NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti (Seharusnya Ipar)

Pengantin Pengganti (Seharusnya Ipar)

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Aliansi Pernikahan
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Hari pernikahan yang seharusnya menjadi momen membahagiakan justru berubah menjadi mimpi buruk bagi Aura.
Tepat di hari pernikahan, Keisya, sang kakak, menghilang dan meninggalkan sepucuk alasan kuat yang membuatnya tidak bisa melanjutkan pernikahan tersebut.
Demi menyelamatkan nama baik keluarga dan mencegah kehancuran di depan ratusan undangan, Aura terpaksa mengambil keputusan terberat dalam hidupnya: melangkah ke pelaminan sebagai Pengantin Pengganti bagi pria yang seharusnya menjadi kakak iparnya.
Hatinya hancur dan dilanda dilema hebat. Di satu sisi, Aura tidak tega untuk membiarkan nama baik Keisya dan keluarganya hancur berantakan.
Namun di sisi lain, pengorbanan ini menuntut harga yang sangat mahal. Aura harus merelakan cintanya pada Farhan, kekasih hatinya yang sejatinya sudah merencanakan pernikahan di tahun yang sama.
Bagaimanakah kehidupan Aura selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: Karena aku istrimu

Aura memeluk buku harian bersampul coklat itu erat-erat. Guncangan di dalam dirinya kian hebat. Lembar demi lembar surat Keisya seakan menegaskan betapa pekatnya benang kusut yang kini melilit hidup mereka bertiga.

Dengan jemari gemetar, Aura membuka halaman demi halaman buku harian tersebut. Di sana, terukir runtutan rahasia kelam, mulai dari kebahagiaan Keisya menantikan pernikahan bersama Fadil, hingga catatan kelam malam nahas itu saat kehormatannya direnggut paksa di bawah pengaruh obat.

Tulisan Keisya di halaman-halaman terakhir tampak acak-acakan dan berbercak bekas air mata, mencerminkan betapa hancurnya jiwa sang kakak sebelum mengambil keputusan nekat untuk melarikan diri.

‘Ya Allah... Kak Keisya bukan melarikan diri karena mengkhianati Mas Fadil, melainkan karena menjadi korban...’ batin Aura menjerit.

Dilema besar kini menghantam benaknya. Haruskah ia menyerahkan buku harian ini kepada Fadil sekarang juga? Haruskah ia membongkar kebenaran pahit ini agar Fadil berhenti membencinya dan berhenti menganggap Keisya sebagai wanita jahat?

Namun, peringatan Keisya di dalam surat kembali bergema di telinganya. Jika kebenaran ini terbongkar tanpa persiapan, nama baik keluarga besar mereka tetap akan terseret ke dalam jurang skandal.

Selain itu, kondisi kesehatan jantung Papa yang rentan bisa runtuh seketika jika mengetahui putri sulungnya menjadi korban kejahatan hingga mengandung anak tanpa ayah.

Aura menarik napas dengan sangat panjang, lalu mengusap air mata di pipinya. Ia menyembunyikan paket, surat, serta buku harian itu di dalam laci terdalam lemari pakaian di kamar atas dan menguncinya rapat-rapat.

Hingga...

Malam kian larut. Jam dinding menunjuk pukul sebelas malam ketika deru mesin mobil Fadil terdengar memasuki area garasi.

Aura yang sejak tadi duduk menanti di sofa ruang tengah langsung berdiri. Sesuai perkataannya pagi tadi, Fadil memang pulang sangat larut dengan wajah yang tampak amat lelah. Jas hitamnya sudah tersampir di lengan, sementara dasinya sudah dilonggarkan.

Fadil sempat tersentak kecil saat mendapati Aura masih berdiri di ruang tengah dalam kegelapan yang hanya diterangi satu lampu sudut.

"Kenapa kamu belum tidur?" tanya Fadil dingin seraya meletakkan kunci mobilnya. "Sudah kubilang tidak usah menungguku."

Aura melangkah mendekat, dan menghentikan langkahnya di jarak aman agar tidak memicu emosi pria itu. "Aku cuma ingin memastikan Mas Fadil sudah pulang dengan selamat."

