NOVEL INI ADALAH FIKSI (Alternate Universe) DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT
Haruma dan Harumi, dua kakak beradik yang kini sudah kuliah semester 5 di salah satu universitas yang cukup ternama di Indonesia, tak lama lagi akan mengikuti sebuah lomba seni drama yang bertempat di Candi Prambanan.
Lomba itu mengangkat tema tentang kisah cinta Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang.
Akan tetapi, momen perlombaan yang diikuti oleh Haruma-Harumi justru akan menjadi sebuah pertunjukan yang MENUMPAHKAN DARAH MANUSIA ATAS NAMA DENDAM.
Seolah, kutukan Bandung Bondowoso kepada Roro Jonggrang, menimbulkan kutukan mengerikan.
Apa yang akan terjadi dengan Harumi saat tampil di atas panggung sakral di depan Candi Prambanan itu?
Dan apa yang akan dilakukan oleh Haruma?
.
.
.
DISCLAIMER‼️
Jika ada unsur sejarah, latar tempat, seni, budaya, nama tokoh, ritual, kepercayaan, dan mitos yang sama dengan kehidupan nyata, itu semua murni hanya untuk dijadikan bagian dalam cerita saja.
SELAMAT MEMBACA... ☺
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 (PROLOG) DENDAM DAN KUTUKAN YANG BANGKIT KEMBALI
🌕🌕🌕🌕🌕🌕🌕
🛕🛕🛕🛕🛕🛕🛕
.....
"Nang-Ning-Nung~ Ning-Nang-Neng-Gooong~"
.....
"Nang-Ning-Nuuunnnggg~~~"
.....
"GWOOOOOONNNGGG!!!~~~"
.....
Suara gamelan menggema nyaring di pelataran Candi Prambanan malam itu.
Alunan musik yang menjadi pengiring perlombaan seni drama tingkat mahasiswa se-Indonesia tersebut terdengar begitu sakral di tengah udara malam yang dingin.
Candi Prambanan berdiri megah di belakang panggung.
Menjulang tinggi.
Diam.
Namun entah mengapa, malam itu kemegahannya terasa berbeda.
Indah... Megah... Dan...
TERASA SANGAT SAKRAL.
Di segala penjuru pelataran Candi Prambanan, ratusan pengunjung telah memenuhi area pertunjukan. Mereka datang untuk menyaksikan perlombaan seni drama yang mengangkat kisah legenda Jawa yang begitu terkenal.
KISAH CINTA BANDUNG BONDOWOSO DAN RORO JONGGRANG.
Sebuah legenda yang selama berabad-abad melekat begitu kuat dengan Candi Prambanan.
Di depan panggung, tiga orang juri yang telah menilai beberapa peserta sebelumnya sedang beristirahat sejenak. Mereka memeriksa lembar penilaian sambil menunggu peserta berikutnya.
Dua nomor urut lagi...
Giliran tim drama dari kampus Haruma dan Harumi akan tampil.
Di belakang panggung, seluruh mahasiswa yang menjadi pemeran sudah bersiap dengan kostum masing-masing.
Ada yang sedang merapikan pakaian.
Ada yang menghafalkan dialog.
Ada pula yang tampak gugup sambil sesekali menarik napas panjang.
Di tengah kesibukan itu, Dion (salah satu alumni kampus yang dipercaya menjadi sutradara mereka) berusaha memastikan semuanya berjalan sesuai rencana.
.....
.....
"Oke, sebentar lagi giliran kita tampil!" teriak Dion.
Semuanya segera berkumpul di dekatnya.
"Gue mau kasih arahan sekali lagi. Tolong semuanya fokus! Jangan gugup! Ingat perjuangan kita selama latihan!" kata Dion.
Dion kemudian menatap satu per satu anggota timnya. Kemudian Dion fokus pada Yuda.
"Yuda!"
"Iya, Bang!"
"Lo harus ingat! Suara lo harus kencang! Jangan pelan kayak waktu latihan. Lo itu Bandung Bondowoso! Harus kelihatan marah dan berwibawa!"
Yuda mengangguk mantap, "Oke, Bang! Siap!"
Dion kemudian mengalihkan pandangannya kepada Harumi.
"Harumi, lo juga harus lebih natural. Jangan gugup. Dialognya jangan patah-patah. Terutama waktu adegan terakhir." kata Dion.
Namun...
