Dihina karena dantiannya cacat, Xiao Bai mendadak mendapatkan Tungku Ekstraksi Surgawi—sebuah artefak gaib yang berfungsi sebagai sistem mutlak. Tanpa perlu berkultivasi dengan cara biasa, ia bisa mengekstrak esensi monster, tumbuhan obat, hingga pusaka kuno menjadi pil murni tanpa cacat! Dari seorang sampah yang diinjak-injak, Xiao Bai bangkit mengekstrak langit dan bumi untuk menjadi penguasa tunggal yang tak tertandingi.
#Romance #Drama #Adventure #Kultivasi #Sistem #Overpowered #BalasDendam #Action-Fantasy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gerbang yang Tertutup
# TUNGKU EKSTRAKSI SURGAWI
Hujan belum juga reda ketika Xiao Bai berjalan menyusuri jalan setapak menuju gerbang belakang Sekte Awan Sembilan, tempat yang biasa digunakan murid luar untuk keluar-masuk tanpa mengganggu upacara-upacara di aula utama. Jubahnya yang compang-camping sudah basah kuyup, menempel dingin di kulitnya, tapi ia tak peduli. Ia hanya perlu satu hal: mengambil kembali beberapa lembar catatan usang dan sebilah pisau kecil, satu-satunya peninggalan mendiang ibunya, yang tertinggal di kamar sempit murid luar.
Cahaya keemasan Tungku Ekstraksi Surgawi masih berdenyut pelan di dalam dadanya, tersembunyi dari pandangan siapa pun—rahasia yang, untuk sementara, harus ia jaga rapat-rapat.
Di depan gerbang, seorang penjaga muda berdiri berlindung di bawah atap kayu, lentera minyak tergantung di sisinya. Xiao Bai mengenalnya—Wang Er, murid luar tingkat dua yang dulu sering ia bantu mengangkut air dari sumur sekte.
"Wang Er," panggilnya, suaranya parau karena kedinginan. "Aku hanya perlu masuk sebentar. Barangku masih tertinggal di kamar lama."
Wang Er menoleh, dan raut wajahnya yang tadinya biasa saja berubah begitu mengenali siapa yang berdiri di depannya. Ia melangkah mundur setengah langkah, seolah Xiao Bai membawa semacam penyakit menular.
"Kau... bukankah kau sudah diusir tadi siang?" katanya, nada suaranya berubah dingin. "Tetua Zhou bilang siapa pun yang membantu murid buangan akan kena hukuman yang sama."
"Aku tidak minta bantuan apa pun. Aku hanya minta waktu sepuluh menit untuk—"
"Tidak bisa." Wang Er memotong cepat, matanya melirik ke kanan-kiri, takut ada yang melihat mereka bicara. "Peraturan sekte jelas: begitu seorang murid dicoret dari daftar, gerbang tertutup untuknya selamanya. Kalau kau nekat memaksa masuk, aku wajib melaporkannya sebagai pelanggaran, dan itu bisa jadi urusan tetua penegak hukum."
Xiao Bai berdiri diam di bawah hujan, air menetes dari ujung rambutnya. "Itu hanya pisau tua dan beberapa lembar kertas, Wang Er. Tidak ada nilainya bagi sekte."
"Bukan soal nilainya." Wang Er memalingkan wajah, tak sanggup menatap mata Xiao Bai lebih lama. "Tapi soal siapa yang meminta. Maaf. Pulanglah. Carilah kehidupan di tempat lain—tempat ini bukan lagi urusanmu."
Ia menarik palang kayu, menutup celah kecil yang tadinya terbuka, meninggalkan Xiao Bai sendirian di bawah guyuran hujan yang semakin deras.
Untuk sesaat, amarah membakar dadanya—bukan pada Wang Er, yang sebenarnya hanya penakut biasa, tapi pada sistem sekte yang mengubah kebaikan menjadi kelangkaan, dan rasa takut menjadi mata uang yang lebih berharga daripada persahabatan bertahun-tahun.
Ia menatap gerbang kayu tua itu sekali lagi, lalu berbalik pergi tanpa berkata apa-apa lagi.
---
Malam semakin larut, dan Xiao Bai berteduh di bawah pohon besar tak jauh dari tembok sekte, punggungnya bersandar ke batang yang basah. Di dalam dadanya, Tungku Ekstraksi Surgawi berdenyut pelan, seolah merasakan kekesalannya.
> **[Host, apakah kau ingin aku menganalisis komposisi tembok pertahanan sekte? Beberapa bagian mengandung mineral langka yang bisa diekstrak menjadi bahan penguat tubuh dasar.]**
Xiao Bai nyaris tertawa mendengar tawaran itu—bukan karena lucu, tapi karena ironi. Ia baru saja diusir, dan sistem di dalam tubuhnya sudah menawarkan cara untuk diam-diam mencuri dari tempat yang membuangnya.
"Tidak," gumamnya pelan. "Bukan dengan cara seperti itu. Kalau aku kembali suatu hari nanti, aku ingin mereka tahu persis siapa yang mereka usir—bukan lewat pencurian diam-diam di malam hari."
> **[Dicatat. Host memiliki prinsip. Analisis: prinsip semacam ini jarang ditemukan pada manusia dalam kondisi putus asa. Menarik.]**
Xiao Bai menutup matanya, membiarkan hujan membasuh wajahnya yang lelah. Ia memikirkan pisau tua ibunya yang tertinggal di kamar—satu-satunya benda yang mengingatkannya bahwa ia pernah punya keluarga, pernah punya tempat di dunia ini sebelum semuanya direnggut oleh dantian yang dianggap cacat.
"Aku akan kembali," bisiknya ke kegelapan, "tapi bukan sebagai pengemis di depan gerbang belakang. Aku akan kembali sebagai orang yang bahkan Tetua Zhou sendiri harus membungkuk memberi salam."
Cahaya keemasan di dadanya berdenyut sekali, seolah menyetujui.
Jauh di kejauhan, lampu-lampu Sekte Awan Sembilan masih berkelip tenang, tak menyadari bahwa sosok yang baru saja mereka buang dari gerbang belakang, kelak akan menjadi nama yang membuat seluruh kekaisaran gemetar.