Fadil menatap Aura dengan alis yang bertaut rapat. "Tidak perlu berpura-pura peduli, Aura. Simpan saja perhatianmu itu."

Saat Fadil hendak berbalik menuju kamar kerjanya di lantai bawah, Aura memberanikan diri untuk kembali bersuara.

"Mas Fadil..." panggil Aura lirih.

Fadil pun menghentikan langkahnya, tanpa menoleh. "Apa lagi?"

"Jika... jika suatu hari nanti Mas mengetahui bahwa Kak Keisya pergi bukan karena ingin menyakitimu, melainkan karena dia tertimpa sebuah musibah besar yang tak sanggup dia tanggung... apakah Mas Fadil akan memaafkannya?"

Pertanyaan itu membuat atmosfer ruangan seketika membeku. Fadil membalikkan badannya secara mendadak. Sorot matanya mendadak tajam, memancarkan amarah yang kembali tersulut.

"Maksudmu apa bicara seperti itu?" desis Fadil dengan suara rendah yang berbahaya. "Kamu mau membualkan alasan baru lagi untuk membela kakakmu?"

Aura menatap mata Fadil dengan keteguhan yang bercampur rasa iba. "Aku cuma bertanya, Mas. Kak Keisya sangat mencintaimu. Dia..."

"Cukup, Aura!" potong Fadil, lalu ia melangkah mendekat hingga bayangannya mengintimidasi Aura. "Jangan pernah membawa-bawa nama Keisya untuk membenarkan pengkhianatannya! Mau apa pun alasannya, dia memilih pergi dan menumbalkanmu di pelaminan pernikahan itu! Dan kamu... stop berpura-pura tau segalanya tentang rasa sakitku!"

Fadil mengepalkan tangannya seraya menahan gemuruh di dadanya, lalu berbalik dan membanting pintu kamar kerjanya rapat-rapat.

Brak!

Aura berdiri mematung di tengah kegelapan ruang tengah sambil memegangi dadanya yang sesak. Di balik pintu yang tertutup rapat itu, Aura tau ada pria yang hatinya hancur berkeping-keping.

Dan di dalam lacinya, tersimpan rahasia yang sanggup menyembuhkan atau justru menghancurkan sisa-sisa harapan mereka selamanya.

_____

___________

Hari demi hari terus berlanjut...

Suasana di dalam rumah megah itu berangsur-angsur berubah menjadi pola kesendirian yang membisu.

Pertanyaan Aura malam itu mengenai kemungkian maaf untuk Keisya justru mempertebal tembok tak kasat mata di antara mereka. Fadil kian menutup diri, interaksi mereka kini benar-benar dibatasi.

Hari itu, hujan deras kembali mengguyur ibu kota sejak petang. Kilatan petir sesekali menyambar, memancarkan cahaya putih singkat melalui dinding kaca ruang tengah.

Aura sedang menyelesaikan cucian piring di dapur ketika suara derak engsel pintu depan terdengar ganjil. Langkah kaki yang menyeret dan tidak stabil menyusul kemudian. Aura bergegas mengeringkan tangannya dengan serbet dan melangkah menuju ruang depan.

Di sana, Fadil berdiri bersandar pada pilar koridor. Pria itu sudah melepas jasnya yang basah Kuyup oleh cipratan air hujan. Wajahnya yang biasa tegas kini tampak pucat pasi, matanya merah redup, dan napasnya berat dan memburu.

Ketika ia mencoba melangkah satu tindak menuju tangga, tubuhnya limbung dan hampir roboh jika saja Aura tidak sigap menahan lengannya.

"Mas Fadil!" pekik Aura panik, seraya menahan bobot tubuh pria itu yang terasa begitu berat dan panas.

Sentuhan kulit Fadil membakar jemari Aura. Suhu tubuh pria itu sangat tinggi. Fadil memejamkan matanya erat-erat, dan merintih pelan seraya berusaha menepis tangan Aura dengan sisa tenaganya yang lemah.

"Jangan... menyentuhku..." gumam Fadil parau, suaranya hampir tak terdengar di antara gemuruh hujan di luar.

"Mas Fadil demam tinggi! Jangan keras kepala dulu, Mas!" potong Aura. Untuk pertama kalinya, Aura mengabaikan sikap dingin pria itu dan memaksakan diri memapah tubuh Fadil menuju sofa panjang di ruang tengah.

