NovelToon NovelToon
Dibuang Mertua, Ternyata Pewaris Triliunan

Dibuang Mertua, Ternyata Pewaris Triliunan

Status: sedang berlangsung
Genre:Menantu Pria/matrilokal / Kaya Raya / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ardana Bayu

Hendry Pratama, menantu keluarga Mahendra di Kota Biru, sudah tiga tahun menjadi bahan hinaan.

Mertua perempuannya, Mama Ayu, setiap hari memaki dan menuntut perceraian. Istrinya, Jessica, bersikap dingin. Satu-satunya yang menyayanginya hanyalah putri kecilnya, Daun.

Sampai suatu hari, telepon misterius mengubah segalanya.

"Pak Hendry, semua aset atas nama Anda sudah siap. Total: 576 miliar Rupiah."

Ternyata, Hendry adalah putra tunggal Hartanto Pratama — konglomerat terbesar yang pernah menguasai seluruh Asia Tenggara. Dia bukan menantu miskin. Dia adalah pewaris kerajaan bisnis triliunan.

Sekarang, semua orang yang pernah meremehkannya... akan berlutut.

"Kau pikir aku cuma sopir? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya menguasai kota ini."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 1: Diusir dan Bangkit

Map plastik bening itu jatuh di atas meja kaca dengan suara tajam.

Di dalamnya ada surat perceraian.

Hendry Pratama memandang kertas itu tanpa bergerak. Di ruang tamu rumah keluarga Mahendra, pendingin ruangan menyala dingin, tetapi telapak tangannya terasa panas.

Di seberang meja, Mama Ayu berdiri dengan dagu terangkat. Bagi perempuan itu, surat tersebut sudah seperti vonis yang lama ia tunggu.

"Tanda tangan," kata Mama Ayu. "Hari ini juga."

Gunawan Mahendra duduk di ujung sofa. Tangannya menggenggam cangkir teh yang sudah tidak mengepul. Ia membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Di rumah ini, suara paling keras selalu milik istrinya.

Jessica Mahendra berdiri dekat tangga. Kemeja kerjanya rapi, wajahnya cantik tetapi lelah. Matanya hanya menatap surat itu sebentar, lalu beralih ke Hendry. Tidak ada kemarahan di sana. Tidak juga pembelaan.

Justru itu yang membuat dada Hendry lebih sesak.

"Ma," suara Jessica pelan, "aku harus ke kantor. Ada klien dari PT Surya Abadi yang mau lihat sampel desain."

"Kamu tetap di sini." Mama Ayu menunjuk Hendry. "Urusan kantor bisa menunggu. Urusan laki-laki tidak berguna ini harus selesai dulu."

Hendry mengangkat wajah. "Mama Ayu, saya bisa cari kerja lagi. Saya juga bisa bantu Jessica--"

"Bantu?" Mama Ayu tertawa pendek. "Tiga tahun kamu tinggal di rumah ini, makan dari dapur keluarga Mahendra, tidur di kamar kami. Apa yang sudah kamu bantu?"

Hendry bisa membantah. Selama tiga tahun ia mengantar Daun ke TK, menjaga Jessica pulang malam, mengurus rumah ketika Gunawan sakit. Di mata Mama Ayu, semua itu tetap tidak bernilai karena tidak membawa uang.

"Kamu laki-laki, tapi tidak punya harga diri." Mama Ayu mengambil map itu lagi dan mendorongnya sampai menyentuh ujung jari Hendry. "Jessica masih muda. Cantik. Punya perusahaan sendiri. Tanpa kakeknya dulu keras kepala menjodohkan kalian, mana mungkin anakku menikah dengan orang sepertimu?"

Jessica menegang. "Ma, jangan bawa-bawa Opa."

"Kenapa? Itu kenyataan." Mama Ayu melirik putrinya. "Opa sudah tidak ada. Janji lama tidak perlu mengikat hidupmu sampai busuk."

Hendry menatap tanda tangan yang sudah disiapkan di bagian bawah surat. Namanya dicetak rapi: Hendry Pratama. Di sebelahnya ada ruang kosong untuk tanda tangan Jessica.

Perceraian, jika ia menandatangani, akan selesai dengan satu goresan.

Tetapi wajah Daun muncul di kepalanya.

