Di sebuah kerajaan yang megah dan disegani, hiduplah Celestia, putri bungsu Raja David. Sebagai anak ketiga sekaligus putri terakhir dari tiga bersaudara, Celestia selalu hidup dalam kemewahan dan aturan kerajaan yang ketat. Berbeda dengan kedua kakaknya yang telah terbiasa dengan kehidupan istana, Celestia diam-diam mendambakan kehidupan bebas tanpa harus selalu memikirkan statusnya sebagai seorang putri.
Di sisi lain kerajaan, hiduplah seorang pemuda yatim piatu bernama Zass. Sejak kecil ia hidup seorang diri dan bekerja sebagai anak penempa pedang. Walaupun berasal dari kalangan rakyat biasa dan hidup sederhana, Zass memiliki keahlian luar biasa dalam menempa pedang. Ia tidak memiliki keluarga ataupun gelar bangsawan, tetapi ia memiliki tekad untuk menjadi seorang penempa pedang terbaik.
Takdir memperte
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyasy Asy-Syaif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Labirin di Altar
Uap kabut petir di luar altar perlahan memudar, meninggalkan sunyi yang hening dan menekan di ambang pintu masuk bangunan kuno tersebut. Altar batu itu ternyata bukan sekadar monumen biasa. Di balik gumpalan kristal ungu raksasa yang memancar terang di permukaannya, tersembunyi sebuah pintu lorong melengkung yang mengarah jauh menembus perut bumi.
Zass melangkah paling depan, menuruni anak tangga batu yang dingin dan licin. Di belakangnya, Ryu, Ken, Okta, dan Kayla mengikutinya dalam formasi siaga. Begitu kaki terakhir mereka melewati batas pintu masuk, sebuah mekanisme kuno bergemuruh berat.
Brakkk!
Pintu batu tebal di belakang mereka tertutup rapat secara otomatis, mengunci rapat jalan keluar. Pada saat yang sama, obor-obor di sepanjang dinding lorong menyala satu per satu, memancarkan kobaran api berwarnakan ungu lembut.
"Terjebak di dalam bangunan kuno," gumam Ken seraya mengamati dinding-dinding batu yang diukir dengan simbol-simbol petir rumit. "Format klasik untuk tempat latihan legendaris."
"Dinding ini dilapisi bahan khusus yang menyerap energi sihir," Okta menyentuh permukaan batu yang kasar, merasakan daya serap yang kuat terhadap Petir Biru milik fisiknya. "Kalau kita mencoba menghancurkan dinding ini secara paksa, energi serangan kita justru akan diserap dan memicu jebakan di dalamnya."
Ryu berjalan ke depan, berdiri di samping Zass yang sedang mengamati persimpangan lorong yang membentang di hadapan mereka. Di depan mereka, lorong batu itu bercabang menjadi tiga arah yang identik, diselimuti oleh kabut ungu tipis yang membatasi pandangan.
"Ini bukan sekadar ruangan bawah tanah," kata Ryu seraya mengarahkan pendar Petir Oren dari jarinya untuk menerangi lorong. "Ini adalah labirin tak bertepi. Struktur jalannya seolah berubah-ubah setiap kali ada getaran energi di dalamnya."
"Tempat ini dirancang untuk menguji fokus dan keselarasan elemen," pangkas Zass. Pemuda 17 tahun itu mengelus permukaan liontin belah ketupat di dadanya. Sejak melangkah masuk ke dalam labirin ini, liontin tersebut tidak berhenti berdenyut lambat, berdetak selaras dengan detak jantungnya sendiri. "Ayahku membuat tempat ini bukan untuk menjebak orang biasa, tapi untuk menempa mereka yang memiliki Petir Ungu."
Kayla melipat kedua tangannya di dada, matanya yang cermat mengamati uap ungu di lantai batu. "Jadi bagaimana cara kita menembusnya, Zass? Kita tidak bisa asal memilih lorong kalau jalurnya terus berubah."
"Gunakan insting dan aliran energi," jawab Zass mantap. "Kalian berempat tetap berada rapat di belakangku. Jangan melepaskan energi petir kalian secara sembarangan, karena dinding ini bisa meresponsnya sebagai ancaman."
Zass memejamkan matanya sejenak. Ia menghentikan napasnya, membiarkan pikiran dan tubuhnya menjadi tenang di tengah kegelapan labirin. Di dalam benaknya, ia mengabaikan penglihatan fisik dan mulai menggunakan persepsi energi yang diajarkan oleh Robert. Di dalam kegelapan lorong yang pekat, Zass dapat merasakan benang-benang aliran listrik tipis berwarna ungu yang merambat di sepanjang lantai batu, mengalir menuju ke satu titik pusat di dasar terdalam labirin.