Dengan susah payah, Aura membaringkan Fadil di atas sofa. Pria yang biasanya penuh kendali dan mengintimidasi itu kini terbaring tak berdaya, sambil memegangi keningnya yang berdenyut hebat.

Kerja keras tanpa henti selama berhari-hari, dikombinasikan dengan beban emosional yang terpendam dan paparan hujan, akhirnya meruntuhkan pertahanan fisiknya.

Aura tidak membuang waktu. Ia langsung berlari ke dapur, lalu menyiapkan baskom berisi air hangat, handuk kecil, serta kotak P3K. Ia juga menyeduh segelas teh hangat manis dan memasak bubur halus secara cepat.

Selama beberapa jam berikutnya, Aura duduk setia di samping sofa. Dengan telaten, ia memeras handuk hangat dan mengompres dahi Fadil.

Setiap kali Fadil menggigil atau merintih dalam igauan tak sadar, Aura dengan lembut mengganti kompresnya dan merapikan selimut tebal yang menutupi tubuh pria itu.

Di tengah kesadarannya yang samar-samar akibat demam tinggi, Fadil perlahan membuka matanya yang berat.

Pandangannya kabur. Di dalam keremangan lampu ruangan, ia melihat sosok wanita yang sibuk mengusap peluh di lehernya dengan jemari yang teramat lembut dan dingin.

"Keisya...?" bisik Fadil terdengar lirih dari tenggorokannya yang kering.

Tangan Aura yang sedang memegang handuk mendadak berhenti di udara. Hatinya tercubit perih mendengarkan nama itu meluncur dari bibir suaminya saat dalam kondisi tak berdaya.

Namun, Aura meredam rasa sakit itu, menghembuskan napas pelan, lalu melanjutkan usapannya.

"Ini Aura, Mas..." jawab Aura. "Minum obatnya dulu ya, supaya panasnya turun."

Dengan perlahan, Aura membantu Fadil menegakkan tubuhnya sedikit, dan menyuapkan beberapa sendok bubur hangat dan membantunya menelan obat penurun panas.

Fadil yang terlalu lemas untuk melawan, hanya menuruti setiap arahan Aura tanpa protes. Matanya yang sayu terus menatap wajah Aura, melihat ketulusan, kepanikan, dan rasa iba yang terpancar murni tanpa ada pamer pahlawan.

Setelah meminum obatnya, Fadil kembali membaringkan kepalanya di atas bantal. Pengaruh obat pun perlahan membuatnya makin mengantuk.

Namun sebelum matanya tertutup rapat, jemarinya yang panas secara tidak sengaja terulur dan menggenggam pergelangan tangan Aura yang sedang merapikan selimutnya.

Cengkraman itu tidak kuat, namun cukup untuk menahan langkah Aura.

"Kenapa..." bisik Fadil, matanya menatap Aura dengan sorot rentan yang tak pernah ia perlihatkan sebelumnya. "Kenapa kamu masih merawatku... setelah semua kata-kataku yang jahat padamu?"

Aura terpaku. Ia menatap genggaman tangan Fadil di pergelangan tangannya, lalu beralih menatap mata pria itu yang dipenuhi luka dan kebingungan.

"Karena aku istri Mas Fadil," jawab Aura jujur dan lirih, tanpa ada nada menuntut. "Dan terlepas dari semua amarah Mas padaku... aku tidak pernah membenci Mas Fadil."

Genggaman jemari Fadil perlahan melonggar seiring kesadarannya yang menghilang dibawa pengaruh obat penurun panas. Pria itu pun tertidur pulas dengan napas yang mulai teratur.

Aura sendiri menarik tangannya perlahan, lalu duduk di lantai karpet di samping sofa. Ia menyandarkan kepalanya pada pinggiran sofa, lalu menatap wajah Fadil yang kini tampak tenang dalam tidurnya.

"Aura... Kau mengklaim dirimu sebagai istrinya?."

Bersambung...

