Antagonis Milik Sang Duke

Antagonis Milik Sang Duke

Bab 1. Masuk Ke Dalam Novel

​"Kau mau pergi ke mana, Luvya?"

​Suara itu rendah, berat, dan dingin seperti gesekan pedang di atas es. Luvya membeku di depan pintu perpustakaan. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang berdiri di sana. Aura intimidasi itu sudah cukup untuk mencekik udara di sekitarnya.

​Langkah sepatu bot yang teratur mendekat. Kael Grandwick—pria yang seharusnya hanya menjadi kakak angkat yang dingin dalam novel—kini berdiri tepat di belakangnya. Luvya bisa merasakan bayangan tubuh Kael yang tinggi besar menutupi cahaya lampu di depannya. Postur tubuhnya yang kekar terbalut kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku, memperlihatkan urat-urat tangan yang kuat.

​Kael tidak menyentuhnya. Ia hanya mengulurkan tangan, melewati bahu Luvya, untuk menutup pintu kayu yang berat itu kembali dengan satu sentuhan pelan.

Klik.

​"Bukankah seru mencuri informasi Duke Grandwick di perpustakaan miliknya?" bisik Kael tepat di samping telinganya.

​Luvya memberanikan diri sedikit melirik. Dari pantulan gagang pintu yang mengkilap, ia bisa melihat helaian rambut hitam legam Kael yang jatuh berantakan di dahi. Namun yang paling mengerikan adalah sepasang mata biru tuanya. Mata itu menatap Luvya dengan sorot yang tajam dan posesif, seakan-akan ada rantai kasat mata yang siap menjerat Luvya jika ia berani melangkah satu senti saja dari sana.

​Luvya menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang karena takut.

​Ini gila. Di novel, seharusnya dia tidak berada di rumah sekarang. Aku benar-benar telah menghancurkan jalan ceritanya, batin Luvya.

Ketegangan itu terasa begitu nyata hingga Luvya nyaris lupa cara bernapas. Namun, di tengah kepungan aura intimidasi Kael, Luvya tersadar mengapa ia bisa terjebak di detik ini. Mengapa ia, yang dulunya bukan siapa-siapa, kini harus berhadapan dengan Duke Grandwick yang obsesif.

​Semuanya bermula dari kehidupan yang ingin ia lupakan.

Jauh sebelum ia menjadi Luvya Vounwad, ia hanyalah Lily. Seorang gadis yatim piatu yang sisa hidupnya habis untuk bertaruh dengan nasib.

​Sore itu, di sudut minimarket yang sepi, Lily menatap layar ponselnya yang retak dengan napas tertahan. Sebuah notifikasi email masuk. Begitu membacanya, Lily spontan memekik kecil hingga menjatuhkan kain pel yang ia pegang.

​"Lolos... Aku lolos!" Lily menutup mulutnya dengan kedua tangan, air mata bahagia menggenang di pelupuk matanya. "Nenek, aku berhasil! Aku masuk Fakultas Hukum!"

​Ia tertawa sendirian, mengabaikan tatapan heran beberapa pelanggan. Dengan tangan gemetar, ia menekan tombol panggil di ponselnya. Ia ingin menjadi orang pertama yang memberi tahu neneknya bahwa perjuangan mereka tidak sia-sia.

Belum sempat menelpon neneknya, ia mendapat telpon dari nomor rumah sakit.

​"Apakah ini keluarga dari Nyonya Maryam?"

​Senyuman Lily sirna. Suara di seberang sana bukan suara lembut neneknya, melainkan suara kaku dan dingin khas petugas rumah sakit.

​"I-iya, saya cucunya. Ada apa ya?" tanya Lily, mendadak jantungnya berdegup tidak keruan.

​"Nyonya Maryam baru saja dilarikan ke ICU karena gagal jantung. Anda harus segera ke Rumah Sakit Medika sekarang."

​Ponsel di tangan Lily nyaris jatuh. Dunia yang sedetik lalu terasa penuh warna, tiba-tiba berubah menjadi abu-abu.

​"Tapi... tapi beasiswaku..." Lily bergumam lirih pada udara kosong. Harapannya tentang toga dan ruang sidang menguap saat itu juga. Tanpa pikir panjang, ia melepaskan impiannya. Ia mendatangi kantor administrasi kampus hanya untuk mengatakan satu kalimat yang menghancurkan masa depannya: "Saya membatalkan pendaftaran saya."

