NovelToon NovelToon
Mendapatkan Sistem 271 Triliun

Mendapatkan Sistem 271 Triliun

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Mafia
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

"Cukup, Repan! Aku sudah benar-benar muak menghadapi situasi ini! Hubungan kita selesai!" Sasa melemparkan tatapan penuh rasa jijik ke arah pemuda di hadapannya.

Repan menetap di Kota Bogor.

Kota hujan ini menyuguhkan panorama alam yang sejuk dan asri di permukaan, namun menyimpan sisi kelam yang pekat di sudut-sudut tersembunyinya.

Di balik rimbunnya pepohonan dan kabut tipis, kota ini juga menjadi rumah bagi menjamurnya organisasi massa liar, kelompok kriminal jalanan, hingga oknum-oknum berseragam yang kerap memanfaatkan hukum demi keuntungan pribadi.

Bagaimana kelanjutannya..?

"Cerita ini sepenuhnya fiksi. Nama, tokoh, tempat, dan kejadian adalah karangan penulis."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1: Dana Fantastik 271 Triliun

"Sasa, tunggu! Tolong dengarkan aku dulu!"

Repan berusaha menahan langkah kekasihnya dengan mencoba menggenggam jemari gadis itu.

Namun, dengan sentakan kasar dan penuh emosi, Sasa langsung menghempaskan tangan Repan.

"Cukup, Repan! Aku sudah benar-benar muak menghadapi situasi ini! Hubungan kita selesai!" Sasa melemparkan tatapan penuh rasa jijik ke arah pemuda di hadapannya.

"Apa?! Tapi atas dasar apa? Kita sudah berjalan bersama selama dua tahun, Sasa! Bagaimana mungkin semua ini berakhir begitu mendadak?" Suara Repan bergetar hebat.

Dadanya terasa dihantam godam tak kasat mata, meninggalkan rasa sesak yang luar biasa.

"Karena kamu miskin, Repan! Kita sudah hampir menyelesaikan masa sekolah, dan aku mulai realistis."

"Aku sama sekali tidak sudi menghabiskan masa depanku dengan pria yang tidak punya apa-apa sepertimu!" cetus Sasa dengan nada tinggi tanpa menyisakan sedikit pun rasa bersalah.

Seolah-olah, mendepak Repan dari hidupnya adalah pencapaian termanis yang pernah ia lakukan.

Kasak-kusuk mulai terdengar dari beberapa siswa yang kebetulan melintas di area tersebut. Mereka sengaja memperlambat derap langkah, mencuri pandang sembari saling berbisik menikmati drama pertengkaran fajar itu.

"Begitu kita lulus nanti, aku berjanji akan membanting tulang. Aku akan melakukan apa saja demi bisa mencukupi semua kebutuhanmu!"

Repan memohon dengan guratan ketulusan yang mendalam di matanya, walau di dalam lubuk hatinya, benteng pertahanannya sudah runtuh berkeping-keping.

"Sudahlah, Repan... Mau kamu memeras keringat seumur hidupmu pun, kamu tidak akan pernah sanggup memenuhi standar hidupku. Jadi, tidak ada gunanya lagi. Kita berakhir di sini!"

Tanpa menunggu jawaban, Sasa memutar tubuhnya dan melenggang pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan Repan yang mematung menahan perih.

Langkah kaki Sasa bergerak mantap menuju seberang jalan. Di sana, seorang pemuda berparas rupawan sudah menantinya, duduk angkuh di atas jok motor sport merah yang meraung garang.

"Keputusan yang cerdas, Sayang. Lelaki miskin seperti dia memang tidak pantas bersanding denganmu," ujar pemuda bernama Rian itu sembari tersenyum miring dan menepuk ruang kosong di belakangnya.

"Dia tidak level untuk mendapatkan perempuan secantik kamu."

"Tentu saja, Sayang. Bagiku, sekarang hanya ada kamu di hatiku," sahut Sasa manja, menyunggingkan senyum paling manis sebelum akhirnya melingkarkan lengannya erat-erat pada pinggang Rian.

Sebelum menarik gas, Rian menatap Repan dari kejauhan. Bibirnya bergerak tanpa suara, membentuk kalimat provokatif: 'Dia akan menjadi milikku malam ini.'

