NovelToon NovelToon
Suami Dadakanku Penjual Bakso Bakar

Suami Dadakanku Penjual Bakso Bakar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / CEO
Popularitas:21.6k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Arumi tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir sebagai "jaminan" utang. Dipaksa menikah dengan seorang rentenir tua yang kejam demi melunasi hutang keluarganya, Arumi nekat melakukan aksi gila .
Dalam keputusasaan di tengah taman kota matanya tertuju pada sosok pria tampan yang sedang sibuk mengipasi tusukan bakso. Tanpa pikir panjang, Arumi menarik tangan Elang, sang penjual bakso bakar, dan mengakuinya sebagai calon suami di hadapan Ayahnya
Siapa sangka, Elang yang terlihat sederhana dengan apron hitamnya itu menyanggupi tantangan Arumi. Namun, di balik aroma asap arang dan bumbu kacang, ada rahasia besar yang disimpan Elang. Apakah pernikahan Dadakan ini akan membawa kebahagian ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu tiga sahabat

Pagi itu, sinar matahari pagi menyusup lembut melalui celah gorden tipis di rumah kontrakan kecil yang kini menjadi tempat tinggal Arumi dan Elang. Udara masih sejuk, bercampur aroma kopi dan nasi goreng yang baru matang. Arumi berdiri di dapur kecil sambil tersenyum sendiri. Ini adalah pagi ke lima mereka sebagai suami istri setelah akad nikah .

Arumi menata dua piring nasi goreng spesial lengkap dengan telur mata sapi dan irisan timun segar. Tak lupa ia menyiapkan dua kotak bekal untuk dibawa ke kantor. Satu untuk dirinya sendiri, satu lagi untuk Elang.

“ Masakanmu enak sekali,” puji Elang sambil menyantap sarapannya dengan lahap. Matanya masih sedikit mengantuk, tapi senyumnya tak pernah pudar sejak semalam.

Arumi tersipu. “Biasa saja. Ini bekal buat kamu juga. Jangan lupa makan siang ya, jangan cuma minum kopi doang di kantor.” Ia menyodorkan kotak bekal yang sudah rapi dibungkus.

Setelah sarapan bersama yang hangat dan penuh tawa kecil, mereka bersiap berangkat kerja. Rumah kontrakan ini memang jauh lebih dekat ke kantor dibandingkan rumah Arumi yang dulu. Hanya butuh sekitar dua belas menit naik motor. Itu menjadi salah satu alasan mereka memilih tempat ini.

Sesuai kesepakatan, mereka berangkat sendiri-sendiri untuk menyembunyikan status pernikahan mereka. Elang naik sepeda motor hitamnya yang biasa untuk berdagang bakso bakar di sore hari , sementara Arumi menggunakan motor merahnya yang terlihat sederhana (motor seken yang dibelikan Elang,bukan karena Elang tidak mau membelikan baru dan mahal,tapi takutnya Arumi Curiga ). Mereka sengaja tidak terlihat bersama di depan umum. Baik rekan kerja maupun tetangga kos hanya mengenal Arumi sebagai “adik” Elang yang sedang tinggal di sana. Rahasia ini mereka jaga dengan ketat, setidaknya untuk sementara waktu.

Sesampainya di kantor, suasana pagi sudah mulai ramai. Bau kopi instan dan suara obrolan ringan memenuhi lorong masuk. Belum sempat Arumi meletakkan tasnya, suara ceria langsung menyambutnya.

“Selamat pagi, Arumi cantik!” seru Reva dengan nada riang, Reva susanti yang sering dia panggil Santi teman sekaligus sahabat Arumi yang paling cerewet.

“Kebiasaan kamu! Setiap ketemu langsung godain. Salam dulu kek!” Arumi mengomel sambil tersenyum tipis.

“Maaf! Assalamualaikum, Bu Hajah!” balas Reva/Santi   sambil memberi hormat berlebihan dengan gaya bercanda.

“Waalaikumsalam! Aamiin!” jawab Arumi sambil tertawa kecil.

“Lho, kok aamiin?” tanya Santi dengan wajah polos yang dibuat-buat.

“Iya, kamu tadi panggil aku apa?” balas Arumi.

“Bu Hajah!” jawab Santi  sambil mengangkat bahu.