​Setelah itu, hidup Lily berubah menjadi putaran mesin yang kejam. Ia mengambil tiga pekerjaan sekaligus.

​"Lily, makan dulu! Wajahmu sudah pucat sekali," tegur salah satu rekan kerjanya di gudang.

​Lily hanya tersenyum tipis sambil terus mengangkut kardus-kardus berat. "Nanti saja, Pak. Masih banyak tagihan rumah sakit yang harus saya bayar."

​Ia menekan perutnya yang terasa seperti ditusuk-tusuk sembilu. Perih sekali. Tapi Lily hanya meminum air keran untuk mengganjal lapar. Baginya, satu porsi nasi setara dengan harga satu botol obat untuk neneknya.

​Hingga akhirnya, perjuangan itu kalah oleh takdir. Neneknya pergi selamanya. Di hari pemakaman yang diguyur hujan, Lily berdiri gemetar dengan baju hitam yang sudah luntur warnanya.

​"Nenek... aku sendirian sekarang," bisiknya pilu di depan pusara. Saat ia hendak melangkah pergi, dunianya berputar hebat. Lily ambruk, jatuh tersungkur di atas tanah makam yang berlumpur.

​Ia terbangun di bangsal rumah sakit yang pengap. Bau disinfektan menyeruak masuk ke indranya.

​"Maaf," suara dokter terdengar seperti vonis mati. "Kanker ususmu sudah stadium akhir. Seharusnya kau datang sejak lama."

​Lily hanya menatap langit-langit RS yang retak dengan pandangan kosong.

​Malam itu, Lily meninggal dalam kesunyian. Tidak ada tangan yang menggenggamnya, hanya bunyi tit panjang dari alat monitor jantung yang menandakan perjuangan panjangnya telah selesai.

Namun, kegelapan yang ia harapkan sebagai peristirahatan abadi tak kunjung datang.

​Lily terbangun di sebuah ruang hampa yang pekat. Dingin dan tak berujung. Di tengah kekosongan itu, ia melihat satu-satunya titik cahaya. Seorang gadis berambut pirang pucat sedang duduk meringkuk, memeluk lututnya dengan bahu yang bergetar hebat. Isak tangisnya terdengar menyayat hati.

​"Siapa...?" suara Lily parau, seolah suaranya sudah lama tak digunakan.

​Gadis itu tidak menjawab. Ia hanya terus bergumam di balik sela-sela tangisnya, "Selamatkan aku... kumohon, selamatkan aku."

​Lily melangkah mendekat, meski setiap langkah terasa berat. Ruangan itu begitu gelap hingga ia hanya bisa melihat gadis itu sebagai satu-satunya pusat dunia. Saat Lily mengulurkan tangan dan menyentuh bahu gadis itu, si gadis pirang mendongak.

​Wajahnya samar, tertutup air mata dan kabur, namun matanya memancarkan keputusasaan yang begitu dalam. Sesaat sebelum jemari Lily benar-benar merengkuhnya, gadis itu berbisik sekali lagi dengan suara yang hampir menghilang.

​"Selamatkan aku."

​Tiba-tiba, lantai di bawah kaki Lily runtuh. Ia terjatuh ke dalam lubang hitam raksasa yang seolah menelan seluruh keberadaannya. Sensasi jatuh itu begitu nyata hingga jantungnya seakan tertinggal di atas.

​"Hah—!"

​Lily tersentak bangun. Napasnya memburu, keringat dingin membasahi keningnya. Ia segera meraba perutnya, rasa sakit yang biasanya mengoyak ususnya hilang tanpa bekas. Pandangannya berputar menyapu ruangan yang terasa asing namun sangat megah. Langit-langit kamarnya dihiasi lukisan mural kuno, dan tempat tidur yang ia tempati terasa begitu empuk, jauh berbeda dari bangsal rumah sakit yang keras.

​​"Nona Luvya? Anda sudah sadar?"

Lily membeku. Seorang wanita paruh baya dengan pakaian pelayan klasik berwarna hitam-putih berdiri di samping ranjangnya, menatapnya dengan raut wajah cemas yang mendalam.

​"N-nona Luvya? Anda benar-benar sudah sadar?" Wanita itu bertanya sekali lagi, suaranya gemetar. Begitu melihat Lily mengerjapkan mata, wanita itu langsung menangis haru. "Terima kasih Dewa! Saya pikir... saya pikir kami akan kehilangan Anda selamanya."