Seolah dipanggil oleh pikirannya, suara kecil terdengar dari lorong.

"Papa?"

Seorang gadis kecil berlari keluar dengan boneka kelinci di tangan. Rambutnya berantakan, pipinya merah karena baru bangun tidur. Daun tidak mengerti surat itu. Ia hanya tahu sesuatu buruk sedang terjadi.

Hendry segera berdiri. "Daun, kenapa keluar? Nanti masuk angin."

Daun tidak menjawab. Ia berlari ke arahnya, memeluk kaki Hendry, lalu mendongak dengan mata basah.

"Papa jangan pergi."

Ruang tamu mendadak sunyi.

Hendry berjongkok, mengusap rambut putrinya. "Papa cuma keluar sebentar."

"Bohong." Bibir Daun bergetar. "Nenek marah. Papa mau diusir."

Mama Ayu mengerutkan kening. "Daun, masuk kamar. Ini urusan orang dewasa."

"Tidak!" Daun bersembunyi di balik bahu Hendry. "Daun mau sama Papa."

Jessica memejamkan mata sebentar. Ketika membukanya lagi, ia menatap Hendry dengan rasa bersalah yang tidak selesai menjadi pembelaan.

Hendry menarik napas. Ia menatap Mama Ayu.

"Saya tidak akan tanda tangan hari ini."

Wajah Mama Ayu mengeras. "Kamu berani melawan?"

"Saya tidak melawan. Saya hanya tidak akan meninggalkan Jessica dan Daun seperti ini."

"Jangan sok jadi suami baik!" Mama Ayu menampar meja. "Suami baik itu memberi nafkah. Suami baik itu membuat istrinya bangga, bukan jadi bahan tertawaan arisan keluarga. Orang-orang bertanya, anakku menikah dengan siapa? Aku harus jawab apa? Sopir? Pengangguran? Penjaga anak?"

Hendry menahan napas.

Dulu ia juga pernah punya nama yang membuat orang menunduk. Setelah ibunya, Wulan Pratiwi, meninggal, ia meninggalkan keluarga Pratama, menolak uang, nama, dan warisan.

Kakek Jessica yang menemukannya saat ia hampir jatuh. Orang tua itu memberinya pekerjaan kecil, lalu sebelum meninggal, meminta Jessica menikah dengannya. Hendry menerimanya karena utang budi. Keinginan menumpang hidup tidak pernah ada.

Tiga tahun berlalu. Utang budi itu berubah menjadi Daun, menjadi alasan untuk tetap bertahan.

"Mama Ayu," kata Hendry pelan, "saya tahu saya belum membuat keluarga ini bangga. Tapi saya tidak pernah mengkhianati Jessica."

"Kesetiaan tanpa uang itu cuma alasan orang miskin." Mama Ayu menunjuk pintu. "Kalau tidak mau tanda tangan, keluar dari rumah ini. Mulai hari ini, jangan tidur di sini."

"Ma!" Jessica akhirnya bersuara lebih keras.

Mama Ayu menoleh. "Kamu diam. Kalau dia benar laki-laki, biar dia buktikan bisa hidup tanpa makan dari rumah kita."

Hendry melihat Jessica. Ia berharap istrinya berkata satu kalimat saja.

Namun Jessica hanya menggigit bibir.

Ia berdiri, melepas pelan tangan Daun dari kakinya. Daun langsung menangis.

"Papa..."

Hendry mencium keningnya. "Jaga Mama, ya. Papa akan kembali."

"Kapan?"

"Secepatnya."

Ia tidak membawa koper. Tidak ada barang berharga yang benar-benar miliknya di rumah itu.

Ketika ia melangkah ke pintu, Mama Ayu berkata dari belakang, "Ingat, Hendry. Di luar sana tidak ada keluarga Mahendra yang bisa kamu tumpangi. Jangan merangkak balik kalau lapar."

Hendry berhenti, tetapi tidak menoleh.

"Saya akan kembali," katanya. "Dengan kaki saya sendiri."

Pintu tertutup di belakangnya.

Kota Biru siang itu panas. Hendry berjalan tanpa tujuan melewati pos satpam dan mobil-mobil berkaca gelap.

Di balik pagar tinggi, ia mendengar tangis Daun masih seperti gema di telinganya.

Ponselnya bergetar.

Nomor asing.

