NovelToon NovelToon
Purdeb

Purdeb

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Berbaikan
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Singkirkan tatapan menantangmu itu, Mahasiswa Baru. Kau terlalu sombong hanya karena dari Harvard," desis Amieyara Walker, matanya menghujam sedingin es di koridor sepi.

Maximilian Valerio hanya menyunggingkan seringai tipis yang sarat akan provokasi. "Dan kau? Merasa bisa mengaturku karena memegang gelar Asisten profesor, Nyonya Janda Satu Malam?"

"Jaga mulutmu, Valerio! Jangan menguji batas kesabaranku jika kau tidak ingin hancur di kampus ini!"

"Oh, silakan coba, Yara. Aku tidak takut dengan ancaman kosong dari wanita yang bahkan tidak bisa mempertahankan suaminya sendiri."

Dua jiwa angkuh yang sama-sama terluka, terjebak dalam lingkaran makian dan harga diri yang tinggi.

Tidak ada ruang untuk romansa lembut di antara mereka; yang ada hanyalah benturan ego, dendam, dan obrolan penuh permusuhan yang justru mengikat mereka dalam ketertarikan yang berbahaya dan mematikan.

Happy reading 🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#16

Keheningan yang mencekam di dalam ruang UKS itu terasa begitu tebal, seolah-olah oksigen di dalam bilik kecil tersebut baru saja disedot habis.

Demon dan Carter masih berdiri mematung di ambang tirai putih yang terbuka lebar. Kantong plastik berisi roti lapis di tangan Carter berkersek pelan akibat getaran tangannya yang tak percaya dengan apa yang baru saja ditangkap oleh indra penglihatannya.

Seorang Maximilian Valerio—pria yang dua jam lalu muntah-muntah hebat karena muak melihat masa lalunya—kini sedang merengkuh erat pinggang Amieyara Walker, asisten dosen yang terkenal dingin, dalam sebuah ciuman yang terlihat begitu pekat dan intim.

Dan yang lebih gila lagi, Bella Moon berdiri kurang dari satu meter di samping ranjang itu, menatap mereka laksana patung lilin yang kehilangan fungsi verbalnya.

Perlahan, Max melepaskan tautan bibir mereka. Alih-alih menjauhkan tubuhnya karena tertangkap basah oleh kedua sahabatnya, jiwa teatrikal pemuda berusia dua puluh tahun itu justru semakin menggila.

Dia menarik napas panjang, menatap Yara dengan binar mata yang mendadak berubah menjadi begitu lembut, penuh binar pemujaan fiktif yang sangat meyakinkan.

Jemari tangan kanan Max yang panjang bergerak lambat, merayap naik ke kepala Yara, lalu mengelus rambut hitam wanita itu dengan sentuhan yang teramat sangat protektif.

Dia menyelipkan beberapa helai rambut yang berantakan ke belakang telinga Yara dengan ibu jarinya, bertingkah seolah dunia di sekitar mereka tidak lagi penting. Jika ada juri ajang penghargaan Oscar di dalam ruangan ini, Max dipastikan akan membawa pulang piala emas sebagai aktor utama terbaik.

Bella Moon mengepalkan tangannya kuat-kuat di sisi tubuhnya. Menyaksikan kelembutan yang dulu pernah menjadi miliknya kini sepenuhnya ditumpahkan kepada wanita lain, membuat ego manipulatifnya mendadak terbakar hebat. Dia melangkah maju satu tapak lagi, menolak untuk diabaikan.

"Aku tahu kau kembali ke Los Angeles minggu lalu, Max," ucap Bella tiba-tiba, suaranya bergetar oleh kombinasi antara rasa tidak percaya dan keputusasaan yang dipaksakan. "Aku sengaja mengurus berkas kepindahanku ke kampus ini karena aku tahu kau ada di sini. Aku mengikutimu ke sini, Max!"

Mendengar pengakuan gila dari mulut wanita yang telah menghancurkan masa mudanya itu, Max tidak menunjukkan riak kemarahan sedikit pun. Dia justru mengeluarkan kekehan rendah yang terdengar begitu seksi di telinga, sementara jemarinya beralih memainkan ujung rambut hitam Yara, melilitkannya di seputar jari telunjuknya dengan gestur yang sangat santai.

