Gerald—mantan tentara pasukan elit dari dunia modern—mengakhiri hidupnya setelah kehilangan tujuan hidup.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ia terbangun di tubuh seorang prajurit rendahan di tengah medan perang dunia asing yang dipenuhi pedang, darah, dan kerajaan yang saling membunuh.
Tanpa sihir.
Tanpa kekuatan dewa.
Hanya perang.
Di saat umat manusia sibuk saling menghancurkan, bencana muncul dari bawah tanah.
Orc.
Ribuan monster brutal menyerbu benua dan memaksa seluruh kerajaan manusia bersatu demi bertahan hidup.
Di tengah kekacauan itu, Gerald mulai membangun pasukannya sendiri.
Bukan ksatria.
Bukan bangsawan.
Melainkan orang-orang buangan: pengemis, bandit, budak, pecandu alkohol, dan tentara gagal.
Pasukan sampah yang kemudian dikenal sebagai—
The 10th Battalion
Pasukan paling kacau.
Paling brutal.
Dan paling ditakuti di medan perang.
Dari unit buangan menjadi legenda perang umat manusia, Gerald akan membuktikan bahwa monster terb
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BAGERAAA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ogre
Keheningan menyelimuti jalur tebing.
Semua mata tertuju pada monster raksasa yang berdiri di depan hutan.
Tubuhnya jauh lebih besar dibanding orc biasa.
Ototnya seperti batu.
Kulit hijau gelapnya dipenuhi luka lama.
Dan palu batu raksasa di tangannya terlihat cukup besar untuk menghancurkan satu rumah kecil.
“Apaan itu…” bisik salah satu tentara dengan wajah pucat.
Gerald menyipitkan mata.
“…Bukan orc biasa.”
Monster itu perlahan melangkah maju.
DUUM…
Tanah bergetar setiap kali kakinya menapak.
Orc-orc lain langsung mundur memberi jalan.
Seolah monster itu berada di tingkat yang berbeda.
“Gerald…” Elias bicara pelan.
“Kita kabur aja yuk.”
“Kalau ada jalan kabur, dari tadi aku sudah lari.”
“Itu bukan jawaban yang menenangkan!”
Boris menelan ludah.
“…Yang itu gede banget.”
Lalu ia menunjuk palu raksasa monster itu.
“Kalau kena itu pasti sakit.”
“TERIMA KASIH INFORMASINYA, WAHAI ORANG TERPINTAR DI SINI!”
Namun Gerald tetap memperhatikan monster itu dengan tenang.
Cara berjalan. Cara memegang senjata. Arah pandangan.
Makhluk itu lambat.
Tapi sekali serang— selesai.
Monster itu akhirnya berhenti di depan jalur sempit.
Matanya merah menyala menatap manusia-manusia di depannya.
Lalu—
“GROOOOAAAHHH!!”
DUARRR!!
Ogre itu mengayunkan palunya.
Tanah batu langsung pecah.
Beberapa tentara terlempar hanya karena getaran benturan.
“Kuat banget?!”
“Formasi jangan pecah!” teriak Gerald.
Namun sebagian tentara mulai panik.
“Mana mungkin kita lawan monster begitu?!”
“Kita mati!”
“DIAM!” bentak Gerald.
Suara Gerald menggema keras di jalur sempit.
Semua langsung membeku.
Gerald menunjuk monster itu.
“Dia besar.”
“Hah?”
“Dan besar berarti lambat.”
Ogre kembali mengangkat palunya.
“Kalau kalian panik, kalian mati.”
Monster itu menghantam lagi.
DUAARRR!!
Kali ini Gerald bergerak.
WHUSSH!!
Tubuhnya melesat ke samping tepat sebelum palu menghancurkan tanah.
Batu pecah ke segala arah.
Gerald langsung mendekat.
Pedangnya menebas kaki monster.
CLANG!!
“…Keras.”
Kulit monster itu seperti batu.
Ogre meraung marah lalu mencoba menginjak Gerald.
Namun Gerald sudah mundur lebih dulu.
“Elias!”
“Hah?!”
“Mata!”
“Mata?!”
“ITU TITIK LEMAHNYA!”
Elias langsung mengambil tombak.
Tangannya gemetar.
“Kalau meleset gimana?!”
“Ya mati.”
“KAU BISA MOTIVASI SEDIKIT GAK?!”
Ogre kembali mengangkat palunya.
Gerald menyeringai kecil.
“Ayo monster…”
Ia sengaja berdiri tepat di depan ogre.
Semua orang langsung panik.
“GERALD GILA?!”
“Dia mau bunuh diri?!”
Namun Gerald tetap diam.
Menunggu.
Menunggu timing.
Dan saat palu raksasa itu turun—
“SEKARANG!!”
Gerald melompat ke samping.
DUAARR!!
Tanah meledak.
Dan di saat bersamaan—
WHUSSH!!
Tombak Elias meluncur lurus.
CRASSHH!!
Tepat menancap di mata kiri ogre.
“GROOOOOAAAHHHHH!!”
Monster itu meraung brutal sambil mengamuk.
Seluruh hutan bergetar.
“KENA?!”
Elias sendiri sampai tidak percaya.
Gerald tidak membuang kesempatan.
“Boris!”
“SIAP!”
“Kapak!”
Boris langsung melempar kapak kecilnya.
WHUSSH!!
BRAKK!!
Kapak itu menghantam mata kanan ogre.
Monster raksasa itu sekarang buta total.
“HAHAHAHA MATANYA HILANG DUA-DUANYA!”
“KAU MALAH KETAWA?!”
Ogre mengamuk brutal.
Palu batunya menghantam kiri kanan secara membabi buta.
Namun karena jalurnya sempit…
Tubuhnya justru tersangkut batu.
Mata Gerald langsung dingin.
“Selesai.”
Ia berlari lurus ke arah monster itu.
Lalu melompat ke tubuh ogre.
Semua orang membelalak.
“DIA MAU NGAPAIN?!”
Gerald memanjat bahu monster sambil menghindari tangan besarnya.
Lalu—
CRASSSHH!!
Pedangnya menusuk leher ogre sedalam mungkin.
Darah hitam menyembur deras.
Monster itu meraung untuk terakhir kalinya.
Dan perlahan…
Tubuh raksasa itu roboh ke belakang.
DUUUMMM!!!
Tanah sampai bergetar saat tubuh ogre jatuh.
Hening.
Tidak ada yang bicara.
Semua hanya menatap Gerald dengan wajah tidak percaya.
Boris membuka mulut pelan.
“…Keren juga.”
Elias masih membeku.
“Kita… baru bunuh monster segede itu?”
Gerald menarik pedangnya dari leher ogre.
Darah hitam menetes dari wajahnya.
Lalu ia melihat orc-orc lain di depan sana.
Dan untuk pertama kalinya—
Monster-monster itu mundur.
Mereka takut.
Gerald menyeringai kecil.
“Bagus.”
Karena sekarang…
Mereka tahu monster juga bisa dibunuh.