1
𝐀⃝🥀Weny
semoga Keisya tau diri dan gak jahat ke Aura karena dapat perhatian dari Fadil 😏
Aurora: /Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/ suka suka suka...
total 15 replies
𝐀⃝🥀Weny
tuhkan.. beneran mencari Keysha... jangan sampai kamu menyesal dengan keputusanmu itu.. meskipun Aura bahagia kakaknya ketemu, tapi sebagai seorang istri yg gak dikasih tau dlm mengambil keputusan pasti juga sakit hati😏
Aurora: udah up lagi tuh kak...🤗
total 5 replies
𝐀⃝🥀Weny
kalau memang punya niatan untuk mencari Farah, diskusikan dulu dengan Aura ya.. supaya gak salah faham 😊
Aurora: Wkwkwk... sekangen itu juga sama cerita Aura ya 🤭🤗🤗😅
total 3 replies
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya aura plong, sudah gak ada beban.. tinggal menata hatinya lagi, semoga Fadil tetap mempertahankan pernikahannya😊
Aurora: wkwkwkw...😅
total 3 replies
𝐀⃝🥀Weny
katakanlah Aura, kebenaran yang terlalu lama kamu pendam sendiri akan membuat luka di kemudian hari...
Aurora: Betul betul betul...
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
nyamuknya besar banget Farah 🤣🤣🤣
Aurora: lah... kalau sampai di lahap habis dong Aura 🤣🤣🤣😅
total 3 replies
𝐀⃝🥀Weny
ceritanya bagus dan gak ngebosenin.. authornya juga asyik 🥰 semangat terus kak, jangan patah semangat untuk berkarya🤗 sukses slalu😊
𝐀⃝🥀Weny: sama² kak🥰🥰
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
orang tua kalau ngeliat keluarga anaknya bahagia jadi ikut senang.. gak seperti bayangannya karena sebelumnya Fadil sangat menolak pernikahan itu😊
Aurora: Makasihh kakak..🥰🥰🙏🙏
total 13 replies
sunaryati jarum
Tidak apa-apa Aura kamu bangun kesiangan kan sudah ada Mbok.Semoga bibit unggul Mas Fadil ada yang tumbuh,Ya.
Aurora: hehehe iya ya, semoga...🤗
total 1 replies
sunaryati jarum
Jadi candu dan move on dari Kesya ya Nak Fadil,semoga Kesya menemukan orang yg tulus mencintainya.Dan Ryan si pemerkosa dapat karmanya,siapun yang terlibat saat itu juga mendapat karmanya.Bahagia selalu Aura, Fadil,Kesya.dan Farhan mantan calon suami Aura.
sunaryati jarum
Pagi- pagi sudah sarapan Aura, mantaaap
𝐀⃝🥀Weny
walaah.. aku pikir kalau mau dikasih tiket untuk bulan madu🤦🤣🤣🤣🤣
Aurora: xixixixi... bulan madunya di rumah aja dulu, ydha cape itu juga 🫣🤭
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
kasihan auranya samapi kecapean kyk gitu.. gara² si Fadil, kyk orng kesurupan 🤣🤣
Aurora: hmmm... perdebatan batin yang bergelora tuh 😅😅
total 7 replies
Aurora
wkwkwkk... jangan bikin Fadil malu dong kak..🤣🤣🤣🤭
𝐀⃝🥀Weny
ciiiee... mas Fadil, sudah tau rasanya minta lagi dan lagi 🤣 tadinya aja gak mau sekamar sama aura😜
sunaryati jarum
Akhirnya terjadi penyatuan juga, selamat kalian sudah jadi suami istri seutuhnya
sunaryati jarum
Nah jadilah suami istri sesungguhnya, semoga Kesya entar tidak ingin merebut suami kamu, karena selama ini kalian hidup rukun dan saling menyayangi
sunaryati jarum
Mungkin Fadil makin lama makin nyaman , apalagi Aura sabar,patuh ,dan lebih muda kan
Aurora: yes, betul bangetttt 😅🤗
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
waaah... si Fadil pagi² dh menang banyak lagi tuuuh🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: hadeeech🤦🤣🤣🤣
total 8 replies
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya gol juga🤣🤣🤣
tapi authornya nyebelin, pagi² dah disuguhin kek gituan🤦 jadi panas dingin🤣🤣🤣
Aurora: wkwkwk bahaya ta🤭🙏
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!