​Lily hanya bisa terdiam dengan tenggorokan kering. Nona Luvya? Dewa? Siapa mereka? Bukankah aku sudah mati di rumah sakit?

​Belum sempat ia mencerna keadaan, pintu kamar yang besar terbuka lebar. Seorang pria paruh baya berkacamata dengan raut wajah formal masuk, diikuti oleh pria lain yang mengenakan jubah putih bersulam benang keemasan yang sangat megah.

​Pria berjubah itu tidak membawa stetoskop atau peralatan medis modern. Ia justru mengeluarkan sebuah tongkat kayu yang di puncaknya tertanam kristal bening. Saat ia mulai berkomat-kamit, cahaya putih hangat memancar dari tongkat itu, menyelimuti tubuh Lily.

​Lily terbelalak. Sinar itu bukan lampu, tapi terasa nyata meresap ke kulitnya.

​"Sangat ajaib," gumam sang tabib sambil menurunkan tongkatnya. Ia menoleh pada pria berkacamata. "Tuan Gogrid, kekuatan suci tidak lagi ditolak oleh tubuhnya. Dewa benar-benar telah memberikan Nona Luvya keselamatan. Masa kritisnya sudah lewat."

​Pria berkacamata yang dipanggil Tuan Gogrid itu mengembuskan napas lega, meski wajahnya tetap kaku. Ia mendekat ke sisi ranjang, menatap Lily dengan tatapan yang sulit diartikan.

​"Baguslah kalau Anda sudah sadar, Nona Luvya," ucap Tuan Gogrid formal. "Segera pulihkan diri Anda. Duke Vounwad akan segera kembali dari wilayah utara dalam beberapa hari. Beliau pasti mengharapkan Anda sudah bisa berdiri tegak saat menyambutnya nanti."

​Lily hanya bisa menatap mereka bergantian dengan pandangan kosong. Duke? Tuan? Tabib dengan tongkat sihir?

​Semua istilah itu terasa tidak asing di telinganya. Perlahan, ingatan tentang sebuah novel berjudul A Healer for the Crown mulai berputar di kepalanya. Nama-nama itu... tempat ini...

​Jangan-jangan...

Begitu Tuan Gogrid dan sang tabib melangkah keluar, Lily tidak membuang waktu. Mengabaikan rasa pening yang masih sedikit tersisa, ia langsung bangkit dari ranjangnya.

​"Nona! Apa yang Anda lakukan? Anda harus beristirahat!" seru pelayan itu panik, berusaha menahan lengan Lily.

​Lily tidak mendengarkan. Ia menyibakkan selimut sutra yang berat itu dan melompat turun. Kakinya mendarat di atas karpet bulu yang sangat lembut—sensasi yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Ia segera berlari menuju cermin besar berbingkai emas yang berdiri angkuh di sudut ruangan.

​Dan... BUM!

​Lily membeku. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat melihat pantulan di depannya.

​Ini bukan dirinya.

​Gadis di dalam cermin itu memiliki rambut pirang yang bergelombang, kulit putih porselen tanpa cela, dan sepasang mata berwarna biru cerah yang tampak sangat jernih. Cantik, namun terlihat rapuh. Lily menyentuh wajahnya, dan sosok di cermin itu melakukan hal yang sama dengan gerakan gemetar.

​"Luvya...?" gumamnya lirih.

​Nama itu menghantam otaknya seperti palu godam. Luvya Vounwad. Ia ingat sekarang. Ini adalah nama karakter antagonis dari novel A Healer for the Crown yang pernah ia baca untuk membunuh waktu di sela jam kerjanya dulu. Novel romansa Fantasi yang di mana pemeran utama wanita yaitu Sellia Hastelle ditakdirkan untuk menyembuhkan pemeran utama pria yaitu Arken Carius. Sedangkan Luvya Vounwad adalah karakter antagonis yang menyukai Arken—putra mahkota—lalu menindas Sellia. Hingga pada episode akhir, Luvya mati penggal dan mayatnya digantung.

​Lily menunduk, memperhatikan tangannya yang kecil dan halus. Dilihat dari postur tubuhnya yang mungil dan wajahnya yang masih polos, ia menyimpulkan satu hal, tubuh ini masih anak-anak. Usianya mungkin sekitar dua belas tahun.

