NovelToon NovelToon
DOPAMIN

DOPAMIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Key Kastara

DIJUAL SEBAGAI PELUNAS HUTANG.
SEKARANG DIA YANG MENENTUKAN HARGA NYAWA MEREKA.

Lima tahun lalu Zara diinjak harga dirinya oleh keluarga sendiri.
Hari ini, dia kembali sebagai Zevana Ardhani.
Bukan korban lagi. Tapi sang mafia wanita yang ditakuti di dunia korporat.

Misinya satu: BALAS DENDAM.

Sampai Arka muncul.
Putra dari guru Mafianya sendiri.
Polos. Tulus. Satu-satunya yang melihat Zevana sebagai manusia, bukan monster.

Antara nyawa, racun, dan cinta.
Zevana harus memilih: Menenggelamkan mereka semua dalam kebencian,
atau hancur karena satu-satunya pria yang bisa meluluhkan hatinya?

[MAFIA WANITA] [BALAS DENDAM] [DARK ROMANCE]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Key Kastara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ambisi Pembalasan Dendam

"Hehe, lama ya? Maaf soalnya pelayannya banyak tanya," ungkap Arka saat kembali duduk.

"Kamu tau, saya tidak percaya dengan hal-hal seperti, cinta, ketertarikan, atau rasa suka semacamnya. Bagi saya, hal-hal seperti itu, hanya menghambat kehidupan saya," ucap Zevana tiba-tiba.

Kalimat itu meluncur begitu saja, tajam dan lugas, seolah ia sedang membacakan aturan hidup yang sudah tertanam kuat di kepalanya bertahun-tahun lamanya. Ia harus mengingatkan dirinya sendiri, dan juga Arka, agar tak berharap lebih. Perasaan hanya membawa luka. Cinta hanya membawa kehancuran. Itu pelajaran paling mahal yang pernah ia bayar.

"Hm?" Arka menatap Zevana masih dengan mata berbinar.

Hati Arka sedikit mencelos mendengarnya. Ia menangkap ketegasan di sana, namun juga menangkap ada kepahitan yang terselip di balik kalimat dingin getir itu.

"Pelayan perempuan itu tertarik sama kamu," ungkap Zevana.

"Bagaimana Ibu bisa tahu?" tanya Arka sambil melambaikan tangannya.

"Bagaimana kamu bisa tidak tahu?" tanya balik Zevana sembari mengangkat alisnya.

"Karena tatapannya sama," tambahnya dalam hati. Sama seperti tatapan orang-orang yang dulu pernah mendekat, menyakiti, lalu pergi. Tatapan yang penuh harap, namun kosong maknanya.

"Memangnya, apa ciri-ciri seseorang sedang jatuh cinta?" tanya Arka sembari melipat kedua tangannya.

Pertanyaan itu bukan sekadar basa-basi. Arka ingin tahu, apakah tatapannya sendiri juga sudah terlihat jelas oleh wanita di hadapannya ini?

"Entahlah, hanya saja ... Sorot matanya berbeda, mungkin?" ucap Zevana.

"Sorot mata yang penuh ekspektasi, yang akhirnya akan berubah menjadi kecewa saat kenyataan sudah membangunkannya," imbuhnya dalam batin.

"Kalo begitu, Ibu sepertinya salah," jawab Arka sembari memalingkan wajahnya.

Ucapannya pelan, namun tegas. Di matanya, hanya ada satu orang yang ia lihat berbeda.

"Hah ... kita ke sini untuk membahas hal lain kan?" Zevana mulai membuka laptop lalu menarik diri mendekat ke arah meja.

Ia sengaja mengubah topik pembicaraan. Rasa takut mulai merayap. Semakin lama ia berada di dekat Arka, semakin tipis dinding pertahanannya, dan itu berbahaya.

"Ah, iya!" seru Arka antusias.

"Saya sudah membulatkan tekad untuk setia dan melakukan apapun yang Bu Zevana perintahkan. Jadi ... Saya sudah membuat rencana untuk memudahkan Ibu mengelola anak-anak perusahaan yang akan kita garap ke depannya," jelas Arka sembari menggulir tabletnya.

