NovelToon NovelToon
Zenion : Gray In The Land Of Ruin

Zenion : Gray In The Land Of Ruin

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Sistem
Popularitas:769
Nilai: 5
Nama Author: Laabki

Walaupun lima belas tahun telah berlalu, namun nyatanya Zenion masih belum mampu melupakan malam kelam yang menghancurkan seluruh hidupnya.

​Kala itu, sebuah tragedi berdarah pecah di kerajaan tempat Zen tinggal, meninggalkan luka dan trauma yang membekas seumur hidup. Di kepalanya masih teringat jelas bagaimana sang ibu dihabisi dengan brutal di tengah kobaran api kastil yang melalap habis tempat tinggal mereka.

—————————

"Jangan sakiti mereka. Aku mohon!"

​Suara napas yang tersengal hebat, deru langkah kaki yang memburu, dan suasana mencekam menyelimuti samar-samar kenangan pahit yang melintas tak beraturan dalam gelapnya dunia mimpi.

​"Zen... Lucy... lari dari sini! Cepat lari!"

Seruan panik seorang wanita muda terdengar jelas. Tubuhnya terbelenggu dalam cengkeraman enam pria bertubuh besar, sementara suaranya terdengar serak dan penuh keputusasaan.

​"Lepaskan ibuku! Lepaskan!" teriak bocah laki-laki itu dengan suara parau.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laabki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

genting

Hening. Mereka sama-sama larut dalam pikiran masing-masing. Hanya ada suara gemeretak kayu yang patah dimakan api dan desau angin yang sesekali menyapu permukaan tunik keduanya.

Namun, tiba-tiba... KREK!

​Suara ranting patah dari balik kegelapan pohon pinus langsung memecah keheningan di tempat itu. Dalam sekejap, insting ksatria mereka aktif. Zen dan Amanda serempak bangkit, mengambil posisi bertarung.

Zen memajukan kakinya ke depan, tubuhnya segera membentuk perisai hidup di depan Amanda. Tombak kayu darurat yang sebelumnya ia gunakan untuk menombak ikan kini terangkat kuat ke depan. Di belakangnya, Amanda sudah bergerak tidak kalah cepat. Tangannya merayap ke balik sabuk tunik, jari-jarinya menggantung di dekat gagang senjata tersembunyi, siap mencabutnya kapan saja.

​"Ada musuh, Zen!" bisik Amanda rendah. Tidak ada kepanikan dalam nadanya.

Dari kegelapan hutan, muncul delapan orang bertubuh tegap dengan pakaian yang compang-camping. Mayoritas dari mereka menggenggam sebilah golok panjang yang berkarat, sementara hanya ada satu orang di barisan paling depan yang menyampirkan sebilah kapak besar bergigi dua di bahunya. Dari perbedaan senjata dan gestur angkuh itu, Zen bisa menebak bahwa pria itu adalah pemimpinnya.

​"Bandit?" mata Zen menajam.

​Pria bertubuh paling kekar di barisan depan melangkah maju. Dengan santai, ia menurunkan kapak besar itu dari pundaknya, membiarkan logam berat itu menghantam tanah berbatu dengan suara gedebuk yang cukup keras.

​Sebuah seringai miring melebar di wajah pria itu. "Lihat siapa yang kita temukan di tengah hutan malam-malam begini," ucapnya dengan nada penuh ejekan. "Hutan ini bukan tempat yang aman untuk anak-anak seperti kalian, terlebih kalian hanya berdua. Jadi, kau... wanita pirang yang di belakang sana, ikutlah dengan kami dan aku jamin kau akan hidup nyaman."

​"Yang pria bunuh saja. Yang wanita jangan rusak wajahnya," ujar salah satu anak buah pria itu sembari tertawa merendahkan. "Ayo, kemarilah wanita—"

​JLEB!

​Belum sempat pria bajingan itu menyelesaikan kalimatnya, tombak kayu di tangan Zen sudah melesat memotong kepulan asap perapian, menancap telak menembus bola mata kanan pria itu hingga ke pangkal tengkoraknya.

