NovelToon NovelToon
Gagal Terus, Tapi Makin Suka!

Gagal Terus, Tapi Makin Suka!

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:454
Nilai: 5
Nama Author: HAMZAHikhsan

Raka—sosok cowok yang santai—bersiap memulai lembaran baru di jenjang SMA Negeri Garuda. Awalnya, ia hanya ingin menjalani kehidupan sekolah yang wajar; bergaul, bermain, dan menikmati masa mudanya.

​Namun, ekspektasi santai itu mendadak buyar. Tak disangka, Raka justru bertemu dengan teman-teman yang super jahil, serta Alya—gadis dingin yang ternyata menyimpan masalah yang sangat rumit di balik senyumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: CEWEK DINGIN?! EMANG GUE PEDULI?!

Hari yang cerah selalu disambut hangat oleh orang-orang yang penuh semangat menyambut masa depan.

​Namun, kalimat itu sama sekali tidak berlaku bagi makhluk bernama Raka Pradipta.

​Bagi Raka, pagi hari adalah musuh bebuyutan. Meski alarm di ponselnya sudah menjerit berkali-kali hingga nyaris meledak, Raka masih tergeletak tak berdaya di atas kasur. Karena alarm mesin gagal total, giliran 'alarm kedua' alias ibunya yang mengambil alih pertunjukan.

​PLAK! PLAK! PLAK!

​Suara gedoran pintu lantai dua terdengar menggelegar, disusul jeritan khas emak-emak di pagi hari.

​"Raka! Ayo bangun! Ini hari pertama kamu sekolah SMA, ya Lord!"

​Teriakan super-desibel itu akhirnya berhasil menembus gendang telinga Raka. Pemuda itu perlahan membuka mata, namun bukannya beranjak, ia malah mempererat pelukannya pada bantal guling.

​"Lima menit lagi, Bu..." gumam Raka dengan suara serak khas bangun tidur.

​"Mata kamu lima menit! Ini udah jam berapa?! Kamu udah telat, Raka!"

​Kata 'telat' seketika bekerja bak sengatan listrik. Raka terkesiap, matanya melotot lebar.

​"APAAAA?!"

​Raka menyambar ponsel di samping bantalnya. Begitu melihat angka digital di layarnya, jantungnya serasa mau melompat keluar. "Gila! Beneran udah telat!"

​Tanpa membuang waktu, Raka melompat dari kasur, hampir tersandung sprei, lalu meluncur turun dari lantai dua menuju kamar mandi bak buronan polisi. Hanya dalam hitungan menit, ia sudah keluar dengan seragam putih-abu-abu yang belum rapi. Ia menyambar selembar roti tawar, menyumpalkannya langsung ke mulut, lalu melesat ke garasi menyalakan motornya.

​Beberapa menit kemudian, Raka berhasil sampai di pelataran sekolah. Ia mematikan mesin motor, melepas helm, lalu mendongak menatap megahnya bangunan di hadapannya.

​"Wih... gede juga sekolahnya," gumam Raka pelan sambil mengunyah sisa roti. "Semoga di sini hidup gue tenang dan gak ada masalah."

​Raka tidak sadar bahwa ia baru saja mengucapkan 'kalimat keramat'. Dalam hukum alam semesta rom-com, semakin seseorang berharap hidupnya tenang tanpa masalah, semakin gatal takdir menyajikan drama absurd tepat di depan mukanya.

​"Cukup lihat-lihatnya. Gue harus cari parkiran sebelum digilas guru piket."

​Raka bergegas memarkirkan motornya dan melangkah masuk ke area dalam sekolah. Dari speaker terdekat, suara pengumuman berkoar-koar nyaring.

​"Diberitahukan kepada seluruh siswa dan siswi baru kelas sepuluh untuk segera menuju ke lapangan upacara!"

​Mendengar itu, Raka berlari kecil menuju ruang kelas 10A hanya untuk mengaitkan tasnya di papan bangku, lalu bergabung dengan barisan murid di lapangan.

