Dikhianati oleh murid kepercayaannya saat mencoba menerobos batas keabadian, Kaisar Dewa Ye Xuan mati dan jiwanya terlempar melewati sungai waktu. Tiga ribu tahun kemudian, ia terbangun di tubuh seorang pemuda dengan nama yang sama—seorang "sampah" tanpa meridian kultivasi di kota terpencil. Dengan ingatan masa lalunya dan teknik terlarang Seni Sembilan Reinkarnasi Naga, Ye Xuan memulai kembali perjalanannya dari bawah untuk membelah langit, menginjak-injak para jenius sombong, dan menuntut darah dari mereka yang mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Alun-Alun Pelataran Luar Sekte Pedang Azure dipenuhi oleh lautan manusia berpakaian biru. Lebih dari tiga ribu murid luar berkumpul di bawah sinar matahari pagi, wajah mereka memancarkan campuran antara ketegangan dan ambisi.
Ujian Sekte Luar bukan sekadar evaluasi rutin. Ini adalah satu-satunya jembatan bagi mereka untuk melangkah ke Pelataran Dalam, mendapatkan akses ke sumber daya tingkat tinggi, dan melepaskan diri dari tugas-tugas kasar sekte.
Di atas tribun batu giok putih yang melayang beberapa meter dari permukaan tanah, selusin penatua duduk mengawasi. Di kursi utama, Patriark Jian Wuji duduk dengan tenang, matanya yang setajam pedang menyapu lautan murid di bawahnya. Di sebelah kirinya duduk Penatua Lu Zifeng, dan di sebelah kanannya duduk Penatua Zhao Ying yang sedari tadi terus mengelus jenggotnya dengan senyum puas.
Zhao Ying telah menerima laporan tentang cucunya, Zhao Ming, yang dikalahkan. Namun, laporan itu dimanipulasi oleh dua pengikut Zhao Ming yang ketakutan. Mereka mengatakan Ye Xuan menang karena melakukan serangan diam-diam saat Zhao Ming sedang fokus menahan badai pedang, bukan karena kekuatan mutlak. Mengetahui Ye Xuan "hanya" berada di Bintang Enam, Zhao Ying merasa tenang.
"Waktunya hampir tiba," ucap Zhao Ying dengan suara keras yang mengandung Qi, menggema ke seluruh alun-alun. "Patriark, sepertinya pemuda sombong dari Kota Awan Merah itu telah menjadi pupuk di Puncak Makam Pedang. Kesepakatan Anda dengannya sudah batal. Mari kita mulai ujian—"
"Siapa bilang aku menjadi pupuk?"
Sebuah suara yang datar, tidak terlalu keras namun memotong ucapan Inti Emas Penatua Zhao dengan presisi mengerikan, terdengar dari arah gerbang masuk alun-alun.
Kerumunan tiga ribu murid secara otomatis terbelah.
Seorang pemuda melangkah masuk dengan langkah santai. Ia mengenakan jubah biru murid luar yang sedikit kebesaran—jubah yang dirampasnya kemarin. Rambut hitamnya diikat ke belakang, memperlihatkan wajah yang tenang tanpa ekspresi. Di bahu kanannya, sebuah pedang besi raksasa yang tampak tumpul dan berkarat dipanggul dengan santai, seolah-olah lempengan seberat seribu kati itu hanya terbuat dari kayu ringan.
Mata Penatua Lu Zifeng langsung berbinar lega. Di sisi lain, wajah Penatua Zhao Ying seketika menjadi gelap.
"Ye Xuan!" Zhao Ying berdiri, menunjuk pemuda itu dengan tatapan membunuh. "Kau datang terlambat! Bel peringatan ketiga sudah berbunyi sejak sepuluh menit yang lalu! Sesuai aturan sekte, kau didiskualifikasi!"
Ye Xuan berhenti melangkah. Ia mendongak menatap Zhao Ying di atas tribun, lalu tersenyum meremehkan. "Matahari bahkan belum menyentuh puncak menara utama. Jika aturan sektemu didasarkan pada ketidaksabaran seekor anjing tua yang takut cucunya dipermalukan lagi, maka aturan ini sungguh menggelikan."
"Lancang!" Zhao Ying meraung, melepaskan gelombang tekanan spiritual Inti Emasnya ke arah Ye Xuan.
Namun, sebelum tekanan itu mencapai Ye Xuan, sebuah riak energi lembut namun tak tertembus memotongnya di tengah udara. Patriark Jian Wuji perlahan menurunkan tangannya.
"Cukup, Penatua Zhao," tegur Jian Wuji, suaranya tenang namun mengandung otoritas absolut. Sang Patriark menatap Ye Xuan, matanya sedikit menyipit saat menyadari kilau samar di balik kulit pemuda itu dan fluktuasi energinya yang telah mencapai Bintang Enam. Dalam satu bulan, dia tidak hanya bertahan di Makam Pedang, tapi kultivasinya naik dan fisiknya mengalami transformasi?
