Sudah genap dua puluh tahun pangeran Syah Hang diungsikan. Kini saatnya dia harus kembali ke Kerjaan untuk mengambil hak tahtanya yang sedang diperbutkan oleh dua saudara tirinya. Yaitu Pangeran Hang Djie dan Hang Tsu anak dari selir ayahnya. Karena keserakahan dari selir Tsu En, pangeran asli pewaris tahta harus terasingkan. Tapi takdir kebaikan akan selalu mencari jalannya. Hingga sampailah di hari pangeran Syah Hang pewaris tahta asli kembali dan mendapatkan tahtanya dan memimpin Kerjaan dengan kebijaksanaan.
Tapi kedua saudara tirinya tidak mau tinggal diam. Keduanya bersekutu untuk menjatuhkan pangeran Syah Hang dari tahtanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anand Mehra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Ketua Putih
Menteri Tan Rakha memacu kudanya dengan cepat untuk menemui Ketua Putih di lembah damai. Tepat purnama ke tujuh seperti yang dijanjikan ketua Putih. Mereka harus bertemu untuk keselamatan kerajaan. Sudah semakin dekat lembah yang damai dan indah. Disana ketua Putih tinggal selama lebih dari setengah abad.
"Selamat datang menteri Tan, aku senang bisa berjumpa denganmu lagi"
Sambutan ketua Putih begitu menteri Tan memasuki perbatasan lembah damai.
"Aku pun senang bisa bertemu ketua. Panjang umur untuk ketua" menteri Tan turun dari kudanya dan memberi hormat pada ketua.
"Berdirilah"
"Mari menteri Tan" kedua laki-laki berusia setengah abad lebih itu berjalan memasuki kediaman ketua Putih.
"Salam untuk menteri dan ketua" Wai Hang memberi salam pada kedua pimpinannya.
"Wai Hang, terima kasih" menteri Tan menepuk pundak Wai Hang.
Wai Hang membungkukkan badan tanda hormat untuk ketua Putih dan menteri Tan.
"Aku mendengar Selir Tsu En semakin memegang kendali kerajaan. Dan bahkan sang Raja hanya bisa tunduk pada Selir Tsu"
Menteri Tan menghela nafas. Lalu membuang perlahan.
"Akhir-akhir ini, aku sangat khawatir dengan Baginda Raja. Nyawanya pun sudah diujung tanduk ketua"
Kesedihan tidak bisa ditutup-tutupi lagi oleh menteri Tan. Buliran air matanya pun menetes di pipi tuanya.
"Sepertinya memang sudah saatnya pangeran Syah kembali ke Kerjaan. Karena aku takut selir Tsu En akan bergerak lebih cepat dari perkiraan kita" ketua Putih duduk berhadapan dengan menteri Tan.
"Aku setuju dengan ketua"
Pelayan datang membawakan seteko teh khas lembah damai yang penuh khasiat.
"Ayo minumlah dulu" ketua Putih meneguk teh dengan gelas kecil kusus miliknya.
"Ketua sejujurnya dari dulu aku penasaran dengan gelas yang selalu ketua gunakan"
Ketua Putih malah terkekeh sambil mengusap jenggotnya yang sudah memutih.
"Gelas ini gelas penuh kenangan untuk mendiang istriku"
Suasana menjadi hening sejenak. Menteri Tan merasa tidak enak hati lantaran membuat ketua Putih mengingat mendiang istrinya.
"Maafkan aku ketua"
"Tidak apa menteri, aku sudah ikhlas. Cepat atau lambat kita semua pasti akan berpisah dengan orang-orang yang kita cinta dan sayangi"
Hembusan nafas ketua Putih terdengar berat seiring pandangan yang seolah menerawang masa lalunya.
"Eeh...baiklah ketua, aku ingin menyampaikan kabar bahwa pangeran Hang Djie dan Hang Tsu sudah mulai memprovokasi sebagian menteri. Dan mereka berdua sama-sama ingin memegang tahta kerjaan"
"Tamak dan rakus" ketua Putih terlihat sangat geram mendengar berita dari menteri Tan.
"Jadi apa yang harus kita lakukan untuk mengatasi hal ini ketua?"
Ketua Putih berdiri lalu berjalan mondar-mandir sambil berpikir untuk mencari cara untuk mengatasi keadaan kerjaan yang semakin memburuk.
"Panggil Pangeran Syah Hang kemari" perintahnya pada pelayan yang ada bersama mereka.
"Baik ketua" seorang pelayan langsung bergegas untuk memanggil pangeran Syah Hang.
"Kita sudah tidak bisa menunda lagi menteri Tan. Lebih baik sekarang saatnya pangeran Syah Hang harus kembali ke Kerajaan"
"Aku sependapat dengan ketua. Dan siap menjaga keselamatan pangeran Syah"
~~
Di Paviliun Pangeran Muda Syah Hang
Di taman sekeliling paviliun banyak sekalian tumbuhan bunga-bunga yang indah menghiasi Paviliun tempat istirahat pangeran muda. Selain itu, lukisan-lukisan cantik hasil karya pangeran Syah pun terpajang di sepanjang lorong menuju paviliun.
Pelayan Fank pun tiba di paviliun pangeran Syah Hang. Langkahnya di percepat ketika pelayan Fank melihat pangeran Syah sedang berlatih kanuragan di halaman samping paviliun.
"Permisi tuan Pangeran, hormat untuk pangeran" pelayan Fank memberikan hormat pada pangeran.
"Bangunlah Fank, aku tidak suka kau begitu. Ayo bangunlah. Ada apa kau kemari?"
Pelayan Fank pun segera berdiri, lalu menyampaikan pesan dari ketua Putih.
"Ketua Putih meminta pangeran untuk menemuinya"
"Apakah hari ini ketua Putih ingin mengirim bunga ke makam ibu ketua?" Syah Hang malah terkekeh mengira ketua Putih hanya ingin menyuruhnya ziarah ke makam istri ketua Putih.
Karena memang ketua Putih sering menyuruh pangeran Syah Hang untuk menemaninya berziarah ke makam mendiang istrinya.
"Sepertinya tidak tuan pangeran"
"Hei, panggil aja aku Syah"
Pangeran Syah Hang memang tidak terlalu suka jika dipanggil dengan panggilan pangeran. Syah Hang meskipun putra mahkota dan seorang pewaris asli tahta kerajaan, tapi memiliki sikap yang sangat sederhana.
"Ba-ba-baik Syah"
Pangeran Syah Hang pun tertawa senang. Dan malah terlihat sangat excited dengan panggilan cukup namanya.
Dan pelayanan Fank pun akhirnya ikut tertawa.
"Nah begitukan aku suka. Ayo kita temui ketua"
Keduanya pun bergegas menuju Paviliun utama kediaman ketua Putih.
~~
Di Paviliun Utama
Ketua Putih dan menteri Tan menunggu kedatangan pangeran Syah Hang. Keduanya masih saling membahas tentang hal-hal yang terjadi di kerajaan.
"Aku tidak menyangka kalau Selir Tsu En begitu Rakus"
"Dulu aku mengira dia wanita yang lembut dan bisa menggantikan Permaisuri Hyung Phatan" menteri Tan terlihat menyesali kejadian saat dia yang membawa selir Tsu masuk ke keluarga Raja.
"Penyesalan bukan jalan keluar untuk sebuah masalah menteri Tan. Jadi tidak usah terus menyalahkan apa yang telah terjadi"
"Pangeran Syah Hang tiba!!"