tiga tahun sudah pernikahan kita...Dipaksa menikah di usia muda ketika kita masih duduk di bangku SMA..
Tak ada kontak fisik. Di rumah seperti orang asing. Aku tahu Aksa memiliki ke kasih tapi apa salah ku. Hingga batas kesabaran ku hilang juga.
"Kak Aksa aku ingin gomong".
"Kalau ngomong ya ngomong aja Bintang".
"Kak mari kita berpisah".
Apa Aksa mengabulkan permintaan Bintang. Atau mempertahankan pernikahannya ???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vita no, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Insiden
Wah pagi-pagi sudah ada aja drama.”
“Iya heran deh,kok ada cewek kayak wajah tembok gitu, nggak ada malu-malunya. Malah teriak-teriak lagi nggak mau di putuskan.”
“Kalau aku jadi Selli mah aku pasti cari sekolah baru lagi, mau ditark dimana coba muka ini. Diputuskan di depan umum.”
“Cantik sih cantik, tapi nggak ada harga diri buat apa, menjatuhkan martabat wanita aja, ngemis-ngemis cinta.”
“Iya,kayak nggak ada aja laki-laki lain di dunia ini.”
“Padahal banyak loh laki-laki di dunia ini. Heran banget deh.”
Begitulah komentar para siswa siswi yang melihat kejadian itu. Dan aku hanya terdiam disana. Dan tak sengan mata kak Aksa melihat kearah ku dan setelah itu berlalu begitu saja. Aku jadi bengong kayak orang bodoh jadinya sampai ada yang menepuk pundak ku dari belakang.
“Eh Bin, ngapain bengong di tengah jalan. Apa nggak takut tertabrak cowok ganteng.”
“Uh kamu ngagetin aja Mil. Untung aku nggak jantungan.”
“Yuk lah masuk, nanti keburu pak Slamet masuk. Kamu nggak tahu kan Bin, kalau pak Slamet guru matematika itu killernya minta ampun. Kita nggak bisa nego dikit pun jika kita telat masuk sebelum dia, kita bakal nggak dibolehkan masuk di jam pelajarannya.”
Aku dan Mila masuk kelas, semua murid sudah duduk dengan tenang. Sepertinya apa yang dibilang Mila kayaknya ada benarnya juga nyatanya semua murid duduk dengan tenang sambil menunggu bapak Slamet. Guru yang di tunggu pun masuk dan kami mengikuti pelajarannya dengan serius biar apa yang diterangkan dapat kami mengerti dan pahami.
Bel istirahat berbunyi dan semua siswa berhamburan keluar kelas. Dan Mila memperkenalkan ku dengan temannya yang kemarin tidak mesuk. Temannya itu adalah sahabat dari Mila yaitu Silvi.
“Silvi kenalkan dong teman sebangku ku namanya Bintang. Semoga aja nanti kita bertiga bisa jadi sahabat. Seperti kamu dengan aku Sil.”
“Hai Bintang kenalkan aku Silvi. Semoga kita nanti jadi sahabat juga ya. Kan asik juga kalau bisa berteman rame-rame.”
“Hai juga Silvi, amin…” ucap ku sambil senyum kearahnya. “Yuk kita istirahat, tapi kayaknya kantin penuh lagi Mel. Gimana dong, apa kita beli makanan lagi trus kita duduk di taman lagi?”
“Nggak usah ke kantin, aku ada bawa makanan dari rumah kebetulan bawa lebih. Gimana jika kita makan di sini aja. Setelah itu kita duduk ke perpustakaan ya, aku mau ngadem disana. Karena di perpustakaan sejuk dan tenang lagi.”
“Ya udah yuk kita nikmati makanan dari Silvi, habis tu kita ke perpustakaan.”
“Kamu tu ya Mil, kalau soal makan aja semangat empat lima. Ayo Bin kita makan.”
Akhirnya kami memutuskan makan dalam kelas dan selesai makan kami menuju ke perpustakaan sesuai dengan rencana kami dari awal. Aku baru tahu jika ada perpustakaan yang begitu lengkap di sekolah ini. Dan aku rasa nantinya perpustakaan ini akan jadi tempat favorit ku yang akan sering aku kunjungi.
Aku menuju buku tentang biologi. Karena cita-cita ku yang mau jadi dokter. Dan tujuan ku sama dengan Mila. Sama-sama menuju buku biologi.
“Kok kalian sama-sama menuju ke rak buku ini sih. Apa kalian sudah janjian ya.”
“Ah nggak kok Sil. Mungkin aja cita-cita aku dan Mila sama kali ya!”
“Serius lue juga mau jadi dokter Bin.”
“Iya Sil. Semoga aja ada jalan untuk menuju cita-cita kami dan diberi kemudahan nantinya Sil.”
Tak aku duga di perpustakaan juga ada kak Aksa dan kawan-kawannya. Mungkin kak Aksa belajar untuk mempersiapkan diri untuk ujian kelulusannya. Dan pandangan mata kami bertemu. Aku langsung memutuskan kontak pandangan ku dari kak Aksa.
