NovelToon NovelToon
Benih Jenderal Di Rahim Istri Sang Mafia

Benih Jenderal Di Rahim Istri Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Identitas Tersembunyi
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Phopo Nira

Sadhana Abhiseva, seorang Jenderal muda yang mendapat misi atau tugas besar Negara yang sangat berbahaya begitu selesai melaksanakan proses pelantikannya. Hampir 4 tahun lamanya, ia menyamar sebagai salah satu anggota klan mafia tersebut. Akan tetapi, ia tidak pernah menggapai inti klan mafia tersebut.

Hingga akhirnya ia terpilih menjadi salah satu orang kepercayaan yang akan selalu berada di sisi Revaldo Arsenalio, sang pemimpin atau ketua klan mafia Black Gold. Namun, rupanya harga kepercayaan itu begitu mahal untuk ia bayar.

"Untuk menjadi salah satu tanganku. Aku ingin kau melaksanakan sebuah tugas khusus untukku."

"Saya siap."

"Aku ingin kau menghamili istriku."

“….”

Ya, ia diperintahkan untuk menghamili istri sah Reval, Jenara Elendria. Saat itulah, untuk pertama kalinya Dhana ragu untuk melanjutkan misinya atau memilih berhenti.

Akankah Dhana melaksanakan perintah Reval dan menyelesaikan misi Negaranya? Atau mungkin sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. Hanya Khayalan Belaka

Malam itu akhirnya tiba. Malam yang selama berhari-hari disebut Reval seolah-olah hanya sebuah bagian kecil dari rencana keluarga Arsenalio. Namun bagi Jenara, malam itu terasa seperti hukuman yang sengaja dipersiapkan untuknya.

Pintu kamar terbuka. Reval masuk terlebih dahulu. Tatapannya menyapu seluruh ruangan dengan kepuasan. Semuanya telah disiapkan dengan sempurna. Sebuah ranjang besar berdiri di tengah ruangan, sementara tirai-tirai tipis menggantung di setiap sisinya. Dari sofa yang ditempatkan beberapa langkah di hadapan ranjang, seluruh ruangan dapat terlihat tanpa ada satu sudut pun yang luput dari pengawasan.

Reval duduk dengan santai. Di meja kecil di sampingnya telah tersedia teh panas, buah-buahan, dan beberapa hidangan ringan. Seolah-olah ia sedang bersiap menyaksikan pertunjukan.

Jenara berdiri di sisi lain kamar. Wajahnya pucat, tangannya menggenggam ujung pakaian dengan kuat, tetapi ia berusaha menyembunyikan gemetar di jemarinya. Sedangkan Dhana berdiri beberapa langkah darinya. Tatapannya bertemu dengan mata Jenara. Tidak ada kata-kata. Namun keduanya teringat percakapan beberapa jam sebelumnya.

Membunuh Reval, itulah kesepakatan mereka. Reval mengangkat cangkir tehnya.

"Kenapa diam?"

Namun, tidak ada jawaban baik dari Jenara maupun Dhana.

Ia meletakkan cangkir itu perlahan. "Aku tidak datang ke sini untuk menunggu kalian berubah pikiran."

Tatapan Reval berpindah dari Jenara kepada Dhana. "Mulai."

Satu kata sederhana, tetapi cukup untuk membuat udara di kamar itu terasa sesak. Namun, Dhana tetap tidak bergerak sama sekali.

Reval mengernyit. "Aku memberimu perintah, Ardhana Vendra!"

Dhana tetap diam, sementara Jenara menatap lantai sembari menyembunyikan senyuman kemenangan. Untuk beberapa detik, tidak seorang pun berbicara.

Kemudian Dhana berkata, "Tuanku."

"Apa?"

"Aku ingin memastikan sesuatu."

Reval menyandarkan tubuhnya ke sofa. "Pastikan apa?"

Dhana mengangkat wajah. "Bahwa pintu kamar ini sudah dikunci dari luar."

Senyum Reval muncul. "Memangnya kenapa?"