“Aamiin! Semoga aku bisa ke Tanah Suci seperti doamu,” kata Arumi sambil mengedipkan mata.

Santi masih melongo sebentar sebelum akhirnya mengerti. “Iya juga ya! Kalau Bu Hajah kan harus naik haji dulu ke Tanah Suci. Hehe, kok aku jadi oon gini!” Santi tertawa lepas sambil menutup mulutnya. Arumi hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan sahabatnya itu. Meski sering jail, Santi selalu menjadi penyemangat Arumi di hari-hari berat, terutama sejak ibu tirinya datang dan membuat suasana rumah semakin tidak nyaman.

“Eh, gimana, Rum? Acara hari Minggu kemarin?” tanya Santi dengan nada penasaran. “Maaf ya, kemarin aku nggak jadi main ke rumahmu dan nongkrong di taman seperti janji kita. Aku lagi cuti,aku keluar kota nenggok saudaraku yang sakit .”

“Ke rumah sakit? Memang siapa yang sakit, San?” tanya Arumi khawatir.

“Kakakku, Rum. Mbak Endang kemarin melahirkan. Jadi maaf banget, aku lupa kasih kabar,” jelas Santi dengan wajah bersalah. Ia tahu betul kehidupan Arumi yang rumit. Hanya Santi dan kedua teman cowok mereka yang bisa menghibur Arumi ketika suasana di rumah terasa sesak.

“Nggak apa-apa, San. Jadi Mbak Endang sudah melahirkan? Anaknya cowok atau cewek?” tanya Arumi antusias. Arumi dan Mbak Endang  memang sudah dekat. Bahkan seluruh keluarga Santi sudah menganggap Arumi seperti anak sendiri.

“Cowok!” jawab Santi sambil tersenyum lebar. “Alhamdulillah, akhirnya keinginan orang tua terkabul ingin punya cucu laki-laki. Keluarga kami kan tiga bersaudara, semuanya perempuan.”

“Alhamdulillah sekali. Maaf ya, aku nggak tahu soal Mbak Endang melahirkan,” kata Arumi tulus.

“Nggak apa-apa. Oh ya, Beberapa hari ini aku hubungi HP-mu kok nggak bisa? Kamu ke mana sih? Nggak biasanya HP-mu susah dihubungi. Kamu nggak apa-apa, kan?” Wajah Santi penuh kekhawatiran. Ia memang paling peka di antara mereka berempat.

Arumi ragu sejenak. “Aku … enggak apa-apa kok. Kamu lihat sendiri, kan? Aku sehat-sehat saja,Hpku lagi rusak dan lagi didandan di counter,” jawabnya sambil berusaha tersenyum wajar

Santi menyipitkan mata. “Kayaknya kamu bohong. Aku lihat ada yang kamu sembunyikan dariku,” katanya penuh selidik. Santi memang selalu bisa membaca gelagat Arumi dengan mudah.

“Aku …” ucapan Arumi terpotong karena dua teman cowok mereka datang bersamaan.

“Hei, Arumi! Santi! Kok kalian belum masuk?” sapa Andi  dengan suara keras khasnya.

“Nanti dulu lah. Masih ada lima belas menit lagi jam kerja dimulai,” sahut Arumi santai.

“Eh, Pak Rama sudah datang belum?” tanya Jefri kemudian. Pak Rama adalah kepala Devisi mereka yang dikenal cukup ketat.

“Sepertinya belum. Memang kenapa?” tanya Arumi.

“Soalnya aku kemarin dapat tugas dari beliau, belum aku kerjakan,” jawab Reno sambil menggaruk kepala.

“Pantesan Sabtu kemarin kamu dipanggil ke ruangan Pak Rama,” timpal Santi.

“Iya, Ren,Kemarin aku lihat kamu masuk ruangan Pak Remon. Tumben ada apa?” tanya Andi ikut nimbrung.

“Kepo! Ingin tahu saja kamu!” balas Reno .

“Ya iyalah, namanya teman. Kita wajib kepo dong!”Andi tertawa.

“Memang Pak Rama ngomong apa? Tumben banget beliau memanggil kamu. Apalagi pas keluar dari ruangannya, kamu kelihatan kusut sekali,” tanya Andi lagi.

