NovelToon NovelToon
TAI CHU : KITAB TAKDIR

TAI CHU : KITAB TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Spectree Je

Saat semua pendekar berkumpul untuk berebut kekuasaan, seorang anak gembala datang membawa akhir dari dunia mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Spectree Je, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 - 4 PENJURU ANGIN, DALI DAN QUANZHEN

BAB 2 - REBUTAN DI ATAS RANTING BAMBU

Delapan belas bayangan naga emas itu masih belum hilang dari langit Puncak Teratai Emas.

Langit di atas Gunung Huashan masih bergemuruh pelan. Auman naga dari jurus 18 Tapak Penakluk Naga membuat bendera-bendera 30 perguruan robek ujungnya dan membuat hampir 300 pendekar yang berkumpul masih terduduk lemas di tanah. Lutut mereka seperti tidak punya tulang lagi.

Di tengah arena, hanya satu orang yang masih berdiri tegak dengan santai.

Jubahnya tambal-tambalan, sembilan kantung besar di pinggangnya robek-robek, rambutnya diikat tali jerami, wajahnya kotor oleh minyak arak dan debu. Tongkat bambu hijau kehitaman yang bengkok di tangannya terlihat seperti sampah untuk memukul anjing liar di pasar.

Tapi tidak ada satu orang pun yang berani menertawakannya lagi setelah melihat apa yang terjadi pada Da Dao raksasa milik Tie Mian Yu, Pengawal Imperial dari Beijing, yang patah menjadi dua hanya dengan gerakan mengusir anjing.

"Ketua Hong..." Bhiksu Jueyuan dari Shaolin berbisik, tasbihnya putus. "Ketua Hong Wei Jun..."

Yang berdiri itu adalah Hong Wei Jun, 45 tahun, Ketua Sekte Pengemis saat ini. Penerus sah dari Hong Qigong. Di dunia persilatan, orang memanggilnya Pengemis Utara. Julukannya sederhana, tapi ditakuti dari lautan timur sampai gurun barat. Sembilan jarinya — satu jarinya putus saat ia menahan racun mematikan demi menyelamatkan 100 anak kecil di tepi Sungai Kuning. Dua jurus andalannya adalah warisan terkuat Sekte Pengemis: 18 Tapak Penakluk Naga yang belum ada yang bisa menahan lebih dari 3 tapak, dan Jurus Tongkat Pemukul Anjing yang bisa membuat pendekar pedang terbaik di dunia merasa seperti anjing liar yang dipukuli.

Hong Wei Jun bersendawa keras. Bau arak menyengat.

"Burrrp! Ah! Arak Huashan tahun ini masih saja encer seperti air cucian beras!"

Ia menepuk bahu Mu Chen yang masih mematung di sampingnya. Bocah 17 tahun dengan jubah goni tambal-tambalan, pedang kayu patah, dan kitab emas raksasa di punggung yang kini tulisan-tulisannya beterbangan di udara seperti kunang-kunang emas.

"Bocah goni, kau lihat kan? Tongkat Pemukul Anjing ini bukan untuk memukul anjing beneran. Tapi untuk memukul orang yang kelakuannya seperti anjing. Seperti mereka," ia menunjuk ratusan pendekar. "Melihat kitab langsung ngiler!"

Mu Chen menelan ludah. Kitab di punggungnya — Tai Chu Hun Yuan Jing — semakin panas.

"Murid... kau mau jadi muridku tidak? Syaratnya gampang. Sehari mengemis 3 kali, mencuri ayam panggang 1 kali, minum arak 1 labu. Kalau tidak, 18 nagaku kelaparan!"

Sebelum Mu Chen bisa menjawab, sebuah nada suling memotong segalanya.

Nadanya indah. Sangat indah. Tapi indah yang membuat dada sesak, seperti seorang sarjana yang sendirian di tengah hutan bunga persik pada malam hari, menatap bulan, merindukan seseorang yang sudah mati 10 tahun lalu.

Auman 18 naga emas milik Hong Wei Jun tiba-tiba menjadi kacau. Dua naga bertabrakan di langit.

Hong Wei Jun mengerutkan kening. "Cih! Lagu cengeng Pulau Bunga Persik!"

Semua orang mendongak.

Dari bawah tebing Huashan, dari lautan kabut tebal seribu kaki yang jika kau jatuh tidak akan pernah ditemukan tulangnya, sebuah ranting bambu melayang naik.

Bukan pohon bambu. Hanya satu ranting kecil. Sepanjang lengan, dengan dua helai daun hijau di ujungnya.

Dan di atas ranting bambu yang bahkan tidak akan kuat menahan seekor burung pipit, berdiri seorang pria.

Jubah biru langit dengan bordir ratusan bunga persik merah muda yang gugur. Rambut diikat rapi dengan jepit giok putih, janggut tipis terawat. Wajahnya tampan seperti dewa sastra, tapi matanya dingin dan penuh kesombongan. Di tangannya, suling giok putih. Di pinggangnya, bukan pedang, hanya kipas lukis dan kantung kecil berisi biji persik.

