NovelToon NovelToon
Kakak, Aku Mau "Naik Pangkat"

Kakak, Aku Mau "Naik Pangkat"

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Diam-Diam Cinta / Office Romance
Popularitas:523
Nilai: 5
Nama Author: Aluna Senja

Beda Usia + Berondong + Manis-Cemburu + Ambigu Kantoran + Cinta Diam-Diam + Cerita Per Unit】
Katanya pacaran sama berondong itu bahaya. Tapi kenapa makin bahaya, makin nagih?
Kirana cuma mau relaksasi otot di gym. Bukannya rileks, dia malah "khilaf" satu malam sama pelatih pengganti yang mukanya polos kayak anak anjing. Besok paginya? Cowok itu ternyata suami in-game sahabatnya di Raja Nusantara, anak semata wayang bos-nya Pak Handoko, dan… anak magang baru di divisinya.
Kirana pengin kabur. Tapi si adik malah bisik-bisik: "Kak, malam ini sekali lagi, ya?"
Dan Kirana bukan satu-satunya yang kejeblos.
Ada yang salah jemput di bandara, eh malah bawa pulang "pacar bayaran" yang ternyata naksir dia diam-diam sejak lima tahun lalu. Ada yang mabuk lalu nikah dadakan sama "cowok bayaran"—yang ternyata putra mahkota konglomerat. Ada manajer artis yang, semalam sebelum resign buat nikah, malah "termakan" sama aktor papan atas asuhannya sendiri selama sepuluh tahun. Ada dokter relawan yang dikejar-kejar adik tetangga yang dulu ia besarkan—sekarang balik jadi dokter pulangan luar negeri yang… nggak mau ngalah.
20 berondong. 20 kisah. Satu pola yang bikin jantungan: siang hari manis manggil "Kakak", malam hari berubah jadi serigala yang nggak mau dipanggil adik lagi.
Mereka polos di depan, tapi posesif di belakang. Mereka bilang "aku masih kecil, Kak", tapi merekalah yang ngejar sampai ke ujung dunia, beliin rumah diam-diam, jagain sampai babak belur, dan bilang: "Berhenti nganggap aku adik. Anggap aku laki-laki yang sejajar sama kamu."
Masalahnya… si Kakak keburu kabur duluan tiap pagi.
Pertanyaannya sekarang: berapa lama Kakak bisa lari, kalau tiap berondong ini nagihnya minta ampun?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 20

Katanya Cuma Kecelakaan

"Pertanyaanmu nggak pantas dijawab," kataku akhirnya.

Rangga masih memegang tanganku. "Berarti jawabannya ada."

"Berarti kamu harus berhenti bicara."

Aku menarik tangan, lalu meneguk susu hangat terlalu cepat. Cairan itu hampir membuat lidahku terbakar. Rangga mengambil gelas dariku dan meletakkannya di meja.

"Pelan-pelan, Kak Wulan. Aku nggak akan mengejar ke mana-mana."

Justru kalimat semacam itulah yang membuatku waspada.

Sejak kecil, aku takut kepada laki-laki yang terlalu pandai bicara. Ayahku, Bambang Kusuma, bisa mengubah makan malam biasa menjadi sidang tuduhan hanya karena Ibu pulang terlambat sepuluh menit dari pasar. Ia menuduh Sri, ibuku, genit kepada penjual, berselingkuh dengan tetangga, bahkan sengaja berdandan untuk menggoda orang lain.

Tidak ada bukti. Tidak pernah ada.

Ibu tetap diam, menyiapkan makan, dan bertahan sampai rambutnya memutih. Kata-kata Ayah tidak meninggalkan memar yang terlihat, tetapi membuat Ibu meminta maaf bahkan saat tidak bersalah. Aku tumbuh sambil berjanji tidak akan terjebak dengan laki-laki yang mampu memelintir kenyataan lewat ucapan.

