S-saya minta maaf! Itu salah kirim! Itu bukan laporan!”

Kirana tidak langsung menjawab. Matanya masih menatap surat, lalu beralih ke Fajar.

“Jadi… ini bukan untuk saya?”

Fajar terdiam sejenak. Kata “bukan” terasa berat di lidahnya.

“…bukan…”

Ada jeda yang aneh. Suasana ruangan tiba-tiba terasa lebih sunyi dari biasanya. Entah kenapa, Kirana merasa ada sesuatu yang mengganjal di dada. Kecewa? Tidak mungkin. Dia segera menepis perasaan itu sebelum sempat mengakar.

“Di kantor ini, hubungan romantis dilarang,” katanya dingin, suaranya kembali seperti biasa.

“Iya, saya tahu…”

“Lalu kenapa Anda menulis ini?”

Fajar mengangkat kepala. Untuk pertama kalinya, dia menatap Kirana langsung. Matanya sedikit bergetar, tapi ada keberanian yang tidak biasa di dalamnya.

“Karena… manusia tetap punya perasaan, Bu.”

Ruangan mendadak hening. Hanya suara AC yang berdengung pelan.

Kirana terdiam. Kalimat itu sederhana. Sangat sederhana. Tapi terasa asing baginya, seperti bahasa yang belum pernah dia pelajari. Sejak kecil, dia hanya diajarkan tentang target, kekuasaan, dan pencapaian. Tentang angka yang harus naik setiap kuartal. Tentang keputusan yang harus tepat tanpa emosional. Bukan… perasaan.

“Apakah… cinta itu penting?” tanyanya tiba-tiba, suaranya lebih pelan dari biasanya.

Fajar kaget. “Hah?”

Kirana menatapnya lurus. Tidak ada senyum, tidak ada kemarahan. Hanya tatapan yang menunggu jawaban.

“Jawab.”

Fajar berpikir sejenak. Dia menggigit bibir, lalu menjawab dengan suara yang lebih tenang.

“Menurut saya… penting.”

“Kenapa?”

“Karena… tanpa itu, hidup cuma terasa seperti… kerja tanpa alasan.”

Kirana tidak menjawab. Dia hanya menatap Fajar beberapa detik lebih lama, lalu mengalihkan pandangan ke jendela. Untuk pertama kalinya, dia merasa ada sesuatu yang kosong di dalam dirinya. Sesuatu yang selama ini dia kira tidak ada.

Dan di luar pintu, Bayu sudah menunggu dengan wajah cemas dan senyum yang siap meledak kapan saja.

1
🍓ADIRA🍓
Lanjut Thoorr
Purnamanisa
keknya seru... save dulu, baca lagi nanti 😁😁
🍓ADIRA🍓
Tenang Na... selagi ada fajar apapun bisa /Smirk//Smirk//Smirk/
🍓ADIRA🍓
Wah kenapa tidak dapat kontrak Thoorr? Ok ttp semangat Thoorr 💪
🍓ADIRA🍓
suapin donk jar 😂😂
🍓ADIRA🍓
Lihat fajar nanti juga langsung menghangat kok bay 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
kwkwkwkw semangat jar 💪
🍓ADIRA🍓
Ciyyeeee mas 🤭 akwakakakaww 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Harus cerdas lah Ndrong... kan calsu Bu Direktur ☺️
🍓ADIRA🍓
wkkwkw.😂😂 fajar langsung merona tuh Bu Kir 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
Ayang mbeb gtu Jar /Joyful//Joyful//Joyful/
🍓ADIRA🍓
Dirimu yg go publik loh 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
kwkwkwk ti ati burungmu terbang jar 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
kwkwkwkw 🤣🤣🤣 dalam hatinya, Bu Direktur sebenarnya jga seneng tuh dapat pengakuan cinta dari fajar 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
salah mimpi 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Susulin gih Na, sebelum fajar semakin merajalela karena rindu 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Lanjut Thoorr, perkuat lagi konfliknya biar cerita semakin menarik... semangat /Good//Good/
Hamzah: Ya.. kalau gaada kendala ya😇
total 1 replies
🍓ADIRA🍓
kwkwkwkw kecewa ya jar 😅😅
🍓ADIRA🍓
Dan segera lah bergegas ke RSJ kau Bay 🤣🤣🤣
Nona Cloe
heloo qha qha
Hamzah: halo 👋🏻 terima kasih sudah mampir 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!