NovelToon NovelToon
Karina Dan Sistem Kehidupan

Karina Dan Sistem Kehidupan

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Transmigrasi
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: kirana_euforia

Karina, gadis yatim piatu berusia tujuh belas tahun, kehilangan nyawanya setelah menyelamatkan seluruh penumpang bus yang terjun ke jurang. Namun, kematiannya bukan akhir. Sebuah sistem misterius memberinya kesempatan hidup kembali dengan satu syarat: mengumpulkan 100.000 Poin Kehidupan dengan menyelamatkan para antagonis pria dari takdir tragis mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kirana_euforia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Karina Wardhani

Hujan baru saja reda ketika bus jurusan Cipatujah Tasikmalaya itu meliuk ditikungan kesembilan belas.

Seorang gadis bernama Karina duduk di kursi pangling belakang dekat dengan jendela yang embunnya belim sepenuhnya hilang, sambil memeluk tas ranselnya yang berisi seragam kerja paruh waktu dan sekotak nasi yang belum sempat dimakan sejak siang.

Dia baru saja pulang dari toko roti tempatnya bekerja sepulabg sekolah.

Sejak Bu Yanti pengasuh terakhir yang masih mau mengurusnya dipanti meninggal dua tahun lalu, Karina belajar satu hal; tidak akan ada yang menunggunya dirumah, jadi lebih baik ia menunggu orang lain.

Anak anak panti yang lebih kecil misalnya, atau nenek penjual jamu didepan sekolah yang suka ia bantu menyebrang.

Atau seperti sore itu, seorang ibu hamil yang berdiri sejak halte pertama karena bus penuh, sampai Karina berdiri dab menyerahkan kursinya sambil tersenyum seolah bukan apa apa.

"Duduk disini aja bu, saya deket sini kok turunnya." Katanya yang padahal tempatnya tinggal masih sekitar empat puluh menit lagi.

Ibu itu segera mengucapkan terimakasih berkali kali dan Karina hanya tersenyum sambil mengangguk kecil lalu menatap jalan yang mulai menanjak ran berkelok, diaput tebing disatu sisi dan jurang yang ditumbuhi pohon pinus dilain sisi.

Yang tidak dia tau itu adalah senyum terakhirnya didunia ini dan semua terjadi dalam hitungan detik yang terasa memanjang selamanya.

Sebuah truk pengangkut pasir muncul dari tikungan berlawanan, oleng kejalur bus karena rem blong.

Supur bus yang bernama Pak Darto, pria berusia lima puluhan yang selalu menyapa penumpang dengan ramah setiap kali mereka turun, membanting setir sekuat tenaga kekiri.

Namun truk itu lolos menyerempet badan bus dengan suara logam yang memekik telinga dan menyebabkan bus kehilangan keseimbangan.

Roda belakang tergelincir aspal yang licin sehabis hujan dan badan bus miring lalu berhenti dengan setengah bagian belakang menggantung diatas jurang.

Selama tiga detik semua orang didalam bus seketika terdiam, bahkan bayi yang tadinya menangis pun berhenti, seolah tubuh bayinya tau bahwa menangis bukan hal yang tepat untuk dilakukan.

Lalu semua orang berteriak dengan panik.

"Busnya miring, jangan gerak dulu, jangan gerak!!" Pak Darto berteriak sekencang mungkin dari kursi kemudi yang sekarang berada jauh lebih tinggi dari lantai bagian belakang.

Pintu depan sudah tidak bisa dibuka sebagian badan bus disana ikut menggantung.

Karina yang berada dibagian belakang justru berada dititik paling stabil untuk sementara.Ia melihat kedepan, kursi kursi depan dipenuhi wajah pucat orang orang.

Seorang anak SD menangis memeluk tas sekolahnya, ibu hamil yang tadi ia beri kursi duduk kini gemetar memegang perutnya dan seorang kakek kakek yang tongkatnya jatuh kelorong dan tidak berani dia ambil.

Pintu darurat berada disisi kanan dekat dengan tempat karina berdiri, satu satunya jalan keluar.

"Semuanya tenang." Suara Karina keluar dengan tenang dan mantap.

"Kita keluar satu satu lewat sini, pelan pelan jangan lari dan jangan dorong dorongan."

Ia berdiri menahan tubuhnya disandarkan kursi didekatnya karna lantai bus miring hampir lima belas derajat.

Ia membuka pintu darurat dengan kedua tangannya sampai berhasil. Angin dingin dari jurang langsung menerpa wajahnya.

