NovelToon NovelToon
DIKIRIM KE PESANTREN, MALAH JATUH CINTA PADA ANAK KYAI

DIKIRIM KE PESANTREN, MALAH JATUH CINTA PADA ANAK KYAI

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:912
Nilai: 5
Nama Author: putra ilham

Reno Wijaya, CEO muda yang tampan, kaya, dan sangat dingin. Baginya, semua perempuan itu sama saja: matre dan cuma mengincar hartanya. Karena keras kepala dan selalu menolak dijodohkan, Ayah menghukumnya dengan mengirim Reno masuk ke Pesantren Al-Falah di pedalaman Kalimantan.

Awalnya Reno benci sekali, menganggap tempat ini neraka dan isinya orang kampung semua. Sikapnya masih sombong, angkuh, dan meremehkan semua orang. Sampai ia bertemu Zahrana, anak Kyai yang cantik sederhana, lembut, dan tulus. Untuk pertama kalinya, Reno bertemu perempuan yang sama sekali tidak peduli siapa dirinya dan apa kekayaannya.

Perlahan rasa benci berubah jadi penasaran, lalu tumbuh jadi cinta yang mengubah hidupnya total. Reno belajar menjadi rendah hati, berprinsip, dan setia. Meski kembali memimpin perusahaan besar dan dikelilingi banyak wanita cantik, hatinya tetap utuh hanya untuk Zahrana.

Dulu dikirim sebagai hukuman karena sifat buruknya, ternyata justru di sanalah Reno menemukan jati dirinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putra ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

prolog

Nama saya Reno Wijaya. Di usia yang baru menginjak angka 24 tahun, nama saya sudah menjadi salah satu nama yang paling sering berseliweran di media massa, halaman majalah bisnis, hingga pembicaraan hangat di kalangan masyarakat elit di seluruh penjuru negeri. Sebagai pemimpin tertinggi dan Direktur Utama Wijaya Group, sebuah konglomerasi raksasa yang menaungi puluhan perusahaan besar yang bergerak di berbagai sektor strategis mulai dari pertambangan, perkebunan, properti, perbankan, hingga ekspor impor, saya memegang kendali atas aset yang nilainya tak terbayangkan akal. Angka-angka yang tertera di laporan keuangan perusahaan yang saya pimpin itu bukan lagi sekadar jumlah uang, melainkan jumlah nol yang berjajar panjang hingga membuat pusing siapa saja yang membacanya, kekayaan yang konon tak akan habis untuk tujuh turunan keturunanku kelak, bahkan jika mereka hanya diam duduk manis tanpa bekerja seumur hidup.

Secara fisik, alam pun sepertinya memberikan porsi yang berlebihan kepadaku. Wajahku tampan dan tegas, seolah diukir langsung oleh tangan seniman terbaik, dengan rahang yang kuat, alis yang tebal, dan sepasang mata yang tajam namun dingin, sering membuat siapa saja yang menatapnya merasa ciut dan tak berdaya. Tubuhku tegap dan atletis, hasil latihan rutin di pusat kebugaran pribadi yang dilengkapi peralatan termahal dan pelatih terbaik yang didatangkan khusus dari luar negeri. Setiap hari, aku melangkah dengan balutan pakaian bermerek internasional, kemeja sutra halus yang dipotong pas di badan, setelan jas yang harganya bisa menghidupi satu desa selama setahun, serta sepatu kulit yang dipoles hingga berkilau sempurna. Ke mana pun aku pergi, aku selalu dikelilingi kemewahan yang tak ada duanya: mobil sedan mewah yang dilengkapi segala fasilitas hiburan dan keamanan, pengemudi pribadi yang selalu siap siaga, apartemen di pusat kota Jakarta yang luasnya ratusan meter persegi lengkap dengan fasilitas pribadi, hingga akses ke tempat-tempat eksklusif yang pintunya tertutup rapat bagi sembarang orang.

