Satu sekolah tahu Lintang Gentariana adalah gadis paling gigih yang setiap hari memanggil nama Gifarka—atlet pencak silat kebanggaan sekolah yang sedingin es.
Dua tahun cintanya bertepuk sebelah tangan, sebuah wasiat tiba-tiba memaksa mereka menikah secara rahasia di bangku SMA.
Lintang mengira impiannya jadi nyata. Namun, yang terjadi adalah...
Dada gadis itu naik-turun dengan napas yang terasa luar biasa sesak.
"Serend*h itu gue di mata lu, Arka? Lu nggak pernah ngaca?! Adu bac*t kita dari dulu selalu dimulai dari lu yang cemburuan gak jelas!" teriak Lintang frustrasi, air matanya mengalir deras membasahi pipi.
"GUE CUMAN NGAMANIN APA YANG MASIH GUE PUNYA!"
Bentakan bariton Arka kali ini menggema begitu kencang di sepanjang koridor rumah.
Lantas, bagaimanakah kelanjutan kisah pernikahan rahasia mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siyunr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pikun Membawa Petaka
Lintang langsung tersenyum lebar sampai matanya menyipit. Statusnya boleh saja sudah menjadi seorang istri siri dari atlet silat yang galak di luar sana. Namun, begitu menginjakkan kaki di rumah megah ini, Lintang akan selalu kembali menjadi bayi perempuan kesayangan Papinya yang manja.
Tepat saat Lintang baru saja mau mengambil sendok untuk mencicipi adonan puding, suara bel rumah utama di bagian depan mendadak berbunyi nyaring.
Ting tong!
Suara bel itu terdengar begitu buru-buru, ditekan dua kali berturut-turut seolah sang tamu sedang dalam kondisi darurat.
Dahi Papi Leno mengernyit dalam, ia meletakkan sendok pengaduknya. "Siapa sore-sore begini bertamu kayak mau nagih utang?"
Lintang mendengus sebal. "Pasti si Arka. Udah aku bilang nggak usah kesini, ngeyel banget."
"Hehh, jangan gitu sama suamimu. Dia kalau di rumah juga sendirian jadinya," tegur Ilna lembut.
"Udah sana buka dulu pintunya."
Lintang memutar bola matanya jengah, namun kakinya tetap melangkah ke arah pintu depan.
Cklek.
Begitu daun pintu kayu itu terbuka lebar, terlihatlah Arka yang sedang berdiri kaku di sana.
Wajah cowok itu tampak dipenuhi ekspresi lelah konyolnya. Rambutnya berantakan karena frustrasi, berpadu dengan sorot mata elang yang kini meredup pasrah.
"Ngapain kesini? Kan gue nggak minta," ujar Lintang ketus sambil bersedekap dada di ambang pintu.
Arka menatap istrinya lekat-lekat, ada binar lega yang sempat melintas di matanya saat melihat Lintang baik-baik saja. "Ayo pulang."
"Nggak mau, gue mau tidur disini malem ini," tolak Lintang mentah-mentah.
"Nggak gue izinin," ujar Arka, mencoba menggunakan otoritas suaminya walau suaranya terdengar tidak bertenaga.
Lintang mendecit sinis. "Nggak butuh izin."
Arka menghela napas pendek, menahan pening di kepalanya. "Lu kemana aja?"
"Yeeuhh, harusnya gue yang nanya! Lu ngapain aja sampe nggak nungguin gue?!" serang Lintang berapi-api.
Urat lehernya menegang, meluapkan seluruh kekesalannya sejak sore tadi.
Arka terdiam sebentar, membuang mukanya ke arah samping karena terlampau salah tingkah. "Gue lupa."
"Bisa-bisanya lupa sama bininya tapi ngancemnya inget terus! Udah ah, sana pulang aja. Gue nggak mau liat muka lu," ujar Lintang tajam.
Ia sudah bersiap untuk membanting pintu depan di wajah suaminya.
"Heei, kenapa ini ribut-ribut?"
Suara bariton yang berat dan tenang tiba-tiba terdengar memotong perdebatan mereka.
Langkah kaki Papi Leno terdengar mendekat dari arah dapur. Beliau berjalan santai dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana kerja.
Detik itu juga, tubuh bongsor Arka mendadak menegang kaku di tempatnya berdiri.
Arka langsung menegakkan tubuhnya, kembali ke mode lempengnya yang kaku.
Meskipun terkejut dengan kehadiran pria paruh baya di depannya, garis rahangnya tetep mengeras tenang.