"Dan lalu?" tanya Max tanpa beban, matanya tetap terkunci pada wajah Yara, sama sekali tidak sudi menoleh ke arah Bella. Nada suaranya begitu acuh tak acuh, seolah pengorbanan Bella berpindah kampus hanyalah seumpama berita cuaca yang lewat di televisi. "Kau pindah ke sini hanya untuk mengumumkan bahwa kau menguntitku? Sungguh tidak bermutu, Bella."

Yara yang berada di dalam dekapan Max hanya bisa memutar bola matanya di dalam hati. Namun, sebagai seorang wanita yang dibesarkan di tengah lingkungan keluarga Walker yang penuh dengan intrik politik dan kepalsuan korporat, Yara bukanlah amatiran dalam hal bermain peran.

Dia bisa merasakan otot dada Max yang mengencang di balik kaos dalamnya, mendeteksi getaran emosi yang coba disembunyikan pemuda itu dengan topeng tengilnya.

Menyadari bahwa dirinya bisa menggunakan situasi ini untuk mengikat Max dalam 'utang budi' yang jauh lebih besar, Yara memutuskan untuk ikut naik ke atas panggung sandiwara ini. Dia meletakkan telapak tangan lentiknya di atas dada bidang Max, mengusapnya perlahan seolah mencoba menenangkan sang 'kekasih'.

Bella menatap interaksi fisik itu dengan mata yang semakin memanas. "Apa boleh kita seperti dulu, Max? Kau tahu... aku bisa membuatmu melupakan segalanya. Mengapa kau memutus semua akses? Nomor ponselku kamu blokir, semua akun media sosialku kamu tutup. Aku tidak bisa menemuimu di Boston, dan sekarang saat kita di sini, kau malah bersama wanita ini?"

Maximilian tersenyum tipis, sebuah senyuman misterius yang sarat akan dominasi. Dia akhirnya mengalihkan pandangannya sejenak ke arah pintu, menatap Demon dan Carter yang masih melongo laksana dua orang bodoh.

"Dem, Carter... keluar dan jaga pintu di depan," perintah Max, suaranya tidak keras namun memiliki nada otoritas mutlak yang tidak bisa didebat. "Kekasihku sedikit tidak nyaman dengan penonton yang terlalu banyak."

Demon dan Carter saling berpandangan selama satu detik, sebelum akhirnya Demon menarik kerah jaket Carter dan menyeretnya keluar dari ruangan UKS sembari menutup pintu kaca dengan rapat.

Mereka berdua tahu, jika Max sudah mengeluarkan nada suara seperti itu, artinya sang Valerio sedang mengendalikan sebuah bidak permainan yang berbahaya.

Setelah kedua sahabatnya keluar, suasana bilik kembali menyempit. Bella tidak menyerah, dia menatap Max dengan tatapan memohon yang biasa dia gunakan untuk meluluhkan hati pemuda itu dua tahun lalu.

"Aku masih menyukaimu, Max... Sangat menyukaimu. Hubungan kita dulu tidak seharusnya berakhir karena kesalahpahaman di malam kelulusan itu."

Max tidak tertawa, dan dia sama sekali tidak tertarik dengan kata 'menyukai' yang keluar dari belahan bibir Bella.

Baginya, kata itu terdengar laksana lelucon usang yang sudah basi. Alih-alih membalas ucapan Bella, Max justru semakin merapatkan tubuh tegapnya pada tubuh Yara, menundukkan kepalanya hingga hidungnya tenggelam di ceruk leher wanita itu.

Dia menghirup dalam-dalam wangi yang menguar dari kulit Yara. Seketika, kening Max berkerut halus di dalam hati. Kenapa wangi ini jadi seperti candu? pikir Max, sedikit tertegun. Padahal dia tahu betul bahwa aroma yang dia hirup saat ini adalah wangi sabun mandi yang disediakan di kamar mandi apartemen mewahnya sendiri—sabun generik yang biasa dia gunakan setiap hari, namun entah mengapa, begitu aroma itu menyatu dengan suhu tubuh Amieyara Walker, wanginya bertransformasi menjadi sesuatu yang begitu memabukkan dan menenangkan sistem sarafnya yang sempat kacau.

Max terkekeh geli di ceruk leher Yara, menciptakan sensasi menggelitik yang membuat bulu kuduk Yara meremang halus, sebelum dia kembali mendongak menatap Bella.

