Aini terpaku di ruang tamu kontrakannya yang kecil. Suara itu...suara Dimas yang sedang melakukan transaksi dengan seseorang telah menghancurkan seluruh hidupnya. Diusapnya perut yang sudah besar. Dia sudah hamil delapan bulan dan anak itu...!!! anak yang dia pertaruhkan dengan seluruh jiwa raganya.... kini...!!!! ayahnya sendiri sedang melakukan transaksi penjualan entah dengan siapa. Pandangan perempuan muda itu menggelap......!!!!
Aini meninggalkan rumah, suami...pergi dengan satu tujuan "Menyelamatkan sang Bayi". Menghadang hujan badai dan petir yang sambar menyambar. Ketika hidup mulai berpihak padanya, Aini dihadapkan lagi pada kenyataan...anak yang sudah dia besarkan bertemu Ayah kandungnya. Bisakah Aini meredam semua kebaikan yang sudah dia tanam tetap ada di dalam diri putra semata wayangnya itu??? Bagaimana akhir kisah yang menguras air mata ini? Ikuti saja di "Pembalasan Anak yang Kau Jual"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sikumbang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keheningan yang Menyiksa
Jaja benar-benar pergi...!!!!!
Seminggu sudah berlalu. Tak ada lagi sosok jangkung yang menyapa "selamat pagi, Bu". Tak ada lagi lengan kekar yang bersedia mengangkat panci besar atau sekedar memperbaiki engsel pagar yang rusak. Semua lenyap. Bahkan ketika Syafa dan Satria bertanya, Aini bingung mau jawab apa.
Awalnya, Aini merasa lega. Ia berpikir,
"Ini yang aku inginkan? Ini yang aku katakan padanya. Biar dia menjauh, biar kami kembali seperti dulu, hidup tenang bertiga saja. Tidak ada keterikatan, tidak ada rasa canggung."
Ia mengira kepergian Jaja akan membuatnya kembali ke rutinitas lama yang sederhana dan damai.
Namun, hari berganti hari, dan Aini mulai menyadari satu hal yang menyakitkan..... keheningan di sebelah sana justru terasa sangat bising di hatinya.
Setiap pagi, saat ia menata bungkusan nasi uduk, matanya tanpa sadar selalu melirik ke arah pintu pagar rumah sebelah yang kini tertutup rapat. Dulu, rumah itu terasa hidup, ada penghuninya.
Sekarang, rumah itu terasa kosong, sepi, dan dingin, seolah tidak ada siapa-siapa di dalamnya.
"Jangan bodoh Aini ..!!! Semua ini keinginanmu, kamu kuat...punya tekad yang besar. Demi anakmu....demi masa depan mereka. Iya,kan?"
Pertanyaan itu yang selalu hadir dihati dan pikirannya. Tapi benarkah begitu?
"Paman....paman...ja..ja..!"
Lamunan Aini buyar ketika tangan kecil mengguncang lengannya. Aini tersentak. Satria menatapnya dengan mata basah. Hati Aini teriris...sakit.
Aini berlutut, memeluk tubuh mungil itu dan berkata dengan suara yang sedikit bergetar.
"Paman Jaja lagi ada urusan, Nak. Belum pulang. Nanti kalau sudah pulang, pasti main lagi sama Dedek ya."
Pulang sekolah Syafa juga menanyakan Jaja. Gadis kecilnya yang biasa pulang sekolah bercerita panjang lebar tentang apa saja, hari itu pulang dengan wajah bingung. Saat makan siang, ia bertanya pelan sambil menyuap nasi.
"Ibu... Paman Jaja ke mana ya? Kok beberapa hari ini tidak lewat sama sekali? Padahal kan Paman janji mau mengajari Syafa cara melukis pohon bambu. Apa Paman marah ya sama kita? Apa karena kita ada salah ya, Bu?"
Pertanyaan itu menusuk tepat di dada Aini. Ia menurunkan sendoknya, menatap mata polos putrinya yang penuh rasa ingin tahu dan sedikit kekhawatiran.
"Enggak kok, Sayang. Paman tidak marah. Paman cuma sibuk saja. Nanti pasti ketemu lagi," jawab Aini setenang mungkin, meski hatinya berteriak.
"Marah sama Ibu, Kak. Paman menjauh karena Ibu sudah menolak dia."
Hari-hari berikutnya pertanyaan itu terus berulang.
"Paman Jaja kapan datang?"
"Paman Jaja sakit ya?"
"Kita panggil Paman Jaja makan bareng yuk, Bu?"
Setiap kali anak-anaknya bertanya, setiap kali Aini harus mengarang alasan agar mereka tidak sedih, rasa bersalah di dadanya makin menumpuk menjadi beban yang berat.
