Malam itu, kelab privat paling elit di pusat kota Solaria, The Velvet Lounge, tampak sangat meriah. Musik berdentum keras, lampu neon warna-warni menyinari lantai dansa, dan botol-botol minuman mahal berjejer di atas meja marmer.
Malam ini adalah pesta kelulusan SMA angkatan mereka. Anak-anak dari kalangan paling berkuasa di Solaria berkumpul, merayakan berakhirnya masa sekolah dengan cara yang biasa mereka lakukan: menghamburkan uang orang tua.
Di salah satu sofa VIP paling empuk, Ghea sedang duduk dengan anggun. Di tangannya ada segelas jus jeruk segar—dia tidak minum alkohol, tapi gaya hidup mewahnya tidak kalah dari siapa pun. Di sampingnya, tiga tas belanja dari butik ternama dunia tergeletak begitu saja.
"Ghe, lo serius besok mau langsung terbang ke Paris buat self-reward kelulusan?" tanya salah satu temannya, seorang cewek berambut pirang hasil salon mahal.
Ghea mengibaskan rambut panjangnya yang berkilau. "Ya iyalah. ......
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sengatan Matahari dan Sup Hangat
Acara "Pekan Raya Manajemen" Universitas Jayasakti tinggal menghitung hari. Sebagai ketua HIMA sekaligus ketua panitia, Rangga merasa memiliki kekuasaan mutlak di area kampus. Dan setelah insiden di koridor kemarin, target utamanya sudah sangat jelas: membuat hidup Arkan sesulit mungkin.
Siang itu, matahari Sukaasih rasanya benar-benar membakar kulit. Di lapangan semen tengah kampus, beberapa tenda bazar dan panggung kecil mulai didirikan.
"Woy, anak baru! Sini lo!" teriak Rangga dari bawah tenda yang teduh, tangannya menunjuk ke arah Arkan yang baru saja selesai kelas.
Arkan menghentikan langkahnya. Dia menatap Rangga datar.
"Karena lo mahasiswa baru dan belum berkontribusi apa-apa buat jurusan, sekarang lo masuk divisi perlengkapan," ujar Rangga dengan senyum sinis yang dipaksakan ramah. "Itu dus-dus berisi kabel, dekorasi panggung, sama tiang besi di gudang lantai tiga tolong dipindahin semua ke lapangan ini. Sekarang. Sendirian."
Beberapa anggota himpunan yang berada di sekitar Rangga hanya diam, tidak ada yang berani membela karena takut pada Rangga.
Arkan melirik tumpukan barang yang dimaksud. Memindahkan puluhan dus berat dari lantai tiga ke lapangan semen di bawah terik matahari sendirian adalah tugas yang tidak manusiawi. Tapi, Arkan hanya menghela napas pendek. Dia tidak ingin membuat keributan yang bisa memancing perhatian pihak kampus, apalagi sampai terdengar ke telinga orang tuanya di Solaria.
"Oke," jawab Arkan pendek. Dia langsung berjalan menuju tangga gedung tanpa membantah sedikit pun.
"Cih, dasar kuli. Disuruh-suruh langsung nurut," gumam Rangga pelan dengan nada puas, memastikan beberapa mahasiswa lain mendengarnya.
Dari balik jendela koridor lantai dua, Ghea berdiri diam sambil memegang botol air mineral dinginnya yang sudah tidak begitu dingin lagi. Matanya menatap lurus ke lapangan. Dadanya bergemuruh hebat menyaksikan bagaimana Arkan—cowok yang biasanya menyuruh belasan pelayan di rumahnya—kini harus memanggul tiang besi berat di bawah sengatan matahari yang luar biasa terik.
Ghea melihat kaus hitam Arkan sudah basah kuyup oleh keringat. Langkah kaki cowok itu tampak sedikit goyah, namun wajahnya tetap lempeng dan tidak menunjukkan keluhan sama sekali.
Kenapa sih dia bodoh banget?! Tinggal lawan aja apa susahnya! batin Ghea kesal, tangannya meremas botol plastik di genggamannya hingga penyok. Ada rasa tidak tega yang amat sangat meremas dadanya melihat Arkan diperlakukan seperti itu.
Hingga sore menjelang malam, Arkan baru selesai membereskan semua perlengkapan panggung. Tubuhnya benar-benar terasa remuk. Saat dia berjalan pulang ke kosan, langkah kakinya terasa sangat berat. Kepalanya mulai berdenyut pening, dan pandangannya sesekali agak kabur. Sengatan matahari siang tadi ditambah jam tidur yang berantakan karena kerja paruh waktu akhirnya berhasil meruntuhkan pertahanan fisiknya.
Sesampainya di kamar kos lantai atas, Arkan langsung ambruk di atas kasur tanpa sempat mandi atau mengganti pakaiannya. Tubuhnya menggigil kedinginan di tengah udara Sukaasih yang biasanya gerah.
Di lantai bawah, Ghea duduk gelisah di tepi kasurnya. Sejak pulang tadi, dia terus-menerus menatap langit-langit kamarnya. Biasanya, jam segini dia sudah mendengar suara langkah kaki berat Arkan di lantai atas, atau suara pintu kamar cowok itu yang ditutup dengan kasar. Tapi malam ini, suasana di atas sangat sepi.
