Lima tahun menikah tanpa keturunan, Sekar dicap "mandul" oleh keluarga Danuwijaya yang terpandang. Puncaknya, sang suami—Rendra—membawa pulang Kirana yang tengah hamil, lalu menjadikannya istri kedua dengan alasan, *"Kamu tak bisa memberi keturunan, Sekar."*
Dipaksa menandatangani izin poligami, difitnah, dipermalukan di grup keluarga, bahkan pelayan setianya disingkirkan—Sekar akhirnya memilih pergi. Ia menggugat cerai, membawa apa yang menjadi haknya, dan berbalik dari keluarga yang selama ini menginjaknya.
Takdir mempertemukannya dengan Mayjen Arka Prawiranegara—jenderal berdarah dingin di medan, namun seorang duda yang lembut pada kedua anak angkatnya. Pria yang menyelamatkannya, membelanya di depan umum, dan berjanji: *"Seumur hidup, hanya kamu. Tak akan ada istri kedua."*
Lalu takdir menampar semua yang pernah menghinanya—**Sekar hamil. Kembar tiga.** Dan hasil pemeriksaan medis membongkar kebenaran yang selama ini dikubur: **yang mandul bukan Sekar… tapi Rendra.**
Saat namanya bersinar sebagai nyonya jenderal dan bunda dari tiga bayi, Rendra datang berlutut, memohon kembali. Sekar hanya tersenyum dingin, mengelus perutnya, dan berkata pelan:
*"Kamu yang dulu tak menghargai. Sekarang… kamu sudah tak pantas lagi, Mas Rendra."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 19
Menyelamatkan Ratna
Pesan Ratna masuk pukul dua siang.
`Mbak, tolong saya. Ayah mau menikahkan saya dengan Mas Rendra.`
Sekar membaca sekali, lalu menelepon. Tidak dijawab. Pesan berikutnya hanya berisi lokasi rumah Bambang di kota satelit Jakarta dan satu kalimat pendek.
`Malam ini keluarga Danuwijaya datang.`
Bening sudah menyalakan mobil ketika Sekar turun membawa tas dokumen.
"Ningsih tetap di vila," kata Sekar. "Kalau kami tidak kembali sebelum tengah malam, hubungi pengacara dan polisi."
"Apakah Ratna sudah dewasa?" tanya Bening.
"Sudah. Tapi Ayah menguasai uang, dokumen, dan tempat tinggalnya."
"Kalau dia ingin pergi, saya pastikan tidak ada yang menahannya secara fisik."
Mereka menembus lalu lintas sore. Selama perjalanan, Sekar mengirim pesan agar Ratna membawa identitas, obat, dan pakaian secukupnya. Balasan datang lambat, seolah perempuan itu harus bersembunyi setiap kali memegang ponsel.
Ketika Sekar tiba, dua mobil mewah sudah terparkir di depan rumah. Namun rombongan Danuwijaya belum masuk. Mungkin mereka masih dalam perjalanan.
Bambang berdiri di ruang tamu bersama Bu Asri. Ratna duduk di sofa dengan kebaya baru, wajahnya pucat.
"Siapa yang memberitahumu?" tanya Bambang.
"Ratna meminta pertolongan."
"Dia hanya gugup. Semua calon pengantin gugup."
Sekar mendekati adiknya. "Ratna, apakah kamu ingin menikah dengan Rendra?"
Ratna menggeleng.
"Jawab dengan suara," bentak Bambang.
Tubuh Ratna tersentak. "Tidak, Ayah."
"Dia belum mengenal Rendra dengan baik," kata Bu Asri cepat. "Kalau sudah bertemu..."
"Aku mengenalnya enam tahun sebagai suami," potong Sekar. "Itu sudah cukup."
Bambang menunjuk pintu. "Keluar. Ini urusan keluarga saya."
"Ratna juga keluarga saya."
"Dia bukan saudara sekandungmu."
"Darah Ayah mengalir pada kami berdua. Rupanya itu cukup ketika Ayah ingin memakai kami sebagai jembatan ke keluarga yang sama."
Wajah Bambang memerah. "Jaga ucapanmu. Danuwijaya menawarkan perlindungan untuk Ratna. Rendra butuh istri yang bisa mendampinginya setelah kamu meninggalkan rumah."
"Dia sudah punya Kirana."
"Status Kirana belum selesai di pengadilan. Hubungan dengan Ratna bisa dibicarakan setelah urusanmu beres."
Sekar menatap ayahnya dengan jijik. "Jadi Ratna disiapkan sebagai pengganti kalau izin poligami dengan Kirana gagal?"
Bu Asri meremas ujung bajunya. "Pak Bambang bilang ini kesempatan baik."
"Kesempatan untuk siapa, Bu?"
Perempuan itu tidak mampu menjawab.
Bambang melangkah mendekat. "Kamu sudah menghancurkan peluangmu sendiri. Jangan hancurkan masa depan adikmu."
"Masa depan bukan sesuatu yang bisa ditandatangani Ayah untuk ditukar dengan proyek."
"Kamu menjadi berani sejak memegang sedikit aset Eyang. Jangan lupa siapa yang membesarkanmu."
"Orang yang membesarkan anak seharusnya melindunginya, bukan menawarkan satu putri setelah putri lain menolak."
Suara mobil memasuki halaman.
Ratna langsung berdiri. Tangannya gemetar. "Mbak, saya mau pergi."
