NovelToon NovelToon
Hazelnut Di Dusun Teduh

Hazelnut Di Dusun Teduh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu / Romansa
Popularitas:938
Nilai: 5
Nama Author: Dzie Drafir

Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah seorang perempuan yang datang ke sebuah dusun untuk mengabdi, tetapi justru menemukan kembali bagian-bagian dirinya yang selama ini hilang.

Bagi Azra Sofia Yavuz, Dusun Teduh adalah tempat untuk memulai hidup yang baru.

Jauh dari hiruk-pikuk kota, jauh dari kenangan yang menyakitkan, dan jauh dari masa lalu yang selama ini berusaha ia kubur rapat-rapat.

Namun ternyata, masa lalu tidak pernah benar-benar tinggal di belakang.

Di tengah pengabdiannya sebagai dokter desa, satu per satu rahasia lama mulai terungkap. Luka keluarga yang belum sembuh, kehilangan yang tak pernah selesai, serta seseorang yang pernah menghancurkan hidupnya kembali muncul di hadapannya.

Saat semua jalan pelarian tertutup, Azra harus memilih: terus berlari dari luka yang membentuk dirinya, atau menghadapi semuanya untuk menemukan arti pulang yang sesungguhnya.

Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah tentang pengabdian, keluarga, kehilangan, dan keberanian untuk sembuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dzie Drafir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kerusakan yang terabaikan ... (part 2)

Usapan lembut di kepala dan pelukan hangat Azra dapatkan dari pria senja yang berpakaian dinas.

Azra tersenyum dan mencium tangannya, layaknya anak terhadap orang tuanya.

"Ngapain lagi kamu? Manjat-manjat lagi, cosplay spider-woman?" tanya pria itu sambil menatap Azra tajam, meski sorot matanya tak mampu menyembunyikan rasa cemas.

"Kondisi darurat, Pak Kades. Ini belum seberapa juga ..."

"Belum seberapa dibanding kamu yang hampir mati terperosok jurang karena menolong anak kecil waktu itu?" potong pria yang ternyata Pak Kepala Desa Sukamakmur.

Dokter Azra nyengir kuda. Mata hazelnutnya menyipit saat senyum lesung pipinya melebar. Lesung pipi yang selalu menjadi pesona dirinya. Pak Kades geleng-geleng kepala melihat tingkah gadis di hadapannya.

Azra berhenti tersenyum, tetiba teringat rekan kerja yang dia tinggalkan, dia menoleh dan memanggil Linda dengan lambaian tangan.

Yang dipanggil tergesa merapikan peralatan, lalu berjalan menghampiri mereka berdua.

"Ini Linda, perawat yang dikirim dari Kabupaten untuk membantu di Pustu desa ini. Oh iya, masih ada satu lagi, dokter Prasetyo. Kebetulan hari ini bertugas di sini juga." Azra segera mengenalkan Linda kepada Pak Kades.

"Nah, ini hebatnya kepala Pustu kita. Saking sibuknya dengan urusan Pustu, sampai hal sepenting ini tidak dilaporkan dulu ke kantor desa," protes Pak Kades lewat sindiran halus.

"Lho ... lho ... Bukan salah saya juga, Pak. Dua kali saya mau menemui panjenengan selalu tertunda dengan agenda padat Desa. Yaa mau gimana lagi," Azra membela diri dengan wajah cemberut.

Pak Kades tertawa kecil lalu menepuk bahu Azra pelan.

"Salam kenal, Mbak Linda. Saya Sastro, Kepala Desa Sukamakmur. Maaf ya perkenalan kita seperti ini, tidak resmi sama sekali. Salahkan saja Azra ...," Pak Kades mengulurkan tangan, dan dijabat langsung oleh Linda.

"Tidak apa-apa, Pak. Begini juga sudah bisa berkenalan. Saya maklum juga kok, mungkin budget penyambutan saya, belum memenuhi tabungan Dokter Azra."

Azra refleks menoleh ke arah Linda, matanya melotot mendengar ucapan temannya yang kelewat spontan itu. Sementara Pak Kades justru tertawa mendengar jawaban Linda.

"Bagus, sepertinya Azra punya lawan seimbang sekarang. Ayo, kalian nanti masuk mobil. Saya sambut petugas Pustu yang baru, di rumah saya saja, 'mewakili' Dokter Azra ...." ujar Pak Kades tersenyum sambil melirik jenaka pada Azra.

Pak Kades melangkah meninggalkan dua gadis Pustu yang terbengong di tempat. Ditemuinya Lukman dan staf kelurahan yang ada di lokasi kecelakaan.

Ekspresi wajah Pak Kades berubah-ubah mendengar penjelasan stafnya. Tangan nya menunjuk ke sana kemari memberikan instruksi tegas. Lalu tangannya melambai memanggil Paino dan berbicara sebentar.

Paino setengah berlari ke tempat dokter Azra dan Linda. "Maaf, Dokter. Pak Kades meminta saya membawa motor kembali ke Pustu. Sekalian mengundang dokter Prasetyo dan petugas yang lain, untuk makan siang di omah ndalem," ucap Paino menyampaikan pesan Pak Kades.

"Walah, tumben iso ngomong genah, No," ledek warga yang ada di dekat mereka.

"Lho, gini-gini aku yo nate kuliah, meski nggak sampai lulus," jawab Paino berjumawa. Azra berjalan mendekat, menyerahkan kunci motor kepada Paino sambil tersenyum. Blush! Paino terkesiap kaget, wajahnya memerah.

Tawa warga pecah melihat Paino yang salah tingkah saat Dokter Azra menyerahkan kunci motor kepadanya.