Ghea mencoba menajamkan pendengarannya. Samar-samar, melalui celah ventilasi udara yang menghubungkan lantai bawah dan atas, Ghea mendengar suara batuk kecil disusul suara erangan pelan yang terdengar sangat tidak berdaya.
"Dia... sakit?" gumam Ghea panik.
Ghea langsung berdiri. Tanpa berpikir panjang, dia mengambil dompetnya dan berlari keluar kosan menuju apotek dan warung makan terdekat yang masih buka. Persediaan uangnya kini benar-benar kritis, namun keselamatan musuh bebuyutannya itu terasa jauh lebih penting saat ini.
Setengah jam kemudian, Ghea kembali dengan kantong plastik di tangannya. Isinya adalah satu porsi bubur ayam hangat, obat penurun panas, dan beberapa lembar plester kompres demam.
Ghea berjalan mengendap-endap naik ke lantai dua. Koridor kosan putra sudah sangat sepi karena jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Dia berhenti di depan pintu kamar nomor 13 milik Arkan.
Ghea mendekatkan telinganya ke pintu. Benar saja, dia bisa mendengar napas Arkan yang terasa berat dan cepat dari dalam.
Ghea meraba sakunya, mengeluarkan secarik kertas kecil yang sudah dia tulisi dengan tulisan tangan yang sengaja dibuat jelek dan tidak rapi, meniru gaya tulisan Bu Retno:
“Le Arkan, ini ada sisa bubur anget sama obat dari Ibu di bawah. Tadi Ibu denger kamu batuk-batuk. Dimakan ya, biar besok bisa kerja lagi.”
Ghea menempelkan kertas itu pada kantong plastik, lalu dengan sangat perlahan dan tanpa suara, dia menyangkutkan kantong plastik tersebut pada gagang pintu kamar Arkan.
Setelah memastikan kantong itu aman, Ghea mengetuk pintu kamar Arkan dengan keras sebanyak tiga kali, lalu secepat kilat berlari menuruni tangga dan kembali masuk ke kamarnya sendiri di lantai bawah.
Di dalam kamar nomor 13, Arkan yang sedang setengah sadar karena demam perlahan membuka matanya mendengar ketukan pintu yang cukup keras. Dengan sisa tenaga yang ada, dia menyeret tubuhnya yang lemas untuk membuka pintu.
Saat pintu terbuka, koridor sudah kosong melongpong. Pandangan Arkan kemudian jatuh pada kantong plastik yang menggantung di gagang pintunya. Dia mengambil kantong itu dan membaca kertas yang menempel di sana.
Arkan mengernyitkan dahi. Bu Retno? batinnya heran. Dia tahu pemilik kos mereka itu memang kadang baik, tapi rasanya agak tidak biasa kalau sampai membelikan obat dan bubur ayam hangat sedetail ini malam-malam.
Namun, rasa pening di kepalanya membuat Arkan malas berpikir terlalu dalam. Dia membawa kantong itu masuk, memakan bubur hangat yang terasa sangat nyaman di tenggorokannya yang kering, lalu meminum obat penurun panas yang ada. Terakhir, dia menempelkan plester kompres dingin di dahinya.
Efek obat itu bekerja dengan cepat, membuat Arkan akhirnya bisa tertidur dengan sangat nyenyak malam itu, sementara demam di tubuhnya perlahan-lahan mulai turun.
Keesokan paginya, matahari kembali terbit.
Ghea berjalan keluar dari gerbang kosan dengan langkah lesu karena kurang tidur semalaman karena mencemaskan keadaan di lantai atas.
"Woy, lelet!" sebuah suara berat yang sangat familier tiba-tiba terdengar dari arah belakang.
Ghea refleks berbalik dan mendapati Arkan sedang berjalan mendekat dengan wajah yang sudah jauh lebih segar dari kemarin, meskipun masih tampak sedikit pucat di bagian bawah matanya. Tas duffel-nya tersampir santai di bahu seperti biasa.
"Lo... lo udah gak apa-apa?" tanya Ghea keceplosan, matanya menatap Arkan dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan cemas.
Arkan menaikkan sebelah alisnya heran. "Gak apa-apa gimana maksud lo? Emang gue kenapa?"
Ghea langsung tersadar dan buru-buru mengubah ekspresi wajahnya menjadi judes. "Ya... maksud gue, lo kemarin kan abis disuruh-suruh kayak babu sama senior norak itu. Gue kira lo udah pingsan atau encok di kamar!"
Arkan mendengus sinis, melangkah mendahului Ghea. "Sori ya, fisik gue gak selemah kulit manja lo itu. Lagian, Sukaasih ini punya Bu Retno yang super peka. Ternyata ibu kos kita itu baik banget kalau ada anak kosnya yang kurang sehat."
Mendengar ucapan Arkan, Ghea menahan senyumnya mati-matian. Dia berjalan cepat menyusul langkah kaki lebar Arkan.
"Oh ya? Emang Bu Retno ngapain lo? Ngasih jamu gendong?" ejek Ghea pura-pura tidak tahu.
"Kepo banget lo. Udah, jalan cepet dikit, sebelum kulit lo makin gosong kena matahari pagi," sahut Arkan lempeng tanpa menoleh.
Ghea menjulurkan lidahnya ke arah punggung Arkan dengan kesal, namun di dalam hati, ada rasa lega yang luar biasa hangat karena tahu bahwa "musuh kesayangannya" itu sudah kembali sehat berkat bantuannya semalam.