NovelToon NovelToon
Dewa Lukis Kecantol Siluman Rubah

Dewa Lukis Kecantol Siluman Rubah

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Cinta Beda Dunia / Suami amnesia / Fantasi
Popularitas:654
Nilai: 5
Nama Author: Musang_Galau

Chandra adalah dewa jatuh yang turun ke bumi menjadi manusia, dia tidak menyadari kekuatan dewa nya tidak hilang. Kesehariannya adalah melukis dan menjualnya di pasar, hidupnya berubah setelah memasuki galeri teratai hitam menemukan banyak keberuntungan dan juga harem yaitu Yueji siluman rubah ekor sembilan cantik dan mempesona, . Apakah hubungan Chandra akan menyadari bahwa dirinya adalah seorang dewa jatuh setelah bertemu Yueji?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Musang_Galau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lukisan Yang Hidup

"Ayo, silakan beli, dua puluh ribu saja!"

"Lima puluh, lima puluh! Ada yang mau ayam bakar? Lima puluh ribu dapat dua ayam bakar!"

Suasana pasar begitu riuh dengan suara para pedagang yang menjajakan barang dagangannya.

"Chandra, kamu ini berjualan lukisan di pasar? Sebaiknya lukisanmu ini di jual di galeri saja?" ucap seorang nenek.

"Aku lebih suka menjualnya di pasar, Nek," ucap lelaki tampan berpenampilan kasual dengan kacamata hitam yang menempel di wajahnya. Dia adalah Chandra.

Chandra adalah seorang dewa yang jatuh dari langit. Ingatannya yang hilang membuat dirinya kesulitan mengetahui siapa identitas aslinya. Keahlian yang masih dia ingat hanyalah melukis apa pun yang baru pertama kali dia lihat.

"Lukisan kamu sungguh bagus, Anak Muda," ucap seorang lelaki tua.

"Hehe, terima kasih, Paman. Apa Paman berminat untuk membeli lukisan ini?"

"Tentu saja. Lukisanmu begitu hidup dan sangat realistis."

Pria tua itu memandangi lukisan pegunungan yang menggambarkan matahari terbenam lengkap dengan burung-burung camar.

PRAK!

"Apa? Apa aku tidak salah lihat?"

Lukisan itu terjatuh ke jalan aspal. Pria tua itu begitu terkejut ketika burung-burung camar di dalam kanvas seolah bergerak.

"Kenapa, Paman?" tanya Chandra heran.

"Anak Muda, apa lukisanmu ini menggunakan teknologi?"

"Tidak."

Pria tua itu membolak-balikkan lukisan tersebut, dan ternyata memang benar-benar hanya sebuah lukisan di atas kanvas.

"Aku yakin barusan burung-burung camar ini bergerak menuju matahari."

Chandra mengambil lukisan tersebut dan tidak melihat hal yang janggal. "Sepertinya Paman berhalusinasi. Atau mungkin efek visual realistis yang terkena sinar, jadi terlihat bergerak," ucap Chandra.

"Sepertinya begitu. Berapa lukisan ini kamu jual, Anak Muda?"

"Hanya tiga ratus ribu saja, Paman."

"Aku menghargai lukisanmu, ini di atas rata-rata. Baiklah, aku beri kamu lima ratus ribu. Berikan barcode scan-nya."

Ting-tong! Pembayaran berhasil.

"Terima kasih, Paman, untuk apresiasi seninya. Aku jadi tidak enak."

"Anak Muda, kalau kamu punya waktu luang, datanglah ke galeriku di ujung pasar ini. Aku senantiasa menerima lukisanmu yang memiliki kualitas bagus dengan harga yang pantas."

Wajah Chandra berbinar menerima ajakan tersebut. "Benarkah, Paman?"

"Tentu saja. Ini kartu namaku. Kalau kamu berkunjung, hubungi nomor di sini. Aku pasti akan menyambutmu."

"Baik, Paman. Terima kasih banyak."

Chandra memegangi kartu nama tersebut sambil tersenyum. Tertera nama Galeri Teratai Hitam, pemilik: Lubis.

"Aku tunggu kedatanganmu, Anak Muda."

"Baik, Paman. Hati-hati di jalan."

Chandra melambaikan tangan ke arah Kakek Lubis yang berjalan menjauh sambil menenteng lukisan tersebut.

Kakek Lubis memajang lukisan tersebut di area ruang kantornya.

"Apa aku berhalusinasi, atau memang karya anak muda itu begitu memukau hingga terlihat efek hidup?" ucap Kakek Lubis sambil mengelus jenggot putihnya.

Cahaya berpendar keluar dari lukisan tersebut. Mata Kakek Lubis terbelalak.

"Apa?!"

Kakek Lubis mendekati lukisan tersebut sambil meraba-raba. Burung-burung camar itu terlihat hidup, dan pepohonan seakan terkena terpaan angin.

"Luar biasa! Siapa anak muda itu sebenarnya?" Kakek Lubis memalingkan wajahnya, mereka-reka sosok Chandra.

"Untuk sementara aku tutupi dulu lukisan ini, khawatir membuat kegaduhan."

Kakek Lubis menutupi lukisan tersebut dengan kain putih, lalu kembali duduk di kursi kerjanya.

"Apa anak muda itu menggunakan ilmu sihir pada lukisannya? Tapi aku merasa dia tidak bisa melakukan hal itu. Sungguh penuh misteri," ucap Kakek Lubis yang termenung.

"Kakek, apa Kakek di dalam?"

"Masuk, Sayang. Kakek di dalam."

"Kakek, ini obat Kakek ketinggalan. Buru-buru amat sih datang ke galeri?"

