Arien Riena Ridwanto menyembunyikan identitas sejatinya Kaisar Arbella J. Milea Inesh, penguasa Vinesha. Ratusan tahun ia hidup terpisah dari enam saudaranya, terus bereinkarnasi menggunakan segel sihir Mata Elang — menjadi bayangan mereka karena rasa bersalah masa lalu.
Di kehidupan ke-17 ini, ia hanya wanita biasa, istri dan ibu yang mencintai keluarga kecilnya. Namun ancaman terhadap Alan dan Arumie memaksanya membuka rahasia yang akan mengguncang dunia!
"Akulah asal mula semua yang telah terjadi. Akulah sang Pengendali...! sang Segel Elang…! Kaisar Suci Vinesha...! Kaisar Arbella!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arni Arlinawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Sore perlahan menyerah pada malam, saat gumpalan awan jingga di ufuk barat mulai meredup, pelan-pelan tenggelam dalam gelap. Di sudut tempat pembuangan yang sunyi dan pengap, di balik tumpukan sampah yang menggunung tinggi, tiba-tiba sesuatu berkilau—secercah cahaya misterius, lembut namun memukau, seindah berlian yang baru saja diasah hingga sempurna.
Benda itu tersembunyi rapat, wujud aslinya tak terlihat di balik tumpukan limbah yang menumpuk. Namun, pancaran energinya yang samar namun dahsyat itu merambat ke udara, menembus bau busuk dan kesunyian, lalu menyentuh langsung ke dalam sukma seseorang yang berdiri tak jauh dari sana.
Tap... tap... tap...
Langkah kaki terdengar berirama, tenang namun membawa beban ketegangan yang tak terucap. Vano Rayyan Firansyah berjalan santai menuruni gundukan bukit, seolah tak terganggu oleh bau tak sedap yang melayang di udara. Rambut hitam pendeknya tertata rapi, berpadu dengan setelan jas penuh wibawa yang tampak sangat kontras—bahkan nyaris tak pantas—berada di lingkungan kumuh dan terlantar ini.
Langkah Vano mendadak terhenti. Napasnya tertahan sejenak. Tangannya mengepal kuat-kuat, seiring dadanya yang bergemuruh menahan gejolak di dalam dada.
This is...!
"Ini...!" gumam Vano pelan, suaranya bergetar.
Keningnya mengerut dalam, didera rasa tak percaya yang teramat sangat. Di dalam hatinya, berkecamuk seribu satu pertanyaan tanpa jawab. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku bisa merasakan aura ini di tempat sekotor ini?
So careless...!
"Sungguh sembrono...!" keluhnya dalam hati, bercampur rasa ngeri.
Sambil melemparkan pandangan waspada ke sekeliling, memastikan tak ada siapa-siapa yang melihat, pria bertubuh tinggi tegap itu mulai melangkah perlahan, melacak sumber energi magis yang terus memanggil-manggil kesadarannya itu. Pencariannya yang singkat itu berujung tepat di depan tumpukan sampah yang memuakkan. Detak jantungnya kian kencang, nyaris melompat keluar dari rongga dada, saat ia mengulurkan tangan, bersiap membongkar tumpukan kotor itu.
Namun, tepat sebelum ujung jarinya menyentuh permukaan sampah, sebuah suara tiba-tiba menginterupsi dari belakang.
What are you doing, Vano?
"Apa yang kau lakukan, Vano?"
Eren Aslan F, rekannya, datang menghampiri dengan wajah penuh keheranan sekaligus curiga. Pria bertubuh tinggi tegap dan berambut cokelat pendek itu mengenakan jas yang juga tampak mencolok dan tak pada tempatnya berada di lokasi tak masuk akal tersebut. Ciri khas yang paling menonjol darinya adalah bekas luka goresan memanjang ke atas di tengah-tengah alis kirinya—sebuah tanda yang tak akan pernah bisa dilupakan siapa pun yang pernah melihatnya sekali saja.