"Ibu yang hamil duluan, ayo bu saya bantu." Ucapnya menoleh kearah ibu hamil tadi.

Satu persatu ia menuntun semua orang keluar, ibu hamil itu ia pegangi tangannya sampai kakinya menginjak tanah yang stabil dipinggir jalan.

Anak SD yang menangis ia gendong sebentar, lalu ia serahkan kepada seorang bapak bapak yang sudah keluar duluan.

Kakek kakek dengan tongkat itu ia bopong hampir separuh badannya mengabaikan lengannya sendiri yang lecet terkena pecahan kaca jendela yang retak.

Bus itu bergerak beberapa detik seolah olah sedang berpikir kapan akan menyerahkan sepenuhnya pada gravitasi.

"Neng ayo cepetan, neng duluan aja!" Seorang bapak bapak didekat pintu berteriak setelah melihat hanya tinggal dirinya, seorang remaja perempuan lainnya dan Karina yang tersisa.

"Bapak dulu, saya dibelakang" Jawab Karina sambil mendorong bapak itu keluar lebih dulu.

"Remaja perempuan disampingnya dari sekolah SMA berbeda dari Karina menangis gemetaran seolah kakinya seperti tidak bisa digerakkan lagi.

"Kamu duluan" Ucap Karina sambil memegang kedua bahu gadis itu supaya katanya fokus. "Lihat aku, kamu pasti bisa, satu langkah aja dulu"

Gadis itu mengagukkan dan dituntun Karina sampai keambang pintu darurat, lalu melompat ke tangan tangan orang orang yang sudah menunggu diluar.

Sekarang hanya tersisa Karina sendiri didalam bus, namun bus segera berderak sekali lagi, kali ini lebih lama dan lebih dalam seperti erangan besi yang akhirnya kalah.

Karina melompat kepintu darurat, tangannya sudah menggapai pegangan diluar yang disodorkan Paak Darto yang entah bagaimaana bisa keluar lebih dulu dan berbalik untuk menariknya.

Untuk sepersekian detik jari jemari mereka nyaris bertautan. Lalu tanah dibawah roda belakang bus runtuh sepenuhnya dan bus itu meluncur kejurang membawa Karina yang belum sempat melompat keluar.

Dan yang terakhir dia dengar bukan suara benturan, melainkan suara Pak Darto yang berteriak namanya yang baru diketahuinya dari nametag seragam kerja Karina dan suara samar tangisan lega dari orang orang yang selamat, sebelum akhirnya semuanya menjadi gelap gulita sekaligus sunyi.

...----------------...

Karina membuka matanya dan melihat tempat asing yang tidak ada langit, tidak ada lantai yang bisa rasakan teksturnya, hanya warna putih pucat yng menyerupai kabut namun tidak lembap, tidak dingin, tidak juga hangat.

Ia mencoba melihat tubuhnya sendiri yang masih mengenakan seragam kerja toko roti yang sama dengan bekas lecet ditangannya tapi tidak merasakan rasa sakit samaa sekali.

"Aku.... mati?" Gumamnya pada dirinya sendiri.

[Benar. Selamat datang Tuan Rumah.]

Suara itu muncul entah darimana yang tidak terdengar seperti suara manusia tapi juga tidak seperti suara robot yang datar. Lebih mirip seseorang yang membacakan pengumuman resmi sambil menahan untuk tidak terdengar bosan.

Karina berputar putar mencari sumber suara itu meski ia sudah tidak yakin akan menemukan apa apa. "Siapa itu? Dimana aku sebenarnya?"

[Tuan Rumah bisa memanggil saya Sistem Kehidupan.]

[Tuan Rumah secara teknis berada diruang transisi antara kematian dan opsi lain.]

[Saya akan menjelaskan opsi itu sebentar lagi, tapi izinkan saya menyampaikan laporan singkat ini dulu.]

Sebuah layar hologram tembus pandang muncul dihadapannya, melayang seperti kaca tipis yang menampilkan tulisan.

[LAPORAN AKHIR HAYAT]

[Nama: Karina Wardhani.]

[Usia: 17 Tahun.]

[Status Keluarga: Yatim piatu sejak usia 9 tahun.]

[Catatan perilaku hidup: 6.847 tindakan kebaikan tercatat, termasuk tindakan penyelamatan yang mengorbankan nyawa sendiri demi 23 penumpang bus.]

[Kesimpulan: Kandidat memenuhi syarat program kesempatan kedua.]

