Gerald—mantan tentara pasukan elit dari dunia modern—mengakhiri hidupnya setelah kehilangan tujuan hidup.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ia terbangun di tubuh seorang prajurit rendahan di tengah medan perang dunia asing yang dipenuhi pedang, darah, dan kerajaan yang saling membunuh.
Tanpa sihir.
Tanpa kekuatan dewa.
Hanya perang.
Di saat umat manusia sibuk saling menghancurkan, bencana muncul dari bawah tanah.
Orc.
Ribuan monster brutal menyerbu benua dan memaksa seluruh kerajaan manusia bersatu demi bertahan hidup.
Di tengah kekacauan itu, Gerald mulai membangun pasukannya sendiri.
Bukan ksatria.
Bukan bangsawan.
Melainkan orang-orang buangan: pengemis, bandit, budak, pecandu alkohol, dan tentara gagal.
Pasukan sampah yang kemudian dikenal sebagai—
The 10th Battalion
Pasukan paling kacau.
Paling brutal.
Dan paling ditakuti di medan perang.
Dari unit buangan menjadi legenda perang umat manusia, Gerald akan membuktikan bahwa monster terb
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BAGERAAA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyergapan Balik
Malam berubah kacau dalam hitungan detik.
“PENYERGAPAN?!”
Teriakan panik menggema di jalan hutan saat anak buah Raven sadar mereka justru masuk jebakan.
WHUSSH!!
Panah-panah The 10th Battalion menghujani area semak.
“ARGHH!”
“DI ATAS!” “ADA PEMANAH!”
Beberapa orang Raven langsung tumbang sebelum sempat mengangkat senjata.
Dan sebelum mereka bisa membentuk formasi—
DUAARR!!
Doran menerjang keluar dari kegelapan seperti banteng gila.
“HAHAHAHA!”
Kapak besarnya menghantam satu pria sampai tubuhnya terpental menghancurkan pohon kecil.
BRAKK!!
“MONSTER ANJIR!”
“BUNUH DIA!”
Namun Doran justru tertawa makin keras.
“AYO LAGI!”
Elias dan kelompok tombak langsung menyerbu dari sisi kanan.
“FORMASI!” “JANGAN ACAK-ACAKAN!”
Meski mulutnya panik… gerakan Elias mulai jauh lebih bagus dibanding sebelumnya.
Tombak depan menusuk bersamaan.
CRASSHH!!
Satu anak buah Raven jatuh sambil menjerit.
Dan untuk pertama kalinya…
The 10th Battalion mulai terlihat seperti pasukan sungguhan.
Namun yang paling mengerikan—
Gerald.
WHUSSH!!
Tubuhnya bergerak cepat melewati pepohonan.
Satu langkah. Satu tebasan.
CRASSHH!!
Darah muncrat ke tanah.
Pria lain bahkan belum sadar temannya mati sebelum Gerald sudah bergerak ke target berikutnya.
Cepat. Efisien. Sunyi.
Cara bertarung yang membuat Kael merinding sedikit.
“…Dia benar-benar monster.”
Luca yang berdiri di belakang menelan ludah.
Karena Gerald berbeda dari Doran.
Kalau Doran seperti badai…
Gerald seperti pisau dingin.
Tak banyak gerakan sia-sia. Namun setiap serangan selalu mematikan.
“JANGAN PANIK!”
Salah satu pria Raven mencoba mengambil alih keadaan.
“KITA MASIH—”
WHUSSH!!
Pisau kecil menancap tepat di tenggorokannya.
CRASSHH!!
Pria itu jatuh sambil memegangi leher.
Luca membelalak sendiri.
“A-Aku kena lagi?”
Boris langsung menepuk pundaknya.
“Bagus.” “Kau sekarang resmi kriminal perang.”
“ITU BUKAN HAL BAGUS!”
Namun di tengah kekacauan itu—
Gerald tiba-tiba berhenti.
Matanya menyipit.
Ada yang aneh.
Terlalu mudah.
Orang-orang ini memang cukup terlatih… namun tidak cukup kuat untuk jadi pasukan inti Raven.
Yang berarti—
“Mundur.”
“Hah?” Elias bingung.
“MUNDUR SEKARANG.”
Nada suara Gerald langsung berubah dingin.
Dan insting veteran itu benar.
WHUSSH!!
Panah api tiba-tiba meluncur dari arah belakang mereka.
DUARR!!
Api langsung membakar semak dan jalan hutan.
“ANJIR!”
“BELAKANG KITA!”
Semua langsung panik.
Puluhan bayangan manusia perlahan keluar dari gelap hutan.
Lebih banyak. Lebih rapi. Dan memakai armor hitam.
Pasukan utama Raven.
Kael langsung pucat.
“…Sial.”
Seorang pria tinggi berjalan keluar dari antara mereka sambil tersenyum kecil.
Cain.
Kapten Raven.
“Aku bilang juga…”
Tatapannya menyapu The 10th Battalion.
“…kalian menarik.”
Doran menyeringai brutal.
“Oi.” “Aku inget muka kau.”
Cain tersenyum tipis.
“Dan aku ingat bau badanmu.”
Hening.
Lalu seluruh batalion tertawa.
“HAHAHAHA!”
“COCOK!”
“EMANG BAU DIA PARAH!”
Doran langsung marah.
“WOI!”
Namun Cain tetap tenang.
Tatapannya akhirnya berhenti pada Gerald.
“Komandan Raven benar.”
“…Kalian memang layak dibunuh.”
Tekanan langsung berubah.
Pasukan Raven mulai membentuk lingkaran.
Jumlah mereka sekitar empat puluh orang.
Dan The 10th Battalion sekarang…
Terjebak di tengah hutan.
Elias mulai pucat lagi.
“Gerald…”
“Kita dikepung.”
“Aku tahu.”
“ITU BUKAN JAWABAN MENENANGKAN!”
Api mulai membesar di sekitar jalan.
Asap hitam naik ke udara.
Dan Gerald sadar—
Ini tujuan Raven sebenarnya.
Bukan desa terbakar. Bukan pengungsi.
Namun memancing mereka keluar… lalu menghabisi mereka di hutan.
Cain perlahan mencabut pedangnya.
CLANG…
“Akhiri cepat.”
Pasukan Raven langsung mulai bergerak maju.
Namun—
Gerald justru tersenyum tipis.
Kael langsung membelalak.
“…Jangan bilang.”
Gerald meliriknya sedikit.
“Menurutmu aku gak siap rencana kedua?”
Keheningan sepersekian detik.
Lalu—
WHUSSH!!
Suara tanduk perang menggema dari arah belakang pasukan Raven.
BUUUUUUUUUUUMM!!
Cain langsung menoleh cepat.
“Apa—?”
Dan dari gelap hutan…
Puluhan obor muncul.
Pasukan cadangan The 10th Battalion.
Dipimpin Varn dan para pengungsi baru.
Cain langsung menyadari sesuatu.
“…Kita dijebak balik.”
Doran tertawa keras seperti orang gila.
“HAHAHAHAHAHA!”
Gerald perlahan mengangkat pedangnya.
Tatapannya dingin.
“Sekarang…”
Api hutan memantul di matanya.
“…giliran kami berburu.”