"Dia ada di sini sebelum matahari berada di puncaknya. Kesepakatan kita masih berlaku," lanjut Patriark. "Penatua Zhao, bacakan aturan ujian tahap pertama."
Mendapat teguran langsung dari Patriark, Zhao Ying hanya bisa menggertakkan giginya dan duduk kembali. Ia menatap Ye Xuan dengan sinis, berpikir dalam hati, Bocah ini mungkin punya sedikit kekuatan fisik liar untuk bertahan di gunung, tapi ujian tahap pertama menguji murni kestabilan Qi dan kemauan. Kekuatan brutalnya tidak akan berguna di sini!
Zhao Ying berdeham, lalu suaranya kembali menggema ke seluruh alun-alun.
"Ujian Sekte Luar tahap pertama: Tangga Ilusi Penekan Jiwa! Di belakang alun-alun ini terdapat seratus anak tangga giok. Tangga ini dipasangi formasi kuno yang akan memberikan tekanan gravitasi dan ilusi niat pedang. Semakin tinggi kalian naik, tekanannya akan berlipat ganda!"
Zhao Ying menunjuk ke arah struktur tangga raksasa yang menjulang tinggi menembus awan. "Batas waktu adalah satu dupa. Hanya mereka yang bisa mencapai anak tangga ke-60 yang berhak lolos ke tahap kedua! Mulai!"
Sebuah dupa raksasa dinyalakan di atas altar. Tiga ribu murid luar segera bergegas menuju dasar tangga.
Formasi Tangga Ilusi Penekan Jiwa bukanlah alat pengukur rapuh seperti Pilar Giok di Kota Awan Merah yang bisa meledak karena kelebihan kapasitas. Ini adalah formasi penekan. Semakin kuat seseorang melawan dengan Qi, formasi itu akan merespons dengan tekanan balik yang seimbang. Ini memaksa murid untuk memiliki fondasi yang kokoh, bukan hanya ledakan energi sesaat.
Di menit-menit pertama, ratusan murid dengan kultivasi di bawah Bintang Lima mulai bertumbangan di anak tangga ke-30. Wajah mereka pucat pasi, beberapa memuntahkan darah karena tak kuat menahan gravitasi yang menghimpit dada mereka. Niat pedang ilusi yang menusuk pikiran membuat banyak dari mereka berlutut menangis.
"Lihat! Kakak Senior Lin Feng sudah mencapai tangga ke-80!" teriak seorang murid yang tereliminasi.
Di barisan depan, seorang pemuda tampan dengan kultivasi Bintang Delapan melangkah dengan susah payah. Keringat membasahi seluruh tubuhnya, dan urat-urat menonjol di lehernya. Ia menggunakan seluruh energi Qi-nya untuk membentuk perisai demi melawan tekanan gravitasi. Ia akhirnya berhenti di anak tangga ke-85, terduduk lemas, namun wajahnya memancarkan kebanggaan. Mencapai tangga ke-85 adalah prestasi luar biasa di pelataran luar.
Di atas tribun, para tetua mengangguk puas.
"Lin Feng memang pantas menjadi benih pelataran dalam," puji seorang tetua.
Zhao Ying tersenyum dingin dan menatap ke bawah, mencari sosok Ye Xuan. "Mari kita lihat seberapa jauh pemuda sombong itu bisa memanjat."
Di dasar tangga, Ye Xuan baru saja mulai melangkah. Ia sengaja membiarkan murid-murid lain naik lebih dulu karena tidak ingin jalannya terhalang oleh "serangga-serangga" yang pingsan.
Tap.
Kaki Ye Xuan menginjak anak tangga pertama. Formasi seketika aktif, mengirimkan tekanan gravitasi seberat dua ratus kati ke tubuhnya.
Bagi kultivator Kondensasi Qi biasa, mereka harus memutar Qi mereka untuk melawan beban ini. Namun Ye Xuan? Ia memanggul Pedang Besi Bintang seberat seribu kati setiap hari selama sebulan. Beban dua ratus kati dari formasi ini terasa seringan sehelai bulu burung di kulitnya.
Tanpa mengeluarkan setetes pun energi Qi, apalagi mengaktifkan Qi Naga Primordialnya, Ye Xuan berjalan menaiki tangga. Langkahnya tidak tergesa-gesa, teratur layaknya sedang berjalan-jalan di taman belakang rumahnya.
Anak tangga ke-30... terlewati tanpa jeda.
Anak tangga ke-50... terlewati dengan kecepatan yang sama.
