Di sebuah desa tersembunyi bernama Desa Batu, hiduplah keluarga Chen, keturunan langsung dari Raja Alkemis legendaris yang menguasai rahasia kehidupan dan kematian. Harta terbesar mereka bukanlah emas atau perak, melainkan resep Ramuan Keabadian—cairan mistis yang dapat memberikan kekuatan tak terbatas dan hidup selamanya bagi yang meminumnya.
Namun, kekuatan besar selalu menarik bayangan gelap. Saat Chen Si, pewaris tunggal keluarga itu, baru berusia lima bulan, desa mereka diserang habis-habisan oleh sekelompok manusia bertopeng yang haus kekuasaan. Seluruh klan Chen dibantai tanpa ampun demi merampas rahasia suci itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: MALAM DARAH DI DESA BATU
Langit di atas Desa Batu tidak pernah seindah malam ini, atau setidaknya itulah yang dipikirkan oleh penduduk desa sebelum neraka turun ke bumi. Bulan purnama menggantung tinggi, memancarkan cahaya perak yang menerangi atap-atap rumah yang terbuat dari batu hitam kokoh. Desa ini terletak di lembah terpencil, dikelilingi oleh pegunungan tinggi yang diselimuti kabut tipis, menjadikannya tempat yang tersembunyi dari dunia luar.
Namun, keindahan malam itu segera ternoda oleh aroma besi dan darah yang mulai menguar di udara.
Di halaman terbesar desa, di mana rumah keluarga Chen berdiri megah, suasana yang tadinya tenang berubah menjadi medan pertempuran yang mengerikan. Teriakan panik, suara pedang beradu, dan suara ledakan aneh bergema memecah keheningan malam.
Sekelompok orang berpakaian hitam legam, wajah mereka tertutup topeng kayu berukiran wajah setan yang menyeramkan, telah menyerbu masuk tanpa peringatan. Mereka bergerak dengan efisiensi yang mematikan. Setiap ayunan pedang mereka selalu berakhir dengan nyawa melayang. Mereka bukan perampok biasa; mereka adalah mesin pembunuh yang terlatih, dan tujuan mereka hanya satu: menghancurkan klan Chen.
Di ruang tengah rumah utama, Chen Wei, kepala keluarga Chen dan juga pemimpin desa, berdiri dengan napas memburu. Pakaiannya yang berwarna putih bersih kini kotor oleh lumpur dan darah. Di tangannya, ia menggenggam sebatang tongkat giok hijau yang bercahaya samar. Wajahnya yang biasanya tenang dan bijaksana kini dipenuhi oleh kemarahan dan keputusasaan.
Di pelukannya, ada seorang bayi laki-laki yang baru berusia lima bulan. Itu adalah Chen Si, anak tunggalnya, harapan terakhir dari garis keturunan Raja Alkemis kuno. Bayi itu menangis kencang, seakan merasakan bahaya yang mengancam nyawanya.
"Chen Wei! Menyerahlah! Serahkan gulungan resep Elixir Keabadian dan kau mungkin akan kami biarkan hidup!" teriak seorang pria bertopeng yang berdiri paling depan. Suaranya serak dan dingin, menusuk ke dalam tulang.
Chen Wei tertawa getir, darah menetes dari sudut bibirnya. "Kalian sekumpulan serigala rakus! Rahasia itu bukan untuk orang-orang yang hatinya hitam seperti kalian! Kalau jatuh ke tangan kalian, dunia akan hancur!"
"Kalau begitu, hancurlah bersama desamu!" seru pemimpin bertopeng itu. Ia mengangkat tangannya, dan puluhan anak buahnya melompat maju, siap mencabik nyawa Chen Wei.
Tiba-tiba, sosok bayangan melesat cepat dari samping. Seorang pria berotot kekar dengan jubah abu-abu muncul, memutar sebuah sabit besi besar yang menciptakan angin kencang, menghalangi jalan semua penyerang.
"Tuanku, cepat pergi! Aku akan menahan mereka!" teriak pria itu. Dia adalah Wu Ye, pengawal pribadi dan saudara seperguruan Chen Wei. Kesetiaannya pada keluarga Chen melebihi nyawanya sendiri.
Chen Wei menatap Wu Ye dalam-dalam. Matanya berkaca-kaca. "Wu Ye, kakiku sudah terluka, aku tidak bisa lari. Tapi anakku... anakku harus hidup."
Dengan tangan gemetar, Chen Wei menyerahkan bayi Chen Si kepada Wu Ye. Selain bayi itu, ia juga menyelipkan sebuah kotak kecil berukir naga yang terbuat dari kayu cendana hitam ke dalam selimut bayi.
"Bawa dia pergi. Jangan pernah kembali. Sembunyikan identitasnya. Biarkan dia tumbuh sebagai orang biasa, atau biarkan dia memilih jalannya sendiri kelak. Tapi tolong... jagalah dia agar warisan klan Chen tidak punah," bisik Chen Wei.
"Tuanku! Mari kita pergi bersama!" seru Wu Ye, suaranya pecah.
"Aku akan menahan mereka sekuat tenaga. Pergi! SEKARANG!"
Chen Wei berbalik, dan dengan sisa kekuatannya, ia menepukkan kedua tangannya ke tanah. BOOM! Energi keemasan meledak keluar, menciptakan tembok api dan tanah yang menjulang tinggi, memisahkan Wu Ye dari gerombolan bertopeng itu.
"LAARI, WU YE!!"
Itu adalah teriakan terakhir Chen Wei. Di balik tembok tanah itu, terdengar suara pertarungan dahsyat, diakhiri dengan suara pedang menembus daging dan keheningan yang mencekam.
Air mata mengalir di pipi Wu Ye. Ia menggertakkan gigi, menahan rasa sakit di hatinya, dan berlari secepat kilat menuju jalan keluar rahasia yang ada di belakang rumah. Ia tidak berani menoleh ke belakang. Setiap langkahnya terasa berat, namun pelukannya pada bayi Chen Si semakin erat.
Di luar, Desa Batu sudah menjadi lautan api. Rumah-rumah batu yang kokoh terbakar, jeritan penduduk yang tidak bersalah terdengar di mana-mana. Kelompok bertopeng itu benar-benar tidak menyisakan apa pun. Mereka ingin menghapus nama Chen dari muka bumi.
Wu Ye memanjat tebing curam di belakang desa, menghindari patroli musuh. Tubuhnya terluka beberapa kali terkena senjata terlempar, namun adrenalin dan rasa dendam membuatnya terus bergerak. Ia terus berlari, menembus hutan belantara yang gelap dan menakutkan.
Hanya ketika fajar mulai menyingsing dan ia sudah berada puluhan kilometer jauhnya dari lokasi kejadian, barulah Wu Ye berhenti. Ia bersandar di sebuah pohon beringin besar, napasnya terengah-engah, tubuhnya gemetar hebat bukan karena kedinginan, tapi karena kesedihan yang mendalam.
Ia menunduk menatap bayi di pelukannya. Chen Si sudah berhenti menangis, matanya yang bulat dan jernih menatap Wu Ye dengan polos. Seolah-olah bayi itu tahu bahwa dialah satu-satunya keluarga yang tersisa baginya sekarang.
"Anak muda... mulai hari ini, duniamu sudah berubah," bisik Wu Ye pelan. Ia mengusap kepala bayi itu dengan lembut. "Ayahmu dan seluruh klanmu sudah tiada. Tapi kau hidup. Kau adalah Chen Si, keturunan terakhir Raja Alkemis. Beban yang berat akan kau pikul kelak."
Wu Ye membuka sedikit selimut dan melihat kotak kayu cendana itu. Ia tidak membukanya, karena ia tahu itu adalah kunci dari segalanya. Rahasia alkemi, kekuatan, dan juga kutukan yang membuat keluarganya dibantai.
"Aku tidak akan membiarkan mereka menemukanmu," janji Wu Ye. "Kita akan pergi ke tempat yang sangat jauh. Ke tempat di mana nama 'Alkemis' bahkan tidak pernah terdengar."
Ia mengingat sebuah tempat yang pernah ia kunjungi puluhan tahun lalu. Sebuah desa kecil yang terletak di dekat dataran rendah, di mana penduduknya bekerja menenun dan bertani. Desa yang damai, sederhana, dan jauh dari intrik kekuasaan.
Desa itu bernama Desa Kapas.
Dengan tekad yang membara di dada, Wu Ye menggendong Chen Si kembali melangkah. Matahari pagi mulai menyinari jalan di depan mereka, namun bayang-bayang masa lalu masih panjang dan gelap. Perjalanan panjang untuk menyembunyikan identitas, membesarkan anak yatim, dan menunggu hari ketika kebenaran akhirnya terungkap baru saja dimulai.
Di tangan seorang bayi yang tak berdaya itu, tersimpan takdir yang akan mengguncang seluruh dunia di masa depan.