Hari yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Humairah berubah menjadi mimpi buruk saat Abraham, calon suaminya, melarikan diri tepat sebelum akad nikah dimulai karena ketidaksiapan mental. Demi menutupi aib besar keluarga, ayah Abraham—seorang Kyai terpandang—mengambil keputusan nekat untuk menikahkan putranya, Ustadz Fathan Kareem,yang sekaligus kakak Abraham untuk menggantikan posisi mempelai pria.
Fathan akhirnya mengucap ijab kabul. Namun, di balik wajah tenangnya, Fathan menyimpan luka masa lalu yang belum sembuh akibat pengkhianatan mantan kekasihnya. Ia membangun tembok tinggi di hatinya dan menegaskan sebuah janji dingin kepada Humairah di malam pertama mereka:
"Kita menikah hanya di atas kertas. Jangan harapkan hati, apalagi cinta."
Kini, Humairah harus berjuang dalam pernikahan tanpa kasih sayang, sementara Fathan terus berperang dengan traumanya. Akankah ketulusan Humairah mampu meruntuhkan dinding ustadz.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Matahari sudah bersinar terang dan kemewahan di kediaman Humairah sudah memancar dari setiap sudut ruangan.
Janur kuning melengkung indah di gerbang depan, sementara aroma melati yang segar menyeruak, memenuhi atmosfer rumah yang hari ini seharusnya menjadi saksi bisu ikatan suci.
Ribuan kelopak mawar telah disebar, dan pelaminan dekorasi klasik modern itu tampak begitu megah, menanti dua jiwa untuk bersanding.
Di dalam kamar, Humairah duduk di depan cermin besar.
Balutan kebaya putih payet yang elegan membungkus tubuhnya, membuatnya tampak sangat anggun.
Ia menyentuh bingkai foto kecil di atas meja rias, menatap wajah laki-laki dengan senyum jenaka di sana.
"Sebentar lagi, Mas," bisiknya lirih.
Humairah tersenyum tipis saat menatap foto dirinya dan Abraham, calon suaminya.
Ada debar yang tak menentu, campuran antara bahagia dan haru yang membuncah di dadanya.
Ceklek!
Suara pintu terbuka memecah lamunan Humairah.
Ia menoleh melalui pantulan cermin, melihat Umi Mamik, ibunya, yang masuk ke dalam kamar. Namun, ada yang aneh.
Tak ada binar bahagia yang biasanya terpancar dari wajah sang ibu.
"Umi, ada apa? Apa Abraham sudah datang?" tanya Humairah antusias.
Ia bersiap untuk berdiri, ingin memastikan apakah rombongan mempelai pria sudah memasuki halaman.
Namun, langkahnya terhenti. Umi Mamik tidak menjawab.
Beliau justru menutup mulut dengan telapak tangan, dan sedetik kemudian, ia meneteskan air matanya.
Tangis itu pecah tanpa suara, membuat jantung Humairah berdegup kencang karena firasat buruk.
Tak lama, Abi Sasongko ikut masuk ke dalam. Wajah pria berwibawa itu tampak tegang, garis-garis wajahnya mengeras, menyembunyikan amarah sekaligus kesedihan yang mendalam.
"Abi, Umi kenapa? Umi sakit?" Tanya Humairah, suaranya mulai bergetar.
Ia mendekat, memegang lengan ibunya yang gemetar hebat.
Umi Mamik tak sanggup bersuara. Dengan tangan yang lemas, beliau menyodorkan secarik kertas yang tampak kumal, seolah habis diremas.
"Surat pemberian santri dari Abraham," ucap Umi di sela isaknya.
"Surat apa ini, Umi?" Humairah menerima kertas itu dengan jari-jari yang mendadak dingin.
Diliriknya sang Abi, namun pria itu hanya membuang muka ke arah jendela, tak sanggup menatap putri semata wayangnya yang tampil begitu cantik di hari yang seharusnya paling bahagia ini.
Dengan napas yang mulai sesak, Humairah membuka surat pemberian calon suaminya.
Tulisan tangan yang sangat ia kenali itu tergores di sana, namun isinya terasa seperti sembilu yang menyayat jantungnya tanpa ampun:
Maafkan aku, Humairah. Aku belum siap. Menikah ternyata adalah beban yang terlalu besar untukku saat ini. Aku tidak bisa menjadi suami yang baik untukmu. Jangan cari aku, aku pergi.
