Deskripsi Novel: Janji yang Terkubur
Lira Anindita terpaksa kembali ke rumah masa kecilnya yang penuh kenangan pahit, setelah menerima kabar ayahnya terbaring sakit keras. Lima tahun lalu, ia pergi dengan hati hancur—di hari yang sama ibunya meninggal secara mendadak, Lira menemukan kenyataan bahwa seluruh kehidupan keluarganya hanyalah tumpukan kebohongan. Ia diusir, dipisahkan dari orang yang paling ia cintai, dan dipaksa hidup sendirian menanggung rasa sakit serta fitnah yang menghancurkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22: Hadirnya Orang Ketiga di Antara Kita
Setelah kejadian di toko obat itu, hati Lira semakin gelisah dan tidak tenang. Bayangan wajah pria misterius itu terus berputar di kepalanya, rasa hangat di pelukan pria itu masih terasa jelas di tubuhnya, suara perhatian yang lembut itu masih bergema di telinganya. Semakin ia berusaha melupakan, semakin ia berusaha menganggap itu hanya perasaan aneh biasa, semakin kuat rasa rindu dan rasa penasaran itu tumbuh di dalam dadanya.
Tapi di sisi lain, ada rasa ragu yang besar. Pria itu selalu datang dan pergi seenaknya. Selalu muncul saat ia butuh, lalu menghilang begitu saja tanpa jejak. Selalu menatapnya dengan tatapan yang penuh perasaan, tapi tidak pernah mau bicara panjang lebar, tidak pernah mau mengenalkan diri, tidak pernah mau menjelaskan apa pun. Lira merasa bingung, merasa digantungkan, merasa ada tembok tebal yang selalu memisahkan mereka berdua, meskipun jarak tubuh mereka kadang hanya berjarak satu jengkal saja.
Dan di tengah kebingungan, kesepian, dan rasa kosong yang selalu dirasakan Lira, datanglah seseorang yang baru masuk ke dalam hidupnya, seseorang yang berbeda jauh dengan Raga: terbuka, ramah, hangat, dan selalu ada di sisinya setiap saat, tanpa pernah menghilang.
Namanya Arga.
Seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tujuh tahun, tampan, sopan, pekerja keras, dan memiliki senyum yang sangat manis serta menenangkan. Ia adalah pemilik toko kain besar yang baru saja dibuka tidak jauh dari tempat kerja Lira. Karena pekerjaannya sebagai penjahit, Lira sering datang ke tokonya untuk membeli bahan kain, dan di situlah awal pertemuan mereka terjadi.
Arga adalah orang yang mudah bergaul, baik hati, dan sangat perhatian. Sejak pertama kali melihat Lira, ia sudah merasa tertarik pada wanita itu—pada wajahnya yang lembut, pada sifatnya yang pendiam dan sopan, pada tatapan matanya yang indah tapi selalu menyimpan rasa sedih yang samar-samar. Arga tidak tahu masa lalu Lira, tidak tahu tentang ingatan yang hilang, tidak tahu tentang pria misterius yang selalu mengawasinya dari kejauhan. Baginya, Lira hanyalah wanita muda yang cantik, lembut, dan kesepian, yang pantas mendapatkan kebahagiaan serta perhatian yang tulus.
Berbeda dengan Raga yang selalu bersembunyi, selalu diam, selalu menyimpan segalanya dalam hati, Arga selalu terbuka. Setiap kali Lira datang membeli kain, ia selalu menyambutnya dengan senyum ramah, selalu mengobrol dengan sopan, selalu menawarkan bantuan, selalu bertanya dengan perhatian yang tulus: “Bagaimana kabarmu hari ini, Nona Maya? Apakah kamu sudah makan? Apakah kamu tidak terlalu lelah bekerja?”
Perhatian kecil itu, bagi Lira yang hidup sendirian, kesepian, dan tidak punya keluarga dekat di kota itu, terasa sangat manis, sangat nyaman, dan sangat menyentuh hati. Selama ini, tidak ada orang yang begitu peduli padanya, tidak ada orang yang selalu menanyakan keadaannya, tidak ada orang yang selalu siap membantu kapan saja. Arga datang seperti cahaya matahari yang hangat, yang perlahan-lahan mengisi kekosongan besar di dalam hati Lira.
Semakin lama, hubungan mereka semakin akrab. Arga sering mengantar Lira pulang kerja, sering membawakan makanan kesukaannya, sering membantu mengangkat barang-barang berat, sering menemani Lira duduk dan mengobrol saat ia merasa sepi atau sedih. Ia selalu ada di sana, tepat di samping Lira, terang-terangan, tidak bersembunyi, tidak takut apa pun.