​Upacara bendera hari itu berlangsung dengan sangat tenang dan damai. Berbeda jauh dari zaman SMP dulu di mana barisan belakang selalu ricuh seperti pasar kaget. Suasana yang kondusif ini membuat Raka sedikit paham alasan ibunya ngotot menyekolahkan dirinya di SMA ini.

​Tanpa hambatan berarti, upacara pun dibubarkan. Para murid diarahkan kembali ke kelas masing-masing.

​"Wah, gak nyangka... upacaranya bikin gue speechless," bisik Raka pada dirinya sendiri saat berjalan di koridor. "Siapa sangka bisa se-sunyi itu?"

​Ia mengusap dagunya, menyunggingkan senyum tipis. "Hmm... sekolah di sini lumayan menarik. Mungkin aja di kelas nanti ada hal—atau orang—yang menarik juga?"

​Namun, ekspektasi Raka langsung luluh lantak begitu ia menginjakkan kaki di depan pintu kelas 10A.

​Suasana kelas sudah mirip festival budaya ajaib. Murid-murid sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada yang heboh berkenalan, ada yang langsung membentuk kubu geng, dan yang paling ekstrem... ada yang sedang nekat menyatakan perasaan di hari pertama sekolah!

​Raka menghentikan langkahnya di ambang pintu, menatap pemandangan itu dengan wajah datar. "Oh, gila. Absurd parah."

​Tepat di tengah kelas, seorang murid laki-laki sedang berlutut di depan cewek berambut panjang.

​"Siska! Aku suka kamu pada pandangan pertama! Mau gak kamu jadi pacarku?!" seru si cowok dramatis.

​Si cewek menatapnya dengan pandangan jijik. "Gila lu ya? Gue aja gak kenal lu siapa! Minim PDKT dulu lah, main tembak aja!"

​Ditolak secara mentah-mentah dan disaksikan seisi kelas, cowok itu langsung merengek lebay dan berlari keluar kelas sambil menutup mukanya.

​Raka menepuk jidatnya sendiri. "Anjir, apalah... lebay banget."

​Malas terlibat dalam kegilaan itu, Raka mengedarkan pandangan. "Oh iya, enaknya duduk di mana ya?"

​Pandangannya meneliti setiap sudut kelas seolah sedang memecahkan konspirasi dunia—padahal cuma urusan sepele memilih kursi. Hingga akhirnya, matanya tertuju pada satu bangku kosong di pojok belakang, tepat di samping jendela.

​Tempat duduk keramat para MC anime tampan.

​Raka berjalan dengan gaya sok misterius menuju bangku itu. Begitu mendudukkan pantatnya dan menopang dagu sambil menatap ke luar jendela, jiwa halusinasinya mendadak bergejolak.

​"Manusia hanyalah alat..." batin Raka bergaya ala pahlawan dingin.

​Tapi detik berikutnya, ia langsung tertawa pelan meratapi tingkahnya sendiri. "Hahaha! Apalah, emangnya gue Ayanokouji?!"

​Raka menghela napas panjang. "Haaah... hari pertama pasti cuma perkenalan biasa. Kira-kira ada yang bikin gue tertarik gak ya? Atau mungkin nggak ada sama sekali?"

​Menjelang pukul 07.30, pikiran Raka malah melayang ke hal lain yang jauh lebih krusial: Bagaimana caranya cari uang buat beli action figure anime impiannya?

​"Mungkin gue harus cari kerja paruh waktu..." gumam Raka dengan mata berbinar. "Demi dapet figurin itu! Anjay, uang hasil jerih payah sendiri pasti rasanya mantap banget!"

​TETTT... TETTT...

​Bel masuk berbunyi nyaring, memotong lamunan Raka. Seorang guru wanita berpenampilan rapi memasuki kelas.

​"Selamat pagi, anak-anak!" sapa sang guru ramah.

​"Selamat pagi, Bu!" sahut para murid serempak.