Ia berdiri di atas ranting bambu itu seolah-olah berdiri di tanah datar. Ranting itu melayang, berputar, dan akhirnya — dengan ringan yang mustahil — mendarat dan bertumpu tepat di atas ujung ranting bambu lain yang tumbuh miring di tebing. Ranting di atas ranting.

Huang Yuchen, Pemilik Pulau Bunga Persik dari Timur.

"Ranting Bambu Terbang! Yi Wei Du Jiang!" Li Qingzhou dari Jiangnan menjatuhkan kipas besinya. "Satu bulu menyeberangi sungai... ini tingkat tenaga dalam..."

Huang Yuchen menurunkan suling dari bibirnya, tersenyum tipis pada Hong Wei Jun di bawah.

"Hong Wei Jun, 15 tahun tidak bertemu, kau masih saja jorok. Mengajak murid dengan iming-iming mencuri ayam? Tidak malu dengan 18 nagamu? Naga-nagamu meraung seperti anjing kelaparan, pantas saja kau butuh Tongkat Pemukul Anjing."

Hong Wei Jun meludah. "Huang cabul! Kau masih saja pamer! Berdiri di atas ranting! Kalau rantingnya patah, kau jatuh ke jurang, bunga persikmu rontok semua!"

Huang Yuchen tidak marah. Ia hanya menatap Mu Chen.

"Anak ini... tulang yang sangat aneh. Delapan meridian terbalik, tapi justru cocok untuk membaca Kitab Tai Chu. Kitab itu 300 tahun lalu ditulis oleh leluhurku yang gila di Pulau Bunga Persik sebelum dibuang. Seharusnya kembali ke timur."

Ia mengibaskan lengan bajunya. Tiba-tiba, entah dari mana, kelopak bunga persik merah muda berjatuhan di sekeliling Mu Chen, padahal di Puncak Huashan tidak ada satu pun pohon persik.

"Bocah, mau ikut aku ke timur? Di pulauku, ada 10.000 pohon persik yang selalu berbunga, ada Formasi Bunga Persik yang tidak akan pernah bisa ditembus oleh orang-orang bodoh di bawah ini. Aku akan mengajarkanmu Tan Zhi Shen Tong — Jari Dewa — dan musik yang bisa membunuh tanpa menyentuh. Kau akan menjadi murid tertutupku."

Sebelum Mu Chen bisa menjawab, angin dari arah barat datang.

Angin itu berbau manis. Manis sekali. Manis seperti bunga yang terlalu matang, lalu busuk.

Rumput liar di sekitar arena, bunga liar, bahkan lumut di batu, tiba-tiba menghitam dan layu. Beberapa murid rendahan yang menghirupnya langsung batuk darah.

"Amitabha! Racun! Semua tutup hidung!" Bhiksu Jueyuan langsung mengayunkan tongkatnya, lingkaran cahaya keemasan melindungi murid Shaolin.

Dari arah barat, berjalan seorang pria tua dengan punggung sedikit bungkuk, jubah hitam ungu dengan bordir kalajengking emas yang menyala. Rambutnya putih acak-acakan, wajahnya penuh keriput tapi matanya hijau menyala seperti mata ular. Tongkatnya dari tulang ular piton raja yang dikeringkan, ujungnya tengkorak ular kecil yang terus mengeluarkan asap ungu tebal.

Di belakangnya, dua murid pucat menggotong peti kayu hitam yang terus bergerak-gerak dari dalam, terdengar desisan ribuan kaki dan capit.

"Racun Barat... Ouyang Lie!" Ratu Loulan yang sombong langsung berlutut, kepalanya menyentuh tanah.

Ouyang Lie, Racun Barat dari Gunung Baituo di Gurun Gobi Barat. Keturunan langsung Ouyang Feng. Jika Pulau Bunga Persik adalah tempat paling indah di timur, Gunung Baituo adalah tempat paling mematikan di barat.

Ouyang Lie tertawa, suaranya seperti kaca pecah.

"Huang Yuchen, sulingmu masih seperti tangisan janda! Kitab Tai Chu Hun Yuan Jing... di dalamnya ada bab tentang Racun Kehidupan dan Kematian yang bahkan aku belum bisa buat. Bocah itu harus ikut aku!"

Ia memukul tanah dengan tongkat ularnya. DUSH! Tanah di sekitar Mu Chen langsung berubah ungu hitam, dan ratusan kelabang beracun sebesar jari merayap menuju kaki Mu Chen.

Huang Yuchen yang masih berdiri anggun di atas ranting bambu hanya mengibaskan lengan bajunya. Angin harum bunga persik berhembus, kelabang-kelabang itu mati, berubah menjadi kelopak bunga layu.

"Ouyang Lie, 20 tahun tidak bertemu, racunmu masih saja bau comberan."

"DUA-DUANYA DIAM! KALIAN RIBUT SEPERTI ANAK KECIL REBUTAN PERMEN!"

Suara itu datang dari tangga batu selatan. Tidak keras, tapi penuh wibawa dan kehangatan.