Dan hal itu, dilihat dan dirasakan jelas oleh Raga.
Setiap hari, dari kejauhan tempat ia bersembunyi, Raga melihat semuanya. Ia melihat Arga yang selalu berjalan bergandengan tangan jarak aman dengan Lira. Ia melihat Arga yang tersenyum lebar saat berbicara dengan istrinya. Ia melihat Arga yang dengan lembut menyingkirkan rambut yang jatuh menutupi wajah Lira. Ia melihat Lira yang dulu selalu tampak sedih dan kosong, kini perlahan mulai tersenyum kembali, mulai tertawa kecil, mulai terlihat hidup dan bahagia saat berada di dekat pemuda itu.
Setiap kali melihat pemandangan itu, rasanya hati Raga disayat ribuan pisau tajam sekaligus, sakitnya begitu perih sampai ia hampir tidak sanggup berdiri tegak. Darahnya mendidih karena cemburu, dadanya sesak karena sakit, napasnya tersendat-sendat karena rasa sakit yang tidak tertahankan.
Orang itu… orang itu yang sekarang mendapatkan tempat di hati istrinya. Orang itu yang sekarang mendapatkan kebahagiaan yang seharusnya menjadi hak milik Raga sepenuhnya. Orang itu yang sekarang bisa berjalan di samping Lira, bisa menyapa Lira dengan nama aslinya, bisa tertawa dan berbagi cerita dengan Lira, hal-hal yang selama tiga tahun ini tidak pernah bisa dilakukan oleh Raga sendiri.
Rasa cemburu, rasa takut, rasa putus asa, semuanya bercampur menjadi satu rasa sakit yang menghancurkan. Raga merasa kalah. Ia merasa kalah telak. Ia tidak punya apa-apa dibandingkan Arga. Ia miskin, berpakaian sederhana, hidup menggelandang, selalu bersembunyi, selalu penuh rahasia, selalu tampak sedih dan murung. Sedangkan Arga muda, sukses, tampan, ceria, terbuka, dan bisa memberikan kehidupan yang nyaman serta bahagia untuk Lira.
“Mungkin… mungkin dia memang lebih pantas untuknya daripada aku,” batin Raga, air matanya menetes pelan di sudut mata saat melihat Lira tertawa bahagia bersama Arga di taman kota. “Mungkin dengan dia, Lira akan lebih bahagia. Dia tidak akan ingat rasa sakit masa lalu, dia tidak akan terancam bahaya dari Lingkaran Emas, dia akan hidup tenang, aman, dan damai selamanya… Tanpa harus menanggung rasa sakit karena mengingat aku.”
Pikiran itu menghantui Raga setiap hari. Ia mulai berpikir untuk pergi. Ia mulai berpikir bahwa mungkin kehadirannya di sini justru menjadi penghalang kebahagiaan Lira. Bahwa jika ia pergi jauh, menghilang selamanya dari kehidupan Lira, Lira akan benar-benar bahagia bersama orang baru itu, melupakan segalanya, dan hidup tenang sampai tua nanti.
Tapi di sisi lain, hatinya menjerit keras menolak. Ia tidak sanggup pergi. Ia tidak sanggup melepaskan Lira untuk orang lain. Ia tidak sanggup melihat wanita yang menjadi separuh jiwanya itu menjadi milik orang lain selamanya. Ia masih mencintainya lebih dari nyawanya sendiri. Ia masih percaya bahwa cinta mereka tidak akan pernah bisa digantikan oleh siapa pun, meskipun ingatan Lira sudah hilang.
Dan pertemuan yang paling menyakitkan akhirnya terjadi, pertemuan di mana mereka bertiga berada di satu tempat yang sama, dan Raga harus melihat langsung bagaimana orang lain mengambil tempat yang seharusnya miliknya.
Suatu Sore di Tepi Danau
Sore itu, langit berwarna jingga keunguan, matahari mulai terbenam perlahan di balik bukit, memantulkan cahaya keemasan di permukaan air danau yang tenang. Tempat itu sangat indah, sangat romantis, tempat yang dulu sering dikunjungi Raga dan Lira saat masih muda, tempat di mana Raga pertama kali menyatakan cintanya kepada Lira bertahun-tahun yang lalu.
Tanpa sengaja, Arga mengajak Lira ke tempat itu untuk bersantai dan menikmati pemandangan sore yang indah. Dan tanpa Raga sadari, kakinya sendiri yang dipanggil oleh kenangan lama, membawanya kembali ke tempat itu juga, tempat di mana dulu ia merasa menjadi orang paling bahagia di dunia.
Saat Raga sampai di sana, langkahnya seketika berhenti kaku di tempat, napasnya tertahan di tenggorokan, darahnya berhenti mengalir seketika.