Kertas itu terlepas dari genggaman Humairah, melayang jatuh ke lantai di atas tumpukan kain kebayanya.
Dunia seolah berhenti berputar. Suara riuh rendah tamu di luar sana mendadak senyap, berganti dengan suara denging yang menyakitkan di telinganya.
"Dia, pergi, Bi?" tanya Humairah dengan suara nyaris hilang.
Abi Sasongko berbalik dengan wajah penuh amarah.
"Penghulu sudah menunggu, tamu-tamu terhormat sudah duduk. Keluarga Kyai Kareem dipermalukan, dan kita diinjak-injak, Humairah."
Humairah jatuh terduduk di tepi ranjang. Mahkota kecil yang menghias hijabnya terasa sangat berat, seberat beban aib yang kini menghantam pundaknya.
Di hari puncaknya, ia bukan menjadi ratu, melainkan korban dari sebuah ketidaksiapan yang pengecut.
Suasana kamar yang tadinya sesak oleh tangis, mendadak senyap saat pintu kembali terbuka.
Kyai Umar, pria sepuh dengan kharisma yang meneduhkan namun saat ini wajahnya tampak kuyu karena malu, melangkah masuk.
Di belakangnya, berdiri tegak putra sulungnya, Ustadz Fathan Kareem.
Fathan menutup pintu kamar dengan rapat, seolah ingin mengunci aib ini agar tidak merembes keluar dan menjadi konsumsi ribuan tamu yang mulai bertanya-tanya di luar sana.
Wajah Fathan datar, sedingin es, namun matanya memancarkan ketegasan yang tak terbaca.
Kyai Umar melangkah mendekati Abi Sasongko. Dengan suara bergetar, beliau menunduk dalam.
"Sahabatku, Sasongko. Tidak ada kata yang bisa mewakili betapa hancurnya hatiku. Aku memohon maaf sedalam-dalamnya atas perbuatan biadab putraku, Abraham. Dia telah mengkhianati janji dan merusak kehormatan keluarga kita."
Abi Sasongko memalingkan wajah, tangannya mengepal di atas meja.
"Maaf tidak bisa menghapus aib ini, Kyai. Bagaimana saya harus menjelaskan pada tamu-tamu itu? Bagaimana saya harus menyelamatkan muka putri saya yang sudah berdandan suci seperti ini?"
Ruangan itu kembali mencekam. Fathan hanya berdiri diam di dekat pintu, pandangannya lurus ke depan, tak sedikit pun melirik ke arah Humairah yang masih terisak di tepi ranjang.
Kyai Umar kemudian berbalik. Beliau melangkah perlahan, lalu berlutut di depan Humairah, sebuah tindakan yang membuat semua orang di kamar itu terperanjat.
"Kyai, jangan..." suara Humairah tercekat.
Kyai Umar menatap Humairah dengan mata yang berkaca-kaca.
"Humairah, putriku yang salehah. Abi tahu ini bukan hal yang mudah. Tapi marwah pesantren dan martabat keluargamu ada di ujung tanduk. Untuk menebus dosa Abraham, dan sebagai bentuk permintaan maafku yang paling tulus..."
Kyai Umar menjeda kalimatnya, lalu melirik ke arah Fathan yang masih mematung.
"Bagaimana kalau kamu menikah dengan putraku, Fathan? Biarkan Fathan yang menggantikan posisi adiknya di atas kursi akad itu sekarang juga."
Humairah tersentak. Ia mendongak, matanya yang sembap bertemu dengan tatapan Fathan.
Pria itu kini menatapnya, namun bukan tatapan cinta atau iba yang ia temukan.
Di mata Ustadz Fathan, Humairah hanya melihat sebuah kewajiban yang berat dan luka lama yang mendadak terbuka kembali.
Dunia seolah kembali runtuh bagi Humairah. Haruskah ia menerima pernikahan yang lahir dari sebuah "tambal butuh" seperti ini?
Suasana di dalam kamar yang pengap oleh kesedihan itu mendadak membeku.
Fathan, yang sejak tadi berdiri diam seperti bayangan di dekat pintu, tersentak hebat. Rahangnya mengeras, dan tatapan matanya yang tajam langsung terhunus pada sang ayah.
Ia tidak menyangka bahwa solusi yang ditawarkan Kyai Umar adalah dirinya—seorang pria yang telah bersumpah untuk tidak lagi melibatkan hati dalam urusan wanita.
