Kehadiran seorang anak kecil berusia tujuh tahun seharusnya membawa kebahagiaan. Namun tidak bagi keluarga itu. Kedatangannya sebagai anak yang tak pernah diharapkan perlahan menghancurkan keharmonisan yang selama ini terlihat sempurna. Sejak kecil ia tumbuh di tengah tatapan benci, kasih sayang yang setengah hati, dan kehidupan yang seolah tak pernah berpihak padanya.
Semakin dewasa, ia mencoba mencari tempat untuk pulang—melalui mimpi, cita-cita, dan cinta yang diyakininya mampu memperbaiki semuanya. Tetapi hidup kembali mempermainkannya. Harapan yang ia bangun perlahan runtuh, meninggalkan penyesalan, luka, dan kenyataan bahwa tidak semua orang ditakdirkan untuk mendapatkan akhir bahagia.
Di balik semua itu, ia hanya ingin satu hal sederhana: diterima sebagai manusia, bukan kesalahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 Rahasia di Balik Tangisan
Arena ice skating yang tadi tenang kini berubah ramai karena kedatangan The Good Boys. Hampir seluruh siswa yang berada di sekitar sana langsung berbisik-bisik, sebagian sibuk mengambil foto diam-diam.
Namun pusat perhatian mereka bukan hanya delapan laki-laki itu.
Melainkan Dariela Atlanna Zavira Raespati.
Atau yang lebih sering dipanggil: Ela.
Di Sekolah Bimatara, nama Ela cukup terkenal. Bukan hanya karena prestasinya yang nyaris sempurna, tetapi juga karena sikapnya yang dingin, arogan, dan sulit didekati. Banyak siswa membencinya. Sebagian karena statusnya sebagai anak haram keluarga Raespati, sebagian lagi karena mereka menganggap Ela terlalu sombong untuk ukuran seorang murid.
Dan satu alasan terbesar kenapa hampir seluruh sekolah berada di pihak Kirana Mentari adalah karena gadis itu terlihat sempurna di mata semua orang.
Lembut.
Baik hati.
Ramah.
Kirana juga menjadi satu-satunya perempuan yang bisa masuk ke lingkaran The Good Boys tanpa penolakan sedikit pun. Terutama dari Sebasta Galen Sadipta.
Tiga tahun lalu, saat mami Sebasta mengalami kecelakaan hebat dan kehilangan banyak darah, Kirana datang membantu sebagai pendonor. Sejak saat itu keluarga Sadipta menganggap Kirana seperti penyelamat.
Dan sejak saat itu pula… Sebasta selalu berada di pihak Kirana.
Sementara Ela?
Ia membenci gadis itu setengah mati.
Bukan karena iri.
Melainkan karena sebuah rahasia besar yang hanya diketahui oleh mereka berdua. Rahasia yang membuat Ela tidak pernah percaya dengan wajah polos Kirana.
“Ela!”
Suara berat penuh emosi membuat seluruh arena langsung hening.
Sebasta berjalan cepat menghampiri Dariela dengan tatapan tajam. Aura dingin laki-laki itu langsung membuat siswa lain memilih mundur beberapa langkah. Di belakangnya, Sean, Rayanka, Dastan, dan anggota Good Boys lainnya ikut menyusul.
Amora langsung menegang.
“Mampus…” bisiknya pelan.
Dariela menoleh santai seolah tidak peduli.
“Ada apa?” tanyanya datar.
Sebasta berhenti tepat di depan gadis itu.
“Kemarin lo bikin Kirana nangis?”
Tatapan Ela berubah dingin.
“Terus?”
Jawaban singkat itu sukses membuat emosi Sebasta naik seketika.
“Lo nggak punya rasa bersalah sama sekali?”
Ela tertawa kecil sinis.
“Lucu ya. Dia nangis dikit langsung semua orang nyalahin gue.”
“Karena emang lo yang selalu cari masalah sama dia!” bentak Sebasta.
Mata Ela langsung menatap tajam ke arah laki-laki itu.
“Lo yakin dia sebaik itu?”
Suasana mendadak berubah tegang.
Sebasta melangkah maju hingga jarak mereka nyaris tidak ada.
“Jangan coba ganggu Kirana lagi.”
Ela ikut maju tanpa takut sedikit pun.
“Atau apa?”
Bisik-bisik siswa mulai terdengar semakin ramai. Sebagian sudah mengeluarkan ponsel karena mengira pertengkaran besar akan terjadi lagi.
“Ela emang keterlaluan.”
“Kasihan Kirana…”
“Anak haram emang cari perhatian.”
Ucapan itu terdengar jelas.
Namun wajah Ela tetap tanpa ekspresi seolah sudah kebal mendengarnya sejak kecil.
Sean langsung mengusap wajah kasar.
“Anjir… mulai lagi.”
“Pisahin sebelum mereka saling bunuh,” gumam Rayanka.
Dastan dan Rayanka buru-buru berdiri di tengah saat Sebasta terlihat hampir kehilangan kesabaran.
“Udah, Bas,” ujar Dastan menahan bahu sahabatnya.
“Ela juga jangan mancing!” kesal Rayanka.
Namun Ela justru tersenyum miring. Senyum kecil yang selalu berhasil memancing emosi Sebasta.
Dari kejauhan, Damar Ragnala Raespati hanya memandangi semua itu tanpa ikut campur.
Banyak orang sering bingung kenapa Damar bisa satu angkatan dengan Ela padahal usia mereka berbeda. Itu karena Damar sempat masuk kelas akselerasi saat SMP hingga akhirnya berada di tingkat yang sama dengan kakak tirinya itu, meski kelas mereka berbeda.
Dan seperti biasanya… Damar tidak tahu harus membela siapa.
Di satu sisi Kirana memang terlihat tersakiti.
Tapi di sisi lain, ia tahu Ela tidak pernah benar-benar menyerang seseorang tanpa alasan.
“Lo tuh emang nyusahin hidup orang terus, ya?” ucap Sebasta tajam.
Tatapan Ela berubah dingin seketika.
“Kalau gue buka semuanya sekarang…” suaranya pelan namun menusuk, “lo masih bakal bela Kirana nggak?”
Sebasta mengernyit.
“Maksud lo apa?”
Ela hanya tersenyum tipis tanpa menjawab.
Dan itu justru membuat Sebasta semakin emosi.
Keributan mereka akhirnya berhenti saat salah satu guru BK datang dengan wajah lelah.
“Cukup!” bentaknya keras.
Semua siswa langsung diam.
Guru itu memijat pelipisnya pelan sebelum menunjuk Sebasta dan Ela bergantian.
“Kalian lagi?”
Sean menunduk menahan tawa kecil.
“Langganan, Bu.”
“Diam kamu, Sean!”
Akhirnya Sebasta dan Ela dibawa menuju ruang BK di tengah tatapan seluruh siswa sekolah.
Namun berbeda dari guru lain yang biasanya panik menghadapi keributan murid elite Bimatara, guru BK itu justru terlihat pasrah.
Karena ini bukan pertama kalinya Sebasta Galen Sadipta dan Dariela Atlanna Zavira Raespati saling menghancurkan emosi satu sama lain.