Eren memandangi Vano dari kepala hingga kaki, lalu pandangannya beralih ke tumpukan limbah di hadapan mereka, semakin bingung melihat tingkah rekannya itu.
Is there something wrong with that trash pile? Are you... looking for the same thing I'm sensing?
"Ada apa dengan tumpukan sampah itu? Kau... sedang mencari sesuatu yang sama seperti yang aku rasakan?"
Belum sempat Vano membuka mulut untuk menjawab, tatapan mata Eren langsung berubah tajam. Pupil matanya menyusut, menyadari alasan mengapa seseorang setenang Vano sampai rela mengacak-acak tempat kotor dan berbau busuk ini. Rasa penasaran yang memuncak bercampur ketegangan membuat kedua pria itu saling melempar pandangan penuh arti, seolah berkomunikasi tanpa suara.
You already know what's on my mind,
"Kau juga tahu apa yang ada di dalam pikiranku," ucap Vano pelan namun tegas.
Mereka saling mengepalkan tangan, menyatukan fokus dan kesadaran, memastikan bahwa apa yang mereka rasakan bukanlah halusinasi semata.
Then, make sure of it,
"Kalau begitu, pastikanlah," cetus Eren, memberi izin sekaligus peringatan halus.
Yeah... we could die if this thing is found by ordinary people,
"Ya... kita bisa mati jika benda ini sampai ditemukan oleh orang biasa," balas Vano dengan nada suara yang amat tegas, berat dan penuh peringatan.
Tanpa membuang waktu lagi, keduanya langsung bergerak bersama, membagi tugas dengan cekatan membedah tumpukan sampah itu demi memburu sumber kegelisahan mereka. Tidak butuh waktu lama—seakan benda itu sengaja membiarkan dirinya ditemukan—perjuangan mereka membuahkan hasil. Di antara sisa-sisa pembuangan yang menjijikkan, tersembunyi sebuah cincin batu berlian yang luar biasa cantik, bersih dan berkilau lembut, seolah tak tersentuh kotoran sedikit pun.
Keduanya seketika terpaku. Udara di sekitar mereka terasa mendadak menipis.
"Huh...!" Eren terengah, matanya membelalak tak percaya.
This is...!
"Ini...!" Vano justru semakin dicekam rasa khawatir yang mendalam, jantungnya nyaris berhenti berdetak sejenak.
Is it really real?!
"Benarkah itu? Beneran ada?!" bisik Eren, suaranya bergetar, masih menolak percaya dengan penglihatannya sendiri.
Mereka kembali saling menatap lekat-lekat, lalu bersama-sama menelan ludah dengan tenggorokan yang mendadak terasa sangat kering. Atmosfer di sekitar mereka berubah menjadi sangat mencekam, dingin dan penuh ancaman tak kasat mata.
Let's just keep it for now, if you want to stay alive,
"Kita simpan saja dulu, kalau kau ingin selamat," bisik Vano, nadanya terdengar panik namun tetap berusaha tenang.
Dengan gerakan cepat dan super hati-hati, seolah-olah benda itu bisa meledak jika disentuh sembarangan, Vano mengamankan cincin itu ke dalam saku bagian dalam jasnya. Tanpa banyak bicara lagi, mereka langsung berbalik dan melangkah pergi dengan langkah cepat namun terukur, menghilang ditelan kegelapan malam tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.
...****************...
Di waktu yang sama, di tempat yang berbeda jauh, suasana tenang di ruang kerja mendadak terasa janggal bagi Elisha. Sejak tadi, pandangannya tak lepas dari sosok Arien Riena Ridwanto. Sahabat sekaligus rekan kerjanya itu terus-menerus melamun, menatap kosong ke arah jendela yang menampilkan langit senja yang mulai menggelap.
"Rien?" panggil Elisha lembut, mencoba menyadarkan.
Tidak ada jawaban. Arien seolah tak mendengar apa-apa.
"Arien?" Elisha mencoba memanggil lagi, kali ini melangkah mendekat.