"Karena aku tidak ingin ada gangguan."

"Bagus."

Reval mengambil cangkirnya lagi. "Setidaknya kau memahami betapa pentingnya malam ini."

Dhana hanya mengangguk. Akan tetapi di balik wajah tenangnya, pikirannya bekerja cepat. Ia telah memperhatikan mansion sejak ia datang. Ia tahu letak penjaga, jalur keluar dan yang paling penting… ia tahu bahwa Reval terlalu percaya diri bahwa Dhana tidak akan pernah berani mengkhianatinya.

Dhana menoleh kepada Jenara, hanya sepersekian detik. Namun cukup untuk memahami maksud satu sama lain. Jenara memahami pesan itu agar mereka tidak melawan sekarang. Tunggu… sampai Reval tidak menyadari apa pun.

Reval kembali menikmati tehnya sambil mengawasi keduanya. "Aku tidak peduli bagaimana caranya kalian menjalankan tugas ini," katanya dingin. "Yang kuinginkan hanyalah hasil."

Jenara akhirnya mengangkat wajah. Matanya bertemu dengan mata Reval. Untuk pertama kalinya malam itu, ketakutannya menghilang. Yang tersisa hanyalah kebencian dan dendam yang begitu membara.

"Kalau begitu," katanya pelan, "kau seharusnya memastikan hasil yang kau inginkan tidak berubah menjadi sesuatu yang tidak kau inginkan."

Reval menyipitkan mata. "Apa maksudmu?"

Jenara tidak menjawab, melainkan Dhana yang melangkah maju. Sontak Reval langsung memperhatikannya. Namun pria itu tidak melihat perubahan kecil pada tangan Dhana. Dan dalam satu gerakan yang sangat cepat. Sebuah benda kecil berpindah dari balik lengan bajunya ke telapak tangannya. Benda yang selama ini menjadi senjata andalannya dan telah ia persiapkan khusus untuk Reval.

Dan…

Jlebb…

“Uhuuk!”

Begitu pisau itu menembus perutnya, seketika itu juga Reval memuntahkan darah segar dari mulutnya. Matanya menatap tak percaya pada Dhana yang berani menghunuskan pisau pemberiannya untuk membunuhnya sendiri.

“Ka-kalian….”

“Kenapa? Apakah kau terkejut, Reval?” potong Jenara dengan senyum penuh kemenangan.

“Apakah kau pernah memperkirakan bahwa hari ini akan tiba?”

“Jenara kau… Uhuuk!”

Bahkan Reval tak sanggup lagi untuk bicara, karena tusukan yang Dhana lakukan tepat mengenai organ vitalnya yang akan membuatnya mati perlahan kalau tidak segera ditangani.

“Sudah aku katakan, bukan? Bahwa kau akan menyesal telah melakukan ini padaku?” bisik Jenara, “Matilah dalam penyesalanmu itu, Revaldo Arsenalio!”

Malam yang seharusnya menjadi puncak rencana Reval akhirnya tiba, tetapi ia tidak tahu satu hal. Malam itu bukan miliknya. Malam itu adalah awal dari pengkhianatan yang dilakukan dua orang yang selama ia kendalikan.

Dan untuk pertama kalinya, Dhana tidak lagi berdiri di kamar tersebut sebagai bawahan yang menunggu perintah Reval . Ia berdiri sebagai seseorang yang telah memilih pihak yaitu pihak Jenara.

Namun sayangnya, Khayalan itu pecah. Tidak ada benda tersembunyi di tangan Dhana. Tidak ada pengkhianatan dan juga tidak ada kesempatan untuk melawan. Yang tersisa hanyalah kamar yang terlalu sunyi, sofa tempat Reval duduk dengan tenang, dan dua orang yang terjebak dalam rencana yang telah disusun oleh pria itu.

Dapat Jenara lihat dengan jelas Reval memberikan isyarat kepada Dhana untuk mendekat. Lalu membisikan sesuatu yang membuat raut wajah Dhana seketika berubah. Bahkan tatapan Dhana sekilas beralih padanya yang juga memperhatikan keduanya.