​Tawa menjijikkan yang baru saja menggema langsung tersedak, digantikan oleh suara retakan tulang yang mengerikan. Tubuh tegap bandit itu menegang sesaat sebelum akhirnya ambruk ke tanah, dengan ujung belakang tombak yang masih bergetar di wajahnya. Darah segar yang kental segera mengalir deras, menggenangi permukaan tanah yang dingin.

​"Pergilah jika tidak ingin berakhir seperti dia," suara Zen terdengar begitu dingin dan mengintimidasi, tanpa ada sedikit pun riak ketakutan di dalamnya.

​Kontras dengan ketenangan Zen yang mematikan, sisa bandit di tempat itu langsung membeku. Seringai lapar di wajah mereka lenyap seketika, digantikan oleh tatapan tidak percaya pada mayat rekan mereka yang meregang nyawa hanya dalam hitungan detik.

​Namun, keterkejutan itu tidak bertahan lama. Rasa solidaritas jalanan dan amarah yang tersulut membuat pimpinan bandit itu menggeram murka. Ia mengangkat kapak besarnya tinggi-tinggi ke udara.

​"Berengsek! Serang mereka! Cincang bocah-bocah sialan itu!" teriak sang pemimpin, suaranya menggelegar penuh amarah.

​Perintah itu langsung meruntuhkan akal sehat sisa kelompoknya. Menyaksikan rekan mereka tewas mengenaskan bukan lagi memicu ketakutan, melainkan amarah buta. Tujuh bandit yang tersisa, termasuk sang pemimpin langsung berlarian secara brutal ke arah Zen dan Amanda, menerjang remang malam sembari mengayunkan senjata tajam mereka tanpa aturan.

​Dua bandit bermata gelap merangsek paling depan, mengincar dada Zen secara bersamaan dengan tebasan golok yang membabi buta.

​Zen tidak mundur setapak pun. Dengan kelenturan tubuh seorang ksatria elit, ia merunduk menghindari dua tebasan tersebut. Bilah golok berkarat musuh lewat hanya beberapa sentimeter di atas helai rambutnya. Memanfaatkan kelengahan lawan, Zen melayangkan pukulan keras ke rahang salah satu bandit, sementara satu kakinya melayang ke bawah, menginjak kuat pergelangan kaki bandit yang lain.

​Dua pria itu terjungkal ke tanah secara bersamaan. Zen menyambar dua golok yang terlepas dari genggaman mereka. ​Dalam satu gerakan memutar, Zen menghujamkan kedua golok itu lurus ke bawah, menusuk telak dada dua bandit yang baru saja tersungkur di atas tanah. Teriakan menyakitkan dari kedua pria itu menggema keras, memecah kesunyian hutan pinus.

​Merasa belum puas, Zen melontarkan satu tendangan keras yang brutal ke arah kepala salah satu pria yang masih melenguh di bawahnya.

​CRACK!

​Suara retakan tulang tengkorak terdengar mengerikan saat hantaman keras itu membungkam teriakan sang bandit untuk selama-lamanya.

​Zen menarik kembali dua golok yang tertancap di dada dua bandit itu dengan kasar. Setelah mencabut bilah logam yang berlumuran darah segar tersebut, sang ksatria langsung mendongak tajam. Pandangannya menembus remang malam. Ia baru teringat pada sosok Amanda.

Zen mengedarkan pandangannya ke berbagai arah. Rahangnya seketika mengeras saat tidak menemukan sosok Amanda Amanda maupun sisa bandit yang mengepungnya tadi. Komplotan itu ternyata berhasil memisahkan dirinya dengan Amanda.

​Fokus sang ksatria langsung beralih ke arah kegelapan hutan ketika indra pendengarannya menangkap sayup-sayup teriakan beringas dari sisa komplotan bandit yang sedang memburu Amanda.

​"Amanda!"

​Zen langsung memasang langkah seribu. Ia berlari secepat mungkin membelah area hutan yang gelap gulita, menerjang semak-semak demi mengejar Amanda. Sepasang mata birunya memicing tajam, bergerak liar melacak patahan ranting dan jejak pelarian di antara celah-celah pohon pinus.

