Setelah bertahun-tahun diabaikan dan dibuang, akhirnya Alisa pun kembali kerumah Ayahnya, Pak Ali. Mirisnya, kepulangan Alisa bukan untuk kembali jadi putrinya. Melainkan untuk dijadikan pengantin pengganti untuk Kakak sambungnya, Marisa.
Dan Alisa diharuskan langsung bercerai setelah Marisa kembali. Lalu, bagaimana jadi nya, jika Harlan menolak berpisah dan lebih memilih Alisa untuk tetap menjadi istrinya?
Lalu, apa yang akan dilakukan Ibu Yuni dan juga Marisa untuk merebut kembali posisi Alisa?
Saksikan kisahnya disini….
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.1
Di sebuah kamar hotel bintang lima, tampak seorang gadis tengah berdiri di depan cermin. Wajahnya telah dipoles dengan make up hasil MUA profesional ternama ibu kota.
Dalam balutan kebaya brokat modern hasil dari rancangan desainer ternama, gadis itu terlihat begitu cantik dan anggun. Namun, semua itu tidak serta merta membuatnya merasa senang.
Bagaimana mau senang? Hampir 15 tahun lamanya ia seolah olah dibuang oleh Ayah kandungnya sendiri. Hidup jauh di luar kota bersama sang Nenek dan baru dijemput untuk pulang disaat Kakak sambung nya akan melangsungkan pernikahan.
Gadis itu bernama Alisa Husna Wibisono, putri tunggal dari pasangan Ali Wibisono dan seorang wanita bernama Melisa Husna. Saat usia tiga tahun, Mamanya Alisa, yaitu Melisa meninggal karena serangan jantung.
Satu tahun setelah kepergian sang istri, Ali pun kembali menikah dengan seorang janda anak satu bernama Yuni. Setelah menikah, Pak Ali lebih fokus kepada keluarga barunya dibandingkan kepada putri semata wayangnya, Alisa.
Mendengar jika cucu satu-satunya yang mereka sayangi itu diabaikan oleh Ayahnya, kedua orang tua Bu Melisa pun merasa tidak terima. Hingga akhirnya, Alisa pun diambil alih pengasuhannya oleh kedua orang tua mendiang Bu Melisa yang tinggal di luar kota.
Kini, setelah lima belas tahun lamanya, Alisa pun kembali ke rumah masa kecilnya. Rumah yang meninggalkan sejuta kenangan tentang mendiang sang ibu. Meski jujur, Alisa sama sekali tidak mengingat apapun tentang kehidupannya di rumah itu.
Usia Alisa pada waktu itu masih terlalu kecil untuk mengingat momen apa saja yang ditinggalkan oleh mendiang sang ibu.
Sehingga, Alisa tidak merasakan apapun saat tiba di rumah itu. Yang ia rasakan hanya kehampaan dan kesepian. Untungnya, ia berada di rumah itu hanya satu malam saja, sebelum akhirnya, ia beserta keluarga besar Wibisono pindah ke hotel dan menginap di sana.
“Haaahhh…”
Lagi, gadis itu menghela nafas panjang. Sampai akhirnya suara gebrakan pintu membangunkannya dari lamunannya.
Braakkkk.
Alisa tersentak, bergegas menoleh ke arah sumber suara. Disana, tampak seorang wanita paruh baya, tengah berdiri dan menatap tajam kepadanya.
Wanita itu berjalan maju, mendekat ke arah ranjang. Lalu melemparkan kebaya putih dan juga kain batik yang Alisa tahu, kalau itu adalah kebaya yang akan dipakai oleh calon pengantin wanita, yaitu Marisa.
“Pakai itu.” ucapnya, singkat.
Menunjuk ke kebaya itu dengan dagunya. Alisa mengerutkan dahinya, bingung dengan apa yang baru saja dikatakan oleh ibu sambungnya itu.
“Ada apa ini? Kenapa aku harus memakai kebaya itu? Bukankah itu kebaya yang harus dipakai oleh Kak Marisa?” tanya Alisa, bingung.
“Gak usah banyak tanya. Pakai dan lakukan saja apa yang Aku bilang.” ucap Bu Yuni dengan nada tegas, hampir seperti perintah.
Alisa menatap wanita itu dengan bingung. Semakin tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh ibu sambungnya itu. Dadanya pun mulai merasa tidak nyaman atas perintah yang diberikan oleh Bu Yuni untuknya.
“Maksud Ibu apa? Aku tidak mengerti.” tanya Alisa pelan, mencoba menahan ketidaknyamanan yang mulai menyelimuti di hatinya.
Bu Yuni menghela nafas kasar, seolah kesal karena harus menjelaskan sesuatu yang menurutnya tidak perlu dijelaskan.
“Pakai kebaya itu dan gantikan Marisa.”
Deg!
Jantung Alisa seolah berhenti berdetak sesaat saat mendengar penjelasan dari Bu Yuni.
“Ga_gantikan Kak Marisa? Kenapa? Kenapa harus diganti?”
“Marisa kabur. Kami tidak punya pilihan lain selain mencari pengganti untuknya dan Aku rasa, kamulah yang harus menggantikan Marisa hari ini,”
“Kenapa harus aku?” tanyanya dengan nada yang jauh lebih tegas.
“Kalau bukan kamu, memangnya mau siapa lagi? Kamu ini adik perempuan satu-satunya Marisa. Jadi, kamulah yang harus menggantikannya.” jelas Bu Yuni membuat Alisa kehilangan kata-kata.
Alisa menatap Bu Yuni dengan tatapan tak percaya. Ia tidak menyangka jika Yuni bisa dengan mudahnya mengatakan hal itu tanpa memikirkan perasaannya.
