Handoko Priambodo dan Mellisa Ariani pernah saling mencintai saat masih kuliah. Namun, impian mereka kandas ketika Handoko melanjutkan studi S2 ke luar negeri, memaksa mereka berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing.
Puluhan tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di acara lamaran putra Handoko dengan putri Mellisa. Pertemuan itu membangkitkan kembali cinta lama yang seharusnya telah terkubur.
Di balik status mereka sebagai calon besan, terjalin kembali hubungan terlarang yang mengancam menghancurkan rumah tangga, melukai anak-anak mereka, dan mengoyak dua keluarga sekaligus.
Akankah mereka memilih cinta masa lalu, atau mempertahankan kebahagiaan anak-anak mereka?
Karena terkadang, **besan adalah maut**.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Kenangan di Sepanjang Jalan
Siang itu, tepat pukul sebelas, Randy sudah berada di kantor Mellisa. Sebenarnya, jam makan siang masih cukup lama. Namun, sengaja ia datang lebih awal. Ada alasan sederhana di balik keputusannya—ia ingin memastikan Mellisa tidak sempat membuat alasan atau menolak ajakannya.
Begitu tiba di kantor, Randy langsung menghampiri meja resepsionis. "Selamat siang. Saya Randy mau bertemu dengan Bu Mellisa. Bilangin aja teman lamanya.”
Resepsionis itu tersenyum ramah, kemudian meminta Randy menunggu sebentar. Ia segera menghubungi sekretaris Mellisa untuk memberitahukan kedatangan tamu tersebut.
Tak lama kemudian, telepon ditutup. "Silakan, Pak Randy. Ibu Mellisa mempersilakan Bapak langsung ke ruangannya.”
"Terima kasih." Randy mengangguk, lalu melangkah menuju ruang kerja Mellisa.
Sesampainya di sana, sekretaris Mellisa mengetuk pintu sebelum membukanya. "Bu, Pak Randy sudah datang.”
Mellisa yang sedang memeriksa beberapa dokumen langsung mengangkat wajahnya. Tatapannya sempat menunjukkan sedikit keterkejutan melihat Randy datang sepagi itu. "Silakan masuk!”
Setelah sekretarisnya meninggalkan ruangan dan menutup pintu, Randy tersenyum. "Halo, Mel. Maaf aku ganggu kerjaanmu!”
"Gak apa-apa. Sudah biasa kok, dulu juga gitu kan?”Mellisa menjawab sambil tersenyum hangat. Ia kemudian berdiri dari kursinya dan mempersilakan Randy duduk di sofa yang berada di sudut ruang kerjanya.
"Alhamdulillah masih mengingat masa lalu."
Randy berkata sambil duduk, sementara Mellisa tak menanggapinya, dia mengambil tempat di hadapannya.
"Hari ini gak ada jadwal makan siang sama yang lain, kan?” tanya Randy, langsung pada tujuan kedatangannya. “Aku mau ngajak kamu makan siang bareng.”
Mellisa tersenyum kecil. "Okay, gak masalah.”
"Alhamdulillah." Randy mengembuskan napas lega. Wajahnya bahkan tampak seperti seseorang yang baru saja berhasil melewati sebuah ujian.
Mellisa memperhatikannya sambil terkekeh kecil.
"Kenapa gak bilang dulu lewat chat? Untung aku gak ada janjian sama yang lain.”
"Sama Mas Handoko maksudmu?”
Mellisa mengangkat alis. "Ya... gak sama dia juga sih. Kan bisa aja sama klien, sama teman.”
Randy mengangguk-angguk seolah memahami penjelasan itu. "Kalau Mas Handoko itu siapa? Klien atau teman?”
Pertanyaan itu membuat Mellisa terdiam sesaat.
"Teman juga,” jawabnya kemudian. “Teman lama. Sama seperti kamu.”
Randy tersenyum. Jawaban sederhana itu entah kenapa terdengar cukup melegakan baginya.
"Alhamdulillah.”
Mellisa kembali mengernyitkan dahi. "Kenapa bilang alhamdulillah lagi?”
Randy menyandarkan tubuhnya dengan santai ke sofa. Senyumnya semakin lebar. "Ada kesempatan, dong?”
"Maksudnya?”
Randy hanya tersenyum tanpa memberikan jawaban. "Nanti aja dibahasnya, ya.”
Mellisa menatapnya penuh tanda tanya. Sementara Randy memilih mengalihkan pandangan, seolah tidak ingin percakapan itu berlanjut lebih jauh.