Sekar menggenggam tangannya. "Ambil tasmu."
Bambang menghadang lorong. Bening masuk satu langkah dan menunjukkan ponsel yang sedang merekam.
"Bu Ratna sudah menyatakan ingin pergi," katanya. "Beliau dewasa. Jangan menghalangi atau menyentuhnya."
"Kamu mengancam saya di rumah saya sendiri?"
"Saya menjelaskan apa yang terekam."
Ratna berlari ke kamar, lalu kembali dengan ransel dan map identitas. Bu Asri mengikutinya sambil menangis.
"Kalau kamu pergi, Ayahmu akan marah kepada Ibu."
Ratna berhenti. Rasa bersalah langsung menarik bahunya turun.
Sekar memandang Bu Asri. "Jangan letakkan keselamatan Ibu di atas pundak anak sendiri. Kalau Ibu juga ingin pergi, kami bisa membantu mencari tempat aman."
Bu Asri menoleh kepada Bambang, lalu menunduk. "Saya tidak bisa."
"Kalau begitu jangan paksa Ratna tinggal karena keputusan Ibu."
Ratna memeluk ibunya singkat. "Maaf, Bu. Saya akan menelepon."
Pintu depan terbuka. Dua pria dari lingkungan Danuwijaya masuk bersama seorang staf Bambang. Rendra tidak terlihat. Mereka membawa kotak seserahan dan map perkenalan keluarga.
"Acara dibatalkan," kata Sekar.
Salah satu pria itu memperkenalkan diri sebagai wakil yayasan keluarga. "Kami hanya datang untuk pertemuan awal. Tidak ada pernikahan hari ini."
"Apakah Ratna diberi tahu bahwa namanya akan dipakai untuk menjaga hubungan bisnis dua keluarga?"
Pria itu menoleh kepada Bambang. "Pak Bambang mengatakan semua pihak sudah setuju."
"Saya tidak setuju," kata Ratna, kali ini lebih keras. "Saya tidak ingin bertemu Mas Rendra untuk urusan pernikahan."
Wakil itu menutup map perlahan. "Kalau begitu kami tidak bisa melanjutkan pertemuan."
Bambang panik. "Dia hanya terpengaruh kakaknya. Beri saya waktu bicara."
"Persetujuan calon mempelai tidak bisa diwakili ayahnya," kata Sekar. "Dan status perkawinan Rendra sendiri sedang bermasalah."
Pria kedua memandang kotak seserahan yang sudah diletakkan di meja. "Kami akan membawa barang ini kembali."
Bambang menahan bahunya. "Jangan pergi dulu. Proyek kita..."
Kalimat itu terputus, tetapi cukup bagi Ratna untuk mendengar bahwa masa depannya memang sedang dinegosiasikan bersama proyek.
Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh. Ia mengangkat ransel ke bahu dan berdiri di sisi Sekar.
"Saya sudah memilih," katanya. "Saya pergi."
Bambang meraih lengan Ratna, tetapi Bening menangkap pergelangan tangannya sebelum menyentuh.
"Lepas," desis Bambang.
"Setelah Bapak mundur."
Beberapa detik mereka saling menatap. Kamera ponsel tetap menyala. Akhirnya Bambang mundur.
Sekar membawa Ratna keluar melewati kotak-kotak seserahan yang belum sempat dibuka.
"Kalau kamu pergi sekarang, jangan kembali mengaku anak saya!" teriak Bambang dari teras.
Sekar berhenti dan menoleh. "Orang yang mengirim putrinya sebagai alat tukar tidak pantas memakai kata keluarga."
Mereka masuk mobil sebelum rombongan lain datang.
***
Ratna baru menangis setelah jalan tol menjauhkan mereka dari Jakarta. Ia menutupi wajah dan meminta maaf berkali-kali karena merepotkan.
"Kamu tidak merepotkan," kata Sekar. "Kamu meminta pertolongan sebelum terlambat. Itu berani."
"Ayah bilang saya harus membalas semua biaya hidup yang sudah diberikan."
"Orang tua tidak membeli kepemilikan atas anak dengan biaya makan."
Di vila, Ningsih menyiapkan kamar dan makanan hangat. Ratna mandi, berganti pakaian, lalu duduk bersama Sekar sampai larut malam.
"Ibu pernah bilang keluarga Reksonegoro hancur karena Eyang salah mengelola perusahaan," katanya pelan. "Tapi suatu kali saya mendengar Ibu dan Ayah bertengkar. Ibu bilang peristiwa dulu tidak seperti cerita Ayah. Ada dokumen yang dibuat setelah Eyang sakit."
Sekar mencondongkan tubuh. "Dokumen apa?"
Ratna memucat. "Saya tidak tahu. Ibu langsung diam ketika melihat saya."
Dari halaman terdengar langkah cepat. Bening membuka pintu dan mematikan lampu teras.
"Jangan berdiri dekat jendela," katanya dengan suara rendah. "Ada seseorang mengawasi vila dari jalan atas."
Sekar menarik Ratna menjauh dari kaca. Dari celah tirai, hanya tampak satu lampu motor padam di tikungan.
"Orang Danuwijaya?" tanya Ningsih.
Bening menggeleng. "Saya belum tahu. Pengendaranya memakai helm penuh dan tidak mendekati gerbang. Dia hanya menghitung siapa yang masuk dan keluar."
Mesin motor menyala lagi, lalu suara itu turun menuju jalan gelap.