Hanya dengan sekali lihat, Repan bisa membaca gerak bibir itu dengan sangat presisi.

'Keparat jahanam!' umpat Repan dalam hati.

Bremmm!

Kuda besi itu melesat membelah jalanan, meninggalkan kepulan asap tipis beserta serpihan hati Repan yang kini porak-poranda.

'Sialan! Dua tahun penuh aku mengorbankan segalanya demi membuat dia bahagia, tapi ini balasan yang kuterima? Dan alasan konyol itu... hanya karena aku tidak punya harta?!'

Repan memang dikenal sebagai murid dengan latar belakang paling prasejahtera di SMA 09 Cimanggu.

Jika bukan karena otak encer dan beasiswa prestasi yang berhasil dipertahankannya, pemuda itu tidak akan pernah bisa menginjakkan kaki di koridor sekolah khusus kaum elite tersebut.

Ting!

Tiba-tiba, sebuah gaung bernada elektronik berdenting keras di dalam benaknya.

Bersamaan dengan itu, sebaris kalimat dengan pendar cahaya emas yang menyilaukan mendadak melayang tepat di ruang pandangnya.

[Proses Transfer Berhasil: Rp271.000.000.000.000,00]

[Dana sebesar 271 Triliun Rupiah telah dialokasikan ke dalam rekening Anda untuk memfasilitasi Misi Awal.

Pasokan dana berikutnya akan dicairkan begitu Anda berhasil menghabiskan seluruh nominal ini.]

Repan tertegun. Kelopak matanya melebar sempurna. Tulisan bercahaya itu mengambang nyata di udara, namun anehnya, tak ada satu pun orang sekitar yang menyadarinya.

'Mimpi macam apa ini?! Ilusi apa yang sedang kulihat?! 271 triliun?! Angka yang sangat tidak masuk akal! Apa uang ini benar-benar masuk ke saldo tabunganku?!'

Dengan jemari yang bergetar hebat, ia merogoh saku dan membuka aplikasi perbankan digital di ponselnya. Usai menunggu proses pemuatan selama beberapa detik yang menegangkan...

"In-ini tidak mungkin... Uang ini... benar-benar ada!" bisik Repan lirih dengan wajah memucat akibat syok.

Layar gawai di genggamannya menampilkan deretan angka fantastis yang terlampau panjang untuk dihitung secara manual. Ini nyata. Bukan sekadar bunga tidur atau halusinasi akibat patah hati.

[Tiap pembelanjaan senilai 100 juta Rupiah, Anda akan dianugerahi 1 Poin. Poin tersebut dapat dikonversikan untuk meng-upgrade atribut status atau menebus keahlian khusus yang Anda dambakan.]

Pesan dari sistem kembali bermunculan, menjabarkan mekanisme regulasi dari fenomena gaib tersebut.

"Apa aku benar-benar sudah gila? Apakah ini nyata?!"

[Profil Atribut Anda Telah Diformulasikan]

• Nama: Repan Kusuma

• Visual/Ketampanan: 7.2 (+)

• Fisik/Kekuatan: 10 (+)

• Kecerdasan/Pemikiran: 35 (+)

• Kompetensi/Keahlian: -

• Sisa Poin: 0

Repan memandangi grafik status transparan itu dengan ekspresi linglung.

'Semua ini riil! Bukan fatamorgana! Uangnya nyata... dan sistem aneh ini benar-benar beroperasi di dalam kepalaku!'

Plak!

Sebuah tepukan mantap mendarat di bahunya, disusul dengan rangkulan lengan yang kokoh.

"Sudahlah, Bro. Jangan pasang wajah melankolis begitu. Kehilangan Sasa memang menyakitkan, tapi dunia belum kiamat. Tegakkan kepalamu, oke? Ha ha!" cetus Bimo, karib terdekatnya, berusaha mencairkan suasana dengan kelakar ringannya.

"Sialan kamu, Bim... Siapa juga yang sedang menangis," gerutu Repan, menepis pelan rangkulan sahabatnya.

Repan menetap di Kota Bogor. Kota hujan ini menyuguhkan panorama alam yang sejuk dan asri di permukaan, namun menyimpan sisi kelam yang pekat di sudut-sudut tersembunyinya.