Santi menimpali dengan nada serius, “Iya, Ren. Kita kan sudah berteman lama. Kita berempat sudah janji nggak ada yang sembunyi-sembunyian. Kalau ada masalah, lebih baik kita cerita bareng. Siapa tahu kita bisa bantu cari jalan keluar.”

Ucapan Santi membuat hati Arumi tersentil. Ia belum menceritakan apa pun tentang pernikahannya dengan Elang. Rasa bersalah mulai menyelinap, tapi Arumi masih ingin menjaga rahasia ini lebih lama.

Reno akhirnya menghela napas panjang. “Sebenarnya Sabtu kemarin aku dipanggil Pak Rama karena ditegur. Banyak kesalahan di laporanku. Harus direvisi dan diserahkan hari ini juga.”

“Tumben kamu ditegur gara-gara laporan. Biasanya di antara kita berempat, kamu yang paling rapi,” tanya  Santi heran.

“Aku lagi pusing. Istriku uring-uringan terus. Apalagi dia lagi ngidam. Aku harus nurutin semua keinginannya,” keluh Reno jujur.

“Ya, kamu harus sabar, Ren. Lagian anak yang dikandung istri kamu itu anak kamu juga. Apa kamu mau anak kamu ileran?” nasihat Santi.

“Amit-amit jabang bayi! Jangan sampai begitu!” Reno langsung menepuk perutnya yang agak buncit karena lemak. Melihat kelakuannya, Arumi, Santi, dan Andi tertawa terbahak-bahak.

“Memangnya kamu yang hamil,Ren? Sampai-sampai nepuk perut sendiri!” goda Andi.

“Hehe, refleks!” sahut Reno sambil nyengir lebar. Mereka semua hanya geleng-geleng kepala.

Arumi ikut memberi masukan, “Ren , kalau istri kamu lagi marah atau ngomel, jangan diladeni. Kamu yang sabar saja. Toh, mungkin itu bukan keinginan dia sepenuhnya, tapi pengaruh bayi di kandungannya.”

“Iya, Rum. Makasih nasihatnya. Oke, aku masuk duluan ya. Harus selesaikan tugas Pak Rama sebelum beliau datang,” kata Reno tergesa-gesa lalu berjalan masuk ke kantor.

“Ya,” sahut Arumi.

“Eh, Ren! Bareng! Aku juga ada berkas yang harus dirapikan buat Pak Remon,” seru Andi sambil menyusul.

Mereka berdua pun menghilang ke dalam ruangan. Tinggallah Arumi dan Santi yang masih berdiri di tempat yang sama, asyik melanjutkan obrolan.

Santi kembali menatap Arumi dengan pandangan penuh selidik. “Nah, sekarang kita berdua lagi. Cerita dong, Rum. Kemarin kamu ke mana? HP-mu mati total. Biasanya kamu paling rajin balas chat.”

Arumi menghela napas pelan. Rahasia ini memang berat untuk disembunyikan dari sahabat sebaik Santi. Tapi ia dan Elang sudah sepakat untuk menjaga privasi mereka dulu. Arumi masih ingat betapa bahagianya malam kemarin: Elang memeluknya erat setelah akad, berbisik janji untuk selalu melindunginya dari segala kesulitan hidupnya, termasuk masalah dengan ibu tiri.

“San … aku baik-baik saja kok. Kemarin memang ada urusan keluarga mendadak. Nanti kalau sudah waktunya, aku cerita semuanya,” kata Arumi akhirnya, berusaha mengelak dengan halus.

Santi mengangguk meski masih tampak kurang puas. “Oke, aku tunggu. Tapi ingat ya, kalau ada apa-apa, aku selalu ada buat kamu. Kita kan sahabat.”

Arumi tersenyum hangat. “Makasih, San. Kamu memang terbaik.”

Mereka pun akhirnya masuk ke ruangan kerja. Sepanjang pagi itu, pikiran Arumi sesekali melayang ke Elang. Apakah ia sudah makan bekalnya? Apakah Elang juga sedang memikirkan dirinya seperti ia memikirkan Elang?

Saat jam istirahat siang tiba, Arumi diam-diam mengirim pesan singkat ke Elang: “Sudah makan bekalnya?.”

Balasan cepat datang: “Sudah, istriku. Enak banget. Aku juga kangen. Pulang kerja langsung pulang ya, jangan mampir dulu.”