"Kekasihku tidak suka ada orang ketiga di ranjang kami, Bella," ucap Max dengan nada santai namun menusuk, tangannya yang berada di pinggang Yara bergerak mengelus pinggul wanita itu dengan posesif. "Lagipula... dia saja sudah lebih dari cukup untukku. Aku tidak butuh barang dari masa lalu yang mencoba menawarkan diri kembali."

Dan di sinilah puncaknya. Amieyara Walker, sang singa betina Fakultas Hukum, akhirnya memutuskan untuk mengeluarkan taringnya.

Dia tahu persis bagaimana cara menghancurkan mental seorang gadis muda yang memiliki ketergantungan ego seperti Bella Moon.

Yara menurunkan tangan besarnya dari dada Max, berbalik sedikit hingga posisinya kini sepenuhnya menghadap Bella, sementara punggungnya bersandar nyaman di dada bidang Max yang menjadi pilar penopangnya. Sepasang mata cantik di balik kacamata tipis itu menatap Bella dengan pandangan merendahkan yang teramat sangat dingin—sebuah tatapan khas seorang hakim agung yang siap menjatuhkan vonis hukuman mati.

"Aku sendiri bisa memuaskan kekasihku dalam segala hal, Nona," ucap Yara dengan nada suara yang tenang, dewasa, namun bergetar oleh aura intimidasi yang luar biasa pekat. Setiap kata yang keluar dari bibirnya laksana belati yang diasah tajam. "Jadi, sebaiknya kau keluar dari sini sekarang juga dan jangan pernah mengganggu waktu istirahatnya lagi."

Yara sengaja menjeda kalimatnya, memberikan senyuman tipis yang sarat akan kemenangan mutlak sebelum menyambung dengan kalimat yang lebih gila lagi. "Sudah semalaman penuh kami tidak beristirahat dengan baik semalam... kau tahu sendiri bagaimana melelahkannya menghabiskan malam. Kami berdua sangat lelah. Dan sekarang kau datang kemari hanya untuk membahas sampah masa lalu yang sama sekali tidak penting? Sungguh membuang-buang waktu berharga kami."

BOOM.

Kalimat vulgar dan berani yang meluncur begitu saja dari mulut seorang asisten dosen hukum itu seketika membuat Bella Moon laksana dihantam oleh gada besi tepat di wajahnya.

Wajah gadis pirang itu seketika berubah pucat pasi, matanya bergetar hebat menatap Yara dengan rasa tidak percaya bercampur malu yang teramat sangat mendalam. Keberanian Bella runtuh seketika saat menyadari bahwa wanita dewasa di hadapan Max ini bukanlah lawan yang bisa dia hadapi dengan air mata manipulatifnya.

Di belakang tubuh Yara, Maximilian harus sekuat tenaga menahan diri agar tidak tertawa terbahak-bahak.

Di dalam benaknya, dia benar-benar ingin bertepuk tangan berdiri menyaksikan bagaimana Yara mengeksekusi Bella dengan kalimat-kalimat gila yang bahkan tidak pernah dia duga sebelumnya. Ratu drama yang sesungguhnya, batin Max tertawa puas, menyadari bahwa keputusannya membawa Yara ke dalam pusaran masalahnya malam ini adalah pilihan terbaik yang pernah dia buat.

Bella Moon yang tidak sanggup lagi menahan rasa malu dan tekanan intimidasi dari Yara akhirnya membalikkan badannya dengan sentakan kasar.

Dia menyambar tas kecilnya, lalu berlari keluar dari bilik UKS sembari terisak kecil, membiarkan tirai pembatas bergoyang hebat akibat gerakannya yang terburu-buru.

Begitu siluet Bella menghilang di balik pintu kaca depan, atmosfer di dalam bilik medis itu mendadak berubah secara instan dari drama romantis menjadi sebuah medan perang yang penuh dengan ketegangan baru.

Yara langsung menyentak tangan Max yang masih melingkar di pinggangnya, melepaskan diri dari dekapan pemuda itu dengan kasar. Dia berdiri tegak, merapikan kemeja sutra biru mudanya yang sedikit kusut akibat remasan tangan Max tadi, lalu menatap Max dengan tatapan yang siap menguliti pemuda itu hidup-hidup.