“Bagaimana bisa begitu? Aku bahkan tidak mengenal calon suaminya!” ucap Alisa, panik.
Yuni mendengus pelan. Menatap Alisa semakin tajam dan mengintimidasi.
“Kamu pikir, aku mau menggantikan posisi putriku yang akan menjadi istri seorang CEO ternama dengan dirimu? Tapi aku dan Ayahmu tidak punya pilihan lain. Para tamu sudah datang. Keluarga besar sudah berkumpul. Media juga Sudah siap meliput pernikahan ini. Jadi, pernikahan ini tidak boleh batal,”
“Tapi itu bukan urusanku!” balas Alisa, suaranya mulai bergetar.
“Justru ini urusanmu.” potong Bu Yuni cepat.
Alisa menatapnya tak mengerti.
Bu Yuni lalu berkata dengan nada dingin yang membuat bulu kuduk Alisa meremang.
“Dengar baik-baik Alisa. Pernikahan ini bukan hanya pernikahan biasa. Pernikahan ini, adalah pernikahan bisnis yang bisa menyelamatkan perusahaan Ayahmu dan juga masa depan seluruh keluarga kita. Kalau sampai pernikahan ini batal, bukan hanya pernikahannya yang gagal, tapi, perusahaan Ayahmu juga akan hancur.”
Alisa terdiam membeku. Tidak tahu lagi apa yang harus ia katakan agar ia tidak harus menggantikan sang Kakak.
Melihat Alisa terdiam, Bu Yuni kembali melangkah maju, mendekatkan dirinya 1dan berdiri tepat di hadapan Alisa.
“Pikirkan baik-baik, apa yang akan terjadi kepada Ayahmu kalau sampai, bisnis yang ia bangun dan ia perjuangkan selama berpuluh-puluh tahun, hancur hanya karena putrinya menolak pernikahan ini.” bisiknya cukup tajam dan menusuk.
Tepat saat itu, pintu kamar kembali terbuka. Kali ini, yang masuk adalah seorang pria paruh baya dengan wajah yang tegang.
Pria itu adalah Pak Ali Wibisono. Ayah kandung Alisa. Pria itu terdiam beberapa detik saat melihat putrinya berdiri berhadapan dengan istrinya.
Alisa menatap ayahnya dengan harapan, jika sang Ayah akan berada di pihaknya dan memilih membatalkan pernikahan itu daripada mengganti mempelai wanita.
“Ayah…?” suaranya lirih.
Namun harapan itu langsung runtuh saat Pak Ali bergegas mendekat, menggenggam tangan nya, lalu berkata…
“Alisa… tolong bantu Ayah.”
Deg.
Tes.
Air mata Alisa pun akhirnya jatuh juga saat sang Ayah yang menjadi satu-satunya harapan nya pun ikut mendorongnya untuk menjadi pengantin pengganti.
“Ayah… Ayah juga ingin aku menggantikan Kak Marisa?” tanya Alisa dengan suara yang bergetar.
Pak Ali memejamkan mata sejenak sebelum akhirnya mengangguk pelan.
“Maafkan Ayah. Tapi, ini satu-satunya jalan.”
Alisa tertawa kecil, namun tawa itu bukanlah tawa bahagia, melainkan tawa karena merasa miris.
“Lima belas tahun Ayah membiarkanku hidup jauh dari Ayah. Lalu, sekarang Ayah menjemputku hanya untuk menikahkanku dengan pria yang bahkan tidak kukenal?” ucapnya lirih.
“Sekali lagi maafkan Ayah, Nak. Tapi, inilah jalan satu-satunya untuk menyelamatkan kita semua.” jawab sang ayah, tidak kalah lirihnya.
Ruangan itu mendadak hening. Alisa menghapus air matanya dengan punggung tangan. Ia menatap kebaya pengantin putih itu lama sekali.
Gaun yang seharusnya dipakai oleh Marisa. Gaun yang akan mengikat hidupnya dengan seorang pria asing.
Perlahan… sangat perlahan…
Alisa berjalan mendekat ke arah ranjang. Tangannya gemetar saat menyentuh kebaya itu. Lalu dengan suara yang hampir tak terdengar, ia berkata…
“Baiklah…”
Pak Ali dan Bu Yuni menatapnya secara bersamaan. Alisa mengangkat wajahnya, menatap mereka dengan mata yang kini terlihat begitu dingin.
“Aku akan melakukannya. Tapi, ada satu syarat yang harus kalian penuhi,”
“Syarat? Apa itu?” tanya Bu Yuni dan juga Pak Ali, secara bersamaan.
“Apapun yang terjadi setelah pernikahan ini. Baik itu urusan aku ataupun urusan Ayah dan Ibu, kita selesaikan masing-masing. Dan kita… sudah tidak ada ikatan apapun lagi,” jawab Alisa membuat Pak Ali dan Bu Yuni cukup dibuat terkejut.
“Jangan khawatir. Kamu hanya akan menggantikan tubuh Marisa. Ijab kabul tetap akan dilakukan dengan nama Marisa.”
Setelah mengatakan itu, Bu Yuni pun bergegas pergi, meninggalkan kamar. Meninggalkan Pak Ali dan juga Alisa.
“Nak…”
“Keluarlah. Aku harus ganti baju.” sela Alisa, menolak berbicara lebih lanjut dengan sang Ayah.
Mau tidak mau, Pak Ali pun segera menyusul istrinya keluar dari kamar. Meninggalkan Alisa seorang diri. Alisa pun segera mengambil kebaya pengantin tersebut dan segera mengganti kebaya yang ia pakai dengan kebaya pengantin itu.