......***************************************......

Amanda semakin mempercepat larinya melewati berbagai semak berduri yang mencakar permukaan kulit kakinya. Namun, begitu menyadari jalur di depannya adalah tebing buntu, ia mendadak menghentikan langkah. Napas wanita berambut pirang itu memburu hebat. Kedua kakinya langsung memasang kuda-kuda kokoh di antara batang pohon pinus, mengepalkan kedua tangannya dengan tatapan tajam, bersiap menghadapi lima bandit yang tengah berlari beringas ke arahnya.

​"Di sini jalan buntu, Nona..." seringai si pemimpin bandit yang melangkah santai di barisan paling belakang, menatap buas pada Amanda yang terkepung. Ia lalu memutar kepalanya sejenak, memberikan kode pada salah satu anak buahnya. "Kita harus menikmatinya terlebih dahulu sebelum menjualnya pada para konglomerat itu!"

​Salah satu bandit yang memiliki perawakan kekar langsung merangsek paling depan menuju ke arah Amanda sembari mengacungkan sebilah golok panjang yang berkarat

"Kemarilah, pirang, kuyakin kau akan menikmatinya!"

​Amanda sempat menolehkan pandangannya ke berbagai sudut hutan untuk mencari celah sekecil apa pun agar bisa kabur. Namun sayang, sejauh mata memandang, yang ia lihat hanyalah rimbunnya pepohonan, dan jurang curam yang menganga tepat berada di belakang punggungnya. Amanda mengunci fokusnya kembali pada bandit pertama yang kini sudah berada di jarak jangkauannya.

​"Kemarilah, jalang sialan!"

CETASS! satu tebasan meluncur mengarah pada Amanda.

Refleks, wanita itu menunduk menghindari tebasan ujung golok berkarat si bandit kekar yang nyaris merobek wajahnya. Tangan kirinya bergerak kilat mencengkeram pergelangan tangan pria itu, lalu memutarnya kuat-kuat ke arah berlawanan hingga terdengar suara Krek! Sebuah dislokasi sendi yang parah.

"ARGH! BOCAH KURANG AJAR!" raung pria itu sangat keras.

Sebelum si bandit sempat tersungkur, tangan kanan Amanda bergerak cepat merebut golok berkarat yang terlepas dari genggaman lemah pria itu, lalu menghujamkannya lurus hingga menembus leher sang pemilik asli.

​JLEB!

​Pria kekar itu langsung tumbang dengan darah yang menyembur deras dari tenggorokannya.

​"Berengsek! Jalang itu melubangi leher Marko!" teriak bandit ramping yang bergerak paling gesit dari sisi kanan. "Maju bersamaan! Jangan beri dia ruang!"

​Tiga anak buah bandit yang tersisa langsung merangsek maju secara acak dari arah yang berbeda, mencoba mengunci ruang gerak Amanda. Sedangkan si pemimpin hanya berdiri mengawasi dari barisan belakang dengan kapak besar yang bersandar di bahunya.

​Kepala Amanda berputar cepat, memindai pergerakan mereka satu per satu sembari membetulkan posisi golok rampasan dalam genggamannya. Ia mengambil napas pendek, berusaha keras menstabilkan otot-otot kakinya yang mulai bergetar hebat karena kelelahan.

Bandit ramping itu menyerang duluan, melayangkan tebasan beruntun yang tanpa henti. Amanda menangkis hantaman-hantaman itu, lalu memiringkan tubuh secara ekstrem untuk menghindari tusukan berikutnya. Memanfaatkan celah terbuka di depan dada musuh, Amanda melayangkan tendangan keras yang tepat mengenai ulu hati si ramping.

​Bugh...!

​Dorongan kuat itu sukses membuat si bandit ramping terhuyung mundur hingga punggungnya menghantam batang pohon pinus di belakangnya.