Dan di saat-saat sepi, saat malam hari setelah anak-anaknya tidur, saat ia duduk sendirian di teras memandangi bintang-bintang, pikiran Aini tak bisa lepas dari sosok Jaja.
Ia teringat pertama kali laki-laki itu datang, penampilannya yang lusuh, jenggotnya yang lebat, tapi matanya yang tajam dan tatapannya yang jujur.
Ia teringat bagaimana Jaja selalu ada saat ia butuh bantuan, bagaimana Jaja diam-diam melancarkan urusannya di pengadilan, bagaimana Jaja membelikan oleh-oleh tanpa mau dibayar, dan bagaimana Jaja begitu lembut serta penuh kasih sayang pada Syafa dan Satria, seolah anak-anak itu darah dagingnya sendiri.
Aini teringat betapa aman dan tenangnya hatinya saat Jaja ada di dekatnya. Betapa ia tidak pernah merasa khawatir atau takut apa pun selama Jaja ada di sebelah. Betapa ia merasa terlindungi, seolah ada tembok kokoh yang menjaga rumahnya dari segala bahaya.
Semua itu hilang......sekarang.
"Aku kan sudah punya pendirian. Aku kan sudah berjanji tidak akan menerima laki-laki lagi. Fokusku cuma anak-anak. Aku tidak butuh dia,"
Aini berusaha meyakinkan dirinya sendiri, menegaskan kembali keputusan yang sudah ia ambil.
"Semua yang kulakukan, keputusan yang kuambil itu benar. Tak salah. Semua demi masa depan anakku."
Bibirnya selalu mengucapkan kata-kata itu, selalu membantah perasaannya sendiri.
Namun hatinya... hatinya berkata lain.
Hatinya merasa sepi. Hatinya merasa kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Hatinya merindukan suara berat itu, merindukan senyum sederhana itu, merindukan kehadiran yang menenangkan itu.
Aini sadar, selama ini ia menganggap Jaja sekadar tetangga baik, sekadar penolong. Tapi diam-diam, tanpa ia sadari, kehadiran Jaja sudah menjadi bagian dari kesehariannya, sudah menjadi sandaran hatinya, sudah menjadi sosok yang ia percayai sepenuhnya. Rasa percaya yang dulu ia pikir sudah mati sejak dikhianati Dimas, ternyata tumbuh kembali perlahan lewat ketulusan Jaja.
Dan sekarang, saat ia mendorong laki-laki itu pergi demi prinsipnya sendiri, ia baru menyadari satu hal yang menyakitkan.... ia tidak hanya kehilangan seorang tetangga. Ia kehilangan satu-satunya laki-laki yang tulus mencintainya, yang tulus menyayangi anak-anaknya, dan yang rela berkorban apa saja demi kebahagiaan mereka.
Di dalam kamar, Aini mengelus cincin emas pengganti yang ia simpan rapi....cincin yang ia beli dari hasil berjualan untuk mengganti pemberian Bu Lilis dulu. Ia menghela napas panjang, air mata menetes jatuh membasahi pipinya yang terasa dingin.
"Apa aku salah, Tuhan? Apa keputusanku ini terlalu keras? Apa aku sudah menolak kebahagiaan yang Engkau kirimkan lewat dia? Aku takut... aku takut salah lagi. Tapi kenapa sekarang rasanya hatiku hampa sekali tanpa dia?"
Pagi itu, saat ia membuka jendela kamar, Aini melihat pintu rumah sebelah masih tertutup. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Ia merindukan Jaja. Ia mengakuinya pada dirinya sendiri, meski bibirnya tetap membungkam rapat-rapat.
Dan di rumah sebelah, di balik jendela yang tertutup rapat itu, Jaja berdiri diam. Ia melihat sosok wanita yang dicintainya itu bergerak di teras, terlihat lebih lesu, lebih sepi, dan lebih sendirian dari biasanya.
Hati Jaja juga sakit. Ia ingin sekali keluar, ingin sekali menyapa, ingin sekali memeluk Satria yang pasti sedang mencarinya. Tapi ia harus menjaga harga dirinya, dan ia harus menghormati keputusan wanita itu.
Namun, di antara dua rumah yang berjarak hanya beberapa meter itu, ada rasa rindu yang sama, ada rasa kehilangan yang sama, dan ada perasaan yang belum selesai, yang terperangkap di antara prinsip dan ketulusan hati.
Setelah kejadian itu. Jaja selalu berangkat pagi dan pulang larut malam. Kadang tidak pulang sama sekali. Dia sengaja menghindar dari Aini dan kedua anaknya. Bukan benci!
Dia hanya ingin memberi ruang pada Aini. Pria itu sangat yakin suatu hari nanti dia akan memenangkan hati Aini. Dan nanti malam dia benar-benar akan pergi dalam waktu yang lama.
*******