NovelToon NovelToon
Komplotan di Malam Basah

Komplotan di Malam Basah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang
Popularitas:620
Nilai: 5
Nama Author: Arka R.

Larasati dikenal seantero kalangan sosialita sebagai **cewek matre kelas kakap**. Demi bisa naik kelas dan menikahi anak konglomerat, ia rela jadi **simpanan** Galih Prasetyo, taipan muda yang cukup ternama.

Malam itu, di apartemen SCBD yang gelap gulita, Laras menyelinap masuk dan langsung memeluk mesra pria yang ia kira kekasihnya—

*"Sayang… kucing liarmu pulang, nih~"*

Tapi begitu lampu menyala, Galih justru berdiri kaku di ambang pintu. Dan pria yang barusan ia peluk erat-erat, yang lehernya baru saja ia cium… adalah **Narendra Hardjanto**—**saudara angkat Galih sejak kecil**, konglomerat berdarah dingin yang paling muak pada perempuan matre.

Laras baru saja meraba-raba **kakak angkat kekasihnya sendiri.**

Ia pikir insiden memalukan itu akan berlalu begitu saja. Nyatanya, keesokan harinya Naren menyudutkannya:

*"Rayuanmu semalam murahan sekali. Berani-beraninya nempel ke saudaraku. Gimana kalau… kulatih biar becus?"*

Ia menolak. Tapi Naren sudah menggenggam rahasia yang bisa menghancurkan seluruh hidupnya. Dan syaratnya paling keji: **di depan umum, Laras tetap jadi perempuan Galih. Diam-diam, ia milik Naren.**

Sekali, dua kali, tak terhitung lagi—di malam-malam basah yang penuh dosa, mereka berdua jadi **komplotan**: sepasang pengkhianat yang menikung saudara sendiri, dan sama-sama membencinya diri sendiri.

Yang tak Naren tahu: di balik topeng "perempuan matre" itu, **setiap rupiah yang Laras kumpulkan mengalir ke sebuah rumah singgah untuk anak-anak perempuan yang dibuang keluarganya.**

Dan yang tak Laras tahu: pria dingin yang menyanderanya ini ternyata **menyimpan rahasia yang sama persis dengannya.**

Sampai rahasia mereka pecah, persaudaraan hancur, dan seluruh Jakarta menudingnya sebagai **perebut, bekas simpanan sahabat**—di hari Laras akhirnya memutuskan pergi, Naren mencengkeram bahunya, untuk pertama kalinya kehilangan seluruh kendali:

*"Kuberikan seluruh hartaku padamu. Jangan pergi—bisa, nggak?"*

Ternyata, sang penguasa tertinggi… rela menunduk, rela mengkhianati saudaranya sendiri, demi satu perempuan.

——
*Dongeng penyelamatan ala Cinderella dewasa. Yang paling dingin, ternyata yang paling nekat mencintai.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 28

Nama Baik yang Sudah Hancur

Tiga hari cukup untuk mengubah satu rahasia menjadi bahan percakapan seluruh kantor.

Saat Laras masuk ke redaksi Fortuna, dua orang di dekat mesin kopi langsung berhenti bicara. Di layar ponsel seorang staf terlihat tangkapan layar akun gosip dengan judul: Perebut Berkelas Memecah Dua Sahabat Lama.

Tidak ada nama. Foto buram dari sebuah acara keluarga cukup membuat semua orang tahu.

Laras meletakkan tas di meja, menyalakan komputer, dan membuka naskah liputan. Ia baru mengetik satu kalimat ketika Prita muncul di pintu redaksi.

Sepatu haknya berbunyi keras di lantai. Beberapa kepala terangkat.

“Laras.”

Kirana keluar dari ruangannya. “Ada janji?”

“Ini urusan pribadi.”

“Kalau datang ke kantor saya, jadi urusan kantor.”

Prita tersenyum tipis. “Lima menit saja, Mbak Kirana.”

Laras berdiri. “Di pantry.”

Ia tidak ingin seluruh ruangan menjadi panggung, tetapi rekan-rekannya tetap dapat melihat melalui dinding kaca. Begitu mereka masuk pantry, Prita menutup pintu terlalu keras.

“Aku sudah curiga dari awal kamu bukan orang baik-baik.”

Laras mengambil air tanpa menjawab.

“Dari awal memang niat merebut, kan? Mas Galih, lalu Naren. Kamu sengaja bikin dua sahabat itu bertengkar?”

“Hubungan mereka bukan sesuatu yang bisa saya kendalikan sendiri.”

“Enak sekali bilang begitu setelah tidur dengan saudara angkat pacarmu.”

Tangan Laras berhenti di atas dispenser.

“Jaga ucapanmu.”

“Kenapa? Malu kalau orang dengar?” Prita menunjuk ke luar. “Semua sudah tahu kamu bekas simpanan Galih yang naik kelas. Jangan pura-pura punya martabat sekarang.”

Kirana membuka pintu. “Cukup.”

“Mbak tidak tahu perempuan ini apa.”

“Saya tahu dia reporter saya. Dan saya tahu kantor bukan tempat mempermalukan orang atas kehidupan pribadinya.”

