Keira Sutanto sudah punya semua yang diimpikan perempuan lajang: karier sebagai ilustrator, tabungan sendiri, apartemen mewah… dan satu suami hasil perjodohan kilat yang bahkan tak tinggal serumah. Menikah tiga hari, suaminya sudah terbang ke luar negeri. "Suami tajir yang tak pernah pulang" — hidup macam apa lagi yang lebih tenang dari ini?
Yang Keira tak tahu: **Nathan Halim**, si "programmer" yang dinikahinya, adalah putra kedua konglomerat Halim sekaligus pendiri NARA — perusahaan AI bernilai dua miliar dolar. Tiga tahun lebih muda darinya, jenius, dingin di depan orang… dan diam-diam terobsesi padanya sampai ke ujung jari.
Begitu tahu Keira punya seorang "kakak" tanpa hubungan darah yang tak pernah rela melepasnya, Nathan memindahkan seluruh perusahaannya pulang ke Indonesia — kantornya, tepat di sebelah kantor sang istri.
"Kalau di kantor tak boleh kupanggil 'Sayang'," bisiknya sambil tersenyum, "kupanggil 'Cici' saja, ya?"
Keira kira ini cuma pernikahan kontrak yang akan cepat berakhir. Ia tak menyangka: suami berondong-nya ini akan melamarnya untuk kedua kalinya, memburunya sampai ke ujung dunia saat ia diculik, dan menghancurkan setiap orang yang berani menyakitinya.
Hanya saja… rahasia masa lalunya belum semuanya terbongkar. Ibu kandung yang membuangnya. Seorang adik yang bahkan tak tahu mereka sedarah. Dan seorang "kakak" yang, malam itu, memutuskan bahwa kalau tak bisa memilikinya, ia akan merebutnya dengan cara apa pun—
Ponsel Keira bergetar. Satu pesan dari nomor tak dikenal:
*"Kei, ayo pulang. Kita bicara berdua saja."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 12
Pakai Sepuasnya
"Ci!"
Panggilan Nathan menggema di lobi saat pintu lift Nebula terbuka. Dimas dan tiga anggota tim berdiri di belakang Keira. Semua kepala menoleh pada laki-laki berkemeja hitam yang menunggu sambil memegang dua payung.
Keira berjalan cepat, mencengkeram lengannya, lalu menariknya keluar. "Kau sengaja."
"Aku tidak memanggil Sayang."
"Pelankan suara."
"Baik, Ci," bisiknya di telinga Keira.
Panas langsung menjalar ke ujung telinga. Nathan tertawa dan membuka pintu mobil.
Di perjalanan, ia bertanya lagi tentang audio yang didengarkan Keira sebelum tidur. Keira memilih tiga tautan white noise aman dan mengirimkannya.
"Hanya suara hujan?"
"Kau minta sesuatu untuk membantu tidur."
"Ada gambar telinga pada daftar yang kulihat."
"Itu riset proyek."
"Riset apa?"
"Nathan, fokus menyetir."
Toko perhiasan di pusat belanja kawasan SCBD hampir tutup saat mereka datang. Seorang staf menyambut dengan senyum profesional yang tipis. Keira mengenakan pakaian kerja sederhana, sedangkan Nathan tidak membawa rombongan atau jam mencolok.
"Kami ingin melihat pilihan cincin pernikahan," kata Keira.
Staf itu membawa satu baki model standar. "Koleksi ini paling populer untuk pasangan muda. Jika ingin batu berwarna, kami punya katalog pemesanan."
Nathan melihat sekilas. "Kami mencari padparadscha."
Senyum staf sedikit berubah. "Batu itu sangat terbatas. Mungkin tersedia pada cabang utama, tetapi prosesnya memerlukan deposit."
"Hubungi manajermu," ujar Nathan. "Katakan Nathan Halim datang untuk pesanan keluarga."
Nama belakang itu bekerja lebih cepat daripada bel layanan. Dalam dua menit, manajer toko keluar sendiri, meminta maaf, lalu membawa mereka ke ruang privat. Minuman diganti dari air mineral menjadi teh impor. Baki cincin standar lenyap dan diganti katalog batu yang belum dipasang.
Keira memperhatikan staf pertama berdiri lebih tegak. "Pelayanannya tadi tidak salah. Tidak perlu memarahinya."
Manajer langsung mengangguk. "Tentu, Nyonya Halim. Kami hanya ingin memberi pilihan yang sesuai."
"Nama saya Keira."
Nathan menyembunyikan senyum di balik cangkir.
Seorang ahli batu datang membawa lampu putih dan contoh warna. Ia menjelaskan bahwa padparadscha asli berada di antara merah muda serta jingga, tidak terlalu pucat dan tidak terlalu cokelat. Keira meminta sertifikat laboratorium, asal batu, serta kebijakan pengembalian jika hasil pemeriksaan berbeda.
Nathan membiarkannya bertanya sampai selesai. Ketika manajer mencoba mengarahkan jawaban kepada Nathan, laki-laki itu menunjuk Keira.
"Cincinnya dipakai istri saya. Jawab beliau."
Nada pelayanan di ruangan berubah. Bukan hanya karena nama Halim, tetapi karena Nathan sengaja menempatkan keputusan di tangan Keira. Sang ahli memindahkan katalog dan kaca pembesar ke hadapannya.
Keira memilih desain dengan dudukan rendah agar tidak mudah tersangkut saat menggambar. Untuk cincin Nathan, ia memilih garis sederhana dengan satu batu tersembunyi di bagian dalam.