"Memang sebelumnya kamu ga berniat setia?" tanya Zevana dengan bibir kerucutnya.

Sedikit canda yang jarang sekali ia keluarkan. Di sini, dengan pembahasan kerja, ia merasa lebih aman.

"Ti-tidak, maksudnya. Saya awalnya ragu karena sepertinya sistem kerja Bu Zevana agak ... sedikit, kejam...."

Zevana mendelik lalu mendesah pelan berlagak kecewa.

"Kejam?" batinnya tertawa pahit.

"Kalau kamu tahu apa yang sudah kualami, kamu tak akan menyebutnya kejam. Kamu akan menyebutnya bertahan hidup."

"Ini nama-nama perusahaan yang direkturnya diduga melakukan penggelapan uang. Saya sudah mencatat nama-namanya," ucap Arka sembari menyodorkan tabletnya.

Deg!

Jantung Zevana seolah berhenti berdetak sesaat, lalu berpacu kencang tak terkendali.

Zevana melihat sebuah nama yang tak asing baginya. Seringai kepuasan pun terukir di bibirnya.

Ada rasa panas yang menjalar deras ke seluruh pembuluh darahnya. Bukan rasa marah, bukan rasa sedih. Tapi rasa yang manis, memabukkan, dan mendebarkan. Semburan dopamin yang dahsyat—hasil campuran antara dendam yang terpendam lama, ambisi yang membara, dan peluang yang akhirnya datang mengetuk pintu.

"Reno Herdiansyah," batin Zevana semringah.

Nama itu. Nama yang menjadi awal dari segala mimpi buruknya. Nama yang merenggut harga dirinya, nama yang membuatnya percaya bahwa manusia itu jahat tanpa alasan. Kini, nama itu ada di hadapannya, tertera jelas dalam daftar kesalahan.

"Ah, dia ... sepertinya direktur baru anak perusahaan ini. Banyak dana mengalir tanpa informasi jelas disekitarnya. Tapi latar belakangnya bagus, jadi sulit melacaknya. Bagaimana Bu?" terang Arka dengan wajah serius.

"Atur jadwal temu dengan orang ini," titah Zevana dengan senyum tersirat.

Suaranya rendah, dingin, namun penuh penekanan. Di balik senyum itu, ada tekad baja yang terbentuk. Kali ini posisinya sudah berubah. Dia bukan lagi korban yang tak berdaya.

"Kita punya wewenang dalam membentuk citra setiap perusahaan. Jangan sampai kita membantu sampah yang terlihat bersih dari luar," imbuh Zevana, dibalas anggukan mantap dari Arka.

Bersamaan dengan riak euforia yang menjalar diseluruh tubuhnya, darahnya berdesir mengingat setiap momen traumatis yang pernah menimpanya akibat perlakuan Reno.

Luka lama itu kini berubah menjadi senjata. Ingatan sakit itu kini menjadi bahan bakar. Dopamin ini bukan karena cinta. Dopamin ini adalah kepuasan saat akhirnya ia punya kesempatan untuk berdiri sejajar, menatap mata musuhnya, dan membalas segala rasa sakit itu dengan cara yang paling elegan–menjatuhkannya dari atas, tepat di tempat di mana Reno pernah menjatuhkannya dulu.

"Ah iya Bu, kita ada undangan acara Malam anugrah dan penghargaan minggu depan, sepertinya itu bisa jadi kesempatan untuk pertemuan," usul Arka dijawab anggukan penuh semangat oleh Zevana.

Sementara Zevana menerawang dalam diam, Arka menatapnya penuh kekaguman tanpa tahu apa isi pikiran di dalam kepala wanita cantik di hadapannya itu.

1
jamescortis
semangat thor 🔥🔥
Key Kastara: Trimakasih kakak 🔥✨
total 1 replies
Musea
wihh semangat yaa dari sesama author
Key Kastara: Trimakasih kakak siap 🤗✨
total 1 replies
Wawan
Salam kenal buat Zara ✍️
Key Kastara: Salam kenal kakak 🤗✨
total 1 replies
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Aku mau kopi tubruk sama 76🚬🗿👍🏻
Key Kastara: Otewe, dimana 🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!