"Lewat sini," tunjuk Zass ke arah lorong bagian tengah.
Mereka mulai menyusuri lorong batu yang gelap dan berliku-liku. Setiap beberapa belas langkah, lorong itu menyajikan persimpangan baru dengan jumlah cabang yang makin membingungkan. Namun, dengan panduan getaran Petir Ungu di dalam tubuh Zass, mereka berhasil melewati berbagai jebakan lantai berputar dan panah listrik tanpa tergores sedikit pun.
Namun, labirin itu tidak membiarkan para pengunjungnya lewat begitu saja tanpa ujian nyata.
Saat mereka tiba di sebuah ruangan bundar yang sangat luas di tengah labirin, suara gemuruh mekanis kembali bergema dari atas langit-langit. Dari balik kegelapan atap ruangan, berjatuhan belasan patung kesatria batu yang masing-masing menggenggam pedang tebal. Begitu mendarat di tanah, mata patung-patung batu itu menyala ungu pekat!
Zzzzt! Bzzzzzt!
Patung-patung kesatria batu itu bergerak secara simultan, melapisi tubuh batu mereka dengan percikan Petir Ungu buatan yang sangat membahayakan. Hawa membunuh seketika memenuhi ruangan bundar tersebut.
"Patung penjaga labirin!" seru Ken seraya menarik dua belatinya. "Sifat pertahanan mereka mirip dengan monster di Gunung Vulkanik, tapi gerakan mereka jauh lebih terstruktur!"
"Okta, tahan barisan depan!" perintah Zass seraya mencabut pedang besinya dari sarung di pinggang. "Kayla, lindungi celah samping! Ryu dan Ken, hancurkan persendian mereka begitu pertahanan mereka terbuka!"
"Siap!" sahut mereka serempak.
Okta melompat ke depan, memancarkan Petir Biru yang kokoh untuk menahan tebasan pedang batu dari dua patung penjaga sekaligus. Benturan keras antara pedang batu dan perisai listrik bergema nyaring, memancarkan percikan api ke udara. Kayla melayang lincah, menembakkan tombak Petir Merah yang meledak tepat di dada salah satu patung, membuatnya terhuyung mundur.
Di saat yang bersamaan, Ken dan Ryu melesat bagaikan bayangan kilat kuning dan oren, memotong tendon batu di kaki patung-patung tersebut hingga rubuh ke tanah.
Zass melangkah ke tengah gelanggang pertempuran. Ia tidak lagi terburu-buru melepaskan ledakan energi yang liar. Dengan ketenangan seorang penempa besi yang paham betul struktur material, Zass menyalurkan arus Petir Ungu tipis namun sangat tajam ke sepanjang mata pedang besinya.
Crazzzsh!
Zass berputar lincah di antara sela-sela serangan patung batu. Setiap kali pedangnya bertabrakan dengan tubuh patung penjaga, aliran Petir Ungu pada senjatanya merambat masuk ke dalam inti batu, memutus aliran energi sihir buatan yang menggerakkan mereka dari dalam. Hanya dalam beberapa tebasan yang sangat presisi dan efisien, tiga patung batu raksasa hancur berkeping-keping menjadi bongkahan batu tak bernyawa.
Kerja sama party petualang Tier SSS itu berjalan sangat rapi dan mematikan. Tanpa memerlukan seorang support atau marksman, kecepatan, kekuatan, dan koordinasi instingtif mereka dengan mudah meratakan seluruh patung penjaga labirin dalam waktu singkat.
Begitu patung terakhir tumbang dan hancur lebur di lantai, keheningan kembali menyelimuti ruangan bundar tersebut.
Di ujung lain ruangan, sebuah dinding batu berukir lambang Petir Ungu raksasa perlahan bergeser ke atas, memperlihatkan sebuah tangga batu melingkar yang menembus menuju ruangan paling bawah di dasar altar. Dari balik tangga tersebut, memancar aroma arang, tempaan besi, dan aliran energi petir murni yang sangat kuat.
Zass menyarungkan kembali pedang besinya, membetulkan jubah karung goni usangnya, lalu menatap tangga melingkar itu dengan tatapan penuh determinasi.
"Jalan menuju inti peninggalan Ayah sudah terbuka," ujar Zass dengan suara tenang namun tegas.
"Ayo kita selesaikan latihan ini, Brave," balas Ryu seraya menepuk pundaknya dengan senyuman percaya.
Bersama seluruh anggota timnya, Zass melangkah menuruni tangga batu melingkar tersebut, siap menghadapi rahasia terbesar dari Petir Ungu Legendaris yang tersembunyi di dasar altar Kuno.