Di balik rimbunnya pepohonan dan kabut tipis, kota ini juga menjadi rumah bagi menjamurnya organisasi massa liar, kelompok kriminal jalanan, hingga oknum-oknum berseragam yang kerap memanfaatkan hukum demi keuntungan pribadi.

Bahkan, atmosfer buruk ini telah meracuni lingkungan akademis. Tawuran antarpelajar, peredaran zat adiktif, hingga keterlibatan remaja sebagai kurir obat-obatan terlarang sudah menjadi rahasia umum.

Di sini, tindakan kriminal seolah telah bergeser menjadi rutinitas yang dimaklumi oleh masyarakat.

Sebagai gambaran nyata: jika ada warga yang menjadi korban pembegalan atau perampokan di jalanan sepi, mereka cenderung memilih bungkam ketimbang melapor ke pihak berwajib.

Sebab, alih-alih mendapatkan keadilan, proses pelaporan sering kali dijadikan ajang bagi oknum aparat untuk memeras korban dengan dalih biaya operasional yang rumit dan berbelit-belit.

Ironisnya, meski korban telah menggelontorkan dana yang tidak sedikit untuk pelicin, sang pelaku kejahatan tidak akan pernah diringkus.

Mengapa? Karena dalang utama di balik layar hitam kriminalitas itu sering kali adalah mereka yang seharusnya menegakkan keadilan.

"Rel, gue belok kiri duluan, ya. Ingat pesan gue, jangan sampai kamar lo banjir air mata nanti malam! Ha ha ha!" pamit Bimo seraya melambaikan tangan dan melangkah menuju rute yang berbeda.

Repan hanya membalas dengan anggukan samar. Fokus pikirannya kini tersedot sepenuhnya pada satu hal: nominal uang yang tak masuk akal di dalam rekeningnya.

'Aku harus menguji validitas uang ini. Entah saldo ini benar-benar bisa ditransaksikan atau hanya angka kosong,' batinnya sembari melangkah pelan mendekati sebuah mesin penjual minuman otomatis yang berdiri di trotoar.

Ia menyentuh panel digital, memilih varian minuman kaleng kesukaannya, lalu menempelkan ponselnya ke mesin pemindai.

Bip! Transaksi Berhasil.

Repan terpaku selama beberapa ketukan, sebelum akhirnya seulas senyuman kepuasan perlahan terbit di bibirnya.

'Luar biasa! Uang ini benar-benar bisa digunakan untuk transaksi sah! Aku memegang kendali atas kekayaan tak terbatas ini?!'

Ujarnya dalam hati sembari menimang botol dingin di tangannya.

'Tunggu... kalau tidak salah, sistem tadi menjelaskan bahwa setiap kelipatan 100 juta yang dibelanjakan akan menghasilkan poin untuk meningkatkan kapabilitas fisikku? Kalau begitu, aku harus mencobanya dalam skala besar!'

Pandangan Repan menyapu area sekitar hingga netranya terpaku pada sebuah bangunan megah berasitektur modern di tepi jalan utama, tak jauh dari lokasinya berdiri. Sebuah papan pengumuman berukuran besar terpancang di area pagar besi: DIJUAL.

'Bagus, mari kita jadikan aset properti itu sebagai eksperimen pertama.' Dengan langkah mantap penuh percaya diri, ia berjalan menghampiri gerbang rumah mewah tersebut.

"Ada keperluan apa, Dek?" seorang petugas keamanan menghadang langkahnya di pintu gerbang dengan raut penuh selidik.

"Saya melihat plang di depan. Saya berniat meminang dan membeli rumah ini," sahut Repan lugas.

Petugas ronda itu mengamati Repan dari ujung sepatu hingga batas rambut dengan pandangan menyangsikan. '

Bocah berseragam sekolah ini waras tidak, sih? Dikira hunian mewah ini harganya setara dengan jajanan kantin?' batin sang satpam sembari sekuat tenaga menahan tawa sinisnya.

Namun, sebelum si satpam sempat melontarkan kalimat penolakan, suara ketukan selop wanita terdengar dari arah halaman dalam.

"Ada masalah apa di sini, Pak?"

"Begini, Ibu... Anak sekolah ini tiba-tiba datang dan mengatakan ingin membeli unit properti ini," lapor petugas keamanan itu dengan sikap takzim begitu wanita itu mendekat.

jessi, seorang agen pemasaran properti berpenampilan elegan, menatap Repan dengan pandangan menilai.