"Sore, Papi," sapa Arka datar namun tetep sopan.
Leno menghentikan langkahnya tepat di samping Lintang, memperhatikan menantunya dengan pandangan santai. "Eh, Arka. Papi kira ada apa ribut-ribut di depan pintu."
Lintang langsung menyenggol lengan ayahnya dengan dongkol. "Ini lho, Pi! Si Arka masa maksa aku pulang, padahal dia sendiri yang pikun ninggalin aku di sekolah!"
Leno terkekeh pelan melihat wajah cemberut putrinya. Beliau lalu beralih menatap Arka kembali sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Kamu lupa ya kalau tadi pagi berangkat bareng Lintang, Ka?" tanya Leno santai. Tidak ada nada menghakimi atau menyalahkan di suaranya. Bagi Leno, urusan anak muda biar diselesaikan sendiri.
Arka hanya membuang muka sekilas, menatap ke arah halaman luar karena agak salah tingkah, walau ekspresi wajahnya tetep sedatar papan tulis.
"Iya, Pi. Arka lupa," jawab Arka singkat, padat, dan jujur tanpa mau bertele-tele membela diri.
Leno mengembuskan napas pendek, lalu menepuk bahu tegap Arka dua kali dengan santai.
"Ya sudah. Berhubung kamu udah terlanjur ke sini, masuk dulu aja. Kebetulan Mami sama Lintang mau makan malam. Sekalian kamu ikut makan di sini," ajak Leno meruntuhkan kecanggungan.
Lintang langsung membelalak protes. "Loh, Papi! Kok malah diajak masuk sih?! Biarin aja dia pulang sendiri!"
"Hush, nggak boleh gitu sama suami sendiri," tegur Leno sambil menyentil dahi Lintang pelan, membuat cewek itu mengaduh sebal dan berhenti mengomel.
Leno kembali menatap Arka yang masih berdiri tegak di ambang pintu.
"Masuk, Arka. Kebetulan Papi bikin puding cokelat juga di dapur. Anggap saja rumah sendiri," ujar Leno, lalu berbalik arah berjalan kembali menuju ke dalam rumah.
Arka tidak langsung bergerak. Sepasang mata elangnya melirik datar ke arah Lintang yang sekarang sedang melipat tangan di dada sambil melemparkan pandangan ketus ke arah lain.
"Awas lu," gumam Arka super pelan tanpa suara, menatap tajam ke arah istrinya yang baru saja mengadukan kebodohannya pada sang mertua.
Lintang hanya menjulurkan lidahnya sekilas mengejek, lalu berbalik badan mendahului masuk ke dalam.
Arka mendengus pelan, lalu melangkah masuk melewati ambang pintu dengan gaya santai dan kaku andalannya, tetep menjaga harga diri dan egonya sebagai seorang suami di rumah mertua.
Dia melangkah mengikuti Lintang menuju ke arah dapur bersih. Punggung mungil cewek itu tampak bergoyang pelan seirama langkah kakinya yang sengaja dibuat mengentak sebal ke lantai.
Begitu sampai di area dapur, aroma manis cokelat kental dari panci yang baru dimatikan apinya oleh Leno kembali menyambut indra penciuman mereka.
Ilna yang sedang menaruh buah-buahan di atas piring konter langsung mendongak. Senyum hangat seorang ibu langsung merekah di wajah paruh baya Ilna begitu melihat menantunya masuk.
"Eeehh, ada Arka," sapa Ilna ramah.
"Sore, Mami," sapa Arka basa-basi, mengabaikan salah sebut dari ibu mertuanya.
"Kamu kenapa kesini? Jemput Lintang?" tanya Ilna.
"Iya, Mi," ujar Arka singkat.
Leno yang baru menaruh panci ikut menimpali sambil melirik menantunya jenaka. "Dia lupa nggak pulang bareng Lintang, jadinya Lintang ketinggalan di sekolah."
Ilna manggut-manggut mengerti, sama sekali tidak berniat memarahi menantunya yang pelupa. "Ohh. Yaudah, kalian istirahat aja dulu di kamar Lintang. Nanti habis Magrib kita makan malem bareng."
Lintang langsung membelalak protes mendengar ucapan maminya. "Loh, Mami! Kok malah disuruh ke kamar aku sih?! Kan aku lagi ngambek sama dia, Mi! Usir aja harusnya!"
"Hush, nggak boleh gitu sama suami sendiri. Udah sana naik," tegur Ilna lembut namun tidak menerima bantahan.