Bel pulang akhirnya berbunyi juga. Dan kami akan pulang kerumah masing-masing. Tapi kok tiba-tiba aja hari hujan. Aku jadi murung aja di dalam kelas kerena aku takur dengan kilat dan petir. Aku dari kecil memang takut dengan kilat dan petir.
“Kuy lah kita keluar lagi guys.”
“Apa nggak sebaiknya kita tunggu kilat petir dan hujannya berhenti dulu Sil ?” Aku takut kali sama KIlat dan petir Sil.”
“Emang kamu pulangnya pakai apa Bin ?”
“Aku di jemput sopir deh Sil. Kalau kamu Sil pulang pakai apa ?”
“AKu juga dijemput. Tuh mobil jemputan aku sudah datang. Apa kamu mau nebeng aja dengan aku Bin. Soalnya dibelakang mobil ku itu mobil jemputannya Mila.”
“Nggak usah deh Sil. Kalian pulang aja, aku nggak apa-apa kok. Nanti aku duduk dekat pos satpam aja sambil nunggu jemputan ku.”
“ Ok deh kalau gitu. Kami tinggal ya, sampai ketemu besok.” Jawab mereka serentak. Dan tinggallah aku sendiri berdiri di pos satpam.
Sebuah motor berhenti di depan ku. Dan itu kak Aksa yang memberikan mantel dan helm kepada ku. Aku bingung, apa coba maksudnya kasih aku tapi nggak ada ngomong apa pun. Ya aku diam aja. Sampai terdengar suara kak Aksa.
“NIh pakai, jangan bengong aja. Capek ni tangan.”
‘Iya kak, makasih kak Aksa.” Ucap ku dengan sewajarnya meski aku merasa takut dengan kilat dan petir. Tapi pertahanan ku jadi goyah pas ada kilat dan petir besar berbunyi, spontan aku memegan tangan kak Aksa. Aku nggak tahu apa kak Aksa akan marah atau nggak tapi aku mah bodoh amat wong aku takut gimana lagi. “maaf kak, aku nggak sengaja,” ucap ku lagi sambil menunduk dan memakai mantel dan helm.
Aku dan kak Aksa berjalan menuju pulang meski hari hujan deras. Ya walau pakai mantel pun, kami tetap juga basah. Dan sampai di rumah aku berlari ke kamar ku dengan tubuh ku yang menggigil dengan niat hati mau mandi dan ganti baju supaya tetap hangat. Tapi sebelum masuk kamar aku mendengar lagi kilat dan petir. Tanpa tentu arah aku berlari ke tempat kak Aksa yang baru sampai di depan kamarnya.
“Apa lagi sih Bintang main peluk-peluk aja.” Ucapnya dengan ketus seolah dia menahan amarah.
Dia tiba-tiba memeluk aku dan aku merasakan tubuhnya panas dan menggigil. Tapi aku yang nggak suka di peluk wanita tentu kesal ya meski juga kasihan sih. “Tapi kenapa rumah kayak nggak ada penghuni gini ya. Kemana mommy dan deddy juga mbok Iyem ya.” Gumam ku dalam hati.
“Sini aku temani kamu masuk kamar,setelah itu aku mau ganti baju juga ke kamar ku.”
“Iya kak Aksa, maaf Bintang merepotkan kak Aksa.”
Setelah mengantar ku ke kamar kak Aksa bergegas menuju kamarnya, mungkin dia mau mandi juga dan berganti pakaian juga.
Aku merasa nggak enak meninggalkan Bintang dengan tubuhnya yang menggigil dan panas. Setelah aku bersih-bersih dan berganti pakaian aku menuju ke kamar Bintang. Sudah lama aku mengetok pintu kamarnya tapi belum di buka juga terpaksa aku masuk aja kekamarnya yang untungnya, kamarnya itu nggak di kunci. Setelah aku masuk aku nggak melihat dia di kamar dan aku melihat pintu kamar mandi terbuka aku menuju kesana dan aku melihata Bintang berbaring di lantai kamar mandi. Sontak aja aku keget dan menggendong dia ke tempat tidur meski dengan pakaian yang basah. Entah berapa lama dia berbaring di lantai kemar mandi. Aku lihat bibirnya sedikit membiru,aku takut dia hipotermia.
Dengan gerakan hati-hati aku menutupi tubuhnya yang menggigil dengan selimut sampai batas bahunya. Dan tak ada pilihan lain, aku mencoba membuka baju nya dengan menutup mata ku. Lambat laun pakaiannya terbuka juga dan aku mencoba menggantinya dengan pakaian yang mudah aku pasangkan. Ku coba membangunkannya tapi dia tidak bangun juga, hanya suara menggigilnya yang aku dengar. Tak ada jalan lain terpaksa aku harus melakukan skin to skin buat hangatkan tubuhnya. Aku tanggalkan pakaian atas k uterus aku naik ke atas kasurnya dan ku peluk tubuhnya biar tetap hangat. Dan tanpa aku sadari aku malah tertidur pulas sambil memeluk dia.