Karina membaca tulisan itu dengan seksama lalu mendongakkan kepalanya. " Dua tiga orang... mereka semua selamat?"

[Semua dua puluh tiga penumpang dan supir bus dinyatakan selamat dengan luka ringan hingga sedang.]

[Dan Tuan Rumah adalah satu satunya korban jiwa dalam insiden tersebut.]

Ada yang aneh setelah kalimat itu. Bukan jeda dari Sistem yang sedang memproses sesuatu, melainkan jeda yang sengaja diberikan, seolah memberi Karina waktu untuk merasakan sesuatu.

Dan ia memang merasakan sesuatu, bukan penyesalan melainkan semacam kelegaan yang aneh. Setidaknya semua orang didalam bus itu bisa pulang. Setidaknya ibu hamil tadi bisa melahirkan anaknya nanti.

"Syukurlah." Katanya pelan dengan tulus tanpa ia sadari.

[Tuan Rumah cukup menarik.]

[Biasanya sembilan dari sepuluh kandidat pada tahap ini biasanya bertanya "kenapa harus aku" atau "apa aku bisa hidup lagi"]

[Tapi Tuan Rumah justru menanyakan kabar orang lain terlebih dahulu.]

"Ya... emangnya itu yang penting kan?"

[Justru karena itu Tuan Rumah lolos seleksi tahap pertama tanpa perlu saya jelaskan kriterianya.]

Karina mengerutkan keningnya. "Seleksi? Untuk apa?"

[Untuk program yang saya sebutkan: Kesempatan Kedua.]

[Secara sederhana saya bisa mengembalikan Tuan Rumah ketubuh Anda saat masih hidup, pada titik waktu sebelum kecelakaan itu terjadi. Tapi tentu saja itu tidak gratis.]

Untuk pertama kalinya sejak berada diruangan putih itu, sesuatu didada Karina bergerak, seperti orang yang sudah terlalu sering dikecewakan untuk berani percaya begitu saja.

"Tapi aku nggak punya apa-apa buat bayar." Ucapnya jujur.

[Yang saya butuhkan dari Tuan Rumah adalah 100.000 Poin Kehidupan.]

"Poin...kehidupan?" Ulangnya dengan ragu ragu takut salah mendengar.

[Benar. Satuan yang mengukur seberapa besar kebahagiaan sejati yang berhasil Anda hadirkan untuk orang lain, khususnya dalam program ini, bagi sosok sosok yang selama ini ditakdirkan untuk tidak pernah bahagia.]

Layar tembus pandang berganti tampilan. Kali ini menunjukkan semacam peta bercabang seperti pohon keputusan raksasa, dengan ribuan cabang kecil yang masing-masing berkedip seperti bintang jauh.

[Ada banyak sekali dunia diluar dunia Anda Tuan Rumah.]

[Sebagian besar adalah dunia yang penah dituliskan sebagai kisah fiksi oleh seseorang, dan disetiap dunia itu terdapat tokoh tokoh yang nasibnya sudah ditentukan sejak awal cerita dituliskan.]

[Tugas Tuan Rumah sederhana namun tidak mudah; Masuki dunia dunia itu dengan meminjam rata salah satu tokoh di dalamnya.]

[Tuan Rumah juga harus memastikan target itu yaitu karakter antagonis mendapatkan akhir yang benar benar bahagia.]

Karina terdiam sejenak mencerna kata kata sistem itu. "Kenapa harus antagonis? Kenapa bukan... Emm aku nggak tau, tokoh baik baik yang emang pantes bahagia dari awal?"

[Karena tokoh utama atau tokoh baik memiliki penulis yang menyayangi mereka.]

[Mereka nyaris selalu berakhir bahagia, apapun yang terjadi ditengah cerita.]

[Tapi berbeda dengan antagonis pria, terutama yang lahir dari keluarga yang tidak utuh, dari dunia uang memperlakukan mereka dengan buruk sejak awal.]

[Mereka biasanya ditakdirkan menderita semata mata supaya tokoh utama terlihat lebih bercahaya.]

[Saya pikir Tuan Rumah akan mengerti bagaimana rasanya ditakdirkan untuk tidak diperhatikan siapapun.]

Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada yang seharusnya boleh dilakukan oleh sebuah suara tanpa wajah.

Karina memejamkan matanya sebentar, memikirkan Bu Yanti, memikirkan panti yang dingin dimalam hari, dan betapa seringnya ia yang harus tersenyum terlebih dahulu supaya orang lain merasa nyaman didekatnya.