Di bangku kayu tua yang sama persis dengan tempat mereka duduk dulu, di bawah pohon rindang yang sama persis… duduk Lira, bersandar bahu di bahu Arga dengan santai dan nyaman. Arga memegang tangan Lira dengan lembut, wajahnya menatap wajah wanita itu dengan pandangan penuh cinta yang tulus, lalu perlahan-lahan, ia mendekatkan wajahnya, hendak mengecup kening Lira dengan lembut.
Pemandangan itu menghancurkan hati Raga sampai hancur lebur, sampai tidak berbentuk lagi. Rasanya dunia runtuh tepat di depan matanya. Rasanya ia ingin berlari menghampiri, menarik Lira keluar dari sana, berteriak keras mengatakan bahwa wanita itu adalah istrinya, wanita itu miliknya, tidak boleh disentuh oleh orang lain… tapi kakinya terasa berat bagai tertanam di tanah, mulutnya terkunci rapat, tidak bisa mengeluarkan suara apa pun. Ia hanya bisa berdiri diam di balik pohon besar, menahan rasa sakit yang luar biasa, air mata mengalir deras di wajahnya tanpa suara.
Namun tepat saat bibir Arga hampir menyentuh kulit kening Lira, tiba-tiba Lira mengerutkan keningnya, lalu perlahan mengangkat kepalanya dan mundur sedikit, menjauhkan jarak di antara mereka berdua.
Wajah Lira tampak bingung, tidak tenang, dan ada rasa tidak nyaman yang jelas terpancar dari matanya.
“Maaf… Arga… Maafkan aku,” ucap Lira pelan, suaranya lemah dan ragu.
Arga kaget, segera menarik tangannya dan menatap Lira dengan wajah bingung serta khawatir.
“Ada apa, Maya? Apa aku salah? Apa aku membuatmu tidak nyaman?”
Lira menggelengkan kepalanya pelan, tangannya memegang dada kirinya yang tiba-tiba terasa sesak dan sakit sekali, persis seperti rasa sakit yang selalu muncul setiap kali ia berada terlalu dekat dengan orang lain, atau setiap kali ia merasa ada sesuatu yang salah.
“Bukan… Bukan begitu… Kamu baik sekali padaku, Arga. Kamu sangat perhatian, sangat baik, aku sangat berterima kasih padamu. Tapi… tapi setiap kali kamu mendekat terlalu dekat, setiap kali kamu bersikap seperti itu… hatiku terasa sakit sekali. Rasanya ada sesuatu yang menolak. Rasanya ada sesuatu yang hilang. Rasanya… rasanya ada seseorang lain yang sudah ada di sini, di dalam hatiku, sejak lama sekali, meskipun aku tidak tahu siapa orang itu.”
Kalimat itu terdengar jelas sampai ke telinga Raga yang bersembunyi di balik pohon.
Mata Raga seketika melebar kaget, air matanya seketika berhenti mengalir, rasa sakit di dadanya perlahan berubah menjadi rasa harapan yang kecil namun hangat.
Lira melanjutkan bicaranya dengan suara lembut namun tegas, matanya menatap jauh ke permukaan danau yang berkilauan.
“Aku suka kamu, Arga. Aku senang berteman denganmu. Aku merasa aman dan nyaman saat bersamamu. Tapi rasa itu hanya rasa hormat, rasa suka sebagai teman, tidak lebih dari itu. Hatiku sudah penuh. Hatiku sudah milik orang lain, orang yang aku bahkan tidak ingat wajahnya, tidak ingat namanya, tapi aku tahu dia ada. Aku merasa tidak adil padamu jika aku terus bersamamu, padahal hatiku selalu mencari orang lain yang tidak aku kenal itu. Maafkan aku…”
Arga terdiam mendengar itu, wajahnya tampak kecewa dan sedih, tapi ia adalah orang yang baik dan mengerti. Ia tidak marah, tidak memaksa, hanya menghela napas panjang dengan lembut.
“Aku mengerti, Maya. Aku tidak akan memaksamu apa pun. Aku hanya sedih karena ternyata hatimu sudah terisi oleh orang yang tidak kau ingat itu. Tapi tidak apa-apa… Aku akan tetap di sini, sebagai temanmu, sebagai orang yang akan selalu menjagamu, sampai kapan pun kamu butuh. Dan kalau suatu hari nanti kamu menemukan orang itu, dan dia ternyata orang yang baik, aku akan ikut bahagia untukmu.”
Arga tersenyum pahit, lalu mengangguk pelan, bangkit berdiri, dan berpamitan pergi meninggalkan Lira sendirian di sana.