“Lakukan dengan baik, karena ini ujian terakhirmu untuk bisa menjadi salah satu orang kepercayaanku. Jadi, jangan kecewakan aku malam ini.” Hanya kalimat itulah yang bisa Jenara dengar dengan jelas, lalu Dhana yang mengangguk patuh seolah ia benar-benar anjing setia yang dibesarkan Reval.

Setelah membungkuk memberi hormat, Dhana pun berjalan kembali menghampirinya. Sontak, Jenara menatap Dhana ketika pria itu mengulurkan tangan.

"Ikut aku." Suaranya nyaris berbisik.

Jenara tidak menjawab, namun dalam hatinya ia tahu artinya. “Jadi, dia menolak tawaranku dan lebih memilih setia pada bajingan Reval itu.”

“Baiklah, aku akan telan penghinaan malam ini. Namun, suatu hari ini aku akan benar-benar membunuh kalian berdua.” Jenara akhirnya menerima uluran tangan tersebut, setelah beberapa saat hanya terdiam.

Dhana kemudian menuntunnya perlahan menuju ranjang. Setiap langkah itu terasa berat. Bukan karena jaraknya jauh, melainkan karena Jenara tahu persis apa yang menunggunya di sana.

Di belakang mereka, Reval mengangkat cangkir tehnya. "Mulai."

Satu kata, tapi berhasil menghancurkan hidup dan kehormatan wanita itu. Dhana berhenti sesaat, ia menatap wanita yang kini berada dihadapannya. Istri Reval… yang juga menatapnya dengan tatapan memohon agar Dhana mau berpihak kepadanya malam itu.

“Maaf.” Lirihnya yang membuat Jenara hanya mampu diam dan menutup mata, menelan kekecewaan akan harapan yang pertaruhkan pada Dhana.

Namun, Dhana tidak bisa melakukannya. Misi Negaranya lebih penting dan atasan juga sudah memutuskannya. Dengan sangat terpaksa, ia kemudian menjalankan perintah itu. Perlahan tangannya terulur, melepaskan jubah tidur yang Jenara kenakan malam itu.

Gerakannya kaku dan penuh keraguan. Tidak ada kelembutan yang dibuat-buat, tetapi juga tidak ada antusiasme. Ia tampak seperti seorang prajurit yang sedang menjalankan tugas yang bahkan dirinya sendiri tidak sanggup terima.

“Tunggu! Apakah dia juga juga dipaksa melakukan ini? Ataukah Reval mengancam dengan menggunakan nyawa keluarganya?” Jenara menyadarinya.

Bersambung….

1
InaraAp 09
Lanjut Thor semakin seru ceritanya
InaraAp 09
bagus dhana
InaraAp 09
hati2 dhana, jangan sampai kebongkat
InaraAp 09
lanjut thor
InaraAp 09
jujur pengin nampol Elena dan anaknya
InaraAp 09
gak bisa bayangkan di posisi jenara
InaraAp 09
benar dhana harus tepati janjimu
InaraAp 09
Jadi dhana pasti serba bingung🤔
Sri Yatun
apa sudah tau ke 4 orang itu tentang penyamaran dhana
Fahmi Ardiansyah
iya mungkin jenara gak ada yang bisa di katakan LG.krn dhanagak mau bekerja sama dgn dirinya.
Fahmi Ardiansyah
semoga Reval gak berbuat curang sama dhana.
Fahmi Ardiansyah
setelah tau markasnya kmu harus menyusun rencana sebaik mungkin dhana.biar Reval hancur sampai akarnya.
InaraAp 09
besok up yang banyak kak
InaraAp 09
pantas saja
InaraAp 09
semakin penasaran
InaraAp 09
semakin seru....
InaraAp 09
🤔
InaraAp 09
berharap beneran padahal
InaraAp 09
semangat lanjut up... seruuu
InaraAp 09
up lagi dong kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!