NovelToon NovelToon
Ayah Tiri

Ayah Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Anak Genius / Romansa Fantasi
Popularitas:707
Nilai: 5
Nama Author: fazamanmut

Angela Syambega, gadis perpaduan darah Tionghoa dan Jawa yang tumbuh sederhana. Hidupnya pernah berkilau penuh kemewahan saat ayahnya masih sukses, namun semuanya berubah drastis ketika nasib berbalik arah. Ayahnya dipecat, kecelakaan, hingga harus berpulang selamanya, menyisakan Angela dan ibunya yang harus berjuang keras menyambung hidup dari nol. Dari buruh pabrik hingga pelayan kafe, Angela tak pernah lelah berusaha demi satu-satunya keluarga yang ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fazamanmut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27

Samudra tidak menunggu jawabanku. Dia tahu dia sudah menang. Dengan senyum puas yang membuat lipatan-lipatan di pipinya bergerak, dia berbalik badan. Langkah kakinya terdengar berat dan gontal saat dia menaiki tangga, meninggalkan aku yang masih terduduk lemas di sofa ruang tamu.

Aku diam di sana selama beberapa menit, mencoba mengumpulkan sisa-sisa nyawaku. Amplop berisi foto-foto pengintaian itu masih tergenggam erat di tanganku hingga kuku-kuku jariku memutih. Rasanya seperti memegang bom waktu.

Akhirnya, dengan kaki yang masih gemetar, aku berdiri. Aku tidak berani membawa amplop itu ke atas. Dengan tangan yang masih bergetar, aku menyelipkannya kembali ke balik bantal sofa, berharap tidak ada yang menemukannya sebelum aku sempat menghancurkannya nanti.

Aku menaiki tangga dengan langkah lambat. Setiap anak tangga terasa seperti hukuman. Saat mencapai lantai dua, aku berbelok ke arah kamarku. Koridor sepi, hanya suara dengungan AC sentral yang terdengar samar.

Saat aku membuka pintu kamarku, hawa hangat dan aroma lavender menyambutku. Tapi pemandangan di dalamnya membuatku terhenti sejenak.

Bi Inem, pembantu setia yang sudah bekerja di rumah ini sejak sebelum Ibu menikah dengan Samudra, sedang sibuk di sana. Wanita paruh baya itu berdiri di samping ranjang king size-ku, tangannya cekatan menarik sprei baru berwarna putih bersih untuk menggantikan sprei lama yang kusut.

Bi Inem menoleh saat mendengar suara pintu terbuka. Wajahnya yang keriput namun ramah langsung berubah menjadi senyum tipis.

"Selamat sore, Nduk Angel," sapanya lembut. Suaranya serak khas perokok, tapi menenangkan. "Maaf kalau Bi Inem masuk tanpa izin. Mama pesan supaya kamar Nduk diganti spreinya hari ini juga. Katanya biar Nduk tidur lebih nyenyak."

Aku memaksakan diri untuk tersenyum balik, meski otot-otot wajahku terasa kaku. "Tidak apa-apa, Bi. Terima kasih sudah repot-repot."

Aku berjalan masuk, menghampiri meja rias untuk meletakkan tas kecilku. Bi Inem melanjutkan pekerjaannya, melipat sprei lama dengan rapi sebelum memasukkannya ke dalam keranjang cucian.

Ada sesuatu tentang kehadiran Bi Inem yang membuatku merasa sedikit lebih aman. Dia bukan bagian dari lingkaran kekuasaan Samudra. Dia hanyalah seorang pekerja. Tapi apakah dia benar-benar netral? Atau dia juga melaporkan segala gerak-gerikku pada Samudra?

"Nduk," panggil Bi Inem tiba-tiba, tanpa menoleh. Tangannya masih sibuk merapikan sudut selimut. "Tadi siang... Bi Inem lihat Nduk pulang dari salon sendirian. Ibu tidak ikut?"

Aku meneguk ludah. "Iya, Bi. Ibu mau lanjut perawatan rambut, jadi El pulang dulu."

Bi Inem berhenti sejenak. Dia menoleh, matanya yang kecil menatapku dengan ekspresi sulit dibaca. Ada kekhawatiran di sana, atau mungkin sekadar rasa ingin tahu biasa seorang ibu bagi para pelayan?

