NovelToon NovelToon
Menghancurkan Suami Benalu Dan Adik Tiriku

Menghancurkan Suami Benalu Dan Adik Tiriku

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nila KingShop Wati

HANCURLAH BERSAMA "SUAMI PARASIT DAN ADIK BENALU"
Selama dua tahun pernikahan, Violet hidup sebagai istri yang selalu mengalah. Ia tidak pernah menyangka suami yang dicintainya ternyata diam-diam berselingkuh dengan Eliana, adik tirinya sendiri.
Lebih kejam lagi, mereka hanya memanfaatkannya demi merebut perusahaan keluarga yang menjadi haknya. Saat kebenaran terungkap, Violet kehilangan segalanya—ayahnya koma karena sebuah kecelakaan yang ternyata direncanakan, hartanya dirampas, dan nyawanya dihabisi oleh orang-orang yang paling dipercayainya.
Dalam detik terakhir sebelum kematian, Violet mengutuk mereka dan memohon kesempatan untuk mengulang hidupnya.
Ketika membuka mata, ia kembali ke dua tahun lalu.
Ke hari saat Arga datang melamar.
Kali ini Violet tidak akan memilih pria yang menghancurkan hidupnya.
Sebagai gantinya, ia memilih Sherkan—paman Arga yang terkenal dingin, kejam, dan menjadi penguasa dunia bisnis.
Keputusan itu mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nila KingShop Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku mencintai orang lain

BAB 11 — AKU MENCINTAI ORANG LAIN

Sejak saat aku melangkah keluar dari gedung megah milik Sherkan Satria tadi pagi, ponsel yang ada di dalam tas ku tidak pernah berhenti bergetar. Berulang kali muncul notifikasi panggilan masuk, disusul pesan singkat yang terus bertambah banyak, lalu diikuti lagi dengan panggilan yang tak kunjung berhenti berdering. Semuanya datang dari satu nama yang sudah sangat kukenal—Arga. Aku sengaja mengabaikan semua itu, tidak berniat menjawab sedikit pun, seolah orang itu tidak pernah ada dalam daftar kontakku dan akhirnya aku membuang kartu SIM ku.

"Semua beres." batin ku.

Namun ternyata lelaki itu bukan tipe orang yang mudah menerima penolakan atau membiarkan sesuatu berjalan di luar kendalinya, apalagi ketika rencana yang sudah ia susun rapi mulai terganggu.

Sampai menjelang sore hari, saat aku baru saja tiba di rumah dan bersiap untuk beristirahat sejenak, suara deru kendaraan yang berhenti tepat di halaman depan rumah terdengar jelas dari dalam ruangan. Aku bahkan tidak perlu melongok keluar jendela untuk menebak siapa yang datang pada jam seperti ini. Hanya ada satu orang yang cukup berani dan merasa memiliki hak untuk datang tanpa diundang begitu saja. Beberapa detik kemudian, terdengar ketukan pelan di pintu kamarku, dan pembantu rumah tangga kami, Mira, melongokkan kepalanya ke dalam dengan raut wajah yang agak cemas.

“Nona, maaf mengganggu. Ada Tuan Arga yang datang dan ingin menemui Nona,” lapornya dengan suara hati-hati.

Aku hanya tersenyum tipis mendengar kabar itu. Sudah kuduga. Arga memang bukan orang yang akan mundur hanya karena tidak dijawab lewat telepon atau pesan. Terlebih lagi, ia pasti merasa bingung sekaligus marah karena keputusanku yang tiba-tiba berubah, sesuatu yang sangat jarang terjadi dalam rencananya.

“Silakan persilakan dia masuk ke ruang keluarga, Mira,” jawabku dengan nada tenang, lalu segera melangkah keluar kamar menuju ruang tamu yang lebih luas itu.

Saat aku baru saja duduk di kursi empuk dan menuangkan teh hangat ke dalam cangkir, Arga sudah melangkah masuk dengan langkah yang tergesa dan cepat. Rahangnya terlihat menegang keras, otot-otot di rahangnya terlihat jelas bergerak, meski ia berusaha mempertahankan ekspresi tenang di wajahnya. Namun bagiku yang sudah mengenalnya begitu lama—bahkan mengetahui sifat aslinya di kehidupan sebelumnya—aku bisa melihat dengan sangat jelas amarah dan kekhawatiran yang berusaha ia sembunyikan di balik tatapannya yang tajam. Begitu pintu tertutup dan kami berdua tinggal sendirian di ruangan itu, ia tidak membuang waktu lagi untuk berbicara.

“Kenapa?” tanyanya langsung, suaranya terdengar berat dan penuh penekanan.