Hendry menatap layar beberapa detik sebelum mengangkat. "Halo?"

Suara laki-laki tua terdengar tenang, berat, dan terlalu sopan untuk panggilan biasa. "Apakah saya berbicara dengan Pak Hendry Pratama?"

Langkah Hendry berhenti.

Sudah lama tidak ada yang memanggilnya seperti itu.

"Anda salah nomor."

"Saya Budiman Suryadi."

Nama itu membuat mata Hendry menyipit. Di Kota Biru, semua orang tahu Budiman Suryadi. Orang menyebutnya orang terkaya di kota ini.

"Kalau ini lelucon, Anda memilih waktu yang buruk," kata Hendry.

"Saya tidak pernah bercanda soal keluarga Pratama, Pak Hendry."

Udara seperti berhenti.

Hendry berjalan ke sisi jalan yang lebih sepi. "Apa maumu?"

"Menjemput Anda. Atas perintah Tuan Hartanto."

Nama ayahnya jatuh seperti batu ke dasar dada.

Wajah Hendry langsung dingin. "Katakan padanya, Hendry Pratama sudah mati untuk keluarga Pratama."

"Saya mengerti Anda membenci beliau," ujar Budiman. "Tetapi ada hal yang harus Anda tahu. Selama ini, Tuan Hartanto tidak pernah benar-benar melepas Anda. Semua aset yang disiapkan atas nama Anda sudah aktif secara hukum."

Hendry tertawa tanpa suara. "Aset?"

"Saham pengendali di beberapa perusahaan, termasuk bagian penting dari PT Garuda Perkasa Group. Nilai totalnya, jika dihitung konservatif, beberapa triliun rupiah."

Jari Hendry mengeras di ponsel.

Di dalam rumah tadi, ia baru disebut menantu yang makan dari dapur orang. Sekarang, pria terkaya Kota Biru berkata bahwa namanya berdiri di atas aset bernilai triliunan.

"Saya tidak butuh uang Hartanto."

"Itu bukan lagi uang beliau, Pak Hendry. Secara legal, itu milik Anda. Saya hanya wali pelaksana sampai Anda bersedia mengambil kendali."

"Kenapa sekarang?"

"Karena Anda sudah diusir dari rumah Mahendra pagi ini."

Mata Hendry tajam. "Kau mengawasiku?"

"Saya menjaga Anda," jawab Budiman. "Perintahnya jelas. Jangan ganggu hidup Anda selama Anda masih ingin hidup biasa. Tapi jika keluarga Mahendra membuang Anda sampai tidak punya tempat, saya harus muncul."

Hendry ingin marah. Jadi Hartanto tahu ia dihina, tetapi tetap bersembunyi di balik orang lain.

"Aku tidak akan pulang ke keluarga Pratama."

"Saya tidak meminta Anda pulang."

"Lalu?"

"Gunakan identitas sederhana. Di mata orang luar, Anda bisa menjadi sopir pribadi saya. Keluarga Mahendra tidak akan curiga, dan Anda bisa bergerak tanpa menarik perhatian."

Sopir.

Hendry hampir tertawa. Mama Ayu baru saja menghinanya sebagai sopir. Budiman menawarkan hinaan yang sama sebagai topeng, dengan jaringan bisnis Kota Biru di baliknya.

"Kalau aku menolak?"

"Saya tetap akan menyiapkan tempat tinggal untuk Anda. Saya juga akan memastikan Nyonya Jessica dan Nona Daun aman dari jauh."

Mendengar nama Daun, wajah Hendry berubah.

"Jangan libatkan anakku."

"Justru karena itulah saya menghubungi Anda, Pak Hendry. Orang yang tidak punya kekuatan hanya bisa memohon agar keluarganya tidak disentuh. Orang yang punya kekuatan bisa memastikan siapa pun yang menyentuh mereka menyesal."

Kalimat itu diam di antara mereka.

Hendry menutup mata. Daun, surat perceraian, dan wajah lelah Jessica muncul bergantian.

Selama ini ia mengira menahan diri berarti menjaga mereka. Mungkin ia salah.

"Kirim alamat," kata Hendry.

"Mobil sudah menuju posisi Anda."

"Aku belum bilang setuju."

"Anda sudah tidak menutup telepon."