Matanya sempat tertahan pada lambang OSIS dan almamater SMA 09 Cimanggu yang dikenakan pemuda itu.

'Murid 09 Cimanggu? Memang itu sekolahnya para miliarder, tapi dia tetap saja masih di bawah umur. Apa dia benar-benar serius atau hanya mencari sensasi?' pikir Jessi, meski ia berhasil menyembunyikan keraguan tersebut di balik senyum bisnisnya yang ramah.

"Baiklah... Mari kita masuk ke area dalam terlebih dahulu untuk meninjau fasilitasnya," ajak Jessi dengan sikap santun, menjaga reputasi profesionalitasnya.

"Silakan dilihat, Dek. Bangunan ini memiliki luas bangunan yang lapang dengan interior premium. Lokasinya pun sangat premium di pusat kota Bogor. Mari saya pandu untuk melihat ruang utamanya—"

"Berapa nominal bersihnya?" potong Repan tanpa ingin membuang waktu untuk basa-basi.

"Maaf? Anda tidak ingin melakukan home touring terlebih dahulu untuk memeriksa kondisinya?"

"Tidak perlu. Jika harganya cocok, saya akan langsung mengambil alih kepemilikannya sekarang juga," tegas Repan dengan sorot mata yang memancarkan keyakinan mutlak.

Jessi sempat kehilangan kata-kata, sebelum akhirnya mengembuskan napas pelan.

 'Mungkin anak ini hanya ingin menguji nyali atau sekadar iseng menanyakan harga pasaran.'

"Nilai jual untuk aset ini berada di angka 3 miliar Rupiah, Dek. Namun, khusus untuk skema pembayaran tunai tanpa cicilan hari ini, saya bisa memberikan insentif potongan harga sebesar 15 persen," terang Jessi dengan senyum persuasif.

"Tidak usah dipotong. Saya akan menebusnya sesuai harga penuh 3 miliar," tandas Repan.

"Apa?!" Jessi tersentak kaget.

Pernyataan tenang dari mulut pelajar itu bagaikan petir di siang bolong yang menghantam kesadarannya. Seorang anak SMA, berniat membeli rumah mewah seharga 3 miliar, dan dengan angkuh menolak tawaran diskon.

"Apakah Anda sedang tidak bercanda, Tuan?" tanya Jessi, kini dengan nada suara yang berubah drastis menjadi lebih formal dan penuh kehati-hatian.

"Siapkan berkasnya segera. Waktu saya cukup berharga," balas Repan dengan nada santai.

'Aku harus membuktikan, apakah sistem ini juga mendukung transaksi nominal besar seperti ini atau tidak.'

"Baik... Mohon tunggu sebentar, saya akan menyiapkan dokumen pengalihan asetnya!" Jessi bergegas melangkah ke ruang kerja dan kembali dengan sebuah map kulit tebal di tangannya.

"Ini dokumennya, Tuan. Anda cukup membubuhkan tanda tangan di lembar persetujuan ini, setelah itu kita bisa memproses pembayarannya."

Tanpa banyak retorika, Repan segera mengaktifkan ponselnya, membuka fitur transfer instan, lalu memasukkan nominal angka 3.000.000.000.

Bip! Proses Transfer Sukses.

Hanya selang beberapa detik, gawai di dalam saku Jessi berdenting nyaring mengindikasikan adanya dana masuk. Begitu memeriksa layarnya, wajah wanita itu mendadak pias, matanya membelalak lebar seolah ingin melompat dari rongganya.

'Ti-tidak mungkin... Dananya benar-benar masuk secara instan! Ini bukan lelucon... Sebenarnya siapa identitas bocah misterius ini?!' batin Jessi dalam kondisi syok berat, menatap Repan dengan tubuh gemetar.

Sementara itu, Repan dengan gerakan konstan menandatangani berkas di hadapannya dengan ketenangan yang luar biasa.

"Selesai, Tuan. Mulai detik ini, hak milik atas rumah beserta seluruh inventaris di dalamnya telah resmi menjadi milik Anda."