"Sabrina, Kakek bosan minum obat terus. Lidah Kakek mati rasa karena sering makan obat pahit."

Wajah Sabrina terlihat kesal. "Kakek ini harus jaga kesehatan. Ingat umur!"

"Iya, Sayang. Cucuku memang paling mengerti Kakek."

Sabrina lalu memegang tangan Kakek Lubis. "Kek, apa sebaiknya Kakek pensiun saja?"

"Memangnya kamu mau menggantikan Kakek, hah?"

Sabrina melirik ke kanan dan ke kiri ruangan kakeknya. "Jujur, aku tidak mau. Di sini sepi. Bahkan pembeli pun jarang. Aku kurang suka, lebih baik buka toko kelontong."

"Apa? Kamu menghina galeri Kakek?"

"Bukan gitu. Tapi kan Sabrina masih muda, masa mengurus tempat sepi seperti kuburan ini?"

"Kamu ini membuat hati Kakek sakit saja."

"Umm... maaf, Kakek."

"Sudahlah. Biar Kakek kelola galeri ini sampai nyawa berhembus. Lagipula, Kakek sudah punya kandidat buat tempat ini."

"Benarkah? Siapa? Cucu Kakek kan cuma aku saja. Harold kan masih di Belanda," tanya Sabrina keheranan.

"Dia adalah pelukis jalanan. Karyanya itu yang sengaja Kakek tutupi," tunjuk Kakek Lubis ke arah lukisan.

"Misterius banget. Memang siapa dia?"

"Cucuku yang cantik, nanti juga kamu mengetahuinya."

"Memang sehebat apa sih dia?"

Sabrina mendekati lukisan tersebut, lalu menghempaskan kain yang menutupinya.

WOSH!

"APA?!" Sabrina begitu terkejut ketika melihat lukisan tersebut bergerak layaknya animasi.

Sabrina mencabut lukisan tersebut lalu membolak-baliknya. Pikirnya, mungkin ada teknologi yang menggerakkannya.

"Ini... ini lukisan biasa?!"

"Hahaha, memang benar itu lukisan biasa. Kakek saja begitu takjub dengan mahakarya ini. Sepertinya anak muda itu bukan orang sembarangan."

"Apa? Jadi pelukisnya masih muda?"

"Betul. Sepertinya sebaya denganmu. Terlebih lagi, dia lelaki yang sangat tampan dan rupawan, Hahaha."

"Apa zaman sekarang masih ada orang yang bisa sihir?"

"Kakek juga tidak tahu. Dunia ini kan memang penuh misteri, Sayang."

"Tapi ini terlalu aneh, Kakek. Memangnya dia Harry Potter?"

"Hahaha, biar nanti Kakek selidiki."

"Sudahlah, aku mau keluar dulu ya, Kek. Hari ini teman-teman mengajakku main ke mall."

"Aih, kamu ini. Kirain mau menemani Kakek di sini."

"Kakekku sayang, bagi uangnya dulu dong?"

"Sudah kuduga. Kamu ini, ya!"

Kakek Lubis mengeluarkan ponselnya.

Ting-tong! Transaksi berhasil: 1.000.000 Rupiah.

"Ah, memang kakekku yang paling tampan! Muach!" ucap Sabrina sambil mencium pipi kakeknya.

"Jadi, Kakek sekarang ditinggal seorang diri lagi?"

"Kan Kakek sudah biasa sendiri. Nanti Sabrina kembali lagi, kok. Daaah, Kakek!" ucap Sabrina seraya keluar dari ruangan.

BUGG!

"Aduh! Punya mata itu lihat-lihat!" bentak Sabrina sambil menunduk merapikan pakaiannya.

"Maaf, saya tidak sengaja."

Perlahan wajah Sabrina terangkat, dan dia tersentak ketika melihat lelaki yang menabraknya begitu tampan.

"Tampan sekali..." gumam Sabrina tanpa sadar.

"Apa, Nona?" tanya Chandra.

"Tidak! Lain kali hati-hati!" bentak Sabrina membendung rasa malunya, lalu menghentakkan kaki meninggalkan Chandra.

"Wanita zaman sekarang memang aneh-aneh," gumam Chandra.

TUK! TUK! TUK!

"Siapa?" tanya Kakek Lubis dari dalam.

"Ini Chandra, Kek."

"Ah, anak muda yang tadi rupanya," batin Kakek Lubis.

"Cepat masuk, Anak Muda!" teriak Kakek Lubis.

KLEK! Pintu ruangan terbuka.

"Chandra, syukurlah kamu datang."

"Hehe, iya, Paman. Aku kepikiran tawaran Paman."

"Bagus! Itu yang aku harapkan. Kamu masih punya koleksi lain?"

"Ada, Paman. Hari ini aku membawa Empat lukisan sekaligus."

"Benarkah? Mari kita lihat!"

"Baik, ini lukisan pertama, Paman," ucap Chandra seraya membuka kain penutup lukisan pertamanya.

WOSH!

Ruangan galeri yang tadinya hangat mendadak dihinggapi hawa dingin yang menusuk tulang. Angin kencang berembus dari arah kanvas, membuat tirai dan dokumen di meja Kakek Lubis berterbangan.

"APA?! QING LONG?!" teriak Kakek Lubis seraya terduduk lemas di kursinya.

1
Waaaaaa_
Hallo aku mampir
Alinsyah 70: Makasih loh udah mampir, maaf loh kalau ceritanya kurang bagus
total 1 replies
Ruang Senddu
seru, mari saling dukung
Doodle Music
semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!