NovelToon NovelToon
Dendam Diatas Materai

Dendam Diatas Materai

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:545
Nilai: 5
Nama Author: Senjani jingga

Gara-gara wine tumpah Aruna Wijaya harus menikah kontrak dengan seorang iblis berwajah tampan Devara Mahesa.

Tanda tangan kontrak diatas materai menjadi penanda Aruna resmi terjerat dalam pelukan hangat Devara yang mematikan dan penuh dendam rahasia.

Hingga Bayu datang, seorang dokter keluarga Wijaya yang menyimpan kenangan masa lalu kelam Aruna menawarkan kebebasan.

Apakah Aruna akan menerima tawaran Bayu lepas dari iblis?, ataukah akui dendam diatas materai itu sudah menjadi candu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DDM|01|Pria Bertato Naga

Gemerlap cahaya malam kota Skyline yang tampak seperti bintang yang berkedip dari atas bangunan dilantai 10, rooftop sebuah restoran terkenal dikota itu, seorang gadis berumur 21 tahun sedang berdiri, matanya tertutup, satu kakinya sudah memanjat pagar pembatas yang tak terlalu tinggi itu. Disana Ia bisa merasakan hembusan angin malam yang cukup kencang.

Aruna Wijaya, hanyalah seorang anak miskin sekarang. Setiap hari bekerja dengan upah rendah karena minim skill, berawal dari anak seorang pengusaha kaya raya terkenal di kota Skyline, hingga menjadi anak dari pengusaha bangkrut yang rumahnya akan disita perusahaan.

Kini dirinya hanya mengenakan kaos lusuh sisa baju yang lama tak Ia pakai karena sudah kuno, baju-baju mewahnya, gaun-gaun cantik keluaran terbaru saat itu sudah Ia jual dengan harga nego untuk membayar hutang.

Senyuman yang terpancar saat ini hanya palsu, menutupi kesedihan yang tiada habisnya. Air mata yang tak terhitung berapa liter-nya sudah dikeluarkan Aruna, saat ini Ia berdiri diatas pagar pembatas itu dengan hati yang kacau.

Hari ini Ia makan ayam sisa pelanggan restoran yang terlihat masih utuh, besok libur kerja karena tanggal merah, restoran yang hanya buka pada tanggal hijau. Akan tutup saat weekend, pertanda kalau Aruna harus mencari makan walaupun hanya sesuap ayam sisa kemarin.

Berapa jam yang lalu.......

Bunyi beep dari mesin yang dipasang diruang icu tempat Adam Wijaya dirawat. Ruangan yang dipenuhi dengan aroma obat yang menusuk hidung. Aruna terus memegangi tangan sang ayah, menatap selang-selang yang dipasangi memenuhi badan Wijaya. Wajahnya pucat, matanya masih tertutup rapat.

"Pah, Aruna capek" Ucapnya dengan lirih, bahkan lebih nyaring suara alat didalam ruangan dingin itu.

Suara langkah semakin dekat mendatangi Aruna, gadis itu mengusap matanya yang basah lalu melihat ke asal suara. Seorang suster datang sembari tersenyum, membawa map dan secarik kertas.

"Selamat siang Mbak Aruna, Pak Wijaya sudah hampir dua minggu koma dan akan dilakukan tindakan operasi yang kedua. Ini total biaya-nya" Secarik kertas itu diberikan kepada Aruna.

Apa?.. 20 juta..? Apa aku gak salah baca, uang sebanyak itu dapat dari mana.-batin Aruna.

"Baiklah sus, aku bakal bayar secepat mungkin" ujarnya setelah terdiam beberapa saat.

Ayahnya koma dirumah sakit dan butuh biaya untuk operasi. hutangnya semakin menumpuk, Aruna hanyalah korban. Ibunya meninggal saat Aruna masih bayi. Aruna tak pernah merasakan kurang kasih sayang karena Ayahnya yang selalu bersikap hangat kepadanya, kemewahan yang selalu mengelilingi Aruna.

Kini, dirooftop lantai 10...

"Run!!, turun jangan naik lagi" Teriak seseorang dari kejauhan. Aruna tak mendengarnya, Ia masih asik bergelut dalam pikirannya.

Elula, teman sejawat Aruna datang dengan wajah panik dan nafas ngos-ngosan sehabis berlari menghampiri Aruna yang dilihatnya seperti akan mengakhiri hidupnya.

Elula menarik ujung baju Aruna. "Run, turun Run, gue bisa nyari solusi buat lo, tapi jangan nekat gitu dong"

Aruna tersadar, matanya beralih menatap temannya yang berada dibawahnya. Perlahan Aruna turun. "Solusi?" mengulang kata yang Elula ucapkan.

Elula mengangguk cepat, "Ikut gue kerja besok malam di club VERTIGO, gajinya lumayan bisa buat lo nyicil utang bokap" seru Elula.

"Club mewah diujung kota?, yang isinya orang elit kelas atas?" mata Aruna membulat, Ia tak menyangka kalau temannya bisa bekerja di club tersebut.

Elula mengangguk cepat. "Satu malam dibayar 5 juta, tapi kerja nya sampe pagi. Aman aja kan"

"Maaf El, kayaknya gak bisa deh, aku takut itukan club, nanti kalau...."

Elula langsung menyela Aruna. "Run, gue jamin aman kok. Gue kenal sama bos VERTIGO, memang dia punya tato naga di tangan kanannya, tapi dia gak pernah nyentuh cewek. Rumornya dia itu gak suka sama cewek, jadi lo aman."

'Rumor tentang pria bertato naga di club VERTIGO memang benar adanya, dan sekarang Elula menawarkanku untuk bekerja dengan pria itu'-Batin Aruna.

Gadis yang umurnya terpaut lima tahun diatas Aruna, banyak pengalaman bekerja diberbagai tempat, sering bekerja di sebuah clubbing ataupun bar.

Seorang gadis yang selalu Aruna hindari karena pergaulan bebas-nya yang membuat Aruna geleng kepala. Berciuman ditempat umum, memakai rok sexy saat bekerja, minum wine hingga pingsan. Sekarang gadis itu menawari Aruna pekerjaan.

Tidak sekali ini saja, Elula sudah menawarinya sejak seminggu yang lalu saat ada rentenir datang ke restoran itu menagih hutangnya. Elula yang membantunya mengusir rentenir itu, lalu menawarinya bekerja di sebuah club. Namun segera Aruna tolak.

Dan kali ini Elula kembali menawarinya. Aruna tertarik dengan nama VERTIGO, nama yang tak asing ditelinga Aruna. Seperti pernah mendengar namun tak pernah melihat, hanya sekelibat pernah diberi tau oleh orang kalau itu adalah club terkenal diujung kota Skyline. Namun, bukan sebuah club dipikiran Aruna, nama itu tak asing, tapi juga terasa asing.

"Telepon gue kalau lo udah siap, bakalan gue jemput malam itu juga, jam sembilan malam" Elula tersenyum dan pergi meninggalkan Aruna sendirian, ditengah rooftop yang gelap dan hanya di terangi oleh gemerlap lampu kota Skyline.

...***...

Ditengah jalanan kota yang sudah mulai sepi karena jam sudah menunjukkan pukul dini hari, Aruna berjalan seorang diri ditemani bayangan dirinya yang tak pernah pergi meninggalkannya. Gemerlap lampu pinggir jalan yang sudah tak seterang di tengah kota, Aruna melangkahkan kakinya menuju gang sempit tempat dirinya tinggal sekarang.

Gang yang hanya dihuni oleh masyarakat kurang mampu, sengaja dipilih Aruna karena harga sewa yang terjangkau daripada kontrakan lainnya. Langkahnya terhenti saat Ia melihat dua orang pria berdiri didepan kontrakan kecilnya.

Pria perawakan besar dan menyeramkan, Aruna sangat yakin kalau itu adalah preman suruhan untuk menagih utang-nya. Dengan langkah pelan Aruna mencoba menghindar, jantungnya tak bisa berhenti berdetak, takut preman itu mengetahui dirinya yang hendak kabur.

Saat dirasa sudah cukup jauh dari gang tersebut, Aruna duduk dipinggir trotoar. Matanya melihat keatas langit yang dipenuhi bintang. Nafas-nya terngah-engah karena berlari cukup jauh, keringat dingin bercampur degupan jantung yang tak bisa Ia kontrol. Rasa cemas semakin memudar. Namun, dimana dirinya akan tidur malam ini. Teman dekat-pun Aruna tak punya, Ia hidup bagai didalam surga saat masih menjadi kaya raya, tak pernah keluar rumah. Sekolah hanya tempat persinggahan saat dirasa bosan dirumah.

Teman pertama yang Ia miliki adalah Elula, bahkan Ia pun sangat jarang mengobrol dengan gadis itu. Karena pergaulan bebas Elula yang dirasa Aruna akan menjadi efek negatif dalam dirinya kelak. Namun, menyangkut Elula. Aruna mengalihkan pandangannya, merogoh saku baju-nya, dua lembar uang lima-ribuan. Sisa lembur semalam.

Apa aku terima saja tawaran Elula, bukankah lebih baik jika bisa melunasi hutang dan membayar biaya operasi ayah. -Batin Aruna.

Ia menyimpan kembali dua lembar uang lusuh itu kedalam saku-nya. Dan mengambil ponselnya dari dalam tas-nya.

Dari deretan nomor yang tertera dilayar ponselnya itu Ia mencari nama Elula. Setelah ketemu, Aruna mengirimi gadis itu pesan.

"El, bisakan langsung malam ini aja aku masuk kerja di club itu. Aku butuh uang sekarang"

isi pesan Aruna yang telah sampai kepada Elula.

Satu menit... Dua menit... Ponselnya tak kunjung berbunyi, belum ada balasan dari Elula. Aruna semakin erat memeluk lututnya, dipinggir trotoar yang sepi ditemani lampu neon yang terlihat semakin terang.

1
andra screet love
lanjut trus 🙏🙏🙏💪💪
senjani jingga: siap😁
total 1 replies
pєkαᴰᴼᴺᴳ
semagat kk💪
senjani jingga: iya makasih, kamu juga semangat💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!