Senyum Arumi tak bisa disembunyikan. Meski mereka harus berpura-pura sebagai kakak-adik di depan orang lain, di balik itu semua, mereka sedang membangun kehidupan baru bersama. Rahasia ini mungkin tak akan bertahan selamanya, tapi untuk hari ini, rasanya cukup indah.

Sepulang kerja nanti, Arumi tahu mereka akan bertemu lagi di rumah kontrakan kecil itu. Sarapan pagi tadi hanyalah awal dari banyak pagi-pagi bahagia yang akan datang. Dan meski harus menyembunyikan status pernikahan mereka untuk sementara, cinta yang mereka rasakan tetap nyata dan semakin kuat setiap harinya.

1
MayAyunda
iya kak 😁
Nanik Arifin
surat perjanjian yg ditanda tangani ayah Arumi lsg masuk dokumen pengacara Dirgantara grup, klo wan prestasi siap" masuk bui
MayAyunda
he he
aku
pakai pengacara, surat putusan, apalah pokoknya biar gk malakin lg tuh kamvret 😌
Caramel23
semangat kak😍
Nanik Arifin
heleh, gayamu Bim... walau sekarang tinggal di rumah petak, Arumi kan anak pengusaha. mknya dia itu jas mahal buatan Italia, beda dgmu yg cuma kebetulan dipungut pengusaha besar 🤪🤪
MayAyunda: ha ha kakak bisa aja 😁😁
total 1 replies
🌹🌹WINA🌷🌷
elang sangat misterius jangan-jangan anak horang kaya yg nyamar...
🌹🌹WINA🌷🌷: 😃😃😃😃😃
total 2 replies
Neng Saripah
lama2 istrimu bisa curiga kamu belanja sebanyak itu ,lang 🤭
MayAyunda: he .he. .Iya kak
total 1 replies
🌹🌹WINA🌷🌷
suatu saat nanti gilang akan membahagiakan arumi, sabar ya arumi sapa tahu gilang anak horang kaya😃
🌹🌹WINA🌷🌷: wkwkwk🤣🤣🤣 sory salah sebut ternyata elang🤭
total 5 replies
🌹🌹WINA🌷🌷
Arumi tidak sudi menikah sama juragan dirga, mending hidup jadi gembel dijalanan.. Elang bersedia menikah sama arumi...
🌹🌹WINA🌷🌷
Bagus arumi jangan mau menikah juragan dirga sibandot tua itu🤭
🌹🌹WINA🌷🌷
Elang hanya penjual bakso tusuk bakar, dihina abis2an...
🌹🌹WINA🌷🌷
bagus itu baru pria gentmen elang...
🌹🌹WINA🌷🌷
Kasian arumi yg jadi korbannya menikah sama bandot tua botak🤣🤭
MayAyunda: iya kak😄😄
total 1 replies
Rosmenti Sitanggang
lanjut thor💪💪
MayAyunda: terimkasih
total 1 replies
🌹🌹WINA🌷🌷
Ini mah kebalik cewek ngelamar cowok🤣dasar arumi belum kenal dah berani ngelamar😃
MayAyunda: he he 😁
total 1 replies
Nanik Arifin
semoga pernikahan kalian samawa & langgeng. baik tinggal dikontrakan petak maupun di mansion
MayAyunda: aamiin
total 1 replies
Nanik Arifin
tenang Arumi, suamimu ceo, pemilik perusahaan t4 kamu kerja
MayAyunda: iya kak .he.he
total 1 replies
Nanik Arifin
puas"in senyumnya Bu Lastri, krn setelah kepergian Arumi, gaya hidupmu & anakmu minta dilunasi. klo tak ada uang, ya udah bayar aj putrimu atau dirimu sendiri. lumayan kan, jadi istri Tuan Dirga yg kaya...😜
MayAyunda: .he .He ..betul itu kak😁
total 1 replies
Nanik Arifin
enak aj suruh Arumi yg membuat hutang lunas, kan yg pakai uangnya kalian? suruh aj tuh Rina nikah sama juragan Dirga, lagian pacarnya yg direktur blm tentu mau nikahi juga kan ? y ogahlah punya istri + mertua benalu
Nanik Arifin: masama. semangat thor
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!