NovelToon NovelToon
Pengawal Spiritual: Penakluk Loka Gaib

Pengawal Spiritual: Penakluk Loka Gaib

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan / Penyeberangan Dunia Lain / Fantasi Isekai
Popularitas:319
Nilai: 5
Nama Author: PLEMIK

Galih, seorang remaja SMA 17 tahun yang lugu dan penyendiri karena dianggap aneh memiliki kemampuan indigo, mendadak tersedot ke dalam lubang hitam misterius di tengah kelas bersama teman-temannya. Ia terbangun seorang diri di Hutan Wanasari, sebuah dunia fantasi berlatar era keemasan Majapahit yang dipenuhi ancaman sarang monster dimensi lain (Loka Gaib). Diselamatkan oleh Ki Wira, seorang pendekar sepuh, dan dibawa ke rumah panggungnya, Galih bertemu dengan Sekar, cucu angkat Ki Wira yang cantik, tegas, dan lincah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perang Dua Hari

Napas Sekar memburu tak beraturan, tangannya yang menggenggam parang bergetar hebat menahan beban hantaman bertubi-tubi yang terus dilancarkan Gandaruka tanpa henti sejak hari sebelumnya. Setiap kali ia mencoba menstabilkan napasnya, gada raksasa itu sudah kembali menerjang, memaksanya kembali bergerak tanpa sempat memulihkan diri sedikit pun.

Arena pertarungan lantai sepuluh sudah jauh berbeda dari kondisi awal ketika mereka pertama kali memasukinya beberapa waktu lalu. Genangan keringat membasahi hampir seluruh permukaan lantai batu, bercampur serpihan reruntuhan yang berserakan akibat benturan-benturan dahsyat yang terjadi tanpa henti selama berjam-jam lamanya. Beberapa pilar yang tadinya masih berdiri kini ikut runtuh, menambah medan pertarungan yang semakin sempit dan berbahaya bagi ketiga anggota Laskar Cakra yang sudah kehabisan tempat berlindung. Bau darah, keringat, dan debu bercampur menjadi satu aroma pekat yang memenuhi seluruh ruangan tertutup itu, menempel di pakaian dan kulit mereka bertiga seolah sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari diri mereka sendiri selama berjam-jam pertarungan tanpa henti ini.

Sekar bergerak menghindar dari ayunan gada Gandaruka yang mematikan, namun gerakannya terasa jauh lebih lambat dibanding beberapa jam sebelumnya, otot-ototnya sudah mencapai batas kelelahan yang ekstrem, memaksa setiap langkah terasa seperti menyeret beban berat yang tidak pernah ada sebelumnya. Lengannya yang memegang parang mulai kesemutan hebat, tanda bahwa tubuhnya sudah memasuki fase kelelahan yang jauh melampaui batas wajar seorang manusia biasa.

Gandaruka sendiri masih berdiri kokoh, raungannya terdengar provokatif seolah mengejek kelemahan yang mulai jelas terlihat pada lawan-lawannya. Tubuh raksasa itu memang menunjukkan beberapa bekas luka dari pertarungan panjang ini, namun regenerasinya yang luar biasa membuatnya tetap bertenaga penuh, jauh berbeda dengan kondisi Sekar yang semakin rapuh. Setiap kali makhluk itu meraung, dinding ruangan bergetar, menambahkan lapisan debu baru pada kekacauan yang sudah ada.

"Larasati," panggil Sekar, suaranya serak menahan napas yang tersengal, "buff lagi, kumohon. Sedikit saja cukup, aku masih bisa bertahan sebentar lagi."

Larasati mengangkat tongkatnya, mencoba mengalirkan energi terakhir yang tersisa dalam dirinya sekali lagi. Namun cahaya yang keluar dari ujung tongkat itu jauh lebih redup dari biasanya, berkedip-kedip tidak stabil seperti lilin yang hampir padam kehabisan minyak. Tangannya sendiri gemetar hebat mempertahankan tongkat itu tetap terangkat, keringat dingin membasahi seluruh wajahnya yang sudah pucat pasi.

"Aku... aku hampir kehabisan mana," gumam Larasati, suaranya panik menyadari keterbatasan yang mulai mengancam seluruh strategi mereka bertiga. "Aku tidak bisa terus memberi buff sekuat sebelumnya. Kepalaku sudah mulai berputar setiap kali mengeluarkan energi lagi."

Galih, yang berjaga di sisi arena sambil sesekali membantu mengalihkan perhatian Gandaruka, merasakan kepanikan yang sama mulai menjalar hebat di dadanya sendiri. Ia sudah mencoba segala cara untuk membantu, namun kekuatan misterius yang pernah membantainya kawanan Bayangkara tidak kunjung muncul, seolah kekuatan itu memang hanya bisa bangkit dalam kondisi tertentu yang tidak bisa ia kendalikan sesuka hati. Ia sudah mencoba memusatkan pikirannya, mengingat kembali rasa takut kehilangan Sekar malam itu, namun tidak ada getaran aneh yang muncul dari dalam dadanya seperti yang ia harapkan sekarang. Semakin ia memaksa, semakin terasa jauh kekuatan itu, seolah menolak muncul hanya karena dipanggil dengan sengaja tanpa ancaman nyata yang cukup mendesak.