Orang-orang di luar sana, mereka yang hanya tahu nama dan wajahku dari layar kaca atau koran, pasti berpikir aku adalah manusia paling beruntung di muka bumi ini. Mereka mengira hidupku sempurna, tak ada kurangnya barang satu pun, bahagia tanpa celah, dan segala keinginanku bisa terpenuhi begitu saja dengan satu kali jentikan jari. Mereka iri, mereka memandangku dengan pandangan penuh kekaguman, bahkan pemujaan. Tapi tahukah mereka? Di balik semua kilauan emas, kemegahan, dan sanjungan itu, hatiku justru terasa begitu kosong, kering, beku, dan sunyi senyap. Seperti sebuah istana raksasa yang dibangun megah dan kokoh, namun tak berpenghuni, dingin, dan tak bernyawa. Di dalam diriku, tak ada rasa bahagia yang sesungguhnya, tak ada rasa hangat yang merasuk sampai ke tulang sumsum. Yang ada hanyalah rasa bosan yang mendalam, rasa lelah yang tak bertepi, dan rasa jijik melihat kenyataan dunia yang ternyata begitu penuh kepura-puraan dan kepalsuan.

Terutama urusan tentang wanita dan soal hati. Bagi saya, yang sudah melihat dan merasakan betapa jahat dan liciknya sifat manusia, khususnya dalam urusan asmara, saya sampai pada satu kesimpulan mutlak yang tertanam kuat di dalam kepala: Semua perempuan itu sama saja. Tak ada bedanya satu sama lain, tak ada yang istimewa, dan tak ada yang tulus. Bagi saya, mereka semua adalah makhluk yang sama persis, hanya berbeda bungkus dan kemasan saja. Ada yang membungkus dirinya dengan kecantikan fisik yang luar biasa, ada yang dengan kepintaran dan tutur kata yang manis, ada yang dengan sifat manja dan menggemaskan, tapi semuanya punya satu tujuan akhir yang sama persis: Uang. Hartaku. Nama besar dan pengaruhku.

Sejak masa remaja hingga menjadi pemimpin perusahaan, saya sudah terlalu sering melihat dan mengalami hal yang sama berulang kali. Wanita-wanita cantik, yang wajahnya sering menghiasi sampul majalah mode, model top, selebritas terkenal, putri pejabat tinggi, hingga gadis-gadis biasa yang entah bagaimana caranya bisa mendekat, mereka semua berlomba-lomba mempertontonkan pesona terbaik mereka di hadapanku. Mereka tersenyum manis hingga menyakitkan mata, bicara dengan nada yang sangat lembut dan merayu, memuji penampilan, kecerdasan, dan kekuasaanku secara berlebihan hingga terasa menjijikkan, seolah aku adalah tuhan bagi mereka. Mereka mengaku rela melakukan apa saja demi diriku, mengaku jatuh cinta pandangan pertama, mengaku tak bisa hidup tanpaku, dan bersumpah setia sampai mati. Namun, di saat yang sama, matanya yang indah itu diam-diam sibuk menghitung angka di buku tabunganku, menaksir harga jam di pergelangan tanganku, harga mobil yang kunaiki, dan menghitung seberapa besar keuntungan yang akan mereka dapatkan jika berhasil mengikatku dalam pernikahan.

Aku ingat betul bagaimana mantan kekasihku dulu, wanita yang kuanggap paling sempurna dan paling aku percaya, ternyata diam-diam bermain di belakangku hanya karena tergoda tawaran hadiah mobil mewah dari pria lain yang juga punya kantong tebal. Aku ingat bagaimana teman wanita yang kuanggap saudara sendiri, berubah sikap drastis dan menjadi sangat manis begitu tahu ayahku berencana memasukkan saham warisan ke dalam namaku. Pengalaman-pengalaman pahit itu, ditambah dengan sifat dasarku yang sejak kecil memang sulit percaya pada orang lain, akhirnya membuat hatiku tertutup rapat, sekeras batu karang, sedingin es di kutub utara. Aku menjadi sosok yang dikenal sangat dingin, angkuh, arogan, dan sangat meremehkan kaum hawa. Bagi saya, wanita hanyalah aksesori, hiasan pelengkap gaya hidup, dan hiburan semata. Tak ada satu pun yang pantas masuk ke dalam kehidupan pribadiku, apalagi menjadi ibu dari anak-anakku dan pendamping seumur hidup.

Dan hal inilah yang menjadi sumber pertengkaran terbesar dan paling hebat antara aku dengan Ayahku, Pak Hartono Wijaya. Lelaki tua yang menjadi pendiri kerajaan bisnis ini, yang dulu dikenal sebagai pengusaha yang keras dan tak kenal ampun, kini di usia senjanya justru menjadi sosok yang sangat mendambakan ketenangan, keberkahan, dan kelanjutan keturunan yang baik. Ayah sangat menginginkan aku segera menikah, menempatkan posisi istri di sampingku, dan melihat cucu-cucunya bermain di halaman rumah besar kami. Beliau sering berkata, bahwa kesuksesan seorang laki-laki tak akan lengkap dan tak akan membawa ketenangan sejati jika ia tak membangun rumah tangga yang sakinnah, mawaddah, dan warahmah.