Setelah Arga pergi, Lira tetap duduk diam sendirian di bangku itu, air mata perlahan keluar dari matanya, jatuh membasahi pipinya yang lembut. Ia merasa sedih karena menyakiti hati orang yang baik, tapi di sisi lain, hatinya terasa lega, terasa benar, terasa bahwa ia sudah mengambil keputusan yang tepat, keputusan yang sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh hatinya yang terdalam.
Dan saat itulah, di tengah keheningan sore itu, saat hanya ada Lira sendirian di tepi danau, Raga akhirnya memberanikan diri keluar dari persembunyiannya. Ia berjalan perlahan, langkahnya gemetar, jantungnya berdebar kencang, sampai akhirnya ia berdiri tepat di belakang Lira, berjarak sekitar lima langkah saja.
Langkah kaki halus itu terdengar jelas, membuat Lira segera menoleh ke belakang.
Dan mata mereka bertemu lagi.
Wajah Raga masih tampak pucat dan mata bengkak habis menangis, tapi tatapannya kini tidak lagi penuh rasa sakit dan keputusasaan seperti biasanya, melainkan penuh rasa harapan, penuh rasa syukur, penuh rasa bahagia yang samar-samar.
“Kamu… Ada di sini lagi,” bisik Lira pelan, suaranya lembut dan tidak lagi penuh rasa bingung atau takut seperti dulu.
Raga mengangguk pelan, matanya tidak lepas dari wajah wanita itu.
“Ya. Aku selalu ada di sini. Di mana pun kamu berada, aku selalu ada di dekatmu. Karena… seperti yang baru saja kamu katakan… Hatimu milik orang lain, yang tidak kamu ingat. Dan orang itu… orang itu adalah aku, Lira. Aku adalah orang yang selama ini kamu cari, orang yang selama ini hatimu rindukan, meskipun matamu tidak mengenaliku.”
Suara Raga terdengar jelas, tegas, penuh rasa yakin yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.
Lira menatapnya lama, matanya berkaca-kaca, dadanya terasa hangat dan penuh sekali. Ia tidak menyangkal, tidak mengelak, tidak bertanya “siapa kamu” lagi. Ia hanya menatapnya lama, lalu perlahan menganggukkan kepalanya pelan, air mata bahagia dan rasa lega mengalir semakin deras di pipinya.
“Aku tahu… Hatiku sudah tahu sejak lama sekali… Hanya saja aku takut percaya… Aku takut kalau aku salah… Aku takut kalau semua ini hanya khayalanku saja…”
“Bukan khayalan, sayang. Semua ini nyata. Kita nyata. Cinta kita nyata,” jawab Raga lembut, perlahan melangkah maju, lalu duduk di sisi lain bangku kayu itu, berjarak cukup dekat dengan Lira, tapi tidak menyentuhnya, menghargai batas yang ada. “Dan meskipun kamu belum ingat apa pun, meskipun masa lalu kita masih tertutup kabut tebal, meskipun masih ada bahaya yang mengintai… Aku berjanji, aku tidak akan lagi bersembunyi. Aku tidak lagi akan membiarkan orang lain mengisi tempatku di hatimu. Aku akan perlahan-lahan membuatmu mengenaliku lagi, perlahan-lahan mengembalikan ingatanmu, perlahan-lahan membuatmu jatuh cinta padaku lagi, sama seperti dulu.”
Lira tersenyum kecil di tengah air matanya, senyum yang paling tulus dan paling indah yang pernah Raga lihat selama tiga tahun ini.
“Aku percaya padamu… Aku siap. Aku siap mengingat semuanya, meskipun itu menyakitkan. Aku siap bersamamu, apa pun yang terjadi.”
Namun kedamaian itu belum bertahan lama. Di kejauhan, di balik semak belukar yang rimbun, ada sepasang mata tajam yang mengawasi mereka berdua dengan pandangan dingin dan penuh niat jahat. Orang-orang dari Lingkaran Emas ternyata sudah melacak jejak Lira sampai ke kota ini. Mereka sudah tahu tempat tinggalnya, sudah tahu ia hidup dengan identitas baru, dan sekarang mereka juga melihat bahwa Raga, orang yang paling mereka benci, juga ada di sana, dekat dengan Lira.
Bahaya itu belum hilang. Sebaliknya, bahaya itu semakin dekat, semakin nyata, dan siap menyerang kapan saja. Konflik baru, ancaman baru, dan pertempuran besar untuk melindungi cinta mereka baru saja akan dimulai.
Raga baru saja mendapatkan sedikit cahaya harapan, tapi ia tahu betul: perjuangan yang sesungguhnya masih jauh lebih berat dari apa pun yang pernah ia lalui selama ini.
Bersambung ke Episode 23