"Permainan yang bagus, Valerio," desis Yara, suaranya kembali sedingin es, menghapus seluruh nada manja fiktif yang dia gunakan beberapa detik lalu. "Dua Kali ciuman brutal dan satu skandal gila. Kau berutang penjelasan yang sangat besar padaku, Maximilian. Dan ingat... kita akan menyelesaikan hitungan ini secara tuntas di apartemenmu nanti siang. Bersiaplah untuk menerima konsekuensi dari kelancangan bibirmu itu."

Max hanya menyandarkan punggungnya kembali pada bantalan ranjang, melipat kedua tangannya di belakang kepala sembari menyunggingkan seringai tengil terbaiknya.

"Aku akan menantikannya dengan sangat sabar, Yara," balas Max tanpa rasa takut sedikit pun, membiarkan babak baru permusuhan berbalut ketertarikan di antara mereka berdua semakin membara di bawah atap universitas.

1
sitanggang
kukira Valeri kuat ternyata oncom belaka, masa sama 2 cewek bego bisa kalah🤣🤣 parah jalan ceritanya hadeuhh🫣
Ros 🍂: hehhe ceritanya nyambung sama Cerita yang sebelah Ya kak, judulnya "Fi A Ti"
ada Ceritanya sendiri 🫶🥰
total 1 replies
Hotmayanti Yanti
ceritanya menegangkan dsn selalu membuat penasaran,semoga masih ada lanjutannya Thor 😁
Ros 🍂: Ma'aciww Sudah mampir kak🥰
jangan lupa baca Cerita ku yang lain kak 🫶
total 1 replies
nayla tsaqif
Satu kantin kena prank emmie🤣🤣,,
Ros 🍂: Hahah 🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
wes Amieyara Walker-nya cie udah diklaim mutlak nie ceritanya bang😍😍😍😍
Ros 🍂: Nggak klaim Malu Soalnya kak🤭🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
absen dulu kak othor😍😍😍
Ros 🍂: Fanbase Setia 🫶😁🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
gasken bang max tembak langsung😍😍😍biar GK jomblo dan dibilang gamonin si kulanak🤣🤣tumben kak cuma satu
Ros 🍂: tumben satu apa kak?🤭
total 2 replies
Zahra Alifia Hidayat
duo kuntilanak yg kegatelan🤭
Ros 🍂: Ketemu mereka kak🤣🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
gasken bang max buat selidikin asdos cantik
Ros 🍂: hehe iya kak🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
pengen dengerin kekehan sexi bang max juga aku thor sesexi apa sich jadi penasaran?🤭
Ros 🍂: kak 🤭 nanti tak suruh max kekeh sampe nembus layar yaa🤣🫶
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
dih si kuntilanak sok Sokan yg paling tersakiti padahal dirinya sendiri jalang,ayo bang max tunjukan pesona kegendengan klan Valerio🤣🤣
Ros 🍂: hihihi kak basmi kuntilanak 🤭
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
waoooh Bella mengerikan jauhkan babang max dari kuntilanak thorr🤭GK rela daku MBK asdos tolong kekepin bang max jauhin dari si kuntilanak🤭🤣🤣🤣
Ros 🍂: Bell Kuntilanak🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
duh,,,bawa pulang aja bang max kasian banget😭😭😭😭
Ros 🍂: huhuhu bantu angkut kak🤭
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
Bang max jangan galak gitulah entar kecintaan gimana coba🤭
Ros 🍂: Aaa🫶🫶🫶 Ma'aciww kak 🥰
Terharu 🤩
total 5 replies
Zahra Alifia Hidayat
yaah,,,,, kak kok Caca sich itu nama panggilan aku tega banget kaaaak😭😭😭😭😭😭 padahal aku anaknya baik,rajin belajar dan suka menabung🤣🤣🤣🤣
Ros 🍂: Kak 😭 sorry ... 🤣🤣🤣🙏🏻
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
waooh,,,,,pertemuan pertama yg sangaatt- sangaattt😍😍😍
Ros 🍂: Hihihi meresahkan ya kak ? 🤣🤣🙏🏻
total 2 replies
Zahra Alifia Hidayat
Bang max i am coming di tunggu kegendengannya🤭🤣🤣
Ros 🍂: Hahaha Max tunggu kak 🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
fanbase nomer satu absen dulu,,,,😍😍😍😍😍
Ros 🍂: Hallo kak 🫶🥰 Happy Reading ❤️
total 1 replies
winpar
ceritanya keren💪
Ros 🍂: Ma'aciww jejaknya kak🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!