Masalahnya, calon yang dicarikan Ayah tentu saja bukan sembarang orang. Beliau selalu memilihkan gadis-gadis yang berasal dari keluarga terpandang, anak rekan bisnis, atau putri tokoh masyarakat yang nama besarnya setara dengan Wijaya Group. Beliau berpikir, dengan menyatukan dua keluarga besar, maka kekuatan dan pengaruh bisnis kami akan makin kokoh dan tak tergoyahkan. Namun bagi saya, hal itu sama sekali tak masuk akal. Menikah dengan mereka? Itu sama saja seperti membeli barang dagangan. Semuanya hitung-hitungan materi, semuanya kepentingan politik dan bisnis. Tak ada sedikitpun bau cinta atau ketulusan di sana.

“Tidak, Ayah. Aku tidak mau dijodohkan. Aku tidak mau menikah dengan wanita yang sama sekali hatinya kosong dan isinya cuma uang. Aku lebih baik sendirian seumur hidup daripada harus pulang ke rumah dan melihat wajah wanita matre yang sama persis dengan yang lain,” begitu jawabku setiap kali Ayah membuka pembicaraan tentang pernikahan.

“Kamu itu terlalu sombong, Reno! Kamu menganggap semua orang sama saja, padahal cermin yang kamu lihat setiap hari pun belum tentu bersih!” bentak Ayah, suaranya menggelegar, nadanya naik tinggi saat kesabarannya habis. “Kamu pikir kamu siapa? Kamu pikir kamu sempurna sampai bisa menilai dan menghakimi seluruh wanita di dunia ini? Kamu itu anak muda yang keras kepala, matanya tertutup oleh kesombongan dan harta benda yang sebenarnya bukan milikmu sepenuhnya!”

“Kalau dianggap sombong, biarkan saja. Itu lebih baik daripada aku harus tertipu dan bodoh karena percaya pada kata-kata manis tapi palsu,” jawabku tak mau kalah, menatap mata Ayah dengan tatapan menantang.

Pertengkaran-pertengkaran seperti ini terjadi hampir setiap minggu, hingga akhirnya kesabaran Pak Hartono Wijaya benar-benar habis, meluap melewati batas toleransi yang beliau miliki. Malam itu, suasana di ruang kerja pribadi Ayah terasa begitu berat, dingin, dan menegangkan. Ruangan seluas 100 meter persegi itu beraroma campuran antara kayu mahoni tua, lukisan-lukisan bernilai milyaran rupiah yang tergantung rapi di dinding, dan asap tipis dari cerutu kuba mahal yang sedang dibakar Ayah. Di sana, di balik meja kerja besar yang terbuat dari kayu solid terbaik, Ayah duduk tegak, sorot matanya tajam menatapku yang berdiri di hadapannya dengan santai dan acuh tak acuh. Wajah Ayah terlihat sangat serius, lebih serius daripada saat beliau sedang menghadapi krisis keuangan besar atau sengketa bisnis yang rumit sekalipun.

“Reno, Ayah sudah cukup bersabar menghadapi sifatmu yang keras kepala ini. Ayah sudah mencoba segala cara halus, memberi pengertian, membujuk, hingga menasihatimu berulang kali. Tapi apa balasanmu? Kamu malah makin menjadi-jadi, makin angkuh, dan makin merasa paling benar sendiri,” ucap Ayah perlahan namun tegas, setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti palu godam yang menghantam lantai. “Ayah sadar, lingkungan di sini, kemewahan yang kamu nikmati setiap hari, orang-orang yang mengelilingimu, semuanya justru membuat hatimu makin keras dan matamu makin buta. Kamu tidak bisa membedakan mana orang tulus dan mana yang cuma mau manfaat karena kamu terlalu terbiasa melihat semuanya lewat kacamata uang.”

Aku mengangkat alis, masih dengan sikap tak peduli. “Lalu mau apa lagi Ayah? Mau mengusirku dari perusahaan? Silakan saja, aku bisa cari jalan sendiri.”

Ayah tersenyum miring, senyum yang membuat tulang punggungku mendadak merinding tak menentu. Itu senyum yang jarang muncul, senyum saat Ayah sudah mengambil keputusan mati yang tak bisa diganggu gugat.