"Kenapa tersembunyi?" tanya Nathan.
"Kau sering memakai tangan saat bekerja. Batu besar tidak praktis."
"Jadi kau memikirkan kebiasaanku."
"Aku memikirkan keselamatan perangkat mahalmu."
Nathan tersenyum seolah itu tetap jawaban romantis.
Mereka melihat video sebuah padparadscha hampir sepuluh karat, jingga merah muda seperti matahari tenggelam. Batu itu sedang berada di luar negeri dan dapat dibawa untuk pemeriksaan. Nathan meminta dua desain, satu untuk Keira dan batu enam karat yang lebih sederhana untuk dirinya.
"Aku tidak butuh sebesar itu," kata Keira.
"Ini cincin pernikahan."
"Jari manusia tidak membesar karena menikah dengan keluarga Halim."
"Kau memilih batu yang kau suka. Ukuran bisa disesuaikan."
Keira mempelajari sertifikat. Harganya mencapai puluhan miliar rupiah untuk sepasang setelah desain khusus. Ia sanggup membeli banyak hal, tetapi angka itu tetap terasa tidak masuk akal untuk benda di satu jari.
"Kita lihat batunya langsung sebelum setuju," putusnya.
"Baik."
Nathan lalu meminta kalung dan anting pasangan. Keira menutup katalog.
"Cincin saja."
"Mama akan membeli set lengkap."
"Biarkan beliau memberi jika memang ingin. Kau tidak perlu mendahului semua orang."
Nathan menurut, meski terlihat berat. Manajer menjanjikan batu tiba dalam beberapa minggu dan mengantar mereka sampai pintu.
Staf pertama membungkuk jauh lebih dalam daripada saat menyambut. Keira berhenti.
"Lain kali, berikan informasi pilihan batu sejak awal kepada siapa pun yang meminta," katanya. "Orang tidak harus punya nama keluarga tertentu untuk diperlakukan serius."
Wajah staf itu memerah. "Baik, Mbak Keira. Maaf."
Di luar toko, Nathan menyelipkan sebuah kartu hitam ke dompet Keira.
"Apa lagi ini?"
"Kartu tambahan. Tidak ada batas transaksi."
Keira hendak mengembalikannya, tetapi Nathan menutup dompet dengan telapak tangan.
"Hadiah," katanya cepat. "Bukan keputusan. Kau boleh tidak memakainya."
"Kenapa harus tanpa batas?"
"Supaya kalau suatu hari kau membutuhkan sesuatu dan aku tidak bisa dihubungi, kau tidak perlu menunggu izin siapa pun."
"Aku punya uang sendiri."
Keira mengeluarkan kartu itu lagi. Namanya tercetak kecil di permukaan, berarti Nathan sudah menyiapkannya sebelum meminta persetujuan. Ia menatap laki-laki itu sampai Nathan mengangkat kedua tangan.
"Aku memesannya sebagai pilihan. Kalau kau menolak, kartu dinonaktifkan."
"Jangan mengurus rekening atau utangku tanpa sepengetahuanku."
"Tidak akan. Perjanjian kita jelas."
"Dan jangan menanyakan riwayat belanjaku kepada bank."
"Aku hanya mendapat peringatan keamanan untuk transaksi sangat besar. Tidak ada daftar barang."
Keira akhirnya menyimpan kartu. "Aku akan menggunakannya hanya untuk keadaan darurat."
"Membeli makanan saat kau lupa makan termasuk keadaan darurat."
"Tidak."
"Membeli gaun?"
"Tidak."
"Membeli perusahaan gim yang membuatmu lembur?"
"Sangat tidak."
Nathan terlihat kecewa sungguhan. Keira mencubit lengannya sebelum ia sempat menyusun tawaran berikutnya.
"Aku tahu. Ini bukan pengganti uangmu. Ini akses ke milikku."
Keira menatap kartu itu. Bagi Nathan, pemberian bukan cara membuatnya bergantung. Ia justru memberikan pintu dan membiarkan Keira memilih apakah akan membukanya.
"Kata sandinya apa?"
"Tanggal kita pertama bertemu."
"Bukan tanggal menikah?"
"Aku mulai menginginkanmu sebelum menikah."
Keira memasukkan dompet ke tas. "Aku simpan. Belum tentu kupakai."
"Pakai sepuasnya. Kalau ada orang menipumu, kirim namanya kepadaku."
"Supaya kau audit?"
"Supaya aku menangis bersama saldo rekeningku."
Keira tertawa. Nathan menyelipkan lengannya ke lengan Keira saat mereka berjalan di bawah lampu pertokoan.
"Ayo, Ci. Aku traktir makan."
"Dengan kartu siapa?"
"Kartu suamimu yang sangat sabar."
Keira hendak membalas, tetapi tatapan Nathan terlalu serius di balik kelakar itu. Jantungnya melewatkan satu ketukan saat tangan laki-laki tersebut menghangatkan lengannya.
Untuk pertama kali, cincin pernikahan yang belum selesai dibuat terasa seperti janji yang benar-benar ia tunggu.
Di kaca toko, Keira melihat cincin ular lama berkilau di samping kartu hitam dalam tasnya. Satu benda menandai pilihan awal mereka, satu lagi menandai kepercayaan ekonomi. Keduanya mahal, tetapi perhatian Nathan pada kata tidak justru terasa paling berharga. Itulah kemewahan yang Keira pilih.