Namun, dari senyum kecil yang masih tersisa di wajahnya, Mellisa mulai merasa bahwa ajakan makan siang itu sepertinya bukan sekadar ajakan makan biasa.
Setelah berbincang beberapa menit, Randy akhirnya berdiri dari sofa. Mellisa pun segera menyelesaikan pekerjaannya dan mengambil tasnya.
Mereka berjalan keluar dari ruangan bersama.
Beberapa karyawan yang kebetulan berada di sekitar meja kerja sempat menoleh. Ada yang hanya melirik sekilas, ada pula yang terang-terangan memperhatikan keduanya sampai melewati lorong.
Begitu Randy dan Mellisa agak menjauh, terdengar suara bisik-bisik dari beberapa karyawan.
"Kok beda .lagi, ya?”
"Iya. Ini bukan yang biasa ke sini.”
"Iya, temannya yang lainnya lagi kali.”
Mellisa sebenarnya menyadari beberapa pasang mata mengikuti langkah mereka. Ia bahkan sempat menahan senyum mendengar bisik-bisik itu. Namun, ia memilih bersikap biasa saja. Baginya, Randy memang hanya teman lama yang kebetulan mengajaknya makan siang.
Setibanya di area parkir, Randy menunjuk mobilnya. "Pakai mobil aku, ya.”
Mellisa menoleh. "Nanti kamu harus nganterin aku lagi, dong?”
Randy tersenyum santai. "Gak masalah. Mau nganterin tiap hari juga.”
Mellisa terkekeh kecil. "Ya sudah kalau gitu.”
Randy membukakan pintu untuk Mellisa. Mellisa masuk ke dalam seraya tersenyum. "terimakasih."
"Ok."
Randy langsung mengitari mobil, lalu masuk dan duduk di balik kemudi, sementara Mellisa duduk di sebelahnya.
Begitu mobil meninggalkan area kantor, suasana di antara mereka terasa berbeda. Tidak canggung, tetapi ada kehangatan yang perlahan muncul. Seolah-olah perjalanan singkat itu membawa mereka kembali ke masa beberapa tahun lalu, ketika duduk berdampingan seperti ini adalah sesuatu yang biasa.
Randy melirik Mellisa sekilas. "Kamu masihbseoertindulu, Mel. Masih terlihat cantik seperti puluhan tahun lalu.”
Mellisa menoleh. "Ih gombal banget, dulu kan jelang 17 tahun sekarang jelita, jelang lima puluh tahun."
"Tapi si mataku, kamu gak berubah kok.”
Mellisa tersenyum kecil. "Berarti matamu rabun, Ran.”
"Ha ha ha, bisa aja kamu, Mel."
"Moga aja sekarang nyetirnya gak ugal-ugalan."
"Nggak lah, kan udah lebih dewasa.
"By the way, bentar lagi kamu memiliki mantu ya, Mel."
"Iya, bentar lagi jadi nenek. Kamu sendiri?"
"Aku bahkan belum memiliki anak, Mel."
"Oh gitu? Maaf ya Ran, gak maksud apa-apa."
"Ya gak apa-apa, memang begitu adanya." Jawaban Randy terdengar begitu ringan, tetapi berhasil membuat Mellisa terdiam sesaat.
Randy kembali fokus pada jalan.
"Istrimu? Teman orang mana sih? Aku kenal gak?"
"Aku single, Mel."
"Oh maaf!"
"Gak usah minta maaf!"
"Belum pernah merit atau pernah merit?"
"Pernah menikah, malah Sampai 3 kali."
"Hah??? Banyak banget."
"Iya, istriku selalu meminta cerai, karena aku selalu membandingkan mereka dengan mantan pacarku dulu. Pacar pertamaku."
"Maksudmu?" Mata Melisa sampai membelalak.
"Itulah aku, kalau udah jatuh cinta dan cocok sama seseorang, aku akan setia dan menunggunya."
Mellisa tidak dapat mengatakan apa-apa, dia benar-benar kehilangan kata. Karena dia tahu, pacar pertama Randy adalah dia.
" Eh Ran, kamu ingat gak, dulu gegara kamu ugal-ugalan menyetirnya ugal-ugalan, pernah hampir nabrak gara-gara kamu lihat penjual es krim.”Mellisa mengalihkan pembicaraan.
Randy langsung tertawa. "Ya, tapi kan akhirnya gegara kejadian itu, kamu dapat es krim.”
"Dan kamu yang habisin.”
"Karena kamu bilang sudah kenyang.”