Prita memandang Laras sekali lagi. “Mas Galih sampai tidak tidur tiga malam. Naren masuk angin berat. Hebat sekali kamu.”

“Keluar,” kata Kirana.

Setelah Prita pergi, Kirana menutup tirai kaca pantry.

“Kamu perlu pulang?”

“Tidak.”

“Saya bisa alihkan pekerjaan.”

“Kalau saya pulang, besok mereka tetap bicara.”

Kirana mengangguk. “Kalau ada yang mengganggu pekerjaan atau menyebarkan materi pribadi, simpan buktinya. Saya urus dari sisi kantor.”

“Terima kasih, Mbak.”

Laras kembali ke meja. Ia menyelesaikan dua paragraf, melakukan satu wawancara telepon, dan memperbaiki judul. Tak satu pun pekerjaan itu mampu menenggelamkan suara Naren dari malam sebelumnya.

Menjelang makan siang, seorang reporter junior meletakkan roti di samping laptopnya.

“Mbak belum makan.”

“Terima kasih.”

Perempuan itu ragu sebelum pergi. “Saya tidak percaya semua yang ditulis akun itu.”

“Kamu tidak perlu memilih pihak.”

“Saya cuma mau bilang berita tanpa konfirmasi bukan berita.”

Laras memandang kartu pers yang tergantung di leher junior tersebut. Kalimat sederhana itu mengembalikan sedikit udara ke ruangan. “Benar. Ingat itu saat kamu menulis apa pun.”

Di grup kantor, Kirana kemudian mengirim aturan resmi: materi gosip personal dilarang disebarkan melalui kanal kerja, pelanggaran akan ditangani HR. Ia tidak menyebut nama Laras, sehingga perlindungan itu tidak berubah menjadi belas kasihan publik.

Tetap saja, saat Laras ke toilet, ia mendengar dua orang berbisik di dekat wastafel.

“Kalau benar, kok berani masuk kantor?”

“Mungkin karena sekarang yang melindungi Naren.”

Laras keluar dari bilik. Keduanya langsung diam.

“Kalau ingin bertanya, tanya langsung,” katanya.

Salah satu perempuan menunduk. Yang lain berkata, “Kami tidak bicara soal Mbak.”

“Bagus. Berarti kita tidak punya masalah.”

Laras mencuci tangan sampai air dingin membuat ujung jarinya mati rasa. Ia tidak akan menyerahkan pekerjaan yang diperolehnya dengan kemampuan sendiri hanya karena orang lain ingin seluruh identitasnya diperas menjadi nama dua pria.

Bakar lumbung. Biar dia tidak punya tempat lain untuk lari.

Prita tidak bisa melukai bagian dirinya yang belum lebih dulu rusak oleh kalimat tersebut.

Naren demam sampai pagi, lalu dibawa Reza ke rumah sakit untuk pemeriksaan. Laras pergi sebelum ia benar-benar sadar. Sejak itu mereka tidak bertemu. Fahmi hanya mengirim kabar bahwa suhu sudah normal dan kunci unit telah diganti. Galih tidak menghubunginya sama sekali.

Sepulang kerja, Laras duduk di lantai apartemen kecilnya sendiri. Eyang Sri sedang tinggal beberapa hari bersama Nadia agar Laras bisa mengurus kekacauan tanpa membuat perempuan tua itu cemas.

Eyang menelepon tepat ketika Laras menurunkan koper dari lemari.

“Sudah makan, Nduk?”

“Sudah.”

“Bohong. Suaramu kosong.”

Laras duduk di tepi tempat tidur. “Eyang minum obat sore?”

“Nadia lebih galak dari perawat. Sudah.”

“Besok saya jemput.”

“Tidak perlu buru-buru. Selesaikan urusanmu.”

“Eyang tahu ada urusan?”

“Orang tua tidak perlu tahu isi masalah untuk tahu cucunya sedang terluka.”

Laras memejamkan mata. Ia ingin menceritakan semuanya, tetapi Eyang baru pulih dan kebenaran tersebut terlalu berat.

“Saya baik-baik saja.”

“Kalau begitu jangan lupa, rumah yang paling aman bukan rumah paling mahal. Rumah aman itu tempat kamu masih boleh bilang tidak.”

Setelah telepon berakhir, Laras memandang dinding apartemen kecilnya. Di sini ia bisa berkata tidak kepada siapa pun, termasuk kepada kesepian. Nasihat Eyang memberinya keputusan yang sejak pagi ia tunda.

Apartemen itu kurang dari tiga puluh meter persegi, tetapi akta dan kuncinya atas nama Larasati. Tidak ada yang bisa mengusirnya. Tidak ada yang perlu dibayar dengan tubuh.

Ia membuka koper.

Beberapa pakaian di rumah Naren masih miliknya. Kosmetik, mukena, kartu pers cadangan, dan dua buku laporan. Ia akan mengambil semuanya malam ini.

Namun pergi saja terasa terlalu mudah bagi Naren.