Karena tetap diabaikan, ia pun melangkah mendekat sekali lagi lalu duduk tepat di sebelah perempuan itu.
"Hey, Rien?"
Panggilan itu kembali berlalu tanpa gubrisan. Arien yang bertubuh tinggi langsing dan cantik dengan rambut panjangnya yang diikat rapi serta berbalut apron kerja, masih tenggelam sepenuhnya di dalam dunianya sendiri yang tak diketahui siapa pun. Elisha yang mulai disergap rasa khawatir akhirnya menaikkan nada suaranya sedikit.
"Arien Riena Ridwanto!" panggil Elisha setengah berteriak, takut ada apa-apa.
"Ah!" Arien tersentak kaget sekuat tenaga, tubuhnya meloncat sedikit.
Gerakan refleksnya yang tiba-tiba itu membuat tangannya tergores sesuatu yang tajam di atas meja kerja. Elisha yang melihat darah segar mulai menetes dari telapak tangan Arien seketika ikut panik.
Eh! Hampura!
"Eh! Maaf!" pekik Elisha cemas.
Dengan cekatan, Elisha menarik tangan Arien dan langsung menekan luka tersebut menggunakan selembar tisu yang diambilnya dari meja.
Di sauran ti tatadi, Rien!
"Dipanggil-panggil dari tadi, Rien!" omelnya bercampur khawatir.
Ngalamunkeun naon atuh?
"Melamunkan apa sih?"
Arien yang kini sudah sadar sepenuhnya, menatap lekat kedua mata Elisha yang memancarkan kekhawatiran mendalam. Ia kemudian tersenyum tipis, lalu memegang lembut tangan sahabatnya itu.
"El..."
Mereka saling bertatapan sejenak. Arien mencoba tersenyum manis demi menenangkan kepanikan Elisha.
Teu nanaon, El,
"Enggak apa-apa, El," lirih Arien meyakinkan.
Beu tisuna ku abi we!
"Sini tisunya, biar aku aja!"
Arien sengaja mengambil alih tisu itu dari tangan Elisha agar sahabatnya itu tidak makin panik dan gelisah. Melihat sifat keras kepala sahabatnya itu, Elisha akhirnya menghela napas panjang lalu pasrah.
Nya ntos atuh.
"Ya udah deh."
Arien kembali melempar senyum hangat, lalu memberi isyarat agar Elisha kembali ke mejanya dan melanjutkan pekerjaan masing-masing.
Setelah Elisha menjauh dan kembali ke tempatnya, Arien yang kini sudah sendirian mencoba berkali-kali fokus untuk melanjutkan pekerjaan yang tertunda. Namun, baru saja ia hendak bergerak, sebuah sensasi asing mendadak menyengat perasaannya—seperti ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang tercabut dari tempatnya semula. Arien tertegun kaku.
"Ini...!" bisiknya lirih sembari mendongakkan kepala, matanya membelalak.
Yang benar saja! jerit batin Arien, tak percaya dengan apa yang baru saja ia rasakan.
Siapa yang datang?
Apa mereka tahu aku ada di sini?
Selama ini kan semuanya baik-baik saja. Apa terjadi sesuatu yang buruk di luar sana?
Rasa penasaran yang bercampur cemas membuncah di dadanya, membuat Arien tidak bisa lagi duduk diam. Tanpa berpikir panjang, ia pun bergegas meninggalkan mejanya dan melangkah cepat menuju sumber sensasi asing tersebut, seolah kakinya yang membawa ia, bukan kehendaknya sendiri.
Namun, setibanya di sana, langkahnya mendadak terkunci rapat. Napasnya tertahan di tenggorokan. Matanya membelalak sempurna, mendapati sesuatu yang jauh lebih mengejutkan dan mengerikan dari dugaannya.
"Eh?!" pekik Arien tertahan, nyaris tak bersuara.
"Cincinku!!!"
^^^Bersambung...^^^
semoga next bab ada adegan baku hantam sampai meninggal
Tapi .. ya gitulah🤣🤣