Dari tangga batu, berjalan dua orang pemuda.

Yang di depan, usia 25 tahun, jubah putih sederhana tanpa bordir, wajah tampan, bersih, penuh keadilan. Di tangannya, kitab Tao usang. Aura di sekelilingnya tenang seperti danau dalam.

Yang di belakangnya, usia 26 tahun, jubah kuning sederhana seperti petani kaya, wajah ramah, membawa payung untuk pemuda di depannya, padahal tidak ada hujan.

"Quanzhen... dan Dali!" Zhang Lingyun dari Wudang langsung berlutut.

Pemuda jubah putih maju selangkah, membungkuk hormat pada Hong Wei Jun, pada Huang Yuchen di atas ranting, dan pada Ouyang Lie.

"Perkenalkan, saya Qiu Mingyu, Ketua Sekte Quanzhen generasi sekarang dari Gunung Zhongnan. Dan di belakang saya adalah sahabat saya, Duan Zhen, murid terakhir Kaisar Selatan Duan Zhixing dari Dali."

Qiu Mingyu menatap Mu Chen, matanya penuh kasih.

"Anak baik, aku tahu kau bingung. Kitab di punggungmu itu adalah Kitab Tao. Ditulis oleh pendiri Quanzhen 300 tahun lalu sebelum beliau gila karena tidak bisa memahami bab terakhirnya. Seharusnya kembali ke Quanzhen. Ikut aku ke Zhongnan. Aku tidak akan menjadikanmu raja atau penguasa racun. Aku akan menjadikanmu manusia yang mengerti Tao. 10 tahun lagi, kau akan menjadi pemimpin Quanzhen!"

Duan Zhen, murid Kaisar Selatan, juga maju. Ia membuka telapak tangannya, di sana ada biji padi emas bercahaya hangat.

"Mu Chen, Guru saya, Kaisar Selatan, tidak bisa datang. Beliau sedang bertapa menanam padi di Dali. Beliau bermimpi Huashan akan berdarah hari ini. Beliau menyuruhku membawa ini. Guru bilang, Kitab Tai Chu itu terlalu berat. 300 tahun lalu, kitab itu membuat 100 perguruan saling bunuh sampai Sungai Kuning merah 3 bulan. Guru bilang, jika kau ikut kami ke Dali, kami tidak akan mengajarkanmu cara membunuh. Kami akan mengajarkanmu Satu Jari Matahari untuk menyembuhkan orang sakit. Bukankah itu lebih baik daripada menjadi pengemis atau pembuat racun?"

Arena Puncak Teratai Emas kini menjadi panggung paling aneh dalam 100 tahun terakhir.

Di tengah, Mu Chen, bocah goni 17 tahun dengan kitab emas berputar-putar.

Di depannya, Hong Wei Jun, Pengemis Utara, penerus Sekte Pengemis saat ini, dengan 18 naga emas yang masih mengaum di langit dan tongkat pemukul anjing di tangan, memegang bahu Mu Chen erat-erat.

"Kalian semua kentut!" teriak Hong Wei Jun. "Bocah ini sudah aku pegang duluan! Mau jadi muridku! Huang cabul dengan ranting bambunya, Ouyang racun dengan kelabangnya, Qiu hidung kerbau dengan kitab Tao-nya, Duan petani dengan padi emasnya! Kalian pikir kalian siapa? Selama Tongkat Pemukul Anjingku masih di sini, siapa pun yang menyentuh bocah ini, harus lewat aku dulu!"

Huang Yuchen di atas ranting bambu tersenyum dingin, sulingnya kembali ke bibirnya. Ouyang Lie membuka peti kayunya sedikit lebih lebar, desisan membuat semua orang merinding. Qiu Mingyu mengangkat kitab Tao-nya, lingkaran Taiji emas raksasa muncul di bawah kakinya. Duan Zhen mengangkat jarinya, ujung jarinya memancarkan cahaya keemasan Satu Jari Matahari.

Empat penjuru mata angin, ditambah satu Pengemis Utara, semua mengincar satu bocah goni.

Dan Mu Chen, yang 10 tahun lalu hanya ingin bisa membaca, memeluk kitab emasnya erat-erat. Kitab itu semakin panas, sampai tulisan emas yang melayang-layang membentuk satu kalimat besar di langit Huashan yang bisa dibaca semua orang.

TAI CHU KAI, WULIN MIE.

Tai Chu Terbuka, Wulin Musnah.

Langit di atas Huashan yang tadinya cerah, tiba-tiba menjadi gelap gulita.

1
Dhewa Iblis
Next....
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuuutt...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuuttt...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjjuuuttt....
Dhewa Iblis
Nice...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjjuuuttt....
Dhewa Iblis
Nice...
Dhewa Iblis
Laaaaannnjjuuttt..
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuutt...
Dhewa Iblis
Nice....
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuutt...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Next....
Dhewa Iblis
Nice....
Dhewa Iblis
Maaaannnttaapp..
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuutt...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!