NovelToon NovelToon
Dikejar Cinta CEO Galak

Dikejar Cinta CEO Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Cintapertama
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rifani

Lucien Scott, pengusaha muda yang menggawangi raksasa bisnis di bawah naungan GS Company, tak sadar telah jatuh cinta pada seorang gadis bernama Andrea. Sosok menggemaskan dengan sikap tegas dan terang-terangan, hadir memberikan warna baru di hidupnya yang terkontrol rapi tanpa cacat. Mencintai dengan bengis, menjadi perjalanan cinta cukup menggelitik di mata orang-orang sekitar mereka. Intrik sederhana menjadi pemanis saat keduanya mulai saling menyadari perasaan masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 ( Lembut & Perhatian )

"Siapa yang jatuh cinta siapa juga yang repot. Inilah susahnya jika punya bos yang tak peka pada perasaan sendiri. Huh," ucap William tak henti mengomel.

"Berbuat baik jangan dirutuki, nanti kau kena tegur Tuhan." Veroz membuang napas panjang. "Masih untung neneknya Nona Andrea tak pingsan saat kita menyampaikan kabar. Coba bayangkan akan serepot apa kita jika hal itu sampai terjadi. Anggap saja malam ini kita sedang beruntung, jadi berhentilah mengomel."

William berdecih.

"Aku perlu kembali ke rumah sakit lagi tidak?"

"Untuk apa?"

"Ya siapa tahu mereka bantuan."

"Kalau kau ke sana yang ada malah kena amuk oleh Tuan Lucien."

"Kenapa begitu? Niatku baik, Veroz."

"Baik menurutmu belum tentu baik menurut Tuan Lucien," sahut Veroz seraya menyalakan mesin mobil. "Aku antar kau kembali ke perusahaan. Soal yang terjadi hari ini kau jangan coba-coba menyebar gosip. Kalau nekat, aku akan menghasut Tuan Lucien agar memecatmu."

Tadi saat Veroz memberitahu neneknya Andrea perihal kondisinya yang tiba-tiba pingsan, hampir saja orang tua itu limbung tak sadarkan. Untungnya ada banyak orang yang membantu menenangkan, jadi pekerjaan Veroz tak bertambah semakin banyak. Dan sekarang dia akan kembali ke perusahaan dulu guna menyelesaikan beberapa pekerjaan yang pastinya telah terbengkalai.

Sementara itu di rumah sakit, Andrea yang telah sadar dari pingsan kini telah dipindahkan ke kamar rawat inap. Atas keinginan Lucien, dia berada di kamar terbaik lengkap dengan dokter dan perawat yang selalu siap siaga memantau kondisinya.

"Dokter, kalian kembalilah saja bekerja. Aku tidak apa-apa istirahat sendiri," ucap Andrea merasa tak enak hati.

"Tidak apa-apa, Nona. Ini sudah tugas kami," sahut dokter sopan.

"Tapi kalian ....

"Bisa diam tidak?" Lucien jengkel. Dia menekan pelan pipi Andrea kemudian mengomel. "Kau itu baru sadar, lebih baik simpan energimu dan jangan banyak bicara dulu. Biarkan mereka tetap di sini karena mereka sudah ku bayar mahal. Mengerti?"

Ingin melawan, tapi Andrea tak punya cukup tenaga. Alhasil dia patuh mengikuti perintah Lucien lalu kembali berbaring diranjang dengan tenang. Sedangkan dokter dan perawat tampak mengulum senyum melihat bagaimana Lucien menunjukkan perhatian dengan tampang bengisnya.

"Tukang memberontak begini kena anemia. Harusnya kau cari penyakit yang lebih keren sedikit, An."

"Bisa tidak sebelum bicara kau filter dulu ucapanmu? Kau pikir aku sengaja mengundang penyakit datang? Gila ya," protes Andrea kesal setengah mati. Bahkan di situasi begini pun Lucien tetap mengibarkan bendera untuk berperang.