"Oke." Katanya sambil membuka matanya dengan tatapan yang jauh lebih mantap.

"Trus gimana caranya? Aku harus ngapain persisnya?"

[Setiap Tuan Rumah memasuki sebuah dunia, saya akan meminjamkan tubuh salah sayu karakter disana untuk Tuan Rumah tempati.]

[Biasanya karakter kecil yang tidak terlalu penting dalam alur asli, supaya tidak mengguncang jalan cerita secara drastis diawal.]

[Ingatan Tuan Rumah akan tetap untuh meskipun Anda juga memiliki akses pada ingatan dasar karakter yang akan Tuan Rumah tempati.]

[Poin akan diberikan berdasarkan seberapa dalam dan tulus kebahagiaan yang berhasil Tuan Rumah hadirkan untuk Target, bukan sekedar akhir yang tampak manis dipermukaan.]

[Semakin sulit dunia yang Tuan Rumah hadapi, semakin besar potensi poin yang bisa Tuan Rumah kumpulkan.]

[Kegagalan tidak akan membunuh Tuan Rumah secara permanen, Tuan Rumah hanya akan ditarik keluar dari dunia itu tanpa poin dan bisa mencoba dunia yang lain.]

"Kalau aku berhasil kumpulin seratus ribu poin itu?"

[Tuan Rumah akan dikembalikan hidup hidup didunia Tuan Rumah sendiri, dengan seluruh ingatan dan hal hal yang Tuan Rumah pelajari sepanjang perjalanan akan tetap ada bersama Tuan Rumah.]

Karina menatap peta bercabang yang masih berkedip pelan dihadapannya.

Ribuan dunia dan di ujung entah keberapa dirinya bisa kembali bernapas, bisa merasakan matahari lahi dan mungkin akhirnya bisa membangun sesuatu yang disebut rumah.

"Kalo aku nggak setuju?" Tanyanya bukan karena ragu tapi karna ingin tau apakah ini benar benar pilihan atau sekedar basa basi.

[Maka Tuan Rumah akan melanjutkan perjalanan sebagaimana mestinya orang yang telah tiada.]

[Saya tidak akan memaksa siapapun mengambil program ini. Sistem hanya menawarkan kepada mereka yang pantas untuk mendapatkannya.]

Karina memikirkannya dengan wajah serius.

"Oke aku ikut, seratus ribu poin kan? Akan aku kimpulin." Katanya mantap dengan keputusannya.

[Keputusan diterima.]

[Selamat Tuan Rumah telah terdaftar sebagai pengguna program kesempatan kedua.]

Layar tembus pandang berubah lagi, menampilkan semacam bilah kemajuan berwarna keemasan yang masih kosong sepenuhnya.

[Poin Kehidupan: 0 / 100.000]

[Dunia pertama sudah saya pilihkan yang cukup ramah untuk pemula meski tidak berarti mudah.]

[Judul Dunia: Cinta Terlarang Sang Ratu Sekolah.]

"Siapa nama tubuh yang bakal aku pakai?" Tanyanya mencoba mendengarkan dengan tenang meskipun jantungnya berdegup cepat.

[Nama: Alya Ramadhani.]

[Status: Siswa pindahan.]

[Usia: 16 Tahun.]

[Peran: Figuran.]

[Bersiap.]

[Perjalanan akan segera dimulai.]

Cahaya putih sekeliling Karina mulai memudar dan digantikan oleh warna warna lain yang perlahan membentuk sesuatu langit langit kelas, dengan suara bel sekolah dikejauhan dan bisik bisik siswa yang sedang membicarakan murid baru yang akan masuk hari itu.

Karina atau yang lebih tepatnya Alya menarik nafas dalam dalam. "Baiklah, dunia pertama ayo kita mulai."

1
Diana Lely
kirana apa karina thor
kirana_euforia: karina, kalo kirana namaku
total 1 replies
Priska Heriska
bagus semangat!
reaaannaaa
sistem sampah,buat apa ada sistem
buang aja,karina mati lagi aja
Alnilam Mintaka
Bagus!!!
kirana_euforia: tengkyu(⁠≧⁠▽⁠≦⁠)
total 1 replies
Alnilam Mintaka
Semangat Thor!!! 💪
Alnilam Mintaka
jujur janggal . lvl author tinggi tapi karya cuma satu??
Alnilam Mintaka: okey .. good luck thor
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!