​"Oke, sebelum pelajaran dimulai, karena kalian masih murid baru, kita perkenalan dulu ya," ujar Wali Kelas sambil menduduki kursinya dan membuka buku absen.

​Satu per satu murid maju ke depan kelas. Variasinya bermacam-macam—ada yang pamer bakat bernyanyi, ada yang mencoba melawak tapi garing, dan ada juga yang membongkar aib temannya sendiri karena kebetulan berasal dari SMP yang sama.

​Sementara kehebohan terjadi di depan, Raka yang berada di pojok jendela memilih untuk mengabaikan dunia luar. Ia mengeluarkan buku sketsa dan pensil dari tasnya untuk menyalurkan hobinya.

​Jemarinya mulai menari, menggambar lingkaran demi lingkaran kecil serta guratan garis yang makin lama makin membentuk pola.

​Setelah beberapa menit memoles, Raka mengangkat bukunya. Matanya berbinar penuh rasa bangga.

​"Hasilnya mantap! Gue akhirnya bisa gambar Doraemon mirip banget sama yang di TV!"

​Raka mendongak, dan pada saat yang bersamaan, sinar matahari pagi menembus jendela, menyorot wajahnya bak adegan pencapaian spiritual di film-film. Ia merasa baru saja membuktikan bahwa sketsa di TV bukanlah hal yang mustahil, melainkan hanya butuh usaha gigih!

​Namun, baru saja Raka hendak mengarsir kantong ajaib Doraemon-nya, suara guru mendadak memanggil namanya.

​"Absen 24, Raka Pradipta. Silakan maju ke depan."

​Raka tersentak, cepat-cepat menutup bukunya. "Baik, Bu."

​Raka berjalan santai ke depan kelas, berdiri di samping meja guru, lalu menatap teman-temannya.

​"Halo teman-teman sekalian. Nama gue Raka Pradipta. Semoga kalian bisa menerima gue jadi teman kalian... Udah, gitu aja."

​Guru wali kelas berkedip bingung. "Loh, gitu aja, Raka?"

​"Iya, Bu."

​"Gak ada hobi, cita-cita, atau apa gitu yang mau disampaikan?"

​Raka menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Malas, Bu. Nanti aja kalau udah beneran berteman."

​Beberapa murid tertawa pelan mendengar jawaban jujur nan malas itu. Sang guru hanya bisa menggelengkan kepala. "Ya sudah, silakan duduk kembali."

​Raka kembali menyusuri lorong antar meja dan merebahkan tubuhnya di kursi keramatnya.

​"Hmm... habis ini gue mau ngapain ya?" batin Raka. "Oh iya, cari temen."

​"Baik anak-anak, kita akan memulai materi pelajaran pertama..." suara guru mengalihkan perhatian kelas.

​Pelajaran berjalan lancar tanpa halangan. Satu jam, dua jam berlalu hingga akhirnya bel istirahat pertama berbunyi nyaring.

​Raka merapikan buku-bukunya dan berniat meluncur ke kantin. Namun, baru saja berdiri, sesosok murid laki-laki berwajah ramah mendadak mencegatnya.

​"Eitss! Tunggu dulu, Bro!"

​Raka menaikkan sebelah alisnya. "Ada apa?"

​"Boleh gak gue jadi temen lu?" tanya cowok itu blak-blakan.

​"Boleh aja."

​Cowok itu tersenyum lebar. "Sip! Nama gue Dimas."

​"Gue Raka."

​Merekapun berjabat tangan erat, menandai lahirnya sebuah pertemanan baru. Tak lama kemudian, Raka dan Dimas sudah berjalan bersama menyusuri koridor menuju kantin.

​"Hei, lu tahu gak, Rak?" buka Dimas memulai obrolan.

​"Gak."

​"Buset! Tunggu dulu dong, Boy! Selesaiin dulu kalimat gue!" omel Dimas nepuk bahu Raka.

​Raka terkekeh. "Oh iya, iya. Apaan?"