"Suatu kehormatan bisa bertransaksi dengan Anda," ucap Jessi dengan tubuh membungkuk hormat, menyapu bersih segala bentuk keraguan yang sempat singgah di benaknya.

Repan hanya memberikan respons berupa anggukan pendek. 'Sempurna! Sistem keuangan ini bekerja tanpa cacat! Artinya, statusku sekarang telah berubah menjadi miliarder dalam semalam!'

Ia melangkah santai memasuki ruang tengah hunian barunya, meninggalkan Jessi yang masih mematung di tempat semula, menatap punggung sang pelajar dengan kekaguman campur ngeri menyaksikan anak sekolahan membeli rumah miliaran layaknya membeli sepotong gorengan di pinggir jalan.

Repan menghempaskan tubuhnya ke atas sofa premium berbahan beludru krem yang empuk di area ruang keluarga.

Kilau lampu kristal mewah memantulkan cahaya indah di atas langit-langit, berpadu dengan embusan penyejuk ruangan yang memberikan kenyamanan eksklusif yang belum pernah ia kecap sepanjang hidupnya.

[Anda Berhasil Mengumpulkan 30 Poin Atribut]

Notifikasi hologram dari sistem mendadak muncul kembali, mengapung di atas meja marmer di hadapannya.

'Baiklah, mari kita uji coba untuk memperkuat kondisi fisikku. Kita lihat apakah transformasinya berjalan nyata atau tidak.'

"Sistem, alokasikan poin untuk meningkatkan parameter kekuatanku."

[Setiap satu poin peningkatan membutuhkan 1 Poin Atribut. Berapa kuantitas poin yang ingin Anda konversikan?]

Repan menimbang sejenak.

"Suntikkan 20 Poin ke dalam parameter kekuatan fisik."

[Proses Integrasi Sedang Berlangsung...]

Wushhh!

Seketika, seluruh persendian dan otot tubuh Repan menegang kaku. Sebuah gelombang energi murni yang menyerupai sengatan listrik bertegangan tinggi mengalir deras, menjalar dari rongga otak hingga ke ujung jari kakinya. Denyut jantungnya berpacu cepat, pandangan matanya menajam.

Repan mengepalkan jemarinya, merasakan kepadatan massa otot dan tekanan daya ledak yang luar biasa dari dalam tubuhnya. Struktur fisiknya terasa jauh lebih solid, bobot tubuhnya menjadi seringan kapas, dan indra perasanya berkembang berkali-kali lipat lebih pekat.

[Proses Peningkatan Atribut Sukses!]

Repan bangkit berdiri perlahan, lalu menyunggingkan senyum penuh arti.

'Luar biasa... Kapasitas fisikku berada di level yang sepenuhnya berbeda dari sebelumnya. Sistem ini benar-benar menyuntikkan kekuatan nyata ke dalam biologisku!'

Ia melangkah keluar menuju halaman depan, mengaktifkan gerbang otomatis, dan mendapati sang petugas keamanan tengah berjaga dengan posisi siap siaga.

"Selamat siang, Tuan Besar! Perkenalkan, nama saya Yono, kepala keamanan di kediaman ini," sapa Yono dengan tubuh membungkuk takzim, terselip nada gugup dalam vokalnya.

"Pak Yono, mulai hari ini, indeks gaji Anda saya lipat gandakan menjadi dua kali lipat. Tolong pastikan keamanan area ini tetap kondusif selama saya tidak di tempat."

Sepasang mata Yono langsung berbinar jenaka, hampir tidak percaya dengan keberuntungan yang menghampirinya. Ia tidak menyangka bahwa juragan barunya akan bersikap sedemikian royal.

"Siap, terima kasih banyak atas kemurahan hati Anda, Tuan Besar! Saya jamin keamanan tempat ini akan terjaga dengan taruhan nyawa saya!"

Repan hanya membalas dengan gestur anggukan sebelum melanjutkan langkah kakinya keluar dari area kompleks.

'Aku harus segera kembali ke kontrakan lama untuk menjemput Arinda. Dia pasti akan sangat terkejut sekaligus bahagia begitu tahu kami akan menetap di hunian semewah ini.'

Namun, baru saja ia menempuh jarak beberapa puluh meter, gelombang suara keributan yang bising terdengar menggema dari arah lorong sempit di antara dua bangunan ruko kosong.