Lintang menghentakkan kakinya dengan dongkol, lalu berbalik badan berjalan cepat menaiki anak tangga menuju lantai dua. Mau tidak mau, Arka mengekor di belakangnya dengan langkah santai andalannya.
Begitu pintu kamar Lintang terbuka, Arka berjalan begitu saja melompati ambang pintu. Tanpa rasa bersalah sedikit pun, cowok jangkung itu langsung merebahkan dirinya di atas kasur secara acak dengan posisi tengkurap.
Lintang mendengus keras, berdiri di tepi ranjang sambil berkacak pinggang menatap suaminya yang mendadak menempel di kasurnya. "Kamar tuan rumah kayak kamar sendiri," sindirnya ketus.
Arka tidak mengubah posisinya. Suara baritonnya terdengar teredam bantal namun tetap terdengar lempeng tak berdosa. "Gue mantunya tuan rumah."
"Bodo, ah. Gue masih marah ya sama lu!" ujar Lintang berteriak kesal, meluapkan seluruh kedongkolannya sore ini melihat sang kulkas kutub utara mendadak berubah menjadi mode kucing anggora yang mageran.
"Gara-gara lu, gue dikejar preman mesum! Mana empat spesies! Untung Papi lewat, kalau enggak, gue udah diha*ilin kali!" protes Lintang keras dengan napas memburu, meluapkan seluruh ketakutan yang sempat dia tahan sejak sore.
Mendengar kalimat mengerikan itu, Arka yang tadinya tengkurap malas langsung membuka matanya lebar-lebar. Detik itu juga sirkuit di otaknya mendadak tegang.
Dengan gerakan cepat, cowok jangkung itu langsung membalikkan badannya menjadi telentang, lalu mendudukkan diri di tepi kasur.
"Lu dikejar preman?" tanya Arka memastikan. Suara baritonnya mendadak berubah menjadi sangat rendah dan dingin, dengan sepasang mata elang yang langsung menatap Lintang tajam, menelisik dari ujung kepala sampai ujung kaki untuk mencari apakah ada luka di tubuh istrinya.
Melihat respons Arka, Lintang justru makin merengut dongkol. "Iya! Gara-gara lu pulang sendirian kayak masih bujang! Udah ah, besok-besok berangkat masing-masing aja! Trauma gue sekolah bareng lu!"
"Hah? Kok bisa?" Arka refleks menegakkan badannya, menatap Lintang dengan mata melotot kaku. "Lu lewat mana emangnya? Kok bisa ketemu preman?"
Pertanyaan beruntun dari Arka yang tanpa dosa itu seketika menyulut sumbu pendek Lintang. Cewek itu langsung berkacak pinggang, mencak-mencak di depan suaminya dengan gemas.
"Lu nanya kok bisa?! Ya bisa lah, Malih!" sembur Lintang berapi-api, langsung menceramahi suaminya tanpa ampun. "Gue jalan kaki menyusuri trotoar gara-gara nungguin Jaguar lu kagak nongol-nongol! Hape gue mati, mobil gue lu kandangin di garasi, terus gue harus ke rumah pake apa? Flying fox?!"
Arka bungkam seribu bahasa. Mulutnya sempat terbuka sedikit tapi tidak ada suara yang keluar, bener-bener skakmat ditampar fakta oleh ceramah istrinya.
"Punya otak tuh dipakai, jangan cuma dipajang buat hiasan kepala doang! Pikun lu bener-bener bawa petaka, tau gak?!" lanjut Lintang makin membabi buta, meluapkan seluruh kekesalannya.
"Untung tadi Papi lewat pas gue udah dikepung di gang buntu. Kalau enggak, lu udah jadi duda sore ini!"
"Makanya, kalau biasa nelen Cerelac, nggak usah gaya-gayaan nelen Vodka. Jadi cepet bego, kan?!" lanjut Lintang makin membabi buta, telak menyindir kelakuan mabuk-mabokan suaminya semalam.
Arka berdeham pelan, mencoba mengontrol wajah salah tingkahnya yang sudah meluncur ke tingkat akut. "Terus... premannya diapain sama Papi lu?" tanya Arka pelan, mengalihkan topik karena terlampau malu.
"Ya dihajar sampai mampus lah! Lu pikir diajak main ludo?!" ketus Lintang, melemparkan bantal kursinya tepat ke arah muka Arka saking jengkelnya. "Makanya, besok-besok gue ogah bareng lu lagi. Kapok gue!"
Arka dengan sigap menangkap bantal tersebut, lalu memeluknya lempeng di atas kasur sambil menatap Lintang pasrah.