Kirana, yang duduk meringkuk di sudut aman sejak awal pertarungan, menyaksikan semuanya dengan mata yang basah oleh air mata. Ia menangis tanpa suara, tubuhnya gemetar bukan hanya karena ketakutan, namun juga karena rasa bersalah yang menggerogoti hatinya, menyaksikan tiga orang asing bertarung mati-matian demi menyelamatkan nyawanya, sementara dirinya sendiri hanya bisa duduk diam tanpa mampu membantu apa pun. Jari-jarinya mencengkeram ujung roknya sendiri hingga buku-buku jarinya memutih, menahan diri dari keinginan untuk berlari maju meski ia tahu benar dirinya hanya akan menjadi beban tambahan yang menyulitkan mereka lebih jauh lagi.

"Ini semua salahku," bisik Kirana pada dirinya sendiri, suaranya nyaris tak terdengar di tengah gemuruh pertarungan yang terus berlangsung tanpa henti. "Kalau saja aku tidak masuk ke dungeon ini sendirian, mereka tidak perlu bertarung sejauh ini demi aku." Air matanya mengalir semakin deras, membasahi pipinya yang sudah kotor oleh debu reruntuhan.

Larasati mencoba sekali lagi mengalirkan sisa energinya, memaksakan buff terakhir yang mampu ia berikan pada Sekar, namun efeknya jauh lebih lemah, hanya cukup untuk sedikit meringankan beban otot Sekar tanpa benar-benar mengembalikan kecepatan dan kekuatannya seperti semula sebelum pertarungan ini dimulai. Ia merasakan pusing hebat begitu buff itu terlepas dari tongkatnya, tubuhnya sendiri sempoyongan menahan efek samping penggunaan mana yang sudah jauh melampaui batas amannya sendiri.

Kesadaran mengerikan mulai menyelimuti pikiran Larasati. Jika pertarungan ini terus berlanjut beberapa jam lagi tanpa perubahan signifikan, mereka bertiga bisa tewas kehabisan tenaga di dalam dungeon gelap ini, terjebak selamanya di lantai sepuluh yang sudah merenggut nyawa dua pemburu senior sebelum mereka datang. Bayangan wajah panik ketiga pemburu yang lari terbirit-birit kemarin kembali terlintas jelas di kepalanya, kini ia benar-benar memahami mengapa mereka begitu ketakutan menghadapi makhluk raksasa ini seorang diri.

"Sekar, kita harus mencari cara lain sekarang," seru Larasati, suaranya penuh keputusasaan yang mulai sulit ia sembunyikan dari kedua rekannya. "Kita tidak bisa terus bertahan seperti ini. Kalau kita terus begini, kita bertiga yang akan jadi korban selanjutnya di lantai ini."

Sekar tidak menjawab, hanya menggeretakkan gigi menahan lelah yang sudah menumpuk parah di sekujur tubuhnya. Ia tahu benar situasi mereka semakin genting, namun pikirannya terlalu lelah untuk merumuskan strategi baru, terlalu fokus hanya untuk bertahan hidup dari serangan demi serangan yang terus datang tanpa jeda sedikit pun. Bahkan berpikir jernih pun kini terasa seperti pekerjaan berat tersendiri baginya, seolah otaknya sendiri ikut kehabisan tenaga bersama seluruh ototnya yang sudah menjerit protes.

Gandaruka, seolah merasakan kelemahan yang mulai jelas terlihat pada ketiga lawannya, tiba-tiba melompat tinggi ke udara, tubuh raksasanya melayang sesaat sebelum gada batunya terangkat tinggi-tinggi di atas kepala, bersiap menghujamkan pukulan telak yang akan meratakan area luas tempat Sekar berdiri dalam sekali hantaman mematikan. Bayangannya yang membesar seiring lompatan itu menutupi hampir separuh arena, seolah kegelapan sendiri sedang jatuh menimpa mereka semua.

Sekar mendongak, matanya membelalak menyaksikan bayangan raksasa yang jatuh menutupi seluruh area di sekitarnya, tubuhnya yang sudah lelah terlalu lambat merespons untuk menghindar sepenuhnya dari serangan yang akan datang dalam hitungan detik yang tersisa. Kakinya terasa seperti tertanam di tanah, tidak sanggup lagi bergerak secepat yang dibutuhkan untuk lolos dari maut yang mengintai dari atas kepalanya.

1
quancyberx studio
untuk novel nya lumayan dan perlu peningkatan dari segi kata paragraf dan lain nya
quancyberx studio
semangat ya
PLEMIK: Kamu juga semangat
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!