Ia menghentikan langkah dan menoleh tajam. Di dalam gang yang remang itu, tampak tiga remaja dengan seragam SMA Terang Bulan tengah merundung dan menghajar seorang siswa lain secara brutal.

"Brengsek! Hanya segini nominal yang Lo punya di dompet?! Mana cukup uang receh begini untuk membeli minuman keras, Bodoh?!" bentak salah satu pelaku sembari melayangkan tendangan telak ke arah ulu hati sang korban.

"Mohon ampun, Bang! Hanya itu seluruh uang saku yang saya bawa hari ini! Saya benar-benar tidak berbohong!" ratap sang korban sembari terbatuk-batuk menahan sakit di atas tanah.

"Kamu kan anak dari keluarga berada di?! Cepat hubungi ibumu dan minta kiriman dana sekarang juga!" ancam pelaku kedua dengan nada bengis.

"Ti-tidak bisa, Bang... Saya hanya siswa jalur kurang mampu di sana!" tangis sang korban pecah, memohon belas kasihan.

Repan mengamati peta konflik itu dengan tatapan sedingin es.

'Cih. Sampah jalanan tak berguna. Setiap hari kerjaan mereka hanya memeras dan menganiaya murid-murid dari SMA Cimanggu yang mereka anggap lemah.'

'Sangat menjijikkan. Sistem, apakah aku bisa menebus kompetensi bertarung khusus dengan sisa Poin yang kumiliki?'

[Anda dapat menebus dan menguasai satu Kompetensi Khusus dengan menukarkan 10 Poin Atribut.]

'Kalau begitu, masukkan keahlian Kick Boxing tingkat tinggi ke dalam daftar kompetensiku,' perintah Repan tanpa secuil pun keraguan.

[Apakah Anda mengonfirmasi penghapusan 10 Poin Atribut untuk menguasai Kompetensi Khusus: Kick Boxing?]

"Konfirmasi."

[Kompetensi Kick Boxing Berhasil Dikuasai!]

[Status Keahlian: Kick Boxing Lv.1]

[Deskripsi: Anda kini memiliki kapasitas biomekanik dan refleks bertarung Kick Boxing yang setara dengan akumulasi latihan intensif selama 10 tahun.]

Dalam sekejap mata, gelombang informasi yang berisi teori mendalam, taktik pertempuran, hingga memori otot mengenai seni bela diri Kick Boxing merangsek masuk dan menyatu ke dalam sistem sarafnya.

Metode melayangkan jab, teknik menghindar, hingga artikulasi kombinasi tendangan mematikan semuanya kini terasa sangat alami di dalam tubuhnya.

'Sempurna. Sekarang aku sudah memiliki modal yang cukup untuk membersihkan sampah.'

"Hei, para pecundang," panggil Repan dengan nada suara yang terlampau santai, sukses memicu ketiga pelaku perundungan itu menoleh dengan ekspresi terkejut.

"Hah? Ada urusan apa lo ikut campur, Tolol?" gertak salah satu dari mereka dengan dahi berkerut emosi.

"Apa yang sedang kalian lakukan di sana? Menyenangkan ya, mencari uang dengan cara memeras murid-murid SMA Cimanggu?" desis Repan tenang, namun atmosfer di sekitar lorong itu mendadak turun drastis, menyebarkan aura intimidasi yang pekat.

Salah satu dari mereka justru tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Repan.

"Kamu pikir kamu sedang jadi pahlawan kesiangan, hah? Anak-anak manja dari sekolah borjuis seperti kalian itu tidak lebih dari mesin ATM berjalan bagi kami!"

"Lihat seragam yang dipakainya! Dia juga dari SMA Cimanggu! Wah, hari ini kita mendapat mangsa bonus!" seru pelaku lainnya dengan mata berbinar serakah.

"Benar! Habisi sekalian dan rampas seluruh barang berharganya!" teriak orang ketiga sembari memasang kuda-kuda.

Repan tetap bergeming di posisinya, menatap intens ketiga berandalan itu secara bergantian.

'Baiklah, mari kita uji seberapa efisien kapasitas tempur dari kemampuan baruku ini.'

1
Ahmad Wela
dua duanya aja biar seru.
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏
Hary
cerita anjing... skip and out
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!