"Hati-hati ya, Nduk," bisiknya pelan, suaranya hampir tertelan oleh dengungan AC. "Rumah ini... kadang dindingnya punya telinga. Dan lantai punya mata."

Jantungku berdegup kencang. Apa maksudnya? Apakah itu peringatan? Atau sekadar nasihat umum?

Sebelum aku bisa bertanya lebih lanjut, Bi Inem sudah kembali pada pekerjaannya. Dia menyelesaikan rapikan tempat tidurku, lalu mengambil keranjang cucian.

"Sudah selesai, Nduk. Kalau butuh apa-apa, ketuk saja pintu kamar Bi Inem di lantai bawah. Tapi..." Dia ragu sejenak, lalu menambahkan, "...kalau sudah lewat jam sembilan malam, lebih baik jangan keluar kamar. Bapak sedang banyak pikiran akhir-akhir ini."

Bapak sedang banyak pikiran.

Kalimat itu terdengar seperti kode. Kode bahwa Samudra sedang dalam mode "berbahaya".

"Terima kasih, Bi," ucapku pelan.

Bi Inem mengangguk, lalu berjalan keluar dari kamarku. Pintu tertutup lagi, meninggalkan aku sendirian di tengah kamar yang kini terlihat sempurna, rapi, dan steril. Sprei putih itu tampak mengundang, tapi bagiku, itu terlihat seperti kain kafan.

Tiba-tiba, dari lantai bawah, terdengar suara pintu depan terbuka. Suara riang Ibu terdengar jelas.

"Aku pulang, Nduk! Wah, harum sekali rumah kita hari ini!"

Suara Ibu yang ceria itu kontras sekali dengan ketakutan yang mencekam dadaku. Dia belum tahu apa yang terjadi di ruang tamu tadi. Dia belum tahu bahwa suaminya, pria yang dia cintai karena kemewahannya, sedang mengincar putri tirinya sendiri.

Aku berjalan menuju jendela, menarik tirai tebal agar tidak ada yang bisa melihat ke dalam. Lalu, aku ambruk duduk di tepi tempat tidur.

Aku terjebak. Di antara Ibu yang polos dan bahagia, serta Samudra yang obsesif dan menakutkan.

"Sudah pulang ya, Bu?"

Aku melangkah keluar dari kamarku, berusaha menyembunyikan rasa gelisah di balik senyuman tipis. Di ujung koridor, Ibu sedang turun dari tangga dengan langkah ringan. Penampilannya benar-benar berubah drastis. Rambutnya yang tadi pagi masih diikat asal kini ditata rapi dalam gaya bob pendek yang modern, membuat lehernya terlihat jenjang dan wajahnya tampak lebih segar serta awet muda. Dia mengenakan gaun sutra berwarna emas pucat yang menonjolkan lekuk tubuhnya, lengkap dengan kalung mutiara yang berkilau di bawah lampu lorong.

Dia terlihat... mempesona. Terlalu mempesona untuk seorang wanita yang seharusnya menjadi korban dalam skenario gelap suaminya sendiri.

"Wah, Nduk sudah turun," sapa Ibu ceria saat melihatku. Matanya berbinar bangga. "Bagaimana? Ibu cantik tidak?"

Aku mengangguk pelan, meski hatiku terasa sesak. "Cantik sekali, Bu. El aja jadi minder lihat Ibu."

Ibu tertawa renyah, suara yang dulu sering menenangkan hati kecilku saat kami masih hidup di gubuk reyot. Sekarang, tawa itu terdengar asing di tengah kemewahan rumah ini.

"Ah, kamu ini bisa saja," godanya sambil mendekat. Dia membawa beberapa kantong belanjaan bermerek ternama—Chanel, Gucci, dan Louis Vuitton. Kantong-kantong itu terlihat berat, tapi Ibu membawanya dengan semangat seolah-itu hanyalah kertas kosong. "Nih, Ibu belikan sesuatu buat kamu juga. Tadi pas di sebelah salon, Ibu lihat koleksi terbaru mereka dan langsung kepikiran kamu."