Harumi tidak menjawab. Ia hanya menganggukkan kepala. Lalu tersenyum.
Senyuman yang aneh. Senyuman yang terlalu lebar. Seperti seseorang yang sedang menyimpan sesuatu di balik wajahnya.
Namun Dion tidak menyadarinya. Begitu pula dengan yang lainnya. Hanya Haruma yang sempat memperhatikan senyuman itu.
Dan entah kenapa... Bulu kuduknya tiba-tiba meremang halus.
.....
.....
"Dan Haruma, Septi, Fahri, Okta..." Dion kembali berbicara.
"Gerakan badan kalian harus benar-benar ekspresif! Kalian kan jadi bangsa jin yang membantu Bandung Bondowoso membangun candi. Jangan setengah-setengah!" kata Dion.
"Oke! Siap!" jawab mereka hampir bersamaan.
Dion tersenyum lega, "Oke! Semangat semuanya!"
.....
.....
Beberapa menit kemudian... Suara MC kembali menggema dari atas panggung.
"Okeee...!! Kita akan menyaksikan penampilan dari tim selanjutnyaaa...!!"
Tepuk tangan penonton mulai terdengar riuh.
"Mari kita sambut dengan meriah...!!"
MC berhenti sejenak.
"TIM DRAMA ARYA SENAAA...!!"
Tepuk tangan langsung membahana.
Satu per satu anggota tim naik ke atas panggung. Dion berdiri di sisi panggung sambil memperhatikan semuanya.
"Silakan kalian boleh memperkenalkan diri masing-masing, sekaligus perannya," kata sang MC.
Satu per satu mereka memperkenalkan diri. Nama, asal kampus, dan karakter yang mereka perankan.
Sampai akhirnya... Giliran Harumi.
Harumi maju beberapa langkah ke depan. Ia mengenakan pakaian dominan berwarna merah, menyerupai pakaian seorang putri kerajaan.
Di bawah cahaya lampu panggung, wajahnya terlihat cantik.
Namun... Haruma kembali merasakan sesuatu yang tidak beres.
Harumi memperkenalkan dirinya sebagai pemeran Roro Jonggrang.
Suaranya terdengar tenang. Terlalu tenang.
Dan sekali lagi... Haruma melihat senyum itu.
Senyuman menyeringai yang terasa asing. Seolah-olah adiknya yang berdiri di dekatnya itu bukanlah Harumi yang selama ini ia kenal.
Haruma menelan ludah. Namun ia mencoba mengabaikan perasaannya. Mungkin hanya gugup. Mungkin hanya perasaannya saja. Tidak ada yang aneh. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Setidaknya... itulah yang Haruma pikirkan saat itu.
.....
.....
Setelah semua pemeran selesai memperkenalkan diri, tiga orang juri memberikan komentar awal mengenai kostum dan kesiapan para pemain.
Kemudian... Lampu panggung mulai diredupkan. Suara penonton perlahan mereda. Dan alunan gamelan kembali terdengar.
"Nang-Ning-Nung..."
Suasana seketika berubah. Pertunjukan pun dimulai. Satu demi satu adegan dimainkan dengan baik. Dialog terdengar lantang. Gerakan para pemain sesuai latihan.
Dion yang berdiri di pinggir panggung mulai tersenyum puas. Para juri tampak serius memperhatikan. Penonton pun terlihat terpukau. Semuanya berjalan sempurna.
Sampai akhirnya... Pertunjukan memasuki adegan terakhir.
Adegan antara Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang. Adegan yang paling menentukan. Adegan ketika Roro Jonggrang akan menerima kutukannya.
Yuda berdiri tepat di hadapan Harumi. Wajahnya dibuat penuh amarah.
"Kau telah menipuku, Roro Jonggrang!" suara Yuda menggema di seluruh pelataran.
Ia melangkah maju.
"Kau akan menerima akibatnya, Roro Jonggrang!" kata Yuda.
Suasana semakin tegang.
Kemudian Yuda mengangkat tangannya. Dan dengan suara penuh kemarahan, ia mengucapkan dialog terakhirnya.
"KAULAH YANG AKAN MENJADI CANDI TERAKHIR, RORO JONGGRANG!!"
"GWOOOOOONNNGGG!!!"
Suara gong menggelegar. Lampu panggung berkedip cepat. Para penonton terdiam.
Inilah saatnya...
