“Lepaskan aku! Kalian gila ya?!” Suara Liora menggema di dalam mobil.
Di seberangnya duduk seorang anak kecil, usianya sekitar enam tahun. Wajahnya terlalu tenang dan dingin untuk anak seusianya. Anak itu mengangkat wajahnya sedikit, menatap Liora seperti orang dewasa yang sedang menilai bawahan yang tidak kompeten.
“Aku butuh kamu.” Ucap Keivan.
“Apa maksudmu butuh aku?”
Keivan menyandarkan punggungnya lalu melipat tangan kecilnya. “Kamu akan jadi ibu tiriku, menikahlah dengan Papaku.“
Keivan, bocah jenius dari keluarga Salendra, tumbuh di tengah situasi keluarga yang rumit. Ayahnya... Dewangga, seorang pria 35 tahun mengalami cedera otak yang membuatnya menjadi penyandang disabilitas intelektual (tunagrahita) dan memiliki perilaku seperti anak berusia lima tahun (Idiot). Di tengah perebutan hak waris keluarga Salendra, Liora terseret dalam rencana pernikahan yang tidak pernah ia inginkan.
Akankah Liora bersedia menjadi ibu tiri sekaligus istri bagi pria penyandang disabilitas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 22.
Lima belas menit kemudian, seluruh peserta rapat kembali ke tempat masing-masing.
Sisa agenda berjalan jauh lebih cepat. Dengan adanya keputusan audit menyeluruh, sebagian besar pembahasan hanya berisi penyesuaian target perusahaan dan penetapan rencana kerja untuk tahun berikutnya. Tak ada lagi yang berani bermain-main, bahkan beberapa direktur yang biasanya banyak berdebat memilih diam.
Hampir satu jam kemudian...
"Kalau tidak ada lagi yang ingin disampaikan..." Tuan Besar menutup map di hadapannya. "Rapat tahunan Salendra Group, saya nyatakan selesai."
Seluruh peserta rapat serempak berdiri.
"Terima kasih, Tuan Besar."
"Kami akan segera menindaklanjuti hasil rapat."
Satu per satu para direksi mulai meninggalkan ruangan. Namun suasana tidak seramai biasanya, mereka berjalan sambil berbisik pelan.
"Audit tiga tahun..."
"Entah kenapa firasatku buruk."
"Sepertinya Tuan Besar benar-benar sedang membersihkan perusahaan."
Di sisi lain, Dimas menghampiri pria berkacamata itu.
"Wajahmu kenapa pucat begitu?"
"Aku... tidak apa-apa."
"Karena Dewangga?"
Pria itu menggeleng cepat. "Bukan."
"Kalau begitu tenang saja. Dia bahkan tidak bisa membedakan laporan benar atau salah."
Meski berkata begitu, Dimas sendiri tidak terdengar terlalu yakin. Pria berkacamata hanya memaksakan senyum. "Semoga saja."
Mereka pun berjalan ke arah lift.
Sementara itu di ruang rapat yang mulai kosong, Dewangga masih duduk di kursinya.
"Liora, sudah selesai?"
"Iya."
"Es krim?"
Liora tertawa kecil. "Lagi? Tadi sudah makan, kan?"
"Hehehe...." Dewangga langsung berdiri sambil memegang ujung blazer Liora.
Keivan yang melihat itu hanya menggeleng pelan. "Papa benar-benar konsisten."
"Apa?"
"Nggak ada."
Anak itu memilih diam. Kalau tidak mengerti akan ayahnya, mungkin ia juga akan percaya bahwa pria di depannya memang hanya berpikir soal es krim dan masih belum sembuh.
Saat mereka hendak keluar, Tuan Besar memanggil.
"Liora."
"Ya, Tuan besar?"
"Kau ikut ke ruang kerja sebentar."
"Baik." Liora menoleh kepada Dewangga. "Dewangga tunggu sebentar, aku nggak akan lama."
"Janji?"
"Janji."
Dewangga mengangguk patuh.
"Kalau begitu Dewangga sama Keivan."
Keivan langsung menggandeng lengan ayahnya, seperti seorang ayah pada anaknya. "Ayo, Pa..."