Belum sempat Amanda menarik kembali kakinya untuk berpijak, dua bandit lain sudah menyergap bersamaan dari sisi buta. Salah satu dari mereka mengayunkan goloknya dengan tebasan horizontal yang cepat ke arah leher. Beruntung, Amanda langsung menjatuhkan tubuhnya sebelum golok itu mengenainya. Ia berguling di atas tanah berbatu demi menghindari sabetan brutal yang seketika membacok batang pohon pinus hingga kulitnya terkoyak hancur.

Gulingan itu membawa tubuh Amanda berhenti tepat di bawah kedua kaki bandit ketiga. Bandit itu ancang-ancang hendak mengayunkan kakinya untuk menendang kepala Amanda. Dengan refleks cepat, wanita itu langsung mengayunkan golok miliknya ke arah urat keting kaki pria tersebut dengan kekuatan penuh.

Sring! Crass!

"Arghhh!" Bandit ketiga itu berteriak kesakitan saat jaringan otot tumitnya terputus. Pria itu ambruk dengan kaki yang bersimbah darah segar.

Napas wanita itu kini tersengal-sengal hebat, dadanya naik turun dengan cepat. Pandangannya sempat mengabur beberapa detik akibat kelelahan ekstrem yang mendera tubuhnya. Energi ksatrianya benar-benar terkuras habis.

Saat Amanda mencoba bangkit lagi, bandit ramping yang tadi menabrak pohon rupanya sudah pulih dari rasa sakitnya. Melihat Amanda yang lengah dengan tubuh agak bergetar, pria itu bersama satu bandit pembawa golok tersisa langsung merangsek maju dari dua arah berlawanan, mengurung Amanda dari depan dan belakang.

​"Rasakan ini, jalang!" raung dua bandit itu bersamaan.

Dengan sisa-sisa tenaganya, Amanda melayangkan senjatanya untuk menangkis ayunan golok dari pria itu. Benturan keras itu seketika memicu letupan percikan api yang membelah kegelapan hutan. Logam beradu logam dengan kekuatan penuh, menghantarkan gelombang kejut yang membuat telapak tangan Amanda yang sudah lemas bergetar hebat. Saking kerasnya benturan itu, golok dalam genggamannya terlempar jauh ke dalam semak-semak.

Melihat celah itu, si bandit ramping langsung melompat ke arah Amanda. ​Tepat di saat kedua tangan Amanda kosong dan keseimbangan tubuhnya goyah.

​BREK Tangan bandit ramping itu berhasil menarik dan merobek kerah belakang tunik yang dikenakan Amanda.

Amanda tertegun. Tubuhnya sedikit bergoyang ke belakang karena tarikan tak terduga itu. Saat ia membalikkan badan, tubuhnya langsung didorong dengan kasar oleh si ramping ke arah belakang hingga terjatuh dalam posisi telentang di atas tanah hutan yang basah.

Wanita itu tergeletak tanpa selembar benang pun yang menutupi tubuhnya. Menampilkan kulitnya yang cerah berpadu dengan gelapnya tanah dan dedaunan kering.

​"Wah, lihat apa yang ada di balik kain busuk ini!" bandit ramping itu menyeringai penuh kemenangan sembari melemparkan kain tunik ke atas tanah. Matanya melebar sempurna ketika memandang tubuh telanjang Amanda yang terekspos sepenuhnya.

Napas Amanda memburu berat. Jantungnya bergejolak hebat. Gelombang lelah yang sangat ekstrem telah menguras habis seluruh tenaganya hingga ke titik akhir. Ia memandang silih berganti pada dua pria yang berhasil menjatuhkannya.

Raut wajah yang tadi dipenuhi ketegangan mendadak berubah sendu. Luapan emosi yang sedari tadi berkobar beringas di matanya kini perlahan surut, digantikan oleh tatapan kosong. Amanda menarik napas panjang, lalu memejamkan matanya sejenak.

1
archenis
Lumayan juga ini. 👍
Laabki: makasih banyak kak, semoga menghibur ya ceritanya🙏
total 1 replies
Laabki
🤩
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!