​"Artinya... cerita itu belum dimulai," bisiknya pelan, hampir tak terdengar.

​Pelayan di belakangnya berdiri dengan wajah pucat, tampak kebingungan sekaligus ketakutan melihat nonanya yang biasanya pendiam kini bertingkah aneh—berdiri tegak di depan cermin sambil bicara sendiri setelah baru saja melewati masa kritis.

​"Nona Luvya? Anda... Anda baik-baik saja? Perlu saya panggilkan Tuan Gogrid kembali?"

​Lily—yang kini adalah Luvya—berpaling. Matanya yang biru cerah kini menatap pelayan itu dengan tajam, sebuah tatapan dingin yang tidak seharusnya dimiliki oleh anak berusia dua belas tahun.

​"Tidak perlu," jawabnya tegas. "Siapa namamu?"

Wajah pelayan itu seketika memucat, matanya membulat penuh ketakutan. "Nona... Anda tidak mengingat saya? Saya Willy, pelayan pribadi Anda sejak kita masih di kediaman lama."

​Luvya tertegun sejenak. Ia benar-benar tidak tahu siapa pria di depannya ini. Sejauh ingatan yang ia miliki tentang novel A Healer for the Crown, hanya ada satu nama pelayan pria yang dominan di kediaman ini: Gogrid, pria berkacamata yang tadi keluar bersama tabib.

​"Ah, benar. Willy," sahut Luvya berusaha tetap tenang. Suaranya terdengar datar, namun ada nada otoritas yang tidak biasa di sana.

​"Nona, apa kepala Anda terasa sakit? Apa saya harus memanggil tabib kembali? Anda tampak... sangat berbeda," tanya Willy dengan tangan yang gemetar. Ia tampak bingung melihat nonanya yang biasanya meledak-ledak kini justru terlihat sangat terkendali.

​Luvya menghela napas panjang. Ia butuh waktu untuk menyusun strategi dan memproses semua informasi ini tanpa gangguan. Jika ia terus bicara, ia takut rahasianya akan terbongkar. Sebagai seseorang yang pernah hidup keras dan harus selalu waspada, instingnya mengatakan ia butuh ruang untuk berpikir jernih.

​"Aku hanya butuh waktu untuk sendiri," ucap Luvya sambil berjalan kembali ke arah ranjang dengan langkah yang stabil. Sangat kontras dengan kondisinya yang baru saja sadar dari masa kritis. "Keluar, Willy. Jangan biarkan siapa pun masuk sampai aku memanggilmu."

​"Tapi, Nona—"

​"Keluar," potong Luvya pendek. Ia memberikan tatapan tajam yang membuat Willy langsung bungkam.

​"Ba-baik, Nona. Saya akan berjaga di depan pintu." Willy membungkuk dalam, lalu mundur perlahan dan menutup pintu kamar yang besar itu dengan hati-hati.

​Begitu suara pintu tertutup dan suasana menjadi hening, Luvya langsung menyandarkan punggungnya ke sandaran ranjang yang empuk. Ia menatap tangannya yang mungil dan halus, lalu beralih menatap kemewahan di sekelilingnya yang terasa sangat asing.

​"Luvya Vounwad, usia dua belas tahun," bisiknya pada diri sendiri.

​Ingatannya tentang plot novel mulai berputar cepat di kepalanya. Di usia inilah takdir buruk Luvya dimulai. Dan yang paling penting... ini adalah tahun di mana Duke Vounwad akan membawa "anak itu" ke rumah ini.

​"Kael..." Luvya bergumam, merasakan firasat buruk mulai merayapi hatinya.