Mereka berdua berjalan menuju area lounge di depan ruang rapat. Di sana tersedia minuman dan makanan ringan untuk para tamu. Begitu melihat freezer kecil di sudut ruangan, mata Dewangga langsung berbinar.
"Es krim!"
Keivan mengambil satu cup vanila, lalu menyerahkannya pada ayahnya. "Nih."
"Makasih." Dewangga duduk sambil menikmati es krimnya dengan wajah bahagia.
Beberapa karyawan yang lewat tak kuasa menatapnya diam-diam. Sulit dipercaya, pria yang dulu dikenal sebagai CEO paling dingin dan paling ditakuti di Salendra Group, kini bisa tersenyum selebar itu hanya karena satu cup es krim.
"Lucu ya...."
"Kasihan juga sebenarnya."
"Tapi untung beliau masih bisa bahagia."
Bisikan-bisikan itu terdengar jelas, Dewangga tetap tersenyum polos. Di balik senyum itu, pendengarannya menangkap setiap kata.
Tak lama kemudian, seorang cleaning service mendorong troli melewati lounge. Saat melewati Dewangga, pria itu sempat menundukkan topinya terlalu dalam. Hanya sesaat, tapi cukup membuat sorot mata Dewangga berubah.
Dia...!
Tanpa mengubah ekspresi, Dewangga kembali menyuapkan sesendok es krim ke mulutnya. "Es krim nya enak banget..."
Keivan melirik ayahnya, Ia mengikuti arah pandangan Dewangga beberapa saat lalu. Cleaning service itu sudah masuk ke lorong servis. Ia kembali menatap ayahnya, Dewangga hanya tersenyum kecil.
Sementara itu, di ruang kerja Tuan Besar, suasananya jauh lebih tenang dibandingkan hiruk-pikuk di luar.
Ruangan yang didominasi furnitur kayu berwarna gelap itu dipenuhi rak buku dan berbagai penghargaan perusahaan. Di balik meja kerja yang besar, Tuan Besar membuka sebuah laci, lalu mengeluarkan sebuah map berwarna hitam dengan logo Salendra Group yang tercetak menggunakan tinta emas.
Pria tua itu mendorong map tersebut ke hadapan Liora. "Mulai hari ini, kau resmi menjadi salah satu komisaris Salendra Group."
"Apa?" Liora yang semula berdiri tegak langsung membelalakkan mata. Tangannya belum juga bergerak mengambil map itu, ia bahkan sempat mengira dirinya salah dengar. "Komisaris?"
"Iya."
"T-tapi... kenapa saya?"
"Kau memang orang yang paling tepat."
Liora menggeleng pelan. "Tuan Besar, saya bahkan belum pernah bekerja di perusahaan sebesar ini. Dunia bisnis yang saya tahu tidak sekompleks Salendra Group."
"Aku tahu."
"Lalu kenapa justru memilih saya? Bukankah masih banyak orang yang lebih berpengalaman?"
Tuan Besar menyandarkan tubuhnya ke kursi, lalu menatap Liora dengan sorot mata penuh penilaian. "Kau memang belum berpengalaman, tapi kau memiliki sesuatu yang jauh lebih penting... keberanian."
Liora terdiam, ia masih belum memahami maksud pria tua di hadapannya.
"Selama satu tahun terakhir, banyak orang datang menjenguk Dewangga. Mereka menangis, merasa kasihan... lalu pulang." Tuan Besar kembali berbicara dengan nada tenang, tatapan pria tua itu perlahan berubah lebih dalam. "Tapi, tidak ada satu pun yang benar-benar berani memperlakukannya sebagai keluarga. Sementara kau... berbeda."
"Berbeda bagaimana?"
"Kau tidak takut memarahinya ketika salah, kau tidak sungkan menegurnya. Bahkan ketika seluruh orang di mansion memilih menuruti semua keinginannya, kau justru mengajarinya pelan-pelan mana yang boleh dan mana yang tidak."
Tuan Besar tersenyum tipis. "Dan yang paling penting... kau melindunginya."