Abi Sasongko, meski hatinya hancur, tetap mencoba bijaksana. Ia berjongkok di samping putri semata sayangnya.
"Humairah, tatap Abi, Nak," ucapnya lembut namun bergetar.
"Abi tidak akan memaksamu. Jika kamu merasa ini terlalu berat, kita bisa keluar sekarang dan menghadapi semua cemoohan itu bersama. Kehormatan kita memang terluka, tapi Abi lebih tidak tega jika harus mengorbankan masa depanmu dalam pernikahan yang tidak kamu inginkan."
Humairah menatap wajah Abinya yang mulai menua, lalu beralih pada Umi Mamik yang masih terisak.
Di luar sana, suara rebana dan selawat mulai terdengar, menandakan tamu-tamu sudah tidak sabar menantikan prosesi dimulai.
Jika ia menolak, ia tahu karir ayahnya dan nama baik pesantren Kyai Umar akan hancur dalam sekejap.
Dengan napas yang diatur sedemikian rupa agar tidak pecah menjadi tangis, Humairah menghapus air matanya dengan punggung tangan.
"Dunia mungkin akan menertawakan saya hari ini jika saya diam saja," bisik Humairah pelan namun tegas.
Ia mendongak menatap Kyai Umar dengan penuh rasa hormat.
"Baiklah Kyai, saya menerima tawaran ini. Saya bersedia menikah dengan Ustadz Fathan demi menjaga marwah kedua keluarga kita."
Fathan memejamkan mata sesaat. Tangannya mengepal kuat di balik jubahnya.
Sebuah beban besar baru saja dijatuhkan ke pundaknya, dan ia tidak punya ruang untuk membantah titah sang ayah.
Namun, sebelum Kyai Umar sempat mengucap syukur, pintu kamar didorong kasar dari luar.
Nyai Latifah, istri Kyai Umar, masuk dengan wajah yang memerah karena amarah yang tertahan.
"Tidak! Aku tidak setuju!" suara Nyai Latifah menggelegar di ruangan yang sempit itu.
Ia melangkah cepat menuju suaminya, lalu menarik lengan Kyai Umar agar menjauh dari Humairah.
"Abah, batalkan niat konyol ini sekarang juga! Mengapa harus Fathan? Mengapa putra sulungku yang harus membasuh kotoran yang ditinggalkan adiknya?"
"Umi, jaga bicaramu. Ini demi kebaikan bersama," tegur Kyai Umar dengan nada rendah namun penuh peringatan.
Nyai Latifah beralih menatap Humairah dengan pandangan merendahkan.
"Kebaikan bersama atau keberuntungan untuk dia? Sejak awal aku sudah tidak sreg dengan perjodohan Abraham. Dan sekarang, setelah Abraham pergi, dia ingin menjerat kakaknya? Aku tahu tipu muslihat perempuan seperti ini. Dia pasti yang menggoda putra-putraku agar mereka bertekuk lutut!"
"Umi!" bentak Kyai Umar, kali ini lebih keras.
"Memang benar, kan? Mungkin saja Abraham kabur karena dia sadar perempuan ini tidak sebaik kelihatannya! Sekarang dia mau memanfaatkan keadaan agar bisa menjadi istri seorang Ustadz besar seperti Fathan. Saya tidak akan sudi memiliki menantu yang hanya tahu cara memikat laki-laki dengan air mata palsu!"
Tuduhan keji itu menghujam jantung Humairah lebih sakit daripada pengkhianatan Abraham.
Ia tertunduk, membiarkan cadar air mata kembali membasahi pipinya.
Di sudut ruangan, Fathan hanya memperhatikan perdebatan itu dengan tatapan dingin, tanpa niat untuk membela siapa pun.
Baginya, drama ini hanyalah awal dari penjara baru yang harus ia jalani.
gak usah toleh lagi laki modelan begitu...
kau berhak bahagia....
dari pada dari pada..
lanjut thor🙏
apalagi anaknya sifatnya sama tidak jauh dari Mak lampir
ayo humaira kabur aja jangan tahan dipenjara sok suci ini
melawan si..
bantah sesekali Maklampir....
dan tinggalin Ajja si laki yg model begituan... GK adahatinya sama sekali...
sempah akubacanya sambil nangis 😭😭😭