Hari ini adalah hari ulang tahun Arla yang ke-18, dimana ia sudah dianggap dewasa dan 'matang'. Sehingga sudah saatnya ia dipanen dan dijual oleh rumah lelang ini.
Sebagai seorang gadis yang dijual oleh keluarganya sendiri, ia dirawat oleh rumah lelang ini untuk dijual kepada para laki-laki hidung belang dengan harga yang lebih mahal. Meski begitu, keluarganya sering datang dan mengatakan bahwa mereka menyesal menjualnya dan berjanji untuk membelinya kembali agar dapat pulang ke rumah dan berkumpul dengan keluarganya lagi.
Akan tetapi saat malam ulang tahunnya datang, tak ada satupun keluarga yang datang untuk menebusnya. Sehingga ia terpaksa dijual kepada laki-laki yang tidak ia kenal.
Bagaimana nasib Arla setelah dibeli oleh laki-laki itu, dan apakah ia akan berakhir menyedihkan seperti para budak nafsu yang telah mati karena kekerasan, seperti yang dialami oleh banyak gadis yang keluar dari tempat ini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Q Lembayun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Komoditas yang dijual
Semua orang tengah merayakan dan tersenyum gembira sambil menghitung uang yang berserakan di depan mereka. Namun, ada satu wanita yang tampak begitu kesal dan marah, menatap ke arah Arla dengan tatapan yang sangat tajam.
Kegembiraan itu terjadi karena mereka berhasil menjual gadis-gadis yang telah lama mereka ‘pelihara’ dengan harga yang sangat mahal. Mereka adalah orang-orang yang mendistribusikan gadis-gadis cantik, muda, dan belia kepada para laki-laki hidung belang yang memiliki uang berlimpah.
Namun, ada satu gadis yang hingga kini masih belum laku atau dibeli oleh siapa pun. Hal itu disebabkan karena Arla terus meyakinkan pengasuhnya bahwa orang tuanya akan datang dan menebusnya dengan uang yang sangat banyak.
“Mereka akan segera datang, jadi kita tunggu saja.”
“Kamu percaya apa yang orang tuamu katakan?” Pengasuh itu tersenyum sinis. “Kalau mereka benar-benar peduli padamu, mereka tidak akan pernah menjualmu padaku.”
Mendengar ucapan pengasuhnya, perasaan Arla semakin dingin. Ia telah berada di tempat itu sejak berusia 9 tahun. Orang tuanya membawanya ke tempat tersebut dengan alasan bahwa mereka terlalu miskin untuk membesarkannya, padahal Arla selalu tahu bahwa dirinya masih memiliki seorang saudara laki-laki yang justru dimanjakan oleh kedua orang tuanya. Meski begitu, Arla tidak pernah merasa sakit hati, karena sebagai seorang kakak, ia merasa sudah seharusnya lebih banyak berkorban untuk adiknya.
Seiring bertambahnya usia, Arla akhirnya memahami bahwa dirinya bukan sekadar dititipkan, melainkan dijual. Meski begitu, setiap tahun orang tuanya masih datang ke tempat itu dan mengatakan bahwa mereka merindukan Arla setiap hari. Hal itu membuat Arla secara emosional tidak pernah benar-benar bisa melepaskan diri dari kedua orang tuanya. Karena itu pula, ia sering ‘menitipkan’ banyak uang untuk kebutuhan orang tua dan adiknya.
“Nak, tenang saja. Saat kamu menginjak usia 18 tahun, kami akan segera menjemputmu. Jadi kamu harus bersabar. Kami akan menggunakan uangmu sebaik mungkin untuk memulai usaha baru.”
Setiap tahun, mereka datang kepada Arla dengan kalimat-kalimat penghibur, namun selalu disertai isyarat keluhan bahwa usaha yang mereka jalankan tidak berjalan lancar dan membutuhkan lebih banyak dana.
Arla yang polos dan mudah percaya pada setiap rayuan orang tuanya pun mulai memberikan uang lebih banyak, sambil tetap meyakini bahwa suatu hari mereka akan datang menjemputnya. Namun, hingga usianya menginjak 18 tahun dan ia siap untuk ‘dipanen’ serta dilelang, ibu dan ayahnya masih belum terlihat. Mereka belum datang untuk menebusnya dan membawanya pulang.
“Jam belum menunjukkan pukul 20.00 malam, jadi kita masih punya waktu untuk menunggu. Mereka pasti akan datang, mereka sudah berjanji padaku,” ucap Arla dengan penuh optimisme.
