Balas dendam adalah hidangan paling nikmat, tapi juga yang paling memabukkan.
Lima tahun lalu, Zara dijual, dihina, dan diinjak harga dirinya oleh kerabat sendiri. Diselamatkan sekaligus ditempa oleh Garda, ia berubah menjadi Zevana Ardhani—wanita cerdas, berkuasa, dingin, dan mematikan yang hidupnya hanya punya satu tujuan: Balas Dendam.
Namun segalanya goyah saat Arka hadir. Pemuda tulus dan polos—anak musuh terbesarnya—mencintainya tanpa syarat, perlahan mencairkan hati beku yang ia bangun bertahun-tahun.
Di tengah pusaran kebencian yang memberi kepuasan sesaat layaknya efek dopamin… Zevana dihadapkan pada pilihan terberat yaitu antara terus memburu kehancuran, atau berani berhenti demi cinta yang menawarkan kesembuhan sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Key Kastara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ambisi Pembalasan Dendam
"Hehe, lama ya? Maaf soalnya pelayannya banyak tanya," ungkap Arka saat kembali duduk.
"Kamu tau, saya tidak percaya dengan hal-hal seperti, cinta, ketertarikan, atau rasa suka semacamnya. Bagi saya, hal-hal seperti itu, hanya menghambat kehidupan saya," ucap Zevana tiba-tiba.
Kalimat itu meluncur begitu saja, tajam dan lugas, seolah ia sedang membacakan aturan hidup yang sudah tertanam kuat di kepalanya bertahun-tahun lamanya. Ia harus mengingatkan dirinya sendiri, dan juga Arka, agar tak berharap lebih. Perasaan hanya membawa luka. Cinta hanya membawa kehancuran. Itu pelajaran paling mahal yang pernah ia bayar.
"Hm?" Arka menatap Zevana masih dengan mata berbinar.
Hati Arka sedikit mencelos mendengarnya. Ia menangkap ketegasan di sana, namun juga menangkap ada kepahitan yang terselip di balik kalimat dingin getir itu.
"Pelayan perempuan itu tertarik sama kamu," ungkap Zevana.
"Bagaimana Ibu bisa tahu?" tanya Arka sambil melambaikan tangannya.
"Bagaimana kamu bisa tidak tahu?" tanya balik Zevana sembari mengangkat alisnya.
"Karena tatapannya sama," tambahnya dalam hati. Sama seperti tatapan orang-orang yang dulu pernah mendekat, menyakiti, lalu pergi. Tatapan yang penuh harap, namun kosong maknanya.
"Memangnya, apa ciri-ciri seseorang sedang jatuh cinta?" tanya Arka sembari melipat kedua tangannya.
Pertanyaan itu bukan sekadar basa-basi. Arka ingin tahu, apakah tatapannya sendiri juga sudah terlihat jelas oleh wanita di hadapannya ini?
"Entahlah, hanya saja ... Sorot matanya berbeda, mungkin?" ucap Zevana.
"Sorot mata yang penuh ekspektasi, yang akhirnya akan berubah menjadi kecewa saat kenyataan sudah membangunkannya," imbuhnya dalam batin.
"Kalo begitu, Ibu sepertinya salah," jawab Arka sembari memalingkan wajahnya.
Ucapannya pelan, namun tegas. Di matanya, hanya ada satu orang yang ia lihat berbeda.
"Hah ... kita ke sini untuk membahas hal lain kan?" Zevana mulai membuka laptop lalu menarik diri mendekat ke arah meja.
Ia sengaja mengubah topik pembicaraan. Rasa takut mulai merayap. Semakin lama ia berada di dekat Arka, semakin tipis dinding pertahanannya, dan itu berbahaya.
"Ah, iya!" seru Arka antusias.
"Saya sudah membulatkan tekad untuk setia dan melakukan apapun yang Bu Zevana perintahkan. Jadi ... Saya sudah membuat rencana untuk memudahkan Ibu mengelola anak-anak perusahaan yang akan kita garap ke depannya," jelas Arka sembari menggulir tabletnya.
"Memang sebelumnya kamu ga berniat setia?" tanya Zevana dengan bibir kerucutnya.
Sedikit canda yang jarang sekali ia keluarkan. Di sini, dengan pembahasan kerja, ia merasa lebih aman.
"Ti-tidak, maksudnya. Saya awalnya ragu karena sepertinya sistem kerja Bu Zevana agak ... sedikit, kejam...."
Zevana mendelik lalu mendesah pelan berlagak kecewa.
"Kejam?" batinnya tertawa pahit.
"Kalau kamu tahu apa yang sudah kualami, kamu tak akan menyebutnya kejam. Kamu akan menyebutnya bertahan hidup."
"Ini nama-nama perusahaan yang direkturnya diduga melakukan penggelapan uang. Saya sudah mencatat nama-namanya," ucap Arka sembari menyodorkan tabletnya.
Deg!
Jantung Zevana seolah berhenti berdetak sesaat, lalu berpacu kencang tak terkendali.
Zevana melihat sebuah nama yang tak asing baginya. Seringai kepuasan pun terukir di bibirnya.
Ada rasa panas yang menjalar deras ke seluruh pembuluh darahnya. Bukan rasa marah, bukan rasa sedih. Tapi rasa yang manis, memabukkan, dan mendebarkan. Semburan dopamin yang dahsyat—hasil campuran antara dendam yang terpendam lama, ambisi yang membara, dan peluang yang akhirnya datang mengetuk pintu.
"Reno Herdiansyah," batin Zevana semringah.
Nama itu. Nama yang menjadi awal dari segala mimpi buruknya. Nama yang merenggut harga dirinya, nama yang membuatnya percaya bahwa manusia itu jahat tanpa alasan. Kini, nama itu ada di hadapannya, tertera jelas dalam daftar kesalahan.
"Ah, dia ... sepertinya direktur baru anak perusahaan ini. Banyak dana mengalir tanpa informasi jelas disekitarnya. Tapi latar belakangnya bagus, jadi sulit melacaknya. Bagaimana Bu?" terang Arka dengan wajah serius.
"Atur jadwal temu dengan orang ini," titah Zevana dengan senyum tersirat.
Suaranya rendah, dingin, namun penuh penekanan. Di balik senyum itu, ada tekad baja yang terbentuk. Kali ini posisinya sudah berubah. Dia bukan lagi korban yang tak berdaya.
"Kita punya wewenang dalam membentuk citra setiap perusahaan. Jangan sampai kita membantu sampah yang terlihat bersih dari luar," imbuh Zevana, dibalas anggukan mantap dari Arka.
Bersamaan dengan riak euforia yang menjalar diseluruh tubuhnya, darahnya berdesir mengingat setiap momen traumatis yang pernah menimpanya akibat perlakuan Reno.
Luka lama itu kini berubah menjadi senjata. Ingatan sakit itu kini menjadi bahan bakar. Dopamin ini bukan karena cinta. Dopamin ini adalah kepuasan saat akhirnya ia punya kesempatan untuk berdiri sejajar, menatap mata musuhnya, dan membalas segala rasa sakit itu dengan cara yang paling elegan–menjatuhkannya dari atas, tepat di tempat di mana Reno pernah menjatuhkannya dulu.
"Ah iya Bu, kita ada undangan acara Malam anugrah dan penghargaan minggu depan, sepertinya itu bisa jadi kesempatan untuk pertemuan," usul Arka dijawab anggukan penuh semangat oleh Zevana.
Sementara Zevana menerawang dalam diam, Arka menatapnya penuh kekaguman tanpa tahu apa isi pikiran di dalam kepala wanita cantik di hadapannya itu.