Tekanan gravitasi kini mencapai lima ratus kati, ditambah ilusi niat pedang tingkat rendah yang mulai menyerang pikiran. Namun, begitu ilusi pedang itu mencoba menusuk pikiran Ye Xuan, sisa-sisa jiwa kaisarnya yang tertidur di kedalaman Dantiannya hanya mendengus pelan, menghancurkan ilusi itu menjadi debu sebelum sempat bermanifestasi.
Murid-murid yang merangkak kesakitan di tangga ke-60 melebarkan mata mereka saat melihat Ye Xuan berjalan melewati mereka dengan wajah bosan.
"B-bagaimana mungkin? Dia bahkan tidak menggunakan pelindung Qi!" jerit seorang murid tak percaya.
Di atas tribun, senyum sinis Zhao Ying perlahan memudar, digantikan oleh kerutan tajam. "Dia menggunakan murni kekuatan fisiknya? Tubuhnya pasti telah ditempa oleh badai pedang di Puncak Makam Pedang! Tapi percuma, di atas anak tangga ke-80, gravitasi mencapai seribu kati dan niat pedangnya adalah niat pedang membunuh!"
Ye Xuan mencapai anak tangga ke-80. Di sini, ia berdiri bersebelahan dengan Lin Feng yang sedang duduk bersila, berusaha mati-matian mengatur napasnya agar tidak terlempar ke bawah.
Lin Feng mendongak, matanya membelalak melihat Ye Xuan berdiri di sampingnya tanpa setetes keringat pun, bahkan masih memanggul pedang besi raksasa.
"Kau... kultivasimu hanya Bintang Enam! B-bagaimana kau bisa berdiri tegak di sini?!" Lin Feng tergagap, harga dirinya sebagai jenius sekte luar hancur seketika.
Ye Xuan melirik Lin Feng sekilas. "Fondasi Qi-mu keropos, kau membuang terlalu banyak tenaga di awal. Kau menggunakan energi untuk melawan gravitasi, bukan menyelaraskannya dengan ototmu. Jenius? Kau hanya keledai yang dipaksa menarik kereta."
Tanpa menunggu balasan dari Lin Feng yang wajahnya memerah karena malu dan marah, Ye Xuan kembali melangkah.
Anak tangga ke-85. Anak tangga ke-90.
WUNGGG!
Di sepuluh anak tangga terakhir, formasi penekan jiwa meledak dalam kekuatan penuh. Gravitasi melonjak drastis hingga lima belas ratus kati. Niat pedang berwarna merah darah yang melambangkan niat membunuh liar turun dari langit, berusaha meremukkan lutut Ye Xuan.
Ini adalah batas formasi tingkat fana. Bahkan kultivator Bintang Sembilan akan kesulitan berdiri di sini.
Untuk pertama kalinya, Ye Xuan menghentikan langkahnya. Matanya sedikit menyipit.
Melihat Ye Xuan berhenti, Zhao Ying di atas tribun langsung menyeringai. "Hah! Batasnya sudah tercapai! Tulang-tulangnya pasti akan segera patah jika dia memaksakan diri—"
Ucapan Zhao Ying terpotong seketika.
Di anak tangga ke-90, Ye Xuan tidak mengeluarkan Qi untuk melawan. Ia hanya menggunakan fisik murninya. Tubuh Fisik Tirani Naga - Tahap Pertama: Tulang Besi Kulit Perunggu!
Sebuah kilau perunggu samar berkedip di balik kulit Ye Xuan. Suara gemeretak logam terdengar dari dalam tubuhnya. Niat pedang merah darah yang mencoba menusuk pundaknya langsung hancur berkeping-keping saat membentur kulit perunggu tersebut, tak mampu meninggalkan goresan sedikit pun.
Gravitasi lima belas ratus kati? Di hadapan fisik naga purba, beban fana itu hanyalah pijakan tambahan.
Tap. Tap. Tap.
Dengan sepuluh langkah santai yang teratur, Ye Xuan berjalan menembus batas maksimal formasi tersebut. Ia melangkah naik dan berdiri di atas landasan datar di puncak Tangga Langit Azure—anak tangga ke-100.
Hanya butuh waktu seperempat dupa.
Seluruh alun-alun sunyi senyap. Tiga ribu murid luar menatap sosok berpakaian biru yang berdiri di puncak tangga itu seolah menatap dewa monster.
Ye Xuan memutar tubuhnya, menatap ke arah tribun para tetua. Pandangannya langsung terkunci pada Zhao Ying yang kini mencengkeram lengan kursinya hingga retak.
"Formasi ini cukup bagus untuk memijat punggungku," suara datar Ye Xuan bergema ke bawah, menusuk telinga para petinggi sekte. "Bisa kita mulai ujian tahap kedua sekarang? Aku ingin segera mengambil medali pusakaku dan tidur."
meLawan maka akan ada patriark yang baru
preeeeeetttttttt