Pengasuh yang mendengar itu hanya bisa menghela napas lelah. Sebenarnya, Arla sangat cantik dan pasti akan laku dengan harga yang sangat tinggi. Namun sebagai pengasuh, ia masih memiliki hati nurani yang cukup besar terhadap Arla, meski ia tetap menyerahkan semua keputusan pada gadis itu. Di sisi lain, sebagai orang dewasa, ia sebenarnya tahu bahwa orang tua Arla kemungkinan besar berbohong. Tetapi ia tidak ingin mematahkan harapan Arla, sehingga selama ini ia memilih diam. Dengan begitu, Arla masih terus menggenggam harapan bahwa dirinya masih diinginkan dan akan segera dibawa pulang.
“Aku telah memberimu kesempatan, dan pukul 20.00 malam adalah batasnya. Jika orang tuamu tidak juga datang dan kamu tidak dibeli oleh siapa pun, maka kamu harus bersiap untuk tinggal di sini sebagai wanita penghibur, untuk menutupi semua modal yang telah kami keluarkan untuk membesarkan mu.”
Arla terdiam. Ia mencoba kembali meyakinkan dirinya sendiri bahwa orang tuanya pasti akan datang.
Dalam aturan komunitas ini, setiap anak yang dijual ke rumah lelang akan diperlakukan dengan sangat baik. Mereka diberi makanan bergizi dan pakaian yang indah. Semua itu diberikan untuk meningkatkan kecantikan dan harga jual mereka. Hal tersebut membuat para gadis ini memiliki “modal” yang cukup besar untuk dipelihara, sehingga untuk menebus atau membelinya kembali dibutuhkan harga yang sangat tinggi.
Namun jika mereka tetap tidak laku, maka mereka akan dijadikan gadis penghibur yang harus melayani banyak laki-laki untuk mengembalikan seluruh modal yang telah dikeluarkan. Sebagai ‘komoditas’ yang dipelihara dengan sangat hati-hati, mereka harus tetap menghasilkan keuntungan.
Setelah beberapa jam berlalu, pukul 20.00 malam semakin dekat. Semua gadis lainnya telah dibeli oleh para laki-laki hidung belang dengan harga yang sangat tinggi. Namun di sisi lain, Arla masih belum melihat kehadiran kedua orang tuanya.
Arla menatap jam di dinding, dan perlahan hati serta pikirannya mulai mendingin. Ia akhirnya menyadari, dan mulai menerima kenyataan bahwa kedua orang tuanya mungkin tidak akan pernah datang.
Pengasuh yang melihat ekspresi Arla—yang sebelumnya penuh harapan dan cinta, kini perlahan memudar menjadi dingin—merasa bersimpati. Ia mengutuk orang tua Arla dalam hati. Sebagai orang tua, mereka benar-benar tidak tahu malu. Mereka menjual anak mereka sendiri, tetapi masih berani datang setiap tahun untuk meminta uang. Mereka hanyalah sekumpulan manusia picik dan serakah yang tidak pantas memiliki seorang anak.
“Menjadi wanita penghibur itu tidak mudah, Arla. Laki-laki yang berbeda akan datang silih berganti, dan kamu harus melayani mereka tanpa pandang bulu. Mereka terkadang kasar dan tidak tahu aturan. Jadi aku harap kamu menyerah sebelum pukul 20.00 malam, agar aku bisa menjual mu dengan baik. Kamu sangat cantik, pasti banyak orang yang ingin membeli mu. Kamu bahkan bisa memilih salah satu di antara mereka. Setidaknya aku akan memilihkan yang paling kaya atau yang paling tampan untukmu.”
Arla terdiam cukup lama. Perlahan, air matanya akhirnya jatuh juga. Ia segera menghapusnya dan kembali menata hatinya yang sudah retak sekali lagi. Ia masih punya waktu untuk bertahan dan memulai hidupnya dari awal.
Dengan mata yang memerah, ia menatap pengasuhnya lalu mengangguk pelan sebagai tanda bahwa ia telah menyerah. Ia tidak akan menunggu orang tuanya lagi dan akan menerima dirinya sebagai sebuah komoditas yang memang harus dijual.
Tak berselang lama, pengasuhnya datang bersama seorang laki-laki di belakangnya. Laki-laki itu tampak masih muda dan tampan, namun memiliki ekspresi yang sangat dingin. Ia menatap Arla dengan sangat teliti, seolah setiap bagian dari tubuhnya sedang diamati dan dinilai.
Setelah beberapa saat saling berhadapan, laki-laki itu akhirnya menatap pengasuh Arla dan menganggukkan kepalanya.
“Dia cukup bagus.”
Mendengar kalimat itu, pengasuh Arla tersenyum puas, seolah kesepakatan telah tercapai dan akhirnya Arla benar-benar terjual.