Episodes
1 Bab 1. Masuk Ke Dalam Novel
2 Bab 2. Menjadi Antagonis
3 Bab 3 Kedatangan Kael
4 Bab 4. Penyiksaan Terakhir Kalinya
5 Bab 5. Janji Jari Kelingking
6 Bab 6. Pergi Ke Pengasingan
7 Bab 7. Kuil Penitensi
8 Bab 8. Ingatan Luvya Asli
9 Bab 9. Pengakuan Dosa
10 Bab 10. Racun
11 Bab 11. Bergabung ke Sekte
12 Bab 12. Rahasia yang Terkubur
13 Bab 13. Keluar Kuil
14 Bab 14. Taktik Luvya
15 Bab 15. Beranjak Dewasa
16 Bab 16 Pembunuhan Pertama
17 Bab 17 Meninggalkan Kuil
18 Bab 18. Bertemu Pemeran Utama
19 Bab 19. Selamat Datang Kota Hanberg
20 Bab 20. Akademi Sihir Hanberg
21 Bab 21. Matematika Sihir
22 Bab 22. Undangan Pesta
23 Bab 23. Serigala Iblis Di Hutan Sihir
24 Bab 24. Pria Bertopeng
25 Bab 25. Pemeran Figuran
26 Bab 26. Riset Sihir
27 Bab 27. Penghianatan
28 Bab 28. Penyihir Musim Dingin
29 Bab 29. Bersama Kael
30 Bab 30. Makan Bersama
31 Bab 31. Rahasia di Balik Gelar Duke (1)
32 Bab 32. Rahasia di Balik Gelar Duke (2)
33 Bab 33. Bertemu Kaisar
34 Bab 34 Bertemu Sellia
35 Bab 35. Keajaiban Luvya
36 Bab 36. Bidak Bagi Lucius
37 Bab 37. Insomnia
38 Bab 38. Sesuatu Yang Dirahasiakan
39 Bab 39. Kedatangan Profesor Hedelon
40 Bab 40. Kuil Matahari
41 Bab 41. Teka Teki Kuil
42 Bab 42. Serangan dan Kemarahan Luvya
43 Bab 43. Senyuman Kael
44 Bab 44. Ulang Tahun Kaisar
45 Bab 45. Pesta Topeng yang Terbongkar
46 Bab 46. Pengakuan Cinta
47 Bab 47. Undangan Para Bangsawan
48 Bab 48. Penculikan
49 Bab 49. Dalang Selama Ini
50 Bab 50. Potongan Puzzle Berdarah
51 Bab 51. Umpan Tengah Malam
52 Bab 52. Mengulang Waktu
53 Bab 53. Penawaran Licik
54 Bab 54. Ingatan Kehidupan Pertama
55 Bab 55. Ingatan Kehidupan Pertama (2)
56 Bab 56. Ingatan Kehidupan Pertama (3)
57 Bab 57. Memutar Kembali Waktu
58 Bab 58. Berita Penculikan
59 Bab 59. Rahasia Kelam
60 Bab 60. Keluarnya Iblis
61 Bab 61. Buku Silsilah Terlarang
62 Bab 62. Rantai Yang Tidak Terlihat
63 Bab 63. Benang Merah Yang Terurai
64 Bab 64. Di Bawah Kekuasaan Kael
65 Bab 65. Masih Menjadi Rahasia
66 Bab 66. Satu Rahasia Lagi
67 Bab 67. Aliansi Kebaikan
68 Bab 68. Bertugas Lagi
69 Bab 69. Candu dan Keberangkatan
70 Bab 70. Iblis yang Menyatu
71 Bab 71. Celah Dalam Kegelapan
72 Bab 72. Drama Bagi Lucian
73 Bab 73. Fakta Yang Terkuak
74 Bab 74. Reruntuhan Rediasea
75 Bab 75. Pertarungan Di Bawah Langit Merah
76 Bab 76. Mengirim Iblis Ke Neraka
77 Bab 77. Setelah Kepergian Iblis
78 Bab 78. Keraguan Tentang Hidup
79 Bab 79. Kebenaran Lagi
80 Bab 80. Luvya Vounwad Yang Asli
81 Bab 81. Akhir dari Segalanya
82 Bab 82 Akhir Yang Bahagia
83 Ekstra Bab 1. Penutup Kisah Masa Lalu
84 Ekstra Bab 2. Dua Jiwa Yang Patah
85 Ekstra Bab 3. Jiwa Yang Kusut
86 Ekstra Bab 4. Selera Makan Yang Tidak Manusiawi
87 Ekstra Bab 5. Drama Makan Sayur
88 Ekstra Bab 6. Cinta Segitiga Lagi
89 Ekstra Bab 7. Kehangatan Sebuah Keluarga (Tamat)
Episodes