"Siapa suruh begadang. Masuk rumah sakit kan akhirnya," sahut Lucien sambil tersenyum penuh kemenangan. Dengan telaten dia menyelimuti tubuh Andrea hingga menyisakan wajahnya saja. Ada pria lain di ruangan itu, Lucien khawatir gadis ini pamer kemolekan.

Gerah, Andrea mencoba menarik selimut yang membungkus habis tubuhnya. Pria ini sungguh gila. Apa dia sengaja ingin membuatnya mati kehabisan nafas? Benar-benar tak masuk akal.

"Dasar belatung genit! Bisa tidak kau jangan gerak-gerak begitu? Susah payah aku melindungi tubuhmu, kau malah seenaknya ingin pamer di depan laki-laki lain!"

"Astaga, bos. Matamu yang mana melihatku ingin pamer bentuk tubuh? Lihat, aku kesulitan bernapas. Bagaimana sih!"

Kaget, barulah Lucien sadar dampak dari perbuatannya. Dia lalu menatap tajam ke arah dokter, memberi isyarat agar keduanya bergegas pergi dari sana.

"Mereka sudah tidak ada. Kau boleh membuka selimutnya," ucap Lucien lega.

(Rasa suka Andrea pasti semakin bertambah setelah melihat betapa aku sangat peka terhadapnya. Hmmm, wajarlah jika dia secinta mati itu padaku)

"Apa yang sedang kau pikirkan, hm?" tanya Andrea sembari menyipitkan mata. Gerak-gerik pria ini mencurigakan.

"Tentu saja memikirkan banyaknya uang yang harus ku keluarkan demi membuatmu bisa segera sembuh," jawab Lucien tak jujur.

"Uang?"

"Iyalah. Kau pikir berada di kamar VVIP itu gratis? Mahal, Nona. Gajimu sebulan belum tentu cukup untuk membayar biaya satu malam di ruangan ini. Bayangkan jika kau dirawat sampai seminggu ke depan. Uang di rekeningku bisa habis terkuras."

"Memangnya berapa biaya rawat di ruangan ini permalamnya?"

Jantung Andrea berdegup cepat sekali saat Lucien mengangkat empat jari di depan wajahnya. Semahal itu? Ini dia sedang diobati atau sedang diperas sih? Di desanya dulu cukup dengan uang puluhan ribu sudah mendapatkan pelayanan terbaik. Kenapa di kota biayanya seperti tak masuk di akal?

"Aku mau pulang!" seru Andrea panik. Tak memikirkan kondisinya, dia berniat melepas paksa jarum infus yang menancap di tangan. "Lucien, cepat bantu aku keluar dari rumah sakit ini. Untuk sementara jadikan dirimu sebagai jaminan. Nanti setelah gajian aku akan membayar hutangku. Ya?"

"A-apa kau bilang? Ingin pulang dan menjadikanku sebagai alat jaminan?"

Syok, Lucien tak menyangka reaksi Andrea akan sedrastis ini hanya karena dia membohonginya. Khawatir, dia segera menahan tangannya yang sedang berusaha melepaskan jarum infus. "Jangan gila, An. Kau itu baru sadar, nanti pingsan lagi kalau banyak bergerak."

"Tidak bisa di sini terus. Yang ada nanti biayanya makin membengkak. Darimana aku dapat uang untuk membayarnya?"

"Aku yang akan membayarnya. Oke?"

"Hutangku akan menumpuk."

"Gratis. Kau tak perlu mengembalikan uang yang ku gunakan untuk membayar biaya rumah sakit. Sekarang tenang, oke?"

Andrea mengangguk. Dia diam saja saat Lucien memeriksa tangannya. Ada yang salah dengan sikap pria ini. Benarkah rela berbuat baik demi dirinya? Atau jangan-jangan setelah keluar dari rumah sakit biayanya akan dipotong dari uang gaji. Jika dugaannya benar maka pupuslah sudah harapan Andrea. Dengan gaji pertamanya dia berniat membawa sang nenek pergi jalan-jalan dan makan enak.