"Padahal kamu memang suka cari alasan buat ngambil makanan aku.”
Randy tersenyum lebar. "Berarti kamu masih ingat semuanya.”
Mellisa menggeleng-gelengkan kepala."Yang begitu-begitu justru susah dilupakan.”
Sesaat keduanya terdiam. Randy meliriknya lagi. Kali ini tatapannya lebih lama, sebelum akhirnya kembali melihat jalan.
"Aneh ya, Mel.”
"Apa?”
"Dulu kita sering begini. Duduk berdua, ngobrol ngalor-ngidul, kadang cuma muter-muter tanpa tujuan.”
Mellisa tersenyum tipis. "Dulu kamu bilang yang penting bukan tempatnya.”
"Terus?”
"Yang penting sama siapa.”
Randy tertawa kecil. "Wah, ternyata kamu masih ingat.”
"Karena kamu sering mengatakannya.”
"Sekarang aku masih berpikir begitu.”
Mellisa menoleh kepadanya. "Masih?”
Randy mengangguk. "Iya. Bahkan sekarang rasanya lebih masuk akal.”
"Kenapa?”
"Karena ternyata setelah bertahun-tahun, orang bisa pergi ke mana saja, bertemu siapa saja, menjalani hidup masing-masing...” Randy berhenti sejenak, lalu tersenyum. “Tapi kalau akhirnya bisa duduk lagi di samping orang yang sama, rasanya tetap berbeda.”
Mellisa tidak langsung menjawab. Ia memandang keluar jendela, menyembunyikan senyum yang perlahan muncul di wajahnya.
"Kamu masih suka ngomong manis, ya.”
"Kalau sama kamu, kayaknya memang gak pernah bisa biasa.”
Mellisa terkekeh. "Dulu juga kamu begitu.”
"Dulu aku masih muda.”
"Sekarang?”
Randy tersenyum sambil tetap memandang jalan.
"Sekarang lebih serius.”
Kali ini Mellisa benar-benar terdiam. Ada sesuatu dalam cara Randy mengucapkannya yang membuat kalimat sederhana itu terasa lebih dalam daripada sekadar candaan.
Beberapa saat kemudian, Randy kembali membuka percakapan. "Mel.”
"Hm.”
"Kalau waktu bisa diputar balik, kamu mau gak mengulang masa pacaran kita?”
Mellisa menoleh. Tatapan mereka sempat bertemu. Pertanyaan itu membuat suasana di dalam mobil seketika berubah. Randy tersenyum tipis, seolah sengaja melempar pertanyaan itu untuk melihat reaksi Mellisa.
Mellisa menarik napas pelan. "Kenapa tiba-tiba tanya begitu?”
"Cuma penasaran.”
"Jawabannya nanti saja.”
Randy tertawa kecil. "Lho, kok kamu sekarang yang suka bikin penasaran?”
Mellisa ikut tersenyum. "Kan kamu sendiri yang bilang, beberapa hal lebih baik dibahas nanti.”
Randy terdiam sesaat, lalu tertawa. "Benar juga.”
Mobil terus melaju. Namun kali ini, perjalanan menuju tempat makan terasa jauh lebih singkat daripada biasanya.
Sebab di antara obrolan ringan, tawa kecil, dan kenangan yang kembali mereka bicarakan, ada sesuatu yang perlahan tumbuh kembali—sesuatu yang pernah mereka miliki, kemudian hilang selama bertahun-tahun, dan kini seolah sedang mencari jalan untuk pulang.
Dah bolak balik aku cek
Pdhal seru lohh
Hrsnya gak begini
Lawan dong...tolong
Masa...waktu.. sdh berganti
Pikirkan anak² kalian
Alihkan rasa cinta menjadi persaudaraan
Bisa...bisa kok
Asal kalian lakukan dg sadar...ikhlas
smoga kalian psangan yg tak tau diri... mnyesal krna tak dpt brfikir jernih... lbh mnfedepsmkam nafsu... shingga tak memikirkn ank" kalian yg skn mnikah....
sebaiknya secptnya trbongkar.... ank" tak jdi.mnikah akn lbh baik... biar ank" mmbenci kelakuan tak patut kalian... handoko dan melisa🙄🙄🙄🙄
prtemuanmu dgn melisa bukanlah cinta tpi hnya rasa penasaranmu krna km tk mnikah dgnnya saat dulu....
tpi kelak... saat km merealisasikn mnikahi melisa.... km akn tau rsanya mnyesali tindakn bodohmu...