Dia meletakkan tas-tas itu di meja konsol di dekat pintu masuk kamarku, lalu membuka salah satunya. Dari dalam, dia mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam.

"Buka," perintahnya lembut.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, aku membuka kotak itu. Di dalamnya tergeletak sepasang anting berlian kecil yang elegan, serta sebuah kalung choker berbahan velvet hitam dengan liontin berlian tunggal di tengahnya. Cantik. Sangat cantik. Dan sangat mahal.

"Ini... buat El?" tanyaku ragu.

"Iya, dong. Kan sekarang kamu putri Pak Samudra. Harus tampil pantas," kata Ibu sambil tersenyum bangga. Dia mengambil kalung itu dan langsung mengalungkannya di leherku. Sentuhan jarinya dingin, tapi niatnya tulus. "Lihat di cermin. Cocok banget sama kulit kamu."

Aku menatap pantulan diri di cermin besar di dinding kamar. Wanita di sana terlihat seperti boneka mahal. Anting dan kalung itu berkilau indah, tapi di mataku, kilauan itu terlihat seperti belenggu emas. Setiap kali aku bergerak, berlian itu akan bergemerincing pelan, mengingatkan pada kata-kata Samudra: Harta milik Ayah.

"Terima kasih, Bu," bisikku, suaraku tercekat. Aku memeluk Ibu erat-erat, mencari kehangatan tubuh wanita yang melahirkan dan membesarkanku. Tubuh Ibu terasa hangat dan nyaman, aroma parfum mawarnya menenangkan saraf-sarafku yang tegang.

Ibu membalas pelukanku, mengelus punggungku. "Sama-sama, Nduk. Ibu cuma mau kamu bahagia di sini. Papa Samudra orang baik, Nduk. Dia sayang banget sama kita. Lihat saja, semua fasilitas ini... dia berikan tanpa perhitungan."

Sayang?

Kata itu menusuk hatiku. Bagaimana bisa Ibu mengatakan itu setelah tahu bagaimana cara Samudra memandangku? Atau... apakah Ibu benar-benar tidak tahu? Apakah ketulusan Ibu adalah bentuk kebodohan yang paling menyedihkan?

"Ibu..." aku ingin bercerita. Ingin memberitahu bahwa 'Papa Samudra' yang dia puja sebenarnya memiliki sisi gelap yang mengerikan. Bahwa dia mengintaiku. Bahwa dia menginginkanku bukan sebagai anak, tapi sebagai objek hasrat.

Tapi kata-kata itu macet di tenggorokanku. Jika aku bicara, kebahagiaan Ibu akan hancur. Dia akan merasa bersalah. Dia akan marah padaku karena merusak impiannya. Dan yang lebih buruk... Samudra mungkin akan tahu. Dan akibatnya bisa fatal bagi kami berdua.

Jadi, aku hanya bisa mengangguk. Menelan kebenaran pahit itu sendirian.

"El senang, Bu. El bahagia," bohongku. Air mata hampir menetes, tapi aku menahannya kuat-kuat.

Ibu melepaskan pelukan, menatap wajahku dengan puas. "Syukurlah. Nah, cepat ganti baju ya. Malam ini kita makan malam bertiga. Papa Samudra sudah pesan koki khusus datang ke rumah. Steak wagyu favorit kamu."

Makan malam bertiga.

Jantungku kembali berdegup kencang. Itu bukan undangan makan malam biasa. Itu adalah pengadilan.

"Iya, Bu. El ganti baju dulu," jawabku pelan.

Ibu mencium keningku sekilas, lalu berjalan menuju kamarnya di seberang lorong. "Jangan lama-lama ya, Nduk. Papa nggak suka menunggu."

Saat pintu kamar Ibu tertutup, aku ambruk duduk di tepi tempat tidur. Tanganku meraih kalung choker di leherku, jari-jariku merasakan tekstur velvet hitam yang halus namun mencekik.

Aku harus bertahan, pikirku. Demi Ibu. Demi dirinya yang masih percaya pada kebahagiaan semu ini.

Tapi berapa lama aku bisa bertahan sebelum topengku retak? Dan apa yang akan dilakukan Samudra jika aku menolak 'hadiah' utamanya malam ini?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!