“Bukan mengusir, tapi mendidik. Karena kamu menolak mendengarkan nasihatku, karena kamu merasa dirimu sudah paling hebat dan paling benar, Ayah punya hukuman untukmu. Sebuah hukuman yang semoga saja bisa mencairkan hatimu yang beku itu, bisa merontokkan kesombonganmu yang setinggi langit itu.”

Ayah diam sejenak, menatapku lekat-lekat sebelum melanjutkan kalimat yang mengubah seluruh jalan hidupku selamanya.

“Mulai besok pagi, kamu tidak akan ada di kantor, tidak ada di apartemen mewahmu, dan tidak ada di lingkaran elitmu. Semua aksesmu ke rekening bank, kartu kredit, kendaraan, dan fasilitas apa pun, Ayah bekukan total. Kamu tidak boleh menyentuh aset Wijaya Group sedikitpun selama masa hukuman ini.”

“Lalu Ayah mau kirimku ke mana?!” potongku, mulai merasa gelisah dan marah.

“Kamu akan pergi ke Pesantren Al-Falah. Terletak jauh di pedalaman Kalimantan Tengah, di tengah hutan belantara, di pinggir sungai besar yang jauh dari jangkauan kota, jauh dari sinyal telepon, jauh dari kemewahan, dan jauh dari segala hal yang selama ini kamu kenal dan kamu banggakan.”

Aku terbelalak, mulutku menganga tak percaya. “Pesantren?! Tempat apa itu?! Itu tempatnya orang kampung, orang desa, dan orang suci yang hidupnya kaku dan kuno! Ayah mau mengirimku ke neraka?! Aku CEO Wijaya Group, Ayah! Aku orang penting! Bagaimana mungkin aku hidup di tempat semacam itu?!”

“Di sana tidak ada CEO, tidak ada anak orang kaya, dan tidak ada orang penting,” potong Ayah dengan suara lantang, memotong protesku. “Di sana, kamu sama rata dengan semua orang. Kamu akan hidup sederhana, makan apa yang mereka makan, tidur di mana mereka tidur, bekerja seperti mereka bekerja, dan belajar menghargai hidup yang sesungguhnya. Kamu akan tinggal di sana selama dua tahun penuh. Tidak boleh pulang sebelum waktunya habis, dan tidak boleh menghubungi siapa pun dari dunia luar. Sampai sifatmu berubah, sampai hatimu lunak, dan sampai kamu sadar bahwa harta bukan segalanya, jangan harap kamu boleh kembali ke sini.”

“Ini gila! Ini penyiksaan! Aku menolak!” bentakku, emosiku meledak tak karuan.

“Keputusanku mutlak. Jika kamu menolak, maka kamu bukan lagi anakku, dan semua hak warismu akan Ayah alihkan sepenuhnya untuk amal sosial. Pilihan ada di tanganmu.”

Saat itu, aku terdiam kaku, tubuhku gemetar menahan amarah yang memuncak. Aku merasa dipermainkan, merasa sangat tidak adil. Namun aku tahu, Ayah tak pernah main-main saat bicara. Saat itu juga, di dalam hatiku yang penuh api kemarahan, aku bersumpah mati. Aku akan membuat tempat itu seperti neraka. Aku tidak akan berubah barang satu persen pun. Aku akan tetap menjadi Reno Wijaya yang dingin dan angkuh ini, bahkan di tengah hutan sekalipun. Aku akan membuat mereka semua sadar siapa sebenarnya diriku.

Aku sama sekali tidak tahu, takdir Tuhan sedang menulis skenario yang jauh berbeda, skenario yang indah dan ajaib, yang sama sekali tak pernah terbayang oleh akal pikiranku yang terbatas. Aku tidak tahu, bahwa tempat yang kusangka sebagai penjara dan neraka itulah, justru menjadi gerbang surga kehidupanku. Di sanalah, untuk pertama kalinya aku akan bertemu dengan sosok wanita yang benar-benar tulus, yang sama sekali tidak peduli siapa diriku dan apa kekayaanku. Di sanalah benih-benih cinta sejati akan ditanamkan, yang perlahan namun pasti akan mencairkan hatiku yang beku, meruntuhkan tembok kesombonganku yang tinggi, dan mengubah seluruh hidupku menjadi jauh lebih indah dari apa pun yang pernah kualami.

Dan namanya adalah Zahrana.

1
Rima R P
katanya anak kiyai dan pesantren ko ga pake hijab ka di liatin cowo bukan nya buru" nyari hijab ini santuy aja 🤣
T28J
baiklah 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!