Liora langsung teringat kejadian di depan para wartawan tadi pagi dan kejadian di acara makan malam. Juga ketika tanpa sadar ia selalu berdiri di depan Dewangga setiap kali ada orang yang membuatnya tidak nyaman.
"Itu hal yang wajar, kan?"
"Tidak!" Jawaban Tuan Besar begitu tegas. "Banyak orang mengaku peduli. Tapi saat benar-benar dibutuhkan, mereka justru mundur. Tapi kau... selalu berdiri paling depan."
Liora menundukkan pandangannya, ia sama sekali tidak pernah berpikir sejauh itu. Semua yang ia lakukan selama ini terasa begitu alami. Mungkin karena melihat Dewangga seperti anak kecil yang benar-benar membutuhkan perlindungan.
"Kau tahu kenapa aku ingin mengangkatmu menjadi komisaris?"
Liora menggeleng.
"Karena mulai hari ini, perusahaan ini tidak hanya membutuhkan orang pintar." Tangan Tuan Besar perlahan mengetuk map di atas meja. "Perusahaan ini sedang dipenuhi orang-orang yang terlalu pintar."
"Lalu?" Alis Liora berkerut.
"Justru itu masalahnya. Mereka pintar menyembunyikan kesalahan dan pintar menusuk dari belakang. Tapi tidak semua orang, berani menghadapi mereka." Pria tua itu mendorong map tersebut sedikit lebih dekat. "Aku membutuhkan seseorang yang berani mengatakan 'tidak' meskipun seluruh ruangan mengatakan 'iya'."
Liora memandang map itu cukup lama. "Tuan Besar... saya tidak bisa menjanjikan hasil yang sempurna."
"Aku tidak meminta itu."
"Saya juga mungkin akan membuat banyak kesalahan."
"Itu lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa."
Liora akhirnya menghela napas panjang, lalu mengambil map tersebut dengan kedua tangannya. "Kalau begitu... saya akan berusaha."
"Itu jawaban yang ingin kudengar." Tuan Besar tersenyum puas. Sesaat kemudian, ekspresinya kembali serius. "Namun ada satu hal yang harus kau ingat. Mulai hari ini, setiap langkahmu akan diperhatikan. Akan banyak orang tidak akan menyukaimu, dan mencoba menjatuhkanmu. Bahkan mungkin... memanfaatkan Dewangga untuk menyerangmu."
Liora menggenggam map itu sedikit lebih erat. "Saya mengerti."
"Takut?"
"Kalau saya mudah takut, dari awal saya tidak akan berani menampar Marissa." Liora tersenyum tipis.
Tuan Besar tertawa pelan. "Tepat!"
Liora kemudian berdiri dari kursinya, berjalan mendekati jendela besar yang menghadap ke halaman depan gedung. Dari sana terlihat para karyawan masih berlalu-lalang, sama sekali tidak menyadari bahwa sebuah keputusan besar baru saja dibuat. Tanpa disadari olehnya, keputusan itu bukan sekadar memberinya sebuah jabatan.
Keputusan itu telah menempatkannya di garis depan pertarungan memperebutkan masa depan Salendra Group. Dan yang lebih berbahaya, ia sama sekali belum mengetahui bahwa pria yang selama ini selalu dipeluk dan dijaganya seperti anak kecil, diam-diam telah kembali menjadi Dewangga Salendra yang sesungguhnya.
Permainan baru saja dimulai, dan kini... Liora telah resmi menjadi salah satu pemainnya.
pasti bekerja sama dgn ibu tirinya Liora
untk menekan hati dan mental Liora yang paling salam adalah ibunya🤔🤔🤔
antara siapa yang melakukan kecelakaan
dan bagaimana sikap Liora jika tau dewangga sudah sadar sepenuhnya
tau jika ada perubahan dari ayahnya
karna mengingat semuanyaa
sengaja akan dibunuh kembali
atau ada obat yang tukar🤔🤔
dihadapan tetua 🏃
kalo emnk si ibu tiri terlibat baik dg liora maupun dewangga ,, berarti masalah ny gx semudah yg di bayang kn ,,
malu ny sampe ke ubun2 ,, 😒😒😒😒😒😒😒
semoga kamu akan kembali pulih seperti sedia kala