Sebuah kisah 2 orang anak SMA, dibalik seragam yang sama ternyata kehidupan mereka sangat bertolak belakang
dengan kisah anak gadis bernama Naira dengan kehidupan nya yang sunyi dan dingin
dan kisah anak lelaki yang berkerja keras sambil bersekolah tapi dikelilingi keluarga yang hangat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tazaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal kisah
Lonceng kelas 11-A baru saja berhenti berdentang, menyisakan keributan kecil saat siswa-siswi sibuk mencari tempat duduk setelah pembagian jurusan yang baru. Rama melangkah masuk dengan tenang, menyandang tas yang sudah agak pudar warnanya namun tertata rapi. Ia segera memilih bangku di deretan tengah, posisi yang menurutnya paling efisien untuk menangkap pelajaran tanpa harus menarik perhatian.
Di bangku depan, Naira sudah duduk dengan tenang. Gadis itu tampak kontras seragamnya tampak kaku dan baru, sementara tas bermerek yang disampirkan di bahunya terlihat terlalu mewah untuk sekadar membawa buku pelajaran. Ia hanya menatap layar ponselnya, menciptakan jarak yang tak kasat mata dari keramaian kelas.
Suasana berubah ketika wali kelas memasuki ruangan dan langsung mengumumkan pembagian kelompok untuk tugas ekonomi besar semester ini.
"Rama, kamu satu kelompok dengan Naira," ucap sang guru tegas.
Rama sedikit mengangguk, lalu beranjak menuju meja Naira. Ia mengeluarkan jurnal kecil dari tasnya, bersiap mencatat jadwal. "Naira," panggilnya singkat, membuat gadis itu mendongak. "Untuk pembagian tugas proyek ini, bagaimana kalau kita bagi dua supaya cepat selesai? Aku punya jadwal kerja setelah sekolah."
Naira menutup ponselnya perlahan. Ia menatap Rama dengan ekspresi yang sulit ditebak datar, namun menyimpan sedikit rasa ingin tahu terhadap cowok yang baru saja memintanya bekerja sama dengan nada seolah waktu adalah hal yang sangat langka.
"Nanti aku kabari lewat chat saja bagian mana yang aku kerjakan," jawab Naira dengan nada yang tenang namun dingin. "Kamu tenang saja, beres."
Rama terdiam sejenak. Kata "beres" dari mulut seseorang seperti Naira terdengar terlalu mudah, seolah tugas sulit itu hanyalah sekadar transaksi. Ada keraguan di mata Rama, namun ia hanya mengangguk pelan. Ia kembali ke bangkunya, membuka buku, dan mulai merencanakan langkah-langkah pengerjaan tugas itu sendiri karena baginya, tidak ada yang benar-benar "beres" jika tidak dikerjakan dengan perhitungan yang matang.
Minggu pertama berlalu, dan janji "beres" dari Naira benar-benar ditepati. Namun, bagi Rama, itu justru menjadi masalah baru. Ia menerima file hasil kerja Naira melalui chat dengan format yang sangat rapi terlalu rapi, bahkan. Rama, yang terbiasa mengerjakan setiap poin dengan analisis mendalam, merasa ada sesuatu yang janggal. Hasil kerja itu memang benar, tapi terasa "kosong" dan tidak memiliki jiwa.
Keesokan harinya di kelas, Rama menghampiri meja Naira saat jam istirahat. Naira sedang merapikan buku-bukunya, bersiap untuk pulang.
"Naira, soal tugas itu," Rama memulai percakapan, kali ini suaranya lebih rendah agar tidak terdengar oleh teman lain. "Analisis bagian bab tigamu... itu terlalu sempurna. Aku melakukan riset sendiri dan hasilnya berbeda dengan kesimpulanmu."
Naira menghentikan kegiatannya. Ia menatap Rama dengan tatapan yang akhirnya sedikit goyah. "Apa masalahnya? Bukankah itu yang diminta guru? Nilainya pasti bagus."
"Bukan soal nilai," sahut Rama cepat. "Tapi ini tentang apa yang kita pelajari. Kalau kamu cuma ingin hasilnya cepat selesai, kenapa repot-repot sekolah?"
Pertanyaan itu membuat Naira terdiam. Ia tampak seperti ingin membalas dengan kata-kata tajam, tapi tertahan di tenggorokan. Naira menatap Rama sosok yang mengenakan seragam yang sama, duduk di bangku yang sama, tapi memiliki beban hidup yang sangat jauh berbeda.
"Kamu tidak tahu apa-apa tentang bagaimana dunia bekerja, Rama," jawab Naira dingin sebelum menyampirkan tasnya dan berjalan pergi meninggalkan kelas.
Rama hanya memandangi punggung Naira yang menjauh. Ia baru saja menyadari satu hal: dia tidak sedang berurusan dengan siswi sombong yang malas belajar. Dia sedang berurusan dengan seseorang yang mungkin sudah lelah dengan ekspektasi orang lain, sehingga dia memilih untuk membayar orang lain agar bisa lepas dari tanggung jawab atau mungkin, agar dia tidak perlu lagi berharap pada hasil usahanya sendiri.
Sejak hari itu, Rama memutuskan untuk tidak lagi bertanya "bagaimana" Naira mengerjakan tugas. Ia mulai menerapkan strategi baru: ia akan mengerjakan bagiannya dengan sangat detail, dan memberikan hasil risetnya kepada Naira bukan untuk menyuruhnya, tapi sebagai bahan pembanding.
Rama ingin membuktikan satu hal: bahwa di antara kemewahan yang Naira miliki dan kesibukan yang Rama jalani, ada titik temu di mana mereka bisa belajar tanpa harus berpura-pura.