Harumi seharusnya mulai berakting seolah-olah tubuh Roro Jonggrang berubah menjadi batu.
Namun...
HARUMI TIDAK BERGERAK.
Ia hanya berdiri diam. Menatap Yuda.
Kemudian... Harumi tersenyum.
Bukan senyum seorang putri yang sedang menerima kutukan. Melainkan senyum menyeringai yang membuat wajahnya terlihat mengerikan.
Dion langsung mengerutkan kening.
"Harumi...!!" Dion berbisik dari pinggir panggung.
"Berubah jadi patung...!!" kata Dion lagi.
Namun, Harumi tetap diam.
"Harumi!!" bisik Dion sekali lagi.
Para juri mulai saling bertukar pandang. Salah satu dari mereka bahkan mulai menulis sesuatu di lembar penilaian. Mereka mungkin mengira Harumi lupa adegan.
Mungkin gugup. Mungkin salah gerakan.
Namun... Haruma merasakan sesuatu yang berbeda.
Ia berdiri di dekat tangga panggung setelah menyelesaikan perannya sebagai bangsa jin. Matanya tertuju pada Harumi, adiknya itu.
Kemudian...
Ia melihat tangan Harumi itu bergerak perlahan. Haruma mengernyitkan dahi.
"Apa...?" gumam Haruma.
Tangan Harumi masuk ke balik pakaian kostumnya.
Beberapa detik kemudian... Sesuatu berkilat di bawah cahaya lampu panggung.
Sebuah pisau!
Haruma membeku.
PISAU.
Entah dari mana Harumi mendapatkannya.
Napas Haruma mendadak tercekat. Jantungnya berdetak semakin cepat.
Tatapan Harumi beralih kepada Yuda. Dan saat itulah Haruma menyadari sesuatu.
Gerakan tangannya... Bukanlah bagian dari pertunjukan.
Harumi benar-benar hendak menusuk Yuda.
Waktu seolah berhenti.
Suara penonton terdengar samar.
Suara gamelan berubah seperti dengungan panjang di telinga Haruma.
Haruma hanya melihat satu hal.
Pisau itu.
Tangan Harumi yang mulai terangkat. Dan tubuh Yuda yang sama sekali tidak menyadari bahaya di depannya.
Tanpa berpikir panjang...
HARUMA BERLARI.
Ia menaiki tangga panggung.
Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah.
Kemudian Haruma dengan cepat berdiri tepat di hadapan Yuda. Membelakanginya.
Dan dalam sepersekian detik...
Haruma melihat mata Harumi. Tatapan mereka bertemu. Senyuman Harumi semakin lebar.
Kemudian...
"CRAKKKHHH!!!"
Pisau tajam itu menancap tepat di perut Haruma.
"AKKKHHH!!!" teriak Haruma.
Tubuh Haruma tersentak. Rasa sakit yang luar biasa langsung menjalar ke seluruh tubuhnya. Matanya terbelalak. Tangannya refleks memegang perut.
Darah segar mulai mengalir membasahi pakaian yang dikenakannya.
"NGIIIIIINNNGGG!!!" telinganya berdenging keras.
Suara penonton berubah menjadi keheningan. Panggung mendadak diam seribu suara dan bahasa.
Namun di tengah kepanikan itu...
Haruma masih sempat menatap Harumi. Adik yang berdiri tepat di hadapannya. Perempuan yang baru saja menusuknya.
Dan Harumi... Masih tersenyum. Senyuman menyeringai yang sama.
Senyuman yang sejak awal malam itu tidak pernah bisa dijelaskan oleh Haruma.
Tubuh Haruma akhirnya kehilangan kekuatannya. Ia terjatuh. Tergeletak di atas panggung.
Tepat di antara dua pemeran utama drama itu.
BANDUNG BONDOWOSO...
dan...
RORO JONGGRANG.
Namun malam itu... yang tertumpah bukan darah dalam sebuah pertunjukan. Melainkan darah sungguhan.
Dan mungkin...
kutukan yang selama ini hanya dianggap sebagai legenda...
Telah benar-benar kembali.
.............
.......
.......
...Hai, para pembaca semua!...
...Ketemu lagi sama DENI TINT....
...Jangan lupa buat tinggalkan jejak (Like dan Komentar) kalian, ya......
...Dan, selamat membaca sampai tamat!...
kira kira ntar ada plot Twitter nya nggak ya, kek pov lain bwt bantu mereka. selain yuda