"Kau kenapa cemberut begitu? Akukan sudah bilang biaya rumah sakit aku yang tanggung," ucap Lucien sembari memperhatikan Andrea yang terlihat murung. Tanpa sadar dia terus mengusap tangan Andrea yang hampir terluka gara-gara jarum infus yang ingin dilepas paksa.

"Lucien?"

"Ya ada apa?"

"Beberapa hari lagi aku gajian. Rencananya aku ingin mengajak Nenek pergi jalan-jalan dengan uang gaji itu."

"Lalu masalahnya di mana?"

"Masalahnya ....

Agak ragu saat Andrea ingin melanjutkan ucapannya. Terdorong oleh rasa takut, dia memajukan badan ke arah Lucien. "Nanti gajiku dipotong tidak?"

Tak ada jawaban. Lucien diam membeku sambil arah pandangnya tertuju ke bibir Andrea yang pucat.

Glukkk

(Jaraknya dekat sekali. Apa mungkin Andrea ingin menciumku sebagai ungkapan rasa terima kasih?)

Apa yang ucapkan oleh Andrea berbeda jauh dengan apa yang dipikirkan Lucien. Mengira gadis ini ingin menciumnya, reflek dia memejamkan mata. Lucien lalu memangkas jarak, bergerak mendekat hingga hembusan nafas Andrea terasa jelas menyapu wajahnya.

"Kau sedang apa? Kenapa memejamkan mata?"

Bagai dihantam batu besar, mata Lucien seketika terbuka lebar saat mendengar pertanyaan Andrea. Kikuk, dia bangun kemudian berdiri membelakangi. Yang benar saja. Padahal dia sudah effort membuka jalan, ternyata gadis ini malah mempermainkan usahanya.

"Padahal tinggal sedikit lagi bibir kami bertemu. Huh, membuat jantungku seperti mau copot saja."

Andrea yang tidak tahu apa-apa hanya bisa diam sambil memperhatikan Lucien dari belakang. Ini bukan kali pertama bosnya berperilaku aneh, jadi dia sudah tak heran. Menunggu sampai Lucien mau bicara lagi, Andrea memilih untuk kembali berbaring. Akan tetapi dia tak sengaja mengenai selang infus yang mana membuatnya memekik kaget.

"Aawwwww!"

"Hei kenapa berteriak, ada apa?" panik Lucien kemudian duduk di tepi ranjang. "Mana yang sakit?"

"Infusnya." Merengek, Andrea menunjukkan selang infus yang sudah tercampur dengan darah. Matanya berkaca-kaca. "Lucien, aku tidak suka begini. Aku mau pulang."

Tak tega, Lucien reflek mengelus rambut Andrea. Setelah itu dengan penuh perhatian dia meniup luka di tangannya. Terus dia ulangi sampai Andrea berhenti merengek.

"Aku mengantuk," lirih Andrea kemudian menguap. Entah kenapa tiba-tiba saja dia merasa nyaman.

"Tidurlah. Aku akan menemanimu di sini," sahut Lucien lembut. Hal yang tak pernah dia lakukan terhadap siapapun selain gadis menjengkelkan di sampingnya. "Pejamkan matamu dan jangan memikirkan apapun lagi. Selain tampan aku ini kaya raya dan mampu bertanggung jawab. Kau cukup fokus pada kesembuhanmu. Mengerti?"

"Iya,"

(Manis sekali)

***

1
Fadillah Ahmad
Covernya bagus... Menarik juga... 😂😂😂

Sudah lama juga, nggk pernah baca novel dari penulis ini. 😂😂😂 Terakir tahun 2022 yang lalu dah. Waktu Di Novel "Love Story Eleanor dan Gabriele... 😂😂😂
Mak Rifani: Amiinnn m 🙏🙏
total 3 replies
❤️⃟Wᵃf🍾⃝ ͩʏᷞᴜͧᴢᷡᴀͣ.ѕ⍣⃝✰zc❖
makkkk
❤️⃟Wᵃf🍾⃝ ͩʏᷞᴜͧᴢᷡᴀͣ.ѕ⍣⃝✰zc❖ : ok mak😘
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!