​"Lu sadar gak sama cewek yang duduk di sebelah lu tadi?"

​Raka mengingat-ingat. "Gak terlalu sih. Memangnya kenapa?"

​"Cewek itu cantik banget, sumpah!" ujar Dimas bersemangat, lalu memelankan suaranya. "Tapi ya... dengar-dengar doinya dingin banget."

​"Gitu doang?" respon Raka lempeng. "Tapi emangnya beneran dingin?"

​"Gak tahu juga sih, gue kan belum berkenalan," kekeh Dimas.

​Angin sejuk sepoi-sepoi berembus pelan mengiringi langkah mereka. Di ujung koridor, area kantin yang riuh sudah mulai terlihat.

​"Wah, udah nyampe nih! Lu mau pesen apa, Rak?" tanya Dimas.

​"Mau ngapain?"

​"Ya gue traktir lah sebagai perayaan teman baru!"

​Raka menggeleng. "Gak usah lah, gue beli sendiri aja."

​"Yaudah kalau gak mau!"

​Mereka berdua masuk ke kantin dan menghampiri salah satu stan makanan.

​"Bu, beli cirengnya dua ribu ya," ujar Raka.

​"Nih, Dek," sahut ibu kantin cekatan.

​"Makasih, Bu." Raka menerima bungkusan cirengnya, lalu menoleh ke Dimas. "Mau duduk di mana, Mas?"

​"Terserah lu aja."

​Mereka mencari meja kosong di pojokan. Sambil mengunyah cireng, Raka kembali mengangkat topik yang sempat terputus tadi.

​"Jadi... kenapa?"

​"Hah? Apaan?"

​Raka menghela napas. "Haaah... jadi kenapa lu tadi ngomongin cewek dingin itu?"

​"Ya... menarik aja sih," jawab Dimas sambil menyandarkan punggungnya. "Selama gue sekolah, belum pernah ketemu tipe cewek dingin kayak gitu."

​"Oh... jadi lu merasa ini sebuah pencapaian?" goda Raka.

​Dimas tertawa keras. "Hahaha! Gak gitu juga kali! Cuma terkejut aja."

​Dimas lalu memajukan badannya. "Btw Raka, lu punya hobi gak? Katanya tadi di depan kelas mau ngasih tahu kalau udah jadi temen."

​"Hmm... hobi gue gambar sama main game sih. Kalau lu gimana, Mas?"

​"Kalau gue main bola. Btw, lu suka bola gak?"

​"Gak terlalu sih."

​Obrolan santai itu terus mengalir diiringi angin siang yang sejuk. Tanpa terasa, jarum jam sudah menunjukkan pukul 10.30, dan bel masuk kembali mengalun nyaring di seluruh penjuru sekolah.

​"Masuk kelas, Mas," ajak Raka berdiri.

​"Bentar-bentar!" Dimas buru-buru menghabiskan sisa makanannya, lalu berlari kecil menyusul Raka.

​Hari pertama sekolah berakhir dengan sangat lancar dan tanpa masalah.

​Setidaknya, begitulah menurut sudut pandang Raka Pradipta hari itu.

​Ia sama sekali tidak tahu bahwa sosok cewek dingin yang sama sekali tidak menarik perhatiannya hari ini... kelak akan menjadi hal paling penting yang paling ia pedulikan di masa depan.

1
☕︎⃝❥kinataa💤
tmpt incaran semua kaum. jarang bngt tmpt pojok itu kosong. meski cuma telat 5 menit masuk kelas, pasti udh di tandai org duluan🗿🗿
☕︎⃝❥kinataa💤
jgn ya gess ya, itu bukan buat adick² kelas 10, oke?! tidak baiq/Smile/
☕︎⃝❥kinataa💤
halah, takdir matamu. othornya sja itu nyari sensasi/Scream/
Zyren Vale: wkwkw, makasih udah mampir 🥰
total 1 replies
☕︎⃝❥kinataa💤
capslok aja, biar puas maknya jerit/Curse//Curse/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!