Jika bakar lumbung adalah rencananya, Laras ingin membuat pria itu percaya rencana tersebut berhasil. Ia akan tampak lebih manja, lebih bergantung, lebih mudah dipanggil. Ia akan memberikan gambaran sempurna tentang perempuan yang sudah dijinakkan sampai Naren bosan pada keberhasilannya sendiri.

Lalu, ketika pria itu melepaskan, Laras pergi dengan hidup yang sudah ia bangun diam-diam.

Rencana itu terdengar dingin dan cerdas. Air mata yang jatuh ke kaus di dalam koper membuatnya tampak seperti kebohongan lain.

Ia menghapus wajah, menutup koper, lalu pergi ke apartemen Naren.

Pintu dibuka sebelum ia selesai menekan bel. Naren berdiri dengan wajah pucat. Memar tipis menggelap di rahang, dan tubuhnya lebih kurus hanya dalam beberapa hari.

Tatapannya turun ke koper.

“Mau ke mana?”

“Mengambil barang saya.”

“Kenapa bawa koper dari luar?”

“Supaya bisa membawa semuanya.”

Naren menghalangi pintu. Ia tidak menyentuh Laras, tetapi tubuhnya menutup jalan.

“Galih sudah seperti itu. Setidaknya biar saya tahu kamu tinggal di mana.”

“Kamu sudah tahu apartemen saya.”

“Tinggal di sini.”

“Itu perintah?”

Naren menarik napas. “Bukan.”

“Kedengarannya seperti perintah.”

“Permintaan.”

Laras menatap wajahnya. Pria yang beberapa malam lalu berkata ingin membakar semua jalan keluarnya kini berdiri di depan pintu dengan sesuatu yang hampir menyerupai permohonan.

“Kenapa?”

Naren membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

“Karena Galih marah. Saya tidak tahu apa yang akan dia lakukan.”

“Jadi karena keamanan?”

“Ya.”

“Hanya itu?”

Ada jeda terlalu panjang.

“Apa lagi yang kamu mau dengar?”

Laras hampir mengatakan: Saya mau dengar semua bantuan itu bukan bagian dari rencana menjinakkan saya. Saya mau dengar kamu menyesal. Saya mau dengar ibumu bukan alasan untuk melukai orang lain.

Ia tidak mengatakan apa pun.

“Minggir,” katanya.

Naren tetap berdiri.

“Kamu janji tidak mengurung saya.”

Kalimat itu membuatnya mundur seketika.

Laras masuk, melewati pecahan yang sudah dibersihkan dan meja yang telah diganti. Bekas benturan masih tampak pada sudut dinding. Di kamar, barang-barangnya tersusun seperti biasa, seolah malam kehancuran itu tidak pernah terjadi.

Naren berdiri di pintu kamar. “Saya bisa suruh Fahmi pasang pengamanan di apartemenmu.”

“Saya tidak mau dipantau.”

“Bukan dipantau.”

“Saya tahu bagaimana perhatianmu bekerja.”

Wajah Naren berubah, tetapi ia salah memahami maksud kalimat itu. “Soal Fahmi mengurus rumah sakit, saya bisa jelaskan.”

“Saya tidak bertanya.”

Laras memasukkan pakaian ke koper. Untuk menjalankan rencana, ia seharusnya pura-pura manja dan bertahan. Namun berada dekat Naren membuat luka yang sedang disembunyikannya terlalu sulit dikendalikan.

“Kamu marah karena saya tidak melawan Galih?” tanya Naren.

“Tidak.”

“Karena saya menyuruhmu pulang malam itu?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa?”

Laras menutup resleting. “Saya cuma lelah.”

“Jangan bohong.”

Ia tertawa pelan. “Kita sudah terlambat mengajarkan kejujuran satu sama lain.”

Naren memegang gagang koper, mencegahnya diangkat. Laras langsung menatap tangannya.

Pria itu melepaskan.

“Saya tidak akan paksa,” katanya. “Tapi kabari kalau sudah sampai.”

“Saya tahu.”

“Laras.”

“Apa?”

Naren tampak ingin meminta maaf. Yang keluar justru, “Jangan temui Galih sendirian.”

Laras mengangguk. Ia menyeret koper melewatinya. Di dekat pintu, Naren kembali berdiri seolah hendak menahan, tetapi kali ini ia menyingkir sebelum diminta.

Lift masih berada jauh di bawah. Laras menekan tombol dan menunggu dengan punggung lurus. Begitu pintu apartemen tertutup di belakangnya, air mata naik tanpa izin.

Ia menghapusnya cepat ketika angka lift mendekat.

Pintu terbuka. Di dalam ada dua penghuni lain. Laras masuk dengan wajah tenang, menarik koper ke samping, dan menatap pantulan dirinya pada dinding logam.

Saat pintu menutup, tidak seorang pun melihat bagaimana kuku Laras menekan gagang koper untuk menahan tangan yang gemetar.

Ia berhasil pergi tanpa dihentikan. Namun di balik keberhasilan kecil itu, ada bagian dirinya yang masih menunggu Naren mengejar dan mengatakan satu-satunya kebenaran yang dibutuhkannya.

1
𝐀⃝🥀Weny
niat hati ingin bermesraan sama pacar.. eee.. ternyata salah orang, gara² lampu gak di nyalain/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!