"Ya Allah. Kamu bisa imut juga ya ternyata," goda Linda menahan tawa.

Paino mendelik kesal ke arah Linda, lalu berbalik cepat meninggalkan mereka dan hampir jatuh tersungkur, karena menginjak sandalnya sendiri.

Ulah Paino selalu menjadi guyon segar buat warga. Suasana yang tegang pun bisa mencair dengan keusilannya.

"Awas ... awas ... alon-alon, jangan sampai kena badannya," teriak seorang petugas damkar kepada rekannya yang sedang berusaha memotong setir dengan bantuan alat hidrolik spreader.

Azra dan Linda bersicepat menuju ke tempat di mana sopir truk sedang berusaha dikeluarkan dari jepitan kemudi. Suasana menegangkan, setiap yang hadir di situ menahan napas dan berdoa dalam hati masing-masing. Dan ... berhasil! Setir kemudi sudah terpotong.

Azra maju ke depan dengan membawa cervical collar, petugas damkar memberi ruang kepada Azra untuk memasang penyangga leher pada korban. Selanjutnya korban ditarik keluar perlahan dengan menjaga posisi tulang belakang tetap lurus.

"Awas hoi ... ati-ati! Yang lain minggir!" teriak Lukman menghalau warga saat melihat korban sudah berhasil dikeluarkan.

Petugas dari Rumah Sakit Daerah yang sudah datang setengah jam lalu, bergegas mendekatkan brankar. Setelah korban dibaringkan di atas brankar, dokter Azra melaporkan kondisi korban dan tindakan darurat apa yang sudah dilakukan kepada dokter yang bertugas di Ambulance.

Serah terima korban sudah dilakukan. Tanpa berlama-lama, mobil ambulance itu bergerak cepat menuju Rumah Sakit Daerah. Suara sirine meraung-raung memecah keheningan siang itu.

Evakuasi truk dan tebu masih berlangsung, ketika mobil Pak Kades pergi meninggalkan lokasi. Saat ini mobil tengah bergerak menuju omah ndalem, kediaman Pak Kades.

Dua puluh menit kemudian, mobil memasuki pelataran luas nan asri. Berbelok ke kiri, mobil memasuki tempat parkir kendaraan yang teduh dan luas.

Dokter Azra dan Linda berjalan ke arah rumah besar yang beratap joglo menjulang tinggi. Melewati tanaman perdu di kanan kiri jalan masuk pendopo, hidung mereka di manjakan aroma melati yang wangi dan segar.

Di ujung pendopo, nampak Bu Kades menyambut mereka berdua dengan senyuman hangatnya yang khas.

"Alhamdulillah ... selamat datang. Mari masuk ... kene ... kene ... cah ayu," sapa Bu Kades dengan wajah sumringah.

"Assalaamu'alaikum, Bu," ucap Azra dan Linda berbarengan.

"Wa'alaikumussalaam ... Ayo duduk sini.

Akhirnya, bisa datang ke sini juga toh. Kalau nuruti jadwal nya Bapak, ya tidak selesai-selesai. Adaa saja urusannya. Gusti Allah ngaturnya begini, akhirnya bisa ketemu di sini," sambil memindahkan teh dari nampan yang dibawa abdi dalem ke atas meja, Bu Kades mengekspresikan kegembiraannya dikunjungi dua gadis cantik.

Sembari duduk lesehan di pendopo, mereka bercengkrama layaknya pertemuan ibu dan anak.

______

"Menunggu apalagi?!" suara menggelegar memenuhi ruang kantor Kepala Desa siang itu.

"Niku, Pak Kades, kata Pak Wito, perbaikan jalannya baru bisa dimulai awal bulan depan ...," jawab ketua TPK takut-takut.

"Alasane opo?" tanya Pak Kades, menghentikan langkahnya yang sedari tadi mondar-mandir.

"Kondisi cuaca yang tidak menentu, kadang hujan, kadang panas. Malah lebih banyak hujannya, sehingga waktu pengerjaannya harus dijadwalkan ulang. Begitu Pak." Pak Wito sebagai Kaur Perencanaan Desa membuka suara.

"Apakah pihak kontraktor jalan merasa keberatan dengan situasi yang Anda sebutkan barusan?" tanya Pak Kades menatap Pak Wito tajam.

Hening. Tidak ada yang bersuara.

"Mau sampai kapan perbaikan ini ditunda? Masih kurang banyak ya korbannya. Atau kurang dahsyat kecelakaannya sampai harus ada nyawa yang melayang dulu?" menghela napas berat.

"Saya sungguh tidak mengerti dengan jalan pikiran Anda semua ..." menghirup napas dalam-dalam, berusaha menenangkan amarah, Pak Kades akhirnya duduk di hadapan para stafnya.

"Jangan 'bermain' apapun di belakang saya," suara Pak Kades pelan namun penuh tekanan.

"Panjenengan semua tahu, saya tidak pernah mentolerir kerusakan. Kerusakan apapun itu. Pilihannya hanya diperbaiki atau dirubah secara keseluruhan. Saya bukan tipe yang bisa mengabaikan kerusakan." Pak Kades berdiri kembali dari duduknya.

"Paling lambat, tiga hari dari sekarang," tegas Pak Kades.

Dengan langkah tegap, Pak Kades meninggalkan ruangan.

Para staf yang hadir di ruangan itu menahan napas, terdiam dalam pikiran masing-masing. Satu per satu dari mereka kemudian pergi meninggalkan ruangan dengan langkah gontai, kembali ke tempat kerja mereka.

1
ensu77
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!