Ketika kuliah, aku sering menginap di rumah keluarga Nugroho hanya agar tidak mendengar pertengkaran. Rania tidak pernah memaksa aku bercerita. Ibunya menyediakan selimut, ayahnya menganggapku anak sendiri, dan Rangga kecil duduk di depan pintu sambil memasang earphone keras-keras agar suara telepon Ayah tidak terdengar. Keluarga itu menjadi tempat aman yang takut sekali kurusak.

Mungkin itulah sebabnya aku lebih panik memikirkan akibat semalam daripada pengkhianatan Yudha. Jika hubungan dengan Rangga gagal dan berubah buruk, aku tidak hanya kehilangan seorang laki-laki. Aku bisa kehilangan Rania dan satu rumah yang selama ini kupakai untuk bernapas.

Itulah alasan aku memilih Yudha.

Saat pertama bertemu, dia pendiam, sederhana, dan tampak lugu. Dia tidak suka merayu. Dia mendengarkan lebih banyak daripada bicara. Bersamanya aku merasa tenang, lalu perlahan memberikan kepercayaan dan mulai membayangkan pernikahan.

Pada akhirnya, laki-laki pendiam pun bisa berbohong dengan tubuhnya di bawah lampu toko.

"Kak Wulan melamun lagi." Rangga berjongkok di depanku. "Sedang mikirin Yudha?"

"Nggak."

"Bagus. Jadi sekarang aku mau Kakak apain?"

"Maksudnya?"

"Masa habis dipakai terus nggak dikasih status?"

Aku tersedak udara. "Jangan bicara seolah kamu korban!"

"Semalam Kakak yang datang ke kamar."

"Itu kecelakaan."

"Kecelakaan biasanya terjadi sekali dan orang berusaha menghindar. Semalam waktu aku mendorong Kakak, kenapa Kakak nggak mendorong balik lebih keras?"

Ia meletakkan kedua tangan di sisi kursiku, tidak menyentuh tubuhku, tetapi cukup dekat untuk membuatku melihat garis gelap di matanya.

"Karena aku sedang kacau."

"Karena Yudha?"

"Karena aku baru dikhianati."

"Kalau dia datang minta maaf, Kakak mau kembali?"

"Nggak."

"Yakin?"

"Kenapa kamu peduli sekali?"

Rangga mendekat sedikit. "Karena aku nggak mau jadi kecelakaan yang Kakak hapus, lalu Kakak kembali ke laki-laki yang selingkuh."

Panas menjalar ke wajahku. Sebelum bisa menjawab, sesuatu yang hangat menetes ke bibir atas.

Rangga mundur seketika. "Kak, hidungmu berdarah."

Aku menutup hidung dengan tangan. "Ini gara-gara kamu!"

Dia mengambil tisu, menyuruhku duduk tegak dan sedikit condong ke depan, lalu menekan lembut bagian lunak hidungku. Tidak ada lagi senyum nakal di wajahnya.

"Jangan mendongak," katanya. "Tekan di sini. Kalau nggak berhenti, kita ke klinik."

Beberapa menit kemudian darahnya mereda. Aku ingin menghilang karena malu. Rangga justru menunjukkan noda merah kecil di ujung jarinya.

"Sudah pernah merasakan bibirnya. Sekarang darahnya juga. Lengkap."

"Kamu menjijikkan."

"Tapi Kakak suka."

Aku bangkit terlalu cepat. Kemeja panjangnya bergeser dan rasa perih di bahu membuatku meringis. Rangga langsung menangkap perubahan ekspresiku.

"Sakit?"

"Nggak."

"Ada salep di kotak obat."

"Aku bisa pakai sendiri."

"Di punggung juga ada. Tangan Kakak nggak sampai."

Wajahku kembali panas. "Kamu nggak boleh lihat lagi."

"Aku cuma mau memastikan nggak ada yang luka."

Nada suaranya kehilangan semua godaan. Ia mengambil kotak obat, memperlihatkan salep yang masih tersegel, lalu menyerahkannya kepadaku. "Kalau nggak mau aku bantu, pakai sendiri di kamar mandi. Untuk yang nggak terjangkau, tunggu Kak Rania pulang atau ke klinik. Jangan dibiarkan."

Sikapnya yang langsung menghormati penolakanku membuat pertahananku goyah. Aku mengambil salep dan mengoleskan bagian yang bisa kujangkau. Saat kukembalikan kotak, Rangga mencium punggung tanganku singkat.

"Apa lagi?"

"Minta maaf karena bikin tanda."

"Kalau menyesal, jangan ulangi."

"Aku menyesal bikin Kakak sakit. Bukan soal kita."

Aku memutuskan pulang sebelum kata-katanya merusak sisa akal sehatku.

Menjelang sore, pakaianku sudah kering. Rangga mengantarku sampai lobi dan menawarkan diri ikut ke rumah, tetapi aku menolak. Aku butuh jarak untuk memahami apakah debar di dada hanya sisa kejadian semalam atau sesuatu yang sudah lama kuabaikan.

"Kirim kabar kalau sudah masuk rumah," katanya sebelum pintu mobil tertutup. "Kalau Yudha datang, jangan temui sendirian."

"Dia bukan penjahat."

"Kakak baru kemarin tahu dia pembohong. Jangan merasa sudah tahu batas yang nggak akan dia lewati."

Aku ingin mengatakan Rangga terlalu curiga, tetapi ia sudah mengirim nomor petugas keamanan gedungku dan memasang kontaknya di daftar panggilan cepat. Aku membiarkannya. Saat itu, tindakan tersebut terasa berlebihan. Beberapa jam kemudian, aku berharap mendengarkan semua peringatannya.

Saat tiba di rumah, Yudha duduk di lantai dekat pintuku.

Ia berdiri begitu melihatku. Wajahnya kusut, matanya merah, dan beberapa botol air kosong berjajar di samping tasnya.

"Aku nunggu dari pagi," katanya.

Aku berhenti beberapa langkah darinya. Lorong apartemen mendadak terasa terlalu sunyi. Aku diam-diam membuka fitur rekam suara di ponsel dan menggenggamnya di samping tubuh.

"Aku sudah bilang kita selesai. Pulang."

"Perempuan semalam cuma teman lama. Dia lagi punya masalah."

"Teman lama nggak dicium seperti itu."

"Dia yang mulai. Aku khilaf. Tiga tahun kita bersama, masa kamu buang semuanya karena satu kesalahan?"

"Kamu yang membuangnya saat memilih mencium dia."

Ekspresi memohon di wajahnya runtuh. "Kamu memang nggak pernah cinta sama aku. Tiga tahun lebih, kamu nggak pernah kasih aku apa-apa."

Aku tahu apa yang ia maksud. Beberapa bulan setelah kami mulai berpacaran, Yudha pernah meminta menginap. Aku menolak. Setelah itu dia beberapa kali memberi isyarat serupa, dan aku selalu pura-pura tidak paham karena belum siap.

"Tubuhku bukan bayaran karena berpacaran denganmu."

"Tapi ke bocah Nugroho itu kamu dekat banget. Dia bebas masuk rumah keluargamu, pegang-pegang kamu, antar jemput kapan saja."

Jantungku berdegup cepat. "Jangan bawa Rangga ke masalah ini. Pergi, atau aku panggil keamanan."

Aku melangkah menuju pintu. Yudha tiba-tiba mencengkeram pergelangan tanganku.

Rasa sakit menjalar sampai siku.

"Lepas!"

Ia menarikku mendekat. Kerah bajuku bergeser, memperlihatkan warna kebiruan di dekat tulang selangka.

Tatapan Yudha jatuh ke sana.

Wajahnya berubah menjadi gelap, lebih asing daripada laki-laki yang kulihat berciuman di trotoar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!