Untuk pertama kalinya hari itu, sudut bibir Hendry bergerak tipis. "Budiman Suryadi, kau cukup berani."

"Saya sudah menunggu hari ini selama tiga tahun, Pak Hendry."

Dua puluh menit kemudian, sebuah MPV hitam berhenti di tepi jalan. Pengemudinya turun dan membuka pintu belakang dengan sikap hormat.

Hendry masuk tanpa banyak bicara.

Mobil membawanya ke townhouse kecil di kawasan tenang Kota Biru. Tempatnya cukup rendah hati untuk seorang sopir, tetapi terlalu rapi untuk orang yang baru diusir tanpa uang.

Di ruang makan, Budiman Suryadi sudah menunggu. Ia berdiri saat Hendry masuk. Kemeja batiknya sederhana, tetapi tidak murah.

"Pak Hendry."

Hendry menatapnya lama. "Jangan panggil aku begitu di depan orang luar."

"Baik. Di luar, Anda Hendry, sopir saya."

"Di dalam?"

"Anda tetap pewaris yang seharusnya saya layani."

Sebelum Hendry menjawab, pintu belakang terbuka. Seorang pria bertubuh besar masuk sambil membawa dua kantong makanan. Wajahnya polos, tetapi langkahnya mantap.

Budiman memperkenalkan, "Bagus Prasetyo. Mulai hari ini, dia pengawal pribadi Anda."

Pria besar itu langsung menunduk. "Pak Hendry."

Hendry mengamati tangan Bagus. Buku-buku jarinya tebal. Ini bukan satpam biasa.

"Kau tahu kenapa dikirim ke sini?"

"Menjaga Pak Hendry," jawab Bagus.

"Kalau aku menyuruhmu pergi?"

Bagus berpikir sebentar, lalu menjawab jujur, "Saya pergi lima meter. Kalau ada bahaya, saya balik lagi."

Budiman batuk kecil, menahan senyum.

Hendry akhirnya duduk. "Kau membawa apa?"

"Nasi bungkus, Pak Hendry. Lima porsi."

"Untuk kita bertiga?"

Bagus tampak malu. "Untuk saya dulu. Kalau Pak Hendry mau, saya beli lagi."

Keheningan turun sesaat, lalu Hendry tertawa pelan. Untuk pertama kalinya hari itu, dadanya terasa sedikit longgar.

Budiman menggeser sebuah amplop tipis ke depannya. "Ini nomor kontak penting. Belum ada dokumen aset. Saya tidak akan memaksa Anda menandatangani apa pun malam ini."

"Besok," kata Budiman, "jika Anda siap, saya akan jelaskan struktur PT Garuda Perkasa Group dan aset lain yang sudah berada di bawah nama Anda."

Hendry menatap amplop itu. "Aku belum memaafkan Hartanto."

"Saya tidak meminta itu."

"Aku juga tidak akan membiarkan keluarga Mahendra tahu sekarang."

"Itu pilihan paling bijak."

Aroma ayam bakar dan sambal memenuhi ruangan. Perut Hendry baru sadar bahwa sejak pagi ia belum makan.

Bagus mendorong satu bungkus ke arahnya dengan hati-hati. "Pak Hendry makan dulu. Orang lapar gampang marah."

Hendry mengambilnya. "Kau sendiri sudah lima porsi."

"Kalau ada perang, saya perlu tenaga."

"Belum ada perang."

Bagus mengangkat kepala. Matanya yang biasanya polos tiba-tiba tajam. "Kalau Pak Hendry sudah diusir dari rumah sendiri, itu sudah perang."

Hendry berhenti membuka bungkus nasi.

Kalimat itu sederhana, tetapi benar.

Ponselnya bergetar di atas meja.

Nama Jessica muncul di layar.

Hendry langsung mengangkat. "Jessica?"

Di ujung sana terdengar napas tersengal. Suara Jessica pecah, lemah, dan menahan sakit.

"Hendry... tolong... perutku sakit sekali..."

1
Marchel
Seneng banget liat Yanto membeku seperti itu🤣🤣🤣
Marchel
Pasti Yanto punya niat terselubung
Marchel
Bagus Hendri kamu harus tegass
Marchel
Hendri mulut mertuamu lemesss bangetttt pengen aku sumpel pake baju cucian/Panic//Panic//Panic/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!