Updated 89 Episodes

1
Bab 1. Masuk Ke Dalam Novel
2
Bab 2. Menjadi Antagonis
3
Bab 3 Kedatangan Kael
4
Bab 4. Penyiksaan Terakhir Kalinya
5
Bab 5. Janji Jari Kelingking
6
Bab 6. Pergi Ke Pengasingan
7
Bab 7. Kuil Penitensi
8
Bab 8. Ingatan Luvya Asli
9
Bab 9. Pengakuan Dosa
10
Bab 10. Racun
11
Bab 11. Bergabung ke Sekte
12
Bab 12. Rahasia yang Terkubur
13
Bab 13. Keluar Kuil
14
Bab 14. Taktik Luvya
15
Bab 15. Beranjak Dewasa
16
Bab 16 Pembunuhan Pertama
17
Bab 17 Meninggalkan Kuil
18
Bab 18. Bertemu Pemeran Utama
19
Bab 19. Selamat Datang Kota Hanberg
20
Bab 20. Akademi Sihir Hanberg
21
Bab 21. Matematika Sihir
22
Bab 22. Undangan Pesta
23
Bab 23. Serigala Iblis Di Hutan Sihir
24
Bab 24. Pria Bertopeng
25
Bab 25. Pemeran Figuran
26
Bab 26. Riset Sihir
27
Bab 27. Penghianatan
28
Bab 28. Penyihir Musim Dingin
29
Bab 29. Bersama Kael
30
Bab 30. Makan Bersama
31
Bab 31. Rahasia di Balik Gelar Duke (1)
32
Bab 32. Rahasia di Balik Gelar Duke (2)
33
Bab 33. Bertemu Kaisar
34
Bab 34 Bertemu Sellia
35
Bab 35. Keajaiban Luvya
36
Bab 36. Bidak Bagi Lucius
37
Bab 37. Insomnia
38
Bab 38. Sesuatu Yang Dirahasiakan
39
Bab 39. Kedatangan Profesor Hedelon
40
Bab 40. Kuil Matahari
41
Bab 41. Teka Teki Kuil
42
Bab 42. Serangan dan Kemarahan Luvya
43
Bab 43. Senyuman Kael
44
Bab 44. Ulang Tahun Kaisar
45
Bab 45. Pesta Topeng yang Terbongkar
46
Bab 46. Pengakuan Cinta
47
Bab 47. Undangan Para Bangsawan
48
Bab 48. Penculikan
49
Bab 49. Dalang Selama Ini
50
Bab 50. Potongan Puzzle Berdarah
51
Bab 51. Umpan Tengah Malam
52
Bab 52. Mengulang Waktu
53
Bab 53. Penawaran Licik
54
Bab 54. Ingatan Kehidupan Pertama
55
Bab 55. Ingatan Kehidupan Pertama (2)
56
Bab 56. Ingatan Kehidupan Pertama (3)
57
Bab 57. Memutar Kembali Waktu
58
Bab 58. Berita Penculikan
59
Bab 59. Rahasia Kelam
60
Bab 60. Keluarnya Iblis
61
Bab 61. Buku Silsilah Terlarang
62
Bab 62. Rantai Yang Tidak Terlihat
63
Bab 63. Benang Merah Yang Terurai
64
Bab 64. Di Bawah Kekuasaan Kael
65
Bab 65. Masih Menjadi Rahasia
66
Bab 66. Satu Rahasia Lagi
67
Bab 67. Aliansi Kebaikan
68
Bab 68. Bertugas Lagi
69
Bab 69. Candu dan Keberangkatan
70
Bab 70. Iblis yang Menyatu
71
Bab 71. Celah Dalam Kegelapan
72
Bab 72. Drama Bagi Lucian
73
Bab 73. Fakta Yang Terkuak
74
Bab 74. Reruntuhan Rediasea
75
Bab 75. Pertarungan Di Bawah Langit Merah
76
Bab 76. Mengirim Iblis Ke Neraka
77
Bab 77. Setelah Kepergian Iblis
78
Bab 78. Keraguan Tentang Hidup
79
Bab 79. Kebenaran Lagi
80
Bab 80. Luvya Vounwad Yang Asli
81
Bab 81. Akhir dari Segalanya
82
Bab 82 Akhir Yang Bahagia
83
Ekstra Bab 1. Penutup Kisah Masa Lalu
84
Ekstra Bab 2. Dua Jiwa Yang Patah
85
Ekstra Bab 3. Jiwa Yang Kusut
86
Ekstra Bab 4. Selera Makan Yang Tidak Manusiawi
87
Ekstra Bab 5. Drama Makan Sayur
88
Ekstra Bab 6. Cinta Segitiga Lagi
89
Ekstra Bab 7. Kehangatan Sebuah Keluarga (Tamat)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!