Aku mengangkat cangkir teh itu perlahan tanpa tergesa sedikit pun, seolah tidak mendengar nada kemarahannya. “Apa maksudmu, Arga? Bisa bicara lebih jelas,” jawabku santai.

“Jangan berpura-pura tidak mengerti apa yang aku tanyakan,” balasnya dengan nada yang jauh lebih tajam dari biasanya. “Kenapa kau menolak lamaranku? Tanpa alasan apa pun, tiba-tiba saja kau batalkan semuanya?”

Aku menyesap teh hangat itu dengan tenang, merasakan rasa pahit manisnya menyebar di lidah. Sungguh terasa lucu bagiku sekarang. Dulu, bertahun-tahun lamanya aku selalu merasa takut jika sampai membuatnya marah atau kecewa. Aku selalu berusaha memahami setiap alasan yang ia berikan dan mengalah demi menjaga hubungan kami. Namun sekarang, perasaan itu sudah hilang sama sekali. Justru, aku merasa sedikit puas melihatnya mulai kehilangan kendali dan terlihat bingung menghadapi sikapku yang berubah total.

“Aku hanya berubah pikiran. Itu saja,” jawabku datar, tanpa memberi penjelasan lebih lanjut.

“Itu bukan jawaban yang bisa aku terima,” katanya sambil melangkah mendekat, berdiri tepat di hadapanku. “Violet, kita sudah bersama selama bertahun-tahun. Kita sudah merencanakan masa depan kita bersama. Semuanya terasa baik-baik saja, bahkan sampai beberapa hari yang lalu tidak ada masalah apa pun di antara kita.”

Aku hampir saja tertawa mendengar kalimatnya. Bersama? Baik-baik saja? Tentu saja, itu hanya kenyataan yang terlihat dari luar saja. Sementara di balik punggungku, diam-diam ia sudah berbagi kasih sayang, perhatian, bahkan tidur dengan adik tiriku sendiri, Eliana. Semua itu baru aku sadari saat nyawaku sudah melayang pergi di kehidupan yang lalu. Namun tentu saja, rahasia itu masih akan kusimpan baik-baik untuk saat ini.

“Jadi apa yang salah? Apakah aku melakukan kesalahan yang membuatmu marah?” tanyanya lagi, akhirnya mengucapkan kalimat yang sebenarnya ingin ia tanyakan dari tadi.

Aku mengangkat kepala dan menatap wajahnya dengan saksama. Untuk pertama kalinya setelah kesempatanku hidup kembali ini, aku benar-benar mengamati Arga secara objektif, bukan lagi dengan pandangan buta yang dipenuhi rasa cinta seperti dulu. Wajahnya memang terlihat tampan dan rapi, pembawaannya tenang serta terlihat dewasa, dan ia sangat pandai merangkai kata-kata untuk menyenangkan hati orang lain. Itulah sebabnya aku bisa tertipu dan terbuai begitu lama, sampai nyawaku sendiri menjadi taruhannya.

“Aku serius, Violet,” lanjutnya saat aku hanya diam menatapnya. “Kalau ada hal yang aku lakukan tanpa sadar dan membuat hatimu tersinggung, katakan saja. Aku akan memperbaikinya.”

Karena aku tetap tidak menjawab, Arga mengembuskan napas panjang seolah sedang berusaha meredakan emosinya. Lalu, untuk pertama kalinya sejak masuk ke ruangan ini, raut wajahnya sedikit melunak dan ia mencoba terdengar lebih lembut.

“Apakah karena Eliana?” tanyanya hati-hati.

Mendengar nama itu keluar dari mulutnya, tubuhku nyaris membeku seketika, namun aku berhasil menahan diri dan mempertahankan ekspresi wajah yang tetap datar dan tenang seolah tidak ada apa-apa.

Arga melanjutkan ucapannya sambil mengusap wajahnya dengan telapak tangan, seolah sedang mengakui sesuatu yang sudah lama ia sadari. “Aku tahu kadang aku terlalu sering membantu Eliana. Aku juga sadar, terkadang aku lebih cepat bergegas datang saat dia membutuhkan pertolongan, dan beberapa kali aku terpaksa membatalkan janji kita hanya karena ada urusan yang menyangkut dirinya.”

Dua tahun yang lalu, jika aku mendengar pengakuan seperti ini, mungkin hatiku akan terasa terharu. Mungkin aku akan berpikir bahwa ia adalah pria yang bertanggung jawab dan memiliki hati yang sangat baik. Mungkin aku akan langsung memaafkannya tanpa banyak bertanya. Namun kini, aku sudah mengetahui kenyataan sesungguhnya. Sikapnya itu bukan karena ia terlalu baik atau terlalu peduli pada keluargaku, melainkan karena hatinya memang sudah sejak lama tercurah sepenuhnya untuk Eliana, bukan untukku.

Kenangan pahit dari kehidupan sebelumnya melintas begitu cepat di dalam kepalaku. Saat aku terbaring lemah dengan demam tinggi yang hampir tidak sadarkan diri, Arga tidak bisa datang menjenguk dengan alasan harus membantu Eliana yang mobilnya mogok di tengah jalan. Saat aku menunggunya berjam-jam di restoran untuk makan malam ulang tahunku, ia tiba-tiba pergi begitu saja hanya karena Eliana menangis meneleponnya dan merasa kesepian. Bahkan saat aku membutuhkan sandaran dan dukungan paling besar setelah ayahku terbaring koma di rumah sakit, Arga justru lebih sibuk menghibur Eliana yang mengaku merasa takut dan sedih melihat kondisi keluarga kami. Dulu aku selalu mencari alasan untuk membenarkan tindakannya, namun sekarang semuanya terlihat begitu jelas dan menyakitkan.

“Kalau memang itu yang membuatmu merasa tersinggung dan cemburu…” kata Arga lagi, menatap mataku dengan tatapan yang ingin meyakinkan. “Aku bisa berubah, Violet. Aku janji akan lebih banyak meluangkan waktuku untukmu saja. Aku akan memperbaiki semuanya agar kita bisa kembali seperti sedia kala.”

Aku hampir tertawa mendengar janji kosong itu. Berubah? Tidak mungkin. Orang sepertinya tidak akan pernah berubah, bukan karena ia tidak bisa, melainkan karena ia bahkan tidak merasa bersalah atas perbuatannya. Yang ia sesalkan saat ini hanyalah kenyataan bahwa rencananya untuk mendapatkan harta dan posisi lewat diriku mulai terganggu.

“Violet, lihat aku. Katakan apa yang harus aku lakukan agar kau kembali menerima lamaranku?” desaknya lagi, suaranya mulai terdengar tertekan.

Aku akhirnya mengangkat kepala dan membiarkan tatapan kami bertemu tepat. Di matanya kali ini, aku bisa melihat satu hal yang sebelumnya tidak pernah ada: kebingungan. Ia tidak lagi bisa membaca pikiranku seperti dulu. Baginya, gadis yang dulu sangat mencintainya dan mudah diatur itu sudah tidak ada lagi. Violet yang ia kenal sudah mati bersama tubuhnya di masa lalu, dan yang berdiri di hadapannya sekarang adalah seseorang yang memiliki tujuan dan dendam yang jelas.

“Apakah sekarang kau membenciku?” tanyanya perlahan, seolah takut mendengar jawabannya.

Aku menatapnya lama, sangat lama, sampai akhirnya aku meletakkan cangkir teh di atas meja dengan suara yang cukup terdengar jelas. Lalu aku berdiri perlahan, mensejajarkan posisi tubuh kami.

“Aku tidak membencimu,” jawabku dengan nada tenang dan datar.

Dan itu memang benar. Perasaan yang kurasakan terhadapnya sudah melampaui sekadar kata kebencian. Aku tidak lagi membuang energi untuk membencinya; aku hanya sudah tidak peduli lagi dengan keberadaan atau perasaannya.

Mendengar jawaban itu, Arga terlihat sedikit bernapas lega, seolah beban berat baru saja terangkat dari pundaknya. Namun kelegaan itu tidak bertahan lama, karena kalimat berikutnya yang keluar dari mulutku langsung membuatnya kembali tegang.

“Aku menolak lamaranku bukan karena Eliana,” ucapku pelan namun tegas.

Keningnya langsung berkerut bingung. “Kalau bukan karena dia, lalu karena apa?”

Aku tersenyum tipis, senyum yang terasa dingin dan membuat detak jantungnya seolah terhenti sejenak. Untuk pertama kalinya selama ia mengenalku, ia melihat tatapan asing di mataku—tatapan yang tidak pernah ada sebelumnya, penuh rahasia dan ketegasan yang membuatnya merasa tidak nyaman.

“Aku menolak lamaranku…” ucapku perlahan, memberi jeda sejenak untuk membiarkan ketegangan memenuhi seluruh ruangan itu, “…karena aku mencintai orang lain.”

Ruangan itu seketika menjadi sangat hening, benar-benar hening tanpa suara apa pun. Arga langsung membeku di tempatnya, wajahnya berubah drastis dalam sekejap—mulai dari terkejut, tidak percaya, hingga akhirnya muncul sedikit tanda kepanikan yang jelas terlihat.

“Apa?” gumamnya, suaranya nyaris tidak terdengar karena terkejut.

Aku tetap mempertahankan senyumku dan mengulangi kalimat itu sekali lagi agar ia benar-benar paham. “Aku mencintai orang lain, Arga. Itu alasannya.”

Belum sempat Arga membuka mulutnya lagi, terdengar suara langkah kaki yang berhenti di ambang pintu ruangan. Aku melirik ke arah sana sekilas, dan melihat sosok yang sangat kukenal berdiri di tempat itu dengan wajah yang langsung memucat pasi. Eliana. Rupanya gadis itu diam-diam ikut datang bersama Arga sore ini, dan selama percakapan kami berlangsung, ia berdiri di balik dinding sambil mendengarkan setiap kata yang terucap.

Namun perhatian Arga sepenuhnya masih tertuju padaku. Ia menatapku tanpa berkedip, seolah baru saja mendengar kenyataan yang paling mustahil terjadi. “Siapa orang itu?” tanyanya dengan nada yang terdengar seperti tuntutan, bukan lagi suara laki-laki yang merasa sakit hati karena kehilangan, melainkan suara seseorang yang marah karena merasa kehilangan kendali atas apa yang ia anggap miliknya.

Dan di dalam hatiku, aku hanya bisa tersenyum dingin melihat reaksi mereka berdua. Kalian belum tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Kalian bahkan tidak akan pernah membayangkan siapa orang yang telah kupilih untuk mendampingiku—orang yang memiliki kekuasaan untuk menghancurkan seluruh rencana licik yang sudah kalian susun begitu rapi, orang yang paling tidak ingin kalian hadapi dalam hidup ini. Namun untuk saat ini, aku belum berniat memberitahu mereka kebenaran itu.

Aku menatap Arga dan Eliana secara bergantian, lalu mengucapkan kalimat penutup yang membuat mereka semakin gelisah.

“Itu bukan urusan kalian lagi,” kataku tegas.

Dan pada detik itu juga, untuk pertama kalinya sejak aku kembali dari kematian, aku bisa melihat dengan jelas bagaimana rasa takut mulai muncul perlahan namun pasti tergambar di wajah mereka berdua.

1
Amidah Anhar
maaak bab selanjutnya pengumuman Meraka udah jadi sepasang suami istri iya..
pengen tahu reaksi mereka 🤣🤣🤣🤣
Miss Typo
aku suka aku suka
aku padamu Sherkan ♥️🫰

apa Sherkan juga mengulang waktu mengulang masa lalu, jadi dia tau semuanya yg disembunyikan Violet? 🤔
Maria Kibtiyah
kayakmya sherkan tau apa yg di alamin violet di masa lalu
Miss Typo
ku pikir Sherkan mau duduk di meja rias trs menarik pinggang Violet untuk memakaikan dasinya itu 🤣
ternyata aku salah dgn pikirin ku sendiri 😁
Ayudya
sherkan suami yg terbalk
Ayudya
lanjut kak
Amidah Anhar
Maaak aku belum move-on dengan nama sherkan nya Elf 🤭🤭🤭🤭
Evve Miss Plot twist: yang ini bakal bikin jauh lebih ga bisa bikin move on makkk😍🤭
total 1 replies
Maria Kibtiyah
sherkan gak ketebak kira2 apa rencana dia
Maria Kibtiyah
semangat mak semakin menarik😍
Maria Kibtiyah: 😍😍😍😍😍
total 2 replies
Silvia
lagi Thor semangat💪💪
Evve Miss Plot twist: ok mak😍
total 1 replies
Nana Colen
semangat thooooor.... lanjut up lagi dan kalau bisa tolong dong lanjutin cerita nya dalam cengkraman badai
Evve Miss Plot twist: siap makkk sudah update lagi 1 bab, tunggu review yah
total 2 replies
Nana Colen
aaah orang kaya mah pasti udah diselidiki duluan ath neng violet... dari makanan favorit hobinya apa dan sebagainya 😁😁😁😁
Nana Colen
thor aku mau tanya... apakah ayahnya violet saat ini sudah berada drumah sakit atau gimana aku kurang nggeuh
Nana Colen
aku ucapkan Terima kasih thor mau berkarya lagi di NT.... aku kangen banget dengan cara dan gaya mu dalam membuat novel selalu banyak kejutan dan takateki 😍😍😍😍😍
Miss Typo
kalian berdua ngegemesin deh 😍

semangat Mak Eva 💪🥰
wiliss
alhamdulilllah saahh? saaahhhhh🥰🙏
Nana Colen
balaslah dengan elegan violet... kamu bukan cewek lemah dan bodoh 💪💪💪💪
Nana Colen
jadi ikutan deh deg an ya... ini violet beda cerita lagi sama violet sherkan ya
Evve Miss Plot twist: beda mak, lagi malas nyari nama pemeran 🤭
total 1 replies
Nana Colen
buanglah suami benalu itu violet
Nana Colen